Senin, 10 Maret 2008

JENIS-JENIS MAKHLUK

JENIS-JENIS MAKHLUK

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
NATTHI KHANDASAMÄ DUKKHÄ.
Tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan (khandha).
Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.

Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Parit ta dan bermeditasi sejenak, maka marilah sekarang kita isi kebaktian kita ini dengan pemba-hasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini adalah ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’.
Sdr/i sekalian, bila beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas bersama-sama tentang sesuatu yang disebut sebagai makhluk, lalu tentang ciri-cirinya, tentang darimana asalnya, dan sebagainya, yang ditinjau secara ilmu pengetahuan dan secara Buddha Dham-ma, maka pada hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang jenis-jenis makhluk terse-but yang juga ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan dan dari sudut Buddha Dhamma.
Sdr/i seDhamma, menurut pandangan ilmu pengetahuan, semua organisme hidup di-bagi dalam dua bagian besar, yaitu dunia tanaman dan dunia hewan atau yang biasa disebut dengan istilah Flora dan Fauna. Dunia tanaman ini dibagi lagi dalam beberapa kelompok be-sar (divisio) yaitu sebagai berikut:
1. Thallophyta, yaitu tanaman yang paling sederhana. Tidak mempunyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Contoh dari hal ini yaitu ganggang dan jamur.
2. Briophyta, adalah kelompok tanaman dengan daun-daun yang sederhana dan mempunyai bagian-bagian yang menyerupai akar dan batang, misalnya tumbuhan lumut.
3. Pteridophyta, adalah kelompok tingkatan tanaman yang lebih maju lagi, yaitu sudah mem-punyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Hanya saja cara berkembangbiaknya be-lum menggunakan biji tetapi masih dengan spora.
4. Spermatophyta, adalah kelompok tanaman yang paling maju tingkatannya, yaitu sudah berkembangbiak dengan biji dan juga mempunyai sistem perakaran yang luas untuk menyerap air dan mineral-mineral.
Demikianlah pembagian besar dalam kelompok tanaman, sedangkan dalam kelompok hewan juga terdapat pembagian besar yang demikian, yaitu hewan yang tidak mempunyai tulang punggung belakang dan yang mempunyai tulang punggung belakang. Pembagian ini pun ju-ga masih dikelompokkan lagi dari yang paling sederhana misalnya saja Protozoa atau bina-tang bersel satu sampai dengan kelompok mamalia atau binatang yang menyusui. Hanya saja hal-hal tersebut tidak dapat kami uraikan semua di sini karena kurang bermakna. Pokoknya, yang penting kita tahu bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk atau organisme hidup itu, juga dikelompokkan dari yang paling sederhana susunannya sam-pai yang paling tinggi tingkatannya. Sekarang, bagaimanakah dengan pengelompokan makh-luk menurut pandangan Buddha Dhamma? Apakah prinsipnya juga demikian?
Sdr/i seDhamma, ternyata pembagian makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma prinsipnya adalah juga demikian, yaitu ada tingkatan makhluk yang paling menderita batin-nya sampai pada tingkatan makhluk yang paling sempurna batinnya. Hanya saja, perlu dike-tahui bahwa yang dimaksud makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma ini sangat berbe-da dengan pandangan ilmu pengetahuan. Kalau menurut pandangan ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk yaitu mencakup tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan; sedangkan menurut pandangan Buddha Dhamma, secara umum yang disebut makhluk yaitu semua yang memiliki Pañcakkhandha atau lima kelompok kehidupan. Jadi, dalam hal ini tumbuh-tumbuhan tidak termasuk makhluk karena tumbuh-tumbuhan tidak mempunyai Pañcakkhan-dha. Dan, tentang Pañcakkhandha ini, kiranya sudah tidak perlu lagi diuraikan di sini karena sudah sangat sering kita bahas.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jadi sekali lagi, yang disebut makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma adalah terdiri dari perpaduan unsur-unsur lima kelompok kehi-dupan yang selalu berproses. Oleh sebab itu, yang terlahir di alam-alam kehidupan adalah Pañcakkhandha ini, dan yang mati di alam-alam kehidupan adalah juga Pañcakkhandha ini. Dan selanjutnya, dikatakan bahwa lima kelompok kehidupan tersebut adalah dukkha dan dukkha itulah lima kelompok kehidupan. Jadi, yang namanya makhluk adalah Pañcakkhan-dha yang masih terkena dukkha, dan apabila diringkas, maka Pañcakkhandha ini cukup dise-but sebagai Näma dan Rìpa atau batin dan jasmani. Menurut Buddha Dhamma, makhluk-makhluk yang berdiam di 31 alam kehidupan itu, secara rinci, yaitu menurut keadaan dari perkembangan batin makhluk tersebut, dibagi atau dikelompokkan dalam 12 macam. Namun Sdr/i seDhamma sekalian, sebelum kita lanjutkan dengan pembahasan dari 12 macam makh-luk ini, maka terlebih dahulu harus kita mengerti tentang keadaan batin seseorang bila ditin-jau dari segi kadar kekotoran batinnya.
Sdr/i sekalian, sebagai umat Buddha yang sudah sering ke vihara dan sudah sering belajar Dhamma, tentu kita semua sudah tahu bahwa ada 6 akar perbuatan yang terdiri dari 3 akar perbuatan jahat dan 3 akar perbuatan baik. 3 akar perbuatan jahat ini yaitu Lobha (kese-rakahan), Dosa (kebencian), dan Moha (kegelapan batin); sedangkan 3 akar perbuatan baik yaitu Alobha (tidak serakah), Adosa (tidak benci), dan Amoha (tidak bodoh atau bijaksana). Sdr/i sekalian, 6 akar perbuatan ini juga dapat kita sebut sebagai 6 hetu, yaitu 3 kusala hetu atau 3 akar yang baik dan 3 akusala hetu atau 3 akar yang tidak baik. Tetapi, untuk istilah se-lanjutnya nanti, kusala hetu cukup disebut dengan sebutan hetu saja. Jadi, yang dimaksud hetu di sini adalah kusala hetu tersebut.
Sdr/i seDhamma, hetu-hetu inilah yang membuat seseorang terlahirkan dengan kon-disi yang tidak sama. Karena, seperti telah kita ketahui, bahwa manusia ini rata-rata masih memiliki Moha di dalam diri mereka, walaupun kadar moha mereka tersebut berbeda-beda. Tetapi, selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Ini harus kita sa-dari, bahwa selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Sedangkan Moha ini akan tetap ada sebelum seseorang mencapai tingkat kesucian Arahat. Jadi sekali la-gi Sdr/i sekalian, hetu-hetu inilah yang bisa membuat seseorang terlahirkan dengan kondisi yang tidak sama.
Sdr/i seDhamma, seperti telah kita ketahui, bahwa kondisi pikiran seseorang sebelum kematian, adalah yang paling menentukan seseorang itu akan terlahirkan kembali di alam apa dan dalam kondisi yang bagaimana. Jadi, kondisi pikiran seseorang sebelum meninggal ini sangat penting dan harus dijaga supaya sebelum meninggal selalu berada dalam kondisi pi-kiran yang baik agar nanti dapat terlahir kembali dengan kondisi yang baik pula. Kalau pada saat-saat menjelang kematian, dalam pikiran orang itu timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu pula dalam pikirannya tidak ada Alobha, Adosa, dan Amoha yang tim-bul. Mengapa demikian? Karena, dalam satu saat atau satu moment kesadaran, hanya bisa muncul satu macam obyek pikiran. Jadi, kalau pada saat itu dalam pikiran orang tersebut timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu juga dalam pikirannya tidak akan muncul Alobha, Adosa, dan Amoha. Akibatnya, dia berada dalam keadaan yang tidak tenang, sehingga kalau dia terlahirkan kembali, maka dia disebut sebagai ‘yang dilahirkan dengan kondisi Ahetuka’, atau yang dilahirkan dengan kondisi tidak mempunyai akar yang baik, atau bisa juga disebut terlahirkan dengan tidak mempunyai hetu yang baik. Jadi, dia terlahirkan dengan tanpa hetu atau ‘Ahetuka’. Dan, orang atau makhluk yang terlahirkan da-lam kondisi seperti ini, yaitu kondisi Ahetuka, maka dia akan terlahir kembali di alam-alam rendah seperti alam neraka, setan, asura, dan binatang; atau bisa juga terlahir sebagai manu-sia cacat, baik itu cacat pisik maupun cacat mental.
Sdr/i sekalian, selanjutnya, kalau menjelang kematian, dalam pikirannya tidak mun-cul Lobha dan Dosa, tetapi masih ada Moha meskipun munculnya tidak bersama-sama de-ngan Alobha dan Adosa. Jadi sekali lagi, pokoknya tidak muncul Lobha dan Dosa, meski-pun masih ada Moha, maka dia akan terlahirkan dengan memiliki dua akar atau dua hetu yai-tu Alobha hetu dan Adosa hetu. Hal ini disebut terlahirkan dengan ‘Dvihetuka’. Dvi artinya dua dan hetu artinya akan. Nah, bila terlahirkan dalam kondisi Dvihetuka ini, dia bisa terla-hirkan sebagai manusia normal atau dewa tingkat rendah. Hanya saja, dalam kondisi demiki-an ini masih susah untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian atau mencapai tingkat-tingkat Jhäna dalam kehidupan sekarang.
Selanjutnya lagi, Sdr/i seDhamma, kalau pikiran menjelang kematian tidak ada Lo-bha, Dosa, dan Moha; atau dapat dikatakan, pada saat itu pikirannya dalam kondisi Alobha, Adosa, dan Amoha; misalnya saja dia sadar (mengerti) tentang tidak adanya ‘roh’ atau ‘aku’ dan yang ada hanyalah Pañcakkhandha yang selalu berproses; dia memahami betul makna Anicca, dan sebagainya, maka dia dikatakan terlahirkan dengan kondisi Tihetuka atau terla-hirkan dengan tiga hetu. Bila terlahirkan dalam kondisi Tihetuka ini, maka kalau dia seka-rang berusaha dengan sungguh-sungguh, misalnya kalau dia melakukan samatha bhavana, maka dia bisa mencapai jhäna-jhäna; dan bila dia melakukan vipassana bhavana, maka dia bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian.
Jadi Sdr/i sekalian, hendaknya sekarang kita tahu bahwa di dalam diri kita ini ada 6 hetu atau 6 akar perbuatan, yang bisa menentukan tingkatan batin kita selanjutnya. Dan, 6 hetu ini akan muncul atau akan terjadi bila dikondisikan dengan kondisi-kondisi yang tepat, dan munculnya juga selalu berganti-ganti atau susul menyusul. Tetapi, pada waktu susul me-nyusul itu, misalnya pada waktu adanya Alobha, Adosa, dan Amoha, bukan berarti lalu dia sudah tidak punya Lobha, Dosa, dan Moha lagi. Bukan demikian. Jadi, dia hanya dilahirkan dengan akan kebaikan yang kuat karena akar kejahatannya pada saat itu sedang tidak mun-cul. Sdr/i sekalian, memang, kalau sesuatu dilakukan dengan cetana yang begitu kuat, maka pada saat menjelang kematian hal itu bisa muncul atau teringat kembali, sehingga dia terlahir kan lagi sesuai dengan kondisi pikirannya pada saat menjelang kematian tersebut.
Sdr/i sekalian, setelah kita membahas tentang 6 hetu ini, maka marilah sekarang kita membahas tentang 12 macam makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma, walaupun se-cara ringkas. Ke 12 macam makhluk ini pembagiannya ditinjau berdasarkan perkembangan batinnya. Ke 12 macam makhluk tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Dugati Ahetuka Pugala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyedihkan’; misalnya makhluk neraka, setan, binatang, dan asura.
2. Sugati Ahetuka Puggala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyenangkan’; misal-nya manusia cacat atau dewa tingkat rendah.
3. Dvihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘dua akar’, misalnya manusia nor-mal, dewa-dewa semua tingkat.
4. Tihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘tiga akar’.
5. Sotapatti Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ yang menarik hati, merupa kan orang suci tingkat pertama.
6. Sotapatti Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ yang menarik hati, merupakan orang suci tingkat kedua.
7. Sakadagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan lahir sekali lagi, merupakan orang suci tingkat ketiga.
8. Sakadagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk lahir sekali lagi, meru pakan orang suci tingkat keempat.
9. Anagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan tidak terlahir lagi, me-rupakan orang suci tingkat kelima.
10. Anagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk tidak terlahir lagi, meru-pakan orang suci tingkat keenam.
11. Arahatta Magga, yaitu mekhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ kesucian, merupakan orang suci tingkat ketujuh.
12. Arahatta Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ mencapai kesucian, merupakan orang suci tingkat kedelapan.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yaitu tentang jenis-jenis makhluk, terutama menurut pandangan Buddha Dhamma. Dan, bila di antara Sdr/i sekalian ada yang belum jelas, maka kami persilakan un-tuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Buku Acuan:
-
-

Dibacakan pada tanggal:
-
-
-

JANTUNG KEMANUSIAAN

JANTUNG KEMANUSIAAN

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
PUÑÑAÇ COREHI DÌHARAÇ
Jasa kebajikan tak dapat dirampas.
Saçyuttanikäya Sagäthavagga.

Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tadi membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita untuk membahas serta me renungkan salah satu Dhamma ajaran Sang Buddha yaitu tentang pengertian ‘Jantung Kema-nusiaan’. Jadi sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Jantung Kemanusiaan’.
Sdr/i sekalian, sekarang ini kita telah memasuki suatu bulan yang di dalam agama Buddha dikenal sebagai bulan Magha, di mana pada bulan purnama sempurna di bulan Ma-gha ini umat Buddha memperingati hari suci Magha. Hari suci Magha merupakan hari yang sangat bersejarah, keramat, dan istimewa; karena pada hari suci ini terjadi suatu peristiwa penting yang ditandai dengan empat peristiwa, yaitu sebagai berikut:
1. Pada saat bulan purnama sempurna di bulan Magha, 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian sempurna atau Arahat, datang bertemu di Veluvana arama di kota Rajagaha.
2. Ke-1250 bhikkhu yang kesemuanya telah mencapai Arahat tersebut, datang dari tempat yang berlain-lainan berkumpul di Veluvana arama di kota Rajagaha untuk menjumpai Sang Buddha, tanpa janji, tanpa musyawarah, tanpa persetujuan sebelumnya. Mereka da-tang serempak pada hari dan di tempat yang sama.
3. Seribu duaratus limapuluh bhikkhu tersebut, semuanya pada waktu ditahbiskan sebagai bhikkhu, ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha sendiri dengan sebutan ‘Ehi bhikkhu upasampada’, yang artinya para bhikkhu yang ditahbis langsung oleh Sang Buddha sen-diri.
4. Pada peristiwa yang istimewa ini, Sang Buddha membabarkan khotbah ‘Tiga Bait’ yang merupakan inti dari Dhamma ajaran Sang Buddha. Khotbah tiga bait ini dikenal juga de-ngan sebutan Oväda Patimokkhä, yang merupakan anjuran tentang penghayatan Dhamma. Apakah isinya? Pada kesempatan ini marilah kita ulangi dan renungkan bersama isi serta makna dari khotbah tiga bait tersebut. Demikianlah yang Sang Buddha babarkan:
Menghindari semua perbuatan jahat,
Menambah kebaikan,
Membersihkan pikiran sendiri,
Inilah ajaran semua Buddha.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, bait ini sesungguhnya tersusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Namun, kalau kita mau merenungkan dalam-dalam ternyata kalimat-kalimat sederhana tersebut adalah jantung dari kemanusiaan. Merupakan jantung dan tuntutan setiap umat manusia di muka bumi ini, yaitu ‘menghindari semua perbuatan jahat, menambah keba-ikan, dan membersihkan pikiran sendiri’.
“Tidak berbuat jahat”, adalah tuntutan semua ajaran agama. Tidak berbuat jahat ada-lah suara hati sanubari manusia yang paling murni, paling dalam. Kejahatan adalah pembawa penderitaan bagi makhluk lain. Bahkan, merupakan penyebab utama bencana bagi dunia ini. Dan lebih daripada itu, kejahatan adalah penghancur kehidupan kita sendiri. Karena itu, ja-nganlah kita berbuat jahat. “Jangan berbuat jahat” merupakan permintaan kita kepada diri ki-ta sendiri. Juga permintaan kita kepada setiap umat manusia. Kejahatan tidak pernah disetu-jui oleh hati nurani umat manusia. Kejahatan tidak pernah mendapat kompromi dari semua ajaran agama. Sdr/i, pada waktu Sang Buddha ditanya oleh Yakkha Alavaka tentang apakah yang harus dibunuh, maka Sang Buddha menjawab dengan tegas:”Kejahatanlah yang harus dibunuh”. Dan yang paling utama, kejahatan dalam diri kita sendirilah yang harus kita bunuh.
Sdr/i sekalian, selanjutnya mengenai “Tambahkanlah kebaikan”, adalah juga tuntutan kuat bagi setiap umat manusia dari semua ajaran agama. Dalam kehidupan ini, berusahalah kita berbuat baik. Sekali lagi, berbuat baik, berbuat dengan hati yang tulus. Berbuat baik ha-nya dengan tujuan supaya orang lain mendapat kebaikan, dan kebaikan dalam diri kita sendi-ri menjadi bertambah. Karena itu sesadar-sadarnya, ternyata hanya kebaikanlah yang akan membuat kita bahagia; yang akan membuat kita mampu bertahan menghadapi segala macam problem dan ketegangan dalam kehidupan ini.
Jadi Sdr/i, bukan kekerasan, bukan pula kekuasaan, bukan peperangan, bukan materi, tetapi hanyalah kebaikan. Kebaikan yang tuluslah yang akan menciptakan perdamaian di bu-mi ini di mana pun juga. Janganlah kita berbuat baik dengan pamrih yang lain, misalnya pamrih materi, pamrih kedudukan, pamrih nama, dan bermacam-macam pamrih rendah lain-nya. Jadi meskipun susah, berusahalah semampu mungkin menolong mereka yang membu-tuhkan pertolongan, mereka yang sedang menderita. Berusahalah menghibur mereka yang sedang sedih, bantulah mereka dengan niat yang murni, tanpa embel-embel. Kebaikan inilah modal terbesar bagi kita untuk mencapai semua cita-cita luhur kita. Tanpa kebaikan, kehidup an kita akan cepat hancur.
Sdr/i sekalian, kalau kita berusaha berbuat baik dengan setulus-tulusnya, maka kita pasti merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati, yang lain daripada kebahagiaan-kebahagia an yang lain. Sdr/i, memang dalam dunia ini, dalam kacamata materi, kebaikan itu kelihatan lemah. Kebaikan itu berbeda jauh dengan kekuasaan, dengan kegaiban, kekayaan dan benda-benda dunia lainnya. Namun, kebaikan mampu mengatasi segala-galanya. Meskipun kita mungkin pada suatu ketika terkena salah pengertian, ataupun fitnahan, atau perbuatan-perbu-atan jahat lainnya, hendaknya kita tetap teguh dalam niat baik kita yang tulus. Niat baik ini-lah yang akan mengangkat kehidupan kita dari semuanya itu.
Sdr/i sekalian, memang susah untuk membuktikan secara teori bahwa kebaikan yang kelihatan lemah mampu mengatasi kekerasan dan kejahatan. Tetapi kebenaran ini akan terli-hat dalam kehidupan kita sendiri bila kita telah membuktikannya. Alangkah menyedihkan, bi la di dunia ini sebagian besar umat manusia sudah tidak mempunyai keyakinan lagi terhadap kebaikan yang tulus dan murni. Alangkah menyedihkan, bila di dunia ini banyak di antara ki ta yang berbuat baik, tetapi baik yang hanya tampak luarnya saja, sedangkan di balik itu ter-sembunyi pamrih, pamrih nama, pamrih kedudukan, kemenangan, materi, dan seribu satu ma cam yang lain. Bila demikian, maka dunia kita ini akan dilanda krisis kebaikan.
Sdr/i, di antara semuanya, kebaikanlah yang paling unggul. Di antara senjata, senjata kebaikan yang paling tajam. Di antara kekuatan, kekuatan kebaikan yang paling hebat. Di antara segala ilmu gaib, kebaikan adalah kesaktian yang paling ampuh. Di antara semua ma-teri, kebaikan adalah kekayaan yang paling luhur. Di alam semesta ini, tidak ada yang bisa menaklukkan kebaikan. Meskipun dewa Brahma turun ke bumi, kebaikan tetap di atas segala galanya.
Sdr/i yang berbahagia, seorang umat Buddha hendaknya selalu hidup dengan tenang menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari. Apapun bentuknya. Karena, seorang umat Bud dha, demikian juga kita semua, hendaknya selalu mempunyai keyakinan yang teguh kuat ter-hadap kebaikan. Kebaikan yang tulus dan murni. Seandainya kita sudah berada di ujung maut, kalau kita masih mempunyai karma-karma baik, karma baik itulah yang akan menyela matkan kita. Berbahagialah Sdr/i yang teguh di dalam kebaikan.
Akhirnya Sdr/i sekalian, pada khotbah istimewa dalam bait ke 3 tersebut Sang Bud-dha mengatakan:”Bersihkanlah pikiran sendiri”. Tidak berbuat jahat dan selalu menambah ke baikan dengan niat yang tulus, adalah pangkal kebersihan pikiran. Pikiran ini harus kita ber-sihkan sendiri. Karena, tidak seorang pun, sekali pun dewa, bisa membuat pikiran kita menja di bersih atau suci. Dengan pikiran yang bersih, kita akan dapat bertahan dalam kehidupan ini. Berseri-seri di mana pun juga. Batin kita tenang dan cemerlang.
Sdr/i sekalian, inilah tiga kaliamt sederhana yang keramat dan suci, yang menjadi tun tutan suci sanubari setiap umat manusia. Jantung kemanusiaan dan jalan kebahagiaan. “Menghindari semua perbuatan jahat, menambah kebaikan, dan membersihkan pikiran sen-diri”. Demikianlah Sdr/i yang berbahagia, perenungan dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini dan semoga dapat menjadi motivasi kita dalam berbuat kebaikan.
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!

JADIKAN TUAN

JADIKAN TUAN BAGI PIKIRAN SENDIRI

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
TELAPATAM YATHA PARIHAREYYA EVAM SACITTAMANURAKKHE
Hendaklah orang selalu memperhatikan pikirannya sendiri seperti orang yang memba-wa tempayan penuh dengan minyak.
Khuddakanikaya Jataka Ekanipata.

Sdr/i seDhamma, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita me-ngarahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Jadikan Tuan bagi Pikiran Sendiri’. Jadi sekali lagi, ju-dul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Jadikan Tuan bagi Pikiran Sendiri’.
Sdr/i sekalian, sudah kita ketahui bahwa yang namanya manusia ini, semenjak lahir sudah memiliki jasmani dan batin. Dalam jasmani ada panca indera yang setiap saat dapat mengadakan kontak dengan obyeknya atau lingkungannya sehingga terjadilah reaksi atau pro-ses batin yang sering kita kenal dengan nama pikiran atau kesadaran. Pikiran inilah yang sela-lu mengendalikan kita di dalam kehidupan. Pikiran merupakan gejala atau gelombang dari ba-tin. Segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini dapat dibeberkan dalam pikiran manusia. Su-ka, duka, cinta, benci, timbul oleh karena pikiran kita. Maka dari itu barang siapa yang mau hidup dengan penuh kedamaian, tenang, dan bahagia, maka haruslah melatih atau merawat pi-kirannya sendiri dengan teguh.
Sdr/i seDhamma, pikiran adalah sesuatu hal yang tidak memiliki tubuh, sehingga bila hendak kita tunggangi, sudah pasti tidak dapat, bila hendak kita pukul, tidak kena. Oleh sebab itu, melatih pikiran haruslah dengan menggunakan teknik tertentu. Menjalankan puasa atau makan hanya sedikit mungkin juga merupakan suatu cara untuk melatih pikiran dan sekaligus juga melatih tubuh kita. Banyaknya makanan yang kita masukkan ke dalam tubah kita dapat menyebabkan beban di dalam perut yang menjadikan kita cepat mengantuk. Hal tersebut sa-ngat membuang waktu dan merupakan musuh bagi orang yang hendak mawas diri. Memang, bagi umat awam yang hidupnya tidak pernah mengendalikan dan menguasai pikirannya, akan selalu cenderung mencari kenikmatan atau kesenangan melalui panca indera, yang oleh keba-nyakan orang hal ini justru dipandang sebagai berkah, kesenangan, dan kebahagiaan. Namun, kenyataan yang sebenarnya, hal ini merupakan kekotoran batin yang tidak pernah puas, selalu dalam keadaan bingung dan kacau. Jika pikiran tidak menemukan obyek yang baik dan benar, akan menjadi sebab utama dari munculnya beraneka ragam kejahatan.
Sdr/i sekalian, bilamana indera kita kontak dengan obyeknya masing-masing, di sana-lah akan timbul rasa senang atau tidak senang, puas atau tidak puas, benar atau salah, dan lain lainnya. Semua itu merupakan gejala dari batin yang negatif, yaitu yang disebut ‘Kilesa’ atau kekotoran batin. Bilamana kekotoran batin ini timbul, serasa bagaikan kobaran api yang me-nyala-nyala, yang siap menyulut apa saja. Dalam hal ini, kita harus mengetahui latar belakang penyebabnya dan kondisinya, sehingga tidak sempat terwujud dalam ucapan atau dalam ting-kah laku perbuatan kita. Di dalam keadaan demikian, lebih baik kita bersikap diam dan tutup mulut meskipun batin kita terasa panas sekali. Kita amati saja keadaan batin kita yang sedang demikian itu. Nanti kita jadi tahu bahwa batin yang panas, benci, serakah, sedih, kacau, dan lain-lainnya, merupakan sebab dari berbagai macam tingkah laku yang buruk atau pembicara-an yang tajam dan menusuk, yang mengakibatkan bertambahnya musuh dan berkurangnya sa-habat. Inilah kerugian bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan dan menguasai dirinya sendiri, sehingga wajarlah penderitaan itu diterima dan dirasakan sendiri.
Sdr/i yang berbahagia, seorang yang bijaksana pasti memiliki keyakinan dan kepastian akan Hukum Kamma. Ia yakin bahwa perbuatan apapun yang dilakukannya, ia sendirilah yang akan menuai hasilnya. Perbuatan yang baik akan menghasilkan kebahagiaan, dan perbu-atan yang buruk akan mendatangkan kesengsaraan. Oleh karena itu, ia takut akan akibat dari perbuatan yang buruk. Perbuatan apapun yang dilakukan, akibatnya akan diterima oleh diri sendiri, dan perbuatan ini mungkin tidak hanya sekali saja terjadi akibatnya, melainkan dapat beratus-ratus kali terhadap satu perbuatan yang telah dilakukannya. Seorang yang bijaksana akan cepat menguasai dan menaklukkan pikirannya sendiri andaikata gelora panas kekotoran batin seperti misalnya menerima fitnah, cacian, pemukulan, dan sebagainya sedang menimpa-nya. Pada saat itu tindakan yang terbaik yang dilakukan adalah berdiam diri dan tanpa mem-berikan reaksi apapun. Orang yang berdiam diri dan tanpa memberikan reaksi apapun ketika tahu batinnya sedang panas membara, adalah seorang pemenang, karena ia mampu menakluk-kan dan menguasai pikirannya yang sedang diliputi Kilesa itu. Inilah pahlawan yang amat sa-ngat sulit dicari. Maka, jadikanlah diri tuan sebagai pahlawan. Seorang yang melakukan tin-dak kejahatan, sebenarnya ia adalah budak dari batinnya yang kotor, yang hanya mengikuti apa saja yang timbul di dalam pikirannya yang penuh dengan Kilesa itu tanpa sempat dan mau serta mampu mengendalilkannya.
Sdr/i seDhamma, sebagai umat Buddha yang baik, hendaknya seseorang harus serta wajib menjalankan Pabca Sila Buddhis di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu melatih untuk ti-dak membunuh, tidak mengambil barang yang tidak diberikan, tidak berbuat asusila, tidak berkata yang tidak benar, dan tidak menggunakan makanan atau minuman atau barang yang dapat menyebabkan ketagihan dan lemahnya kewaspadaan. Kekuatan untuk merealisasikan Pabca Sila Buddhis tersebut sebenarnya disebabkan oleh satu faktor saja yaitu kendalikan atau kuasailah pikiran. Mengapa? Karena pada dasarnya pikiran kitalah yang melatarbela-kangi segala wujud aktifitas kita sehari-hari. Jadi, sebab kejahatan harus kita stop agar tidak tersalur ke mulut atau ke perbuatan jasmani kita dengan cara berdiam diri tanpa memberikan reaksi apapun. Karena, dengan tidak melakukan sesuatu apapun, di sana pulalah tiada kesalah-an yang akan dilakukan. Menjalankan Pabca Sila Buddhis berarti pula menyempurnakan Sila atau kemoralan kita sehingga batin kita yang jernih pun akan semakin berkembang.
Sdr/i yang berbahagia, orang yang bijaksana, bila mengetahui seseorang itu melaku-kan kejahatan, maka ia tidak akan menyalahkan orang itu, tidak pula menyalahkan agamanya, dan tidak pula menyalahkan suku bangsanya. Mengapa? Karena ia tahu bahwa kesalahan itu terletak pada pikiran orang yang sudah terbiasa melakukan kejahatan tersebut, yang tidak per-nah melatih dan menguasai pikirannya sendiri. Pikiran manusia itu hampir sama saja menye-rupai komputer. Bila pikiran itu selalu terisi oleh hal-hal yang rendah, kotor, penuh kebencian, keserakahan, dan beraneka macam kejahatan, maka jawaban dan tanggapan yang didapat se-suai pula dengan isi program yang telah ada di dalam pikiran orang itu sendiri. Dengan me-mahami kondisi yang seperti ini, orang yang bijaksana tidak akan bergaul di dalam lingkung-an yang tidak baik karena ia tahu lingkungan yang tidak baik dapat menyeret orang untuk me-lakukan hal-hal yang tidak baik pula.
Sdr/i sekalian, pada umumnya, sifat yang biasa dari pikiran manusia adalah selalu da-lam keadaan bergerak, loncat ke sana lari ke mari, selalu bergetar dan tidak pernah diam sedi-kitpun. Inilah yang menyebabkan terjadinya bentuk-bentuk pikiran buruk seperti kebingungan atau kekacauan bagi mereka yang tidak pernah melatih dan menguasai pikirannya sendiri. Oleh sebab itu, dengan melihat sifat dasar dari pikiran tersebut, wajiblah bagi kita semua un-tuk mau dan tekun melatih menguasai pikiran kita sendiri. Untuk melatih pikiran itu agar ti-dak liar dan binal, kita harus memberikan pada pikiran itu suatu obyek yang akan mengikat-nya, yakni memperhatikan terus menerus pada obyek tersebut. Misalnya, bilamana pikiran lari dari obyek yang telah kita tetapkan itu, kita harus mengembalikan kembali pikiran tersebut mengarah pada obyek itu lagi. Pikiran lari ke sana, tarik ke obyek lagi. Pikiran mengarah ke lain hal, kembalikan ke obyek itu lagi terus menerus hingga akhirnya nanti mencapai kesatuan dengan obyek itu. Obyek yang paling baik untuk melatih pikiran tersebut adalah dengan memperhatikan sentuhan dari pernafasan, yaitu di antara bibir atas dan ujung hidung. Dengan melatih terus menerus cara demikian ini, akhirnya pikiran itu akan kelelahan dan masuk ke dalam obyek tersebut. Saat itulah pikiran mengalami istirahat yang sebenarnya. Ke manapun kita pergi, di sana pulalah pikiran tersebut berada. Oleh sebab itu, bila ada waktu senggang dan merasa tiada sesuatu pekerjaan yang harus dikerjakan, pergunakanlah waktu tersebut un-tuk melatih pikiran itu ke arah pernafasan meskipun hanya 10 – 15 menit saja. Ini dapat dila-kukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Usahakanlah pada setiap waktu yang lu-ang untuk melatih pikiran, agar kita menjadi tuan bagi pikiran kita sendiri; bahwa kita adalah arsitek dari kehidupan kita sendiri. Inilah kekayaan dalam menggunakan waktu. Dengan me-latih pikiran seperti ini terus menerus, berarti pula kita mengecilkan atau mengurangi penderi-taan-penderitaan kita, sehingga dalam hal ini sudah jelas bahwa ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan akan bertambah besar dan teguh.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Jadikan Tuan bagi Pikiran Sendiri’. Semoga uraian Dhamma ini dapat berguna untuk kebahagiaan kita semua. Dan, bila di antara Sdr/i sekalian ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, maka kami persilakan untuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
--------------------

Dipetik dari khotbah Bhikkhu Dhammavijayo dengan gubahan seperlunya.

Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-

IBU

IBU

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
SUKHA MATTEYYATA LOKE.
Mempunyai ibu adalah kebahagiaan di dunia ini.
Khuddakanikaya Dhammapadagatha.

Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah sekarang kita mengisi kebaktian hari ini dengan mengadakan pembahas-an dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Ibu’. Sdr/i, pembahasan dan perenungan Dhamma yang berjudul ‘Ibu’ ini kami ketengahkan sehubngan dengan adanya peringatan Hari Ibu yang jatuh pada setiap tanggal 22 Desember; dan tentu kita semua yang ada di sini pasti juga sudah mengerti maknanya, yaitu bahwa hal tersebut bertujuan untuk mengingatkan kita semua terhadap adanya peranan dari seorang ibu yang sangat penting artinya bagi keberadaan kita di dunia ini.
Sdr/i seDhamma, seperti telah kita ketahui, bahwa ternyata tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak dilahirkan melalui ibu. Ibulah yang melahirkan kita dan sekaligus yang pertama sekali memberikan cinta kasih sejati kepada kita; yang mengasuh kita, dan mengorbankan segala-galanya bagi kita. Raja Dhamma sendiri, yaitu Sang Buddha, juga dilahirkan oleh ibunya, yaitu di tengah perjalanan ke kota Devadaha. Demikian pula dengan salah seorang siswa Sang Buddha yang berna-ma Sivali, yaitu yang mencapai Arahat pada waktu rambutnya dicukur, ia juga dilahirkan oleh ibu-nya yang telah menderita karena mengandungnya selama tujuh tahun, tujuh bulan, tujuh hari. Sela-ma itulah dia mengandung anaknya. Selanjutnya, ada lagi siswa Sang Buddha yang bernama Angu-limala. Ia justru akan membunuh ibunya sendiri, tetapi ternyata perasaan ibunya tidaklah demikian. Mengapa? Karena, bagi ibunya, ia dilahirkan dengan rasa sayang yang sejati. Jadi Sdr/i sekalian yang berbahagia, jika kita mau merenungkan dengan pikiran jernih, tentu kita akan mengerti bahwa setiap orang pasti telah mendapatkan cinta kasih dan kasih sayang yang sejati dari ibunya, yang wa-laupun mungkin ada yang hanya sebentar saja merasakan hal tersebut. Ini sangat masuk akal Sdr/i, karena, sepertinya tiada orang lain selain ibu yang dapat memberikan permata cinta kasih yang me-lebihi itu. Maka, untuk hal-hal itulah Sdr/i, kita perlu merenungkan, kita perlu menghayati jasa-jasa seorang ibu yang tidak kecil artinya bagi kita semua ini.
Sdr/i seDhamma sekalian, demikian juga pada hari ini, dalam rangka memperingati Hari Ibu, dalam rangka mengenang jasa-jasa kebajikan ibu-ibu kita dalam peranannya membimbing kita, ma-ka marilah kita sekarang bersama-sama merenungkan sebuah kisah yang dipetik dari Sonadanda Ja-taka, yaitu kisah tentang Bodhisatta (calon Sammasambuddha) yang mengungkapkan kebajikan ibu, yang dibuat dalam bentuk sajak seperti yang kami uraikan berikut ini:
“Dengan penuh kasih sayang dia melindungi kita, dia membesarkan kita dengan air susunya. Seorang ibu adalah jalan ke surga, dan engkulah yang amat dikasihinya.
Ia mengasuh dan memelihara kita dengan penuh perhatian; ia dikaruniai dengan sifat-sifat mulia ini.
Seorang ibu adalah jalan ke surga, dan engkaulah yang amat dikasihinya. Karena mendambakan anak, maka dengan berlutut ia sembahyang di depan cetiya. Ia memperhati-kan perubahan musim dan mempelajari ilmu perbintangan. Akhirnya, ia merasa bahwa ke-inginannya yang halus terwujud; yaitu ia hamil. Dan segera bayi yang masih dalam kan-dungan itu mulai mengetahui kawan yang mencintainya tersebut. Selama setahun atau ku-rang, ia menjaga hartanya ini dengan hati-hati. Kemudian ia melahirkannya; dan sejak saat itu ia memakai sebutan ‘ibu’.
Dengan susu dan senandung ia menenangkan anaknya yang gelisah. Anaknya dibung kus dalam kehangatan pelukan tangan ibunya, sehingga kesusahannya segera lenyap. Ia menjaga bayi yang belum tahu apa-apa ini dari gangguan angin dan panas. Dengan membe-lai anaknya demikian, ibu dapat disebut sebagai kekasih perawatnya.
Barang apapun yang merupakan milik suami dan dirinya, ia simpankan untuk anak-nya dengan harapan ‘Semoga bisa untuk kebahagiaan anaknya’. Ia berpikir:’Anakku sa-yang, suatu saat semuanya ini akan menjadi milikmu’.
‘Hai, anakku sayang, lakukan ini dan itu’ kata ibu yang khawatir anaknya berbuat sa-lah. Dan setelah anaknya dewasa, sang ibu juga masih mengeluh dan bersedih hati. Ka-dang-kadang pada malam hari, dengan gegabah ia pergi mengganggu istri orang lain untuk menanyakan ke manakah anaknya. Ibunya yang khawatir dan sedih itu bertanya dalam hati: ‘Mengapa selarut malam ini anakku belum kembali?’
Jadi, berdasarkan fakta-fakta tadi, maka apabila ada seseorang sampai melupakan pen deritaan ibunya yang telah mengasuh dirinya dengan penuh kekhawatiran seperti itu, apala-gi sampai menipu ibunya, maka aku katakan, apakah yang akan diperolehnya selain daripa-da neraka? Dikatakan pula, bahwa mereka yang sangat mencintai kekayaannya, apabila ia sampai berbuat demikian, maka kekayaan mereka akan segera lenyap. Demikian pula, sese-orang yang melupakan ibunya, akan segera menyesali akibat yang pasti ditanggungnya.
Hadiah, kata-kata lemah lembut, jasa-jasa baik serta penghormatan, yang diperlihat-kan dengan batin tenang dan seimbang pada waktu dan tempat yang tepat; bagi dunia, mu-lia tersebut adalah bagaikan paku as pada roda kereta. Apabila tidak ada sifat-sifat mulia ter sebut, maka nama ibu akan terbawa-bawa oleh anaknya. Ibu adalah seperti raja yang dimah kotai dengan penghormatan. Para bijaksana memuji orang yang memiliki sifat mulia itu, se-hingga dalam dunia ini dan setelah mati, pasti ia akan memperoleh kebahagiaan”.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, itulah tadi syair dari kisah Jataka yang diungkapkan oleh Bodhisatta sendiri untuk mengagungkan seorang ibu. Para bijaksana menggunakan istilah ‘ibu seja-ti’ untuk menamakan kebajikan dan pengorbanannya yang sempurna, untuk melukiskan cinta kasih dan kasih sayangnya yang murni, yang daripadanya dapat terlahir para Bodhisatta. Dari berbagai ce-rita, kita telah mengetahui jasa-jasa yang telah diberikan oleh seorang ibu terhadap anaknya.
Sdr/i sekalian, ibu sejati, adalah ibu yang pertama kali mendidik dan mengajarkan Sila kepa-da putra-putrinya. Ibu yang menumbuhkan Hiri dan Ottappa kepada putra-putrinya, yaitu rasa malu terhadap perbuatan jahat dan rasa takut terhadap akibat dari perbuatan jahat. Jadi, ibu sejati dapat di-katakan merupakan pendukung masyarakat yang utama. Jika suatu keluarga diumpamakan sebagai suatu bangunan; maka dalam hal ini ayah dikatakan sebagai atap dari bangunan tersebut, yaitu yang menaungi semua yang ada di dalamnya. Sedangkan ibu, diumpamakan sebagai tiang bangunannya yang bisa menjiwai keluarga tersebut. Sebab, banyak sekali masyarakat tercela, keluarga tercerai be-rai, dan para remaja berhati kacau karena disebabkan oleh ibu yang tidak memberikan asuhan sejati. Dari data-data catatan statistik sering didapatkan bahwa generasi yang lahir dengan ditinggalkan oleh ibunya, misalnya karena adanya suatu peperangan, maka akan terlihat bahwa generasi tersebut akan menjadi generasi yang sering menumbuhkan kekacauan. Jadi, jelas terlihat bahwa asuhan ibu sejati sesungguhnya merupakan bagian utama bagi setiap anak dan merupakan suatu kemudi yang cerah bagi setiap remaja. Asuhan sejati merupakan permata utama bagi seorang ibu, karena setiap anak pasti membutuhkannya. Namun Sdr/i sekalian, kadang-kadang tidak setiap ibu sudi memberi-kan permata utama yang dimilikinya itu kepada putra-putrinya. Mengapa bisa demikian? Hal ini se-baiknya kita tanyakan saja langsung kepada para ibu yang ada di sini, kira-kira apa sebabnya kok ada ibu yang bisa bertindak demikian. Kok sampai tega bertindak demikian. Sebab, dalam hal ini Sdr/i, kami sendiri juga belum berpengalaman atau bahkan tidak pernah berpengalaman dalam hal menjadi ibu. Oleh sebab itu, dapat kita bahas bersama dengan ibu-ibu yang ada di sini nanti.
Sdr/i seDhamma sekalian, setelah kita dapat mengetahui betapa besar pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, misalnya seperti yang diuraikan dalam kisah Jataka tadi, dan juga mungkin se-perti yang kita alami sendiri, maka apabila kita membandingkan, rasanya segala penghormatan kita dan cinta kasih yang kita berikan untuk ibu kita, jauh belum berarti bila dibandingkan dengan jasa beliau yang sejati tadi. Oleh sebab itu, melayani ibu dengan penuh kasih sayang, yang timbul dari rasa kita ingin membahagiakan ibu karena ibu adalah pembawa jasa utama bagi kita, barulah merupa kan kebahagiaan kecil untuk pengorbanan yang sejati itu.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, lalu bagaimanakan balas jasa kita supaya bisa memadai atau paling tidak seimbang dengan pengorbanan yang dilakukan oleh ibu kita itu? Sdr/i sekalian, da-lam hal ini kita dapat mencontoh dari perbuatan balas jasa yang dilakukan oleh Sang Buddha kepada ibunda Beliau. Sang Buddha sendirilah yang telah berhasil memberikan jasa tertinggi, yaitu jasa yang sangat mulia bagi ibunda Beliau. Hal tersebut merupakan balas budi terhadap orang tua yang tiada tara bandingannya dalam sejarah kehidupan makhluk-makhluk. Tujuh tahun sesudah Penerang an Sempurna, Beliau melewatkan tiga bulan masa vassa untuk tinggal menetap di surga Tavatimsa gana membalas jasa kebajikan ibunda Mahamaya yang pernah melahirkannya. Pada waktu itu ibun-da Mahamaya terlahir kembali sebagai putra dewa di alam surga Tusita, yaitu dua tingkat di atas alam surga Tavatimsa. Ini bukan berarti bahwa Sang Buddha Gotama salah menuju tempat. Beliau sengaja naik ke surga Tavatimsa karena alam ini merupakan tempat pertemuan para dewa dari per-bagai tingkat. Di alam Tavatimsa ini terdapat balai umum yang bernama Saddhammasala, yang di-pergunakan untuk mendengarkan dan memperbincangkan Dhamma. Ketika berjumpa dengan Raja Dewa Indraa, Sang Buddha memerintahkan untuk menjemput ibunda Mahamaya. Tatkala ibunda Mahamaya telah tiba, Sang Buddha duduk di singgasana Pandukambala dengan sangat agungnya dan memutuskan untuk mewejangkan Abhidhamma kepada ibundaNya yang didampingi oleh para dewa dalam jumlah yang sangat banyak, dan pewejangan ini berlangsung tanpa berhenti sekejappun. Di akhir pewejangan tersebut, sejumlah 800 juta (800 koti) dewa berhasil meraih kesucian tingkat Arahat. Sementara itu, ibunda Mahamaya sendiri meraih kesucian tingkat Sotapanna. Jadi, di sinilah dengan penuh cinta kasih, Sang Buddha memberikan Dhamma kebebasan kepada ibuNya sehingga akhirnya nanti ibuNya berhasil mencapai kebebasan, yaitu terpotongnya tumimbal lahir untuk sela-ma-lamanya. Inilah penghormatan dan cinta kasih Sang Buddha kepada ibuNya, dan merupakan ba-las budi terluhur dari segala-galanya. Sehari setelah habisnya musim hujan, yang berarti selesainya pewejangan Abhidhamma di surga Tavatimsa, Beliau dengan diiringi para dewa turun kembali ke bumi, tepatnya di daerah Sankassa. Peristiwa turunnya Sang Buddha Gotama ini sekarang diper-ingati oleh umat Buddha sebagai hari Devorohana.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, jadi kita sekarang sudah dapat menghayati sendiri contoh per buatan Sang Buddha tadi, dan kita juga menyadari bahwa perbuatan seorang anak yang bagaimana-pun juga, belumlah dapat menyamai mempersembahkan Dhamma kebebasan kepada ibunya sebagai balas jasa untuk pengorbanan sejati seorang ibu kepada anak-anaknya. Sdr/i seDhamma, berbagai macam buah karma buruk telah sering kita dengar karena seorang anak mengingkari ibunya, demiki-an pula bermacam-macam cara berbuat jasa dan akhirnya jasa tertinggi yang seharusnya dipersem-bahkan oleh seorang anak kepada ibunya telah pula kita dengar. Mudah-mudahan pengertian terha-dap perenungan ini, akan membuat kita semakin giat dalam memahami dan menghayati Dhamma Sang Buddha demi kebebasan kita semua. Terimakasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
___________________

Sumber Acuan:
1. Sang Buddha dan Ajaran-ajaranNya, oleh Ven. Narada.
2. Cermin Kehidupan, oleh Ven. Narada.
3. Abhidhamma, Sabda Murni Sang Buddha?, oleh Jan Sabjivaputta.
4. Ibu, oleh Samanera Tejavanto.

Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-

HUKUM PERBUATAN

HUKUM PERBUATAN

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
KALYANAKARI KALYANAM PAPAKARI CA PAPAKAM.
Barang siapa berbuat baik akan menerima akibat yang baik;
barang siapa berbuat jahat akan menerima akibat yang buruk.
Khuddakanikaya Jataka Dukanipata.

Sdr/i seDhamma yang berbahagia/ marilah kita sekarang bersama-sama mengarahkan perhati an dan konsentrasi kita/ untuk mengisi kebaktian pada hari ini/ dengan mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma/ yang kali ini berjudul ‘Hukum Perbuatan’. Sekali lagi Sdr/i, judul pemba-hasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Hukum Perbuatan’.
Sdr/i sekalian/ sudah sangat sering sekali/ kita semua yang sekarang berada di vihara ini/ membahas masalah Dhamma yang berkenaan dengan hukum perbuatan/ yang istilah lainnya yaitu hukum kamma/. Kita sudah sangat sering sekali membahas hal ini/. Namun Sdr/i sekalian/ meskipun kita sudah sering sekali membahas hukum perbuatan ini/ tetapi ternyata/ untuk mewujudkan pengha-yatan kita terhadap hukum perbuatan ini di dalam kehidupan kita sehari-hari/ ternyata masih belum cukup/ bahkan masih sangat kurang/. Ya/ terus terang saja Sdr/i, penghayatan kita terhadap hukum perbuatan yang kita wujudkan/ atau yang kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari/ ternyata masih sangat kurang/. Mengapa dapat dikatakan masih kurang?/ Apakah alasannya?/ Bukankah sete-lah mengerti pelajaran tentang hukum perbuatan ini/ kita sudah sangat sering melakukan perbuatan baik?/ Lalu/ mengapa masih dikatakan bahwa penghayatan kita dalam mewujudkan hukum perbuat-an tersebut dalam kehidupan sehari-hari masih kurang?/ Mengapa demikian?/
Sdr/i yang berbahagia/ memang benar/ tidak salah/ bahwa setelah Sdr/i belajar Dhamma dan menghayati hukum perbuatan ini dengan baik/ maka Sdr/i menjadi lebih sering untuk melakukan ba-nyak sekali perbuatan baik/ bahkan dengan disertai penuh pengertian/. Itu sangat benar/ dan hal itu sudah merupakan suatu kemajuan batin/ tidak salah lagi/. Tetapi Sdr/i, ternyata/ masih ada segi lain lagi yang harus pula kita pahami sungguh-sungguh maknanya berdasarkan pengalaman kita sendiri/ yaitu/ bahwa kita ini masih sering sekali meremehkan suatu perbuatan/. Artinya/ kita masih suka menganggap sepele terhadap suatu perbuatan/ contohnya/ kita masih sering melakukan hal-hal seper ti demikian/ “Ah, tidak apa-apa deh, kan cuma berbuat begini saja, nanti juga kalau berbuah kita su-dah lupa. Tidak apa-apa, kok!” / Ini yang pertama, Sdr/i, / yaitu kita masih suka meremehkan suatu perbuatan dengan alasan tidak apa-apa/ karena/ paling-paling nanti kita sudah lupa apabila perbuatan itu berbuah./ Selanjutnya Sdr/i, / hal yang kedua yang masih perlu diperhatikan/ yaitu kita masih se-ring bersikap ‘tidak mau menerima’ terhadap hasil perbuatan buruk kita yang sekarang sedang ber-langsung pada diri kita./ Kita sering sekali tidak mau menerima kenyataan tentang hal ini./ Tidak mau mengerti terhadap hal yang satu ini/ walaupun/ kita sudah tahu bahwa itu adalah hasil dari per-buatan kita sendiri./ Sebagai contoh/ misalnya kita sedang sakit/ atau sedang mengalami vipaka bu-ruk lainnya/ tentunya kita sudah tahu bahwasanya kita menderita demikian itu adalah akibat dari per buatan buruk kita yang sedang berbuah;/ tetapi kenyataannya/ pada saat hal tersebut terjadi/ kita ma-sih sering melakukan penolakan atau bersikap ‘tidak mau menerima’ terhadap hal tersebut./ Misal-nya kalau kita sedang sakit gigi./ Kita tahu bahwa sakit gigi ini adalah akibat dari kamma buruk yang sedang berbuah/ kita sangat tahu hal ini./ Tetapi/ kenyataannya tetap saja kita masih mengomel “Wah, brengsek, kenapa saya jadi sakit gigi begini? Dan, kenapa sakitnya ini tidak mau hilang? Kata nya semua Anicca/ tidak kekal/ tetapi mengapa sakit gigi saya ini tidak mau hilang-hilang?/ Perbuat-an apa ya yang dulu pernah saya perbuat sehingga sekarang jadi sakit gigi begini?”/ Nah, Sdr/i seka-lian/ demikian kira-kira bentuk-bentuk ungkapan penolakan terhadap vipaka buruk yang sedang ber-buah tersebut./ Dan/ hal demikian itu tentu terjadi pula pada bentuk-bentuk vipaka buruk lainnya yang sedang kita terima atau sedang kita petik buahnya./ Jadi Sdr/i sekalian/ kedua hal inilah/ yaitu masih menganggap remeh pada suatu perbuatan/ dan satunya lagi/ tidak mau menerima terhadap ha-sil perbuatan buruk yang sedang kita petik/ yang masih sangat perlu kita perhatikan./ Sebab/ hal ini juga sangat berperanan dalam lapangan hukum perbuatan yang kita miliki./
Sdr/i sekalian yang berbahagia/ setelah kita tahu bahwa masih ada dua hal seperti tadi yang sangat perlu kita perhatikan/ lalu bagaimana mengatasinya?/ Dan/ mengapa kedua hal tersebut men-jadi sangat perlu diperhatikan?/ Sdr/i sekalian/ tentu saja kedua hal tersebut masih harus kita perhati-kan/ bahkan harus kita ketahui dan kita atasi/ karena kedua hal tersebut juga merupakan suatu keko-toran batin yang tentu berlandaskan pada Lobha (keserakahan/kemelekatan)/ Dosa (kebencian)/ dan Moha (kegelapan batin)./ Jadi/ kedua hal tadi adalah perwujudan dari Lobha/ Dosa/ dan Moha yang sedang timbul./ Coba saja sekarang Sdr/i renungkan sendiri/ pasti dengan cepat Sdr/i bisa tahu bah-wa kedua hal tadi memang masih merupakan perwujudan dari Lobha/ Dosa/ dan Moha./ Dan/ sela-ma Lobha/ Dosa/ dan Moha ini masih banyak dan masih terus saja bertambah/ maka penderitaan ki-ta juga masih akan banyak dan masih terus saja bertambah./ Oleh sebab itulah/ kedua hal tadi/ yaitu meremehkan suatu perbuatan dan tidak mau menerima terhadap hasil dari perbuatan buruk yang se-dang berbuah/ harus kita pahami benar-benar dan kita atasi./
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia/ sekarang/ lalu bagaimana cara untuk mengatasi kedua hal tadi?/ Tentu saja untuk mengatasi kedua hal tersebut/ dan juga untuk mengatasi semua masalah kekotoran batin/ caranya yang paling inti yaitu hanya dengan mempraktikkan Sila/ Sama-dhi/ dan Pabba./ Tidak ada cara lain selain dengan mempraktikkan Sila/ Samadhi/ dan Pabba yang dapat mengatasi kekotoran batin tersebut./ Jadi/ hanya dengan mempraktikkan Sila/ Samadhi/ dan Pabba./ Namun Sdr/i, / meskipun demikian/ kami akan mencoba menguraikan atau menjabarkan hal ini supaya lebih mudah kita pahami bersama-sama./ Sdr/i seDhamma sekalian/ langkah awal/ untuk dapat mengatasi kedua hal tadi/ yang harus kita lakukan adalah harus memahami dengan sungguh-sungguh/ harus benar-benar mengerti/ terhadap suatu hukum/ yang bernama hukum perbuatan atau hukum kamma./ Kita harus mengerti bahwa hukum kamma ini adalah suatu hukum kebenaran Dhamma./ Jadi/ kita harus mengerti sungguh-sungguh bagaimana sifat/ atau bagaimana cara kerja-nya hukum perbuatan ini/ yang tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun juga./ Kita harus benar-benar memahami hal ini./ Dan/ jangan dilupakan/ bahwa untuk dapat lebih memahami sifat Dham-ma dari hukum perbuatan ini/ maka tetap diperlukan praktik Sila/ Samadhi/ dan Pabba yang baik./ Janganlah hal ini dilupakan./ Nah, Sdr/i,/ sekarang/ bagaimana sifat atau cara kerja dari hukum per-buatan ini?/ Sdr/i sekalian/ sifat atau cara kerja dari hukum perbuatan ini adalah sebagai berikut:/ “Barang siapa berbuat baik/ akan menerima akibat yang baik;/ dan barang siapa berbuat jahat/ akan menerima akibat yang buruk./ Demikianlah sifat atau cara kerja dari hukum perbuatan yang sudah ti dak dapat ditawar-tawar lagi./ Sudah mutlak./ Dan hebatnya/ cara kerja hukum perbuatan ini tidak dapat dipengaruhi dengan cara apapun/ baik dengan cara dibujuk/ atau dirayu-rayu/ ataupun disuap supaya dia dapat kita atur/ tidak bisa demikian./ Inilah kehebatan dari hukum perbuatan tersebut./ Dan/ itulah sifat dari hukum perbuatan yang harus kita pahami benar-benar/ yaitu mutlak./
Sdr/i yang berbahagia/ selanjutnya/ setelah kita mengerti sifat dari hukum perbuatan tadi/ mungkin di dalam hati Sdr/i akan berkata demikian:/ “Alah, itu sih saya juga sudah tahu./ Anak ke-cil saja juga tahu kalau bunyi hukum perbuatan itu begitu./ Yang berbuat baik hasilnya pasti baik/ dan yang berbuat buruk/ hasilnya pasti buruk./ Itu sih, gampang”./ Sdr/i sekalian/ memang benar/ se cara kata-kata hal tersebut adalah gampang/ bahkan sangat gampang./ Tetapi/ secara praktik/ ternya-ta tidak semudah kata-kata./ Hal ini tentu sudah dapat kita rasakan dan kita alami sendiri./ Dan seka-rang/ untuk dapat lebih memperjelas lagi sifat dari hukum perbuatan ini/ kami akan membabarkan se buah cerita sebagai bahan perbandingan untuk dapat memahami persoalan hukum perbuatan ini./ Ceritanya adalah sebagai berikut:/
Sdr/i sekalian/ di halaman rumah saya/ yaitu di atas tanah yang sama/ saya menanam dua je-nis bibit atau biji tumbuh-tumbuhan./ Yang satu adalah biji tomat/ dan yang satunya lagi adalah biji pohon pare yang buahnya sangat pahiiiit sekali./ Nah, Sdr/i sekalian/ saya menanam dua macam be-nih tersebut./ Kedua macam benih itu Sdr/i,/ yaitu biji tomat dan biji pare/ saya tanam di atas tanah yang sama/ di halaman yang sama/ sehingga tentunya dari tanah tersebut pasti juga didapat makanan yang sama bagi mereka./ Dan/ airnya juga sama/ mendapat udara dan mendapat sinar matahari juga sama./ Pokoknya/ semua kondisinya serba sama./ Sdr/i, kemudian kedua benih tadi sama-sama mu-lai tumbuh/ dan akhirnya/ masing-masing menjadi sebuah tanaman yang besar./ Tetapi Sdr/i sekali-an/ apa yang terjadi sekarang setelah mereka masing-masing berbuah?/ Apa yang terjadi dengan po-hon tomat dan apa yang terjadi dengan pohon pare?/ Ternyata Sdr/i,/ setiap buah yang dihasilkan da-ri pohon tomat rasanya manis dan enak/ sedangkan setiap buah yang dihasilkan dari pohon pare/ ra-sanya sangat pahit./ Nah, mengapa bisa demikian Sdr/i?/ Mengapa yang satu bisa berbuah manis se-dangkan yang lainnya berbuah pahit?/ Mengapa?/ Bukankah kedua biji tadi ditanam di tempat yang sama?/ Dapat airnya juga sama/ dapat sinar mataharinya juga sama/ tetapi mengapa buahnya bisa berbeda?/ Mengapa?/ Apakah alam semesta ini hanya ramah kepada pohon yang satu dan memusuhi pohon yang lain?/ Apakah demikian?/ Apakah/ ini kalau Sdr/i mau mengatakan/ apakah Tuhan Yang Mahakuasa itu begitu ramah pada pohon yang satu/ yaitu pohon tomat/ dan memusuhi pohon yang lain/ yaitu pohon pare?/ Apakah demikian?/ Sdr/i seDhamma/ ternyata/ sebenarnya tidak ada satu makhluk pun/ atau tidak ada seorang pun/ yang ramah pada pohon yang satu dan memusuhi po-hon yang lain./ Tidak ada satu makhluk pun yang berbuat demikian./ Hukum alam/ yang juga meru-pakan hukum kebenaran mutlak (Dhamma) ini sudahlah pasti./ Segala sesuatu terjadi menurut hu-kumnya/ yaitu hukum alam ini./ Lalu/ apa yang hukum alam ini kerjakan terhadap kedua benih ta-di?/ Sdr/i,/ hukum ini hanya mendukung biji-biji tadi untuk terwujud sesuai dengan kualitas sifatnya masing-masing./ Jadi sekali lagi/ hukum ini hanya mendukung biji-biji tadi untuk terwujud sesuai de ngan kualitas sifatnya masing-masing./ Kualitas sifat dari pohon tomat adalah buahnya manis/ tidak akan terwujud kualitas yang lain kecuali manis;/ sedangkan kualitas sifat pohon pare tidak ada lain-nya lagi selain buahnya pahit./ Jadi/ tidak akan terwujud yang lain selain pahit./ Oleh sebab itu/ se-suai dengan benih yang ditanam/ begitulah hasil yang akan dipetik./
Sdr/i sekalian/ sekarang saya pergi ke pohon pare tersebut/ lalu mengitarinya 108 kali/ kemu-dian saya duduk di bawahnya/ bernamakara (bersujud) 3 kali/ kemudian saya persembahkan juga bu nga-bunga/ dupa/ dan lilin/ lalu dengan tangan berabjali/ mata terpejam/ saya berdoa dan mengucap-kan keinginan saya demikian:/ “Oh, penguasa pohon pare/ berilah saya buah pare yang manis/ to-longlah pohon pare/ berilah saya buah pare yang manis/ jangan beri saya buah pare yang pahit”./ De mikianlah permohonan saya/ dan saya terus menerus memohon sambil menangis di sepanjang kehi-dupan saya/ supaya pohon pare yang buahnya pahit itu bisa memberi saya buah tomat yang manis./ Sdr/i sekalian/ biar bagaimanapun/ kita tentu tahu bahwa pohon pare itu tetap tidak akan memberi sa ya buah tomat yang manis/ tidak akan./ Jadi/ kalau memang saya benar-benar menginginkan buah to mat yang manis/ maka saya harus menanam biji pohon tomat./ Dengan demikian/ nanti saya tidak perlu lagi memohon-mohon/ bahkan sampai menangis/ untuk meminta buah tomat yang manis./ Ti-dak perlu berbuat demikian/ karena/ memang benih yang saya tanam adalah benih tomat./ Jadi/ seca-ra hukum alamnya/ tanaman ini nanti pasti akan memberi saya buah tomat/ tidak akan berbuah yang lain selain berbuah tomat./ Bukankah demikian, Sdr/i?/
Sdr/i seDhamma yang berbahagia/ demikianlah tadi cerita pemahaman tentang hukum kam-ma./ Kesulitan kita dalam hal ini adalah/ bahwa ketika kita dulu menanam benih/ benihnya itu apa/ kita sudah tidak tahu/ sudah tidak ingat lagi/ terutama ketika kita dulu pernah menanam benih yang pahit-pahit./ Tetapi/ giliran sekarang benih-benih itu sudah saatnya berbuah/ kita menjadi begitu ‘ke labakan’./ “Saya ingin yang enak/ saya hanya ingin buah tomat yang manis saja/ tidak mau meneri-ma buah yang lain yang pahit”./ Sdr/i seDhamma/ hal tersebut pasti tidak mungkin/ tidak mungkin bisa terjadi demikian/ karena/ hukumnya bekerjanya tidak demikian./ Jadi/ kesimpulan kita seka-rang/ kalau lebih awal seseorang bisa memahami realita sifat-sifat dari hukum alam ini/ yaitu sesuai dengan benih yang ditanam/ maka begitulah buah yang akan dipetik/ atau sesuai dengan perbuatan yang pernah dilakukan/ maka begitulah hasil yang akan diterima;/ maka lebih awal pula seseorang mulai melangkah di atas jalan yang menuju pembebasan./
Sdr/i seDhamma sekalian/ sampai saat ini/ banyak orang yang masih tetap terpedaya oleh khayalan-khayalan diri demikian:/ “Ada seseorang yang pasti akan mengerjakan sesuatu bagi saya./ Yaitu/ meskipun saya telah atau pernah menanam benih yang pahit/ tetapi ada seseorang yang bisa menolong saya/ sehingga/ setelah saya nanti meninggal/ suatu mujijat akan datang/ sehingga saya akan tetap bisa terbebas”./ Sdr/i sekalian/ ini adalah pandangan yang tidak benar./ Ini hanyalah suatu khayalan diri saja./ Seandainya/ ada seseorang makhluk yang bisa menolong saya/ lalu mengapa ia juga tidak mau menolong yang lain?/ Mengapa?/ Mengapa kok hanya saya saja yang ditolong?/ Mungkin kita lalu berpendapat demikian:/ “Ya, karena saya sudah berdoa begitu banyak padanya/ saya bisa merayunya/ sehingga saya ditolong”./ Tetapi Sdr/i,/ jika demikian/ bukankah itu berarti ia ingin dirayu dulu baru mau menolong?/ Bukankah begitu?/ Sdr/i sekalian/ ini adalah pandangan yang tidak benar/ hanya merupakan khayalan diri saja./ Sama seperti cerita tadi/ yaitu memohon ke-pada penguasa pohon pare supaya pohon pare tersebut bisa berbuah tomat yang manis./ Hukum alam tidak bekerja secara demikian./ Hukum alam bekerjanya sudah mutlak/ pasti/ tidak bisa ditawar tawar/. Jadi/ lebih awal seseorang mulai berbuat selaras dengan hukum alam/ yang juga merupakan Dhamma/ maka lebih awal pula ia terbebas dari penderitaan./
Sdr/i seDhamma yang berbahagia/ demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Hukum Perbuatan’./ Dan bila ada pertanyaan-pertanyaan tentang maka-lah ini/ dapat kita diskusikan bersama-sama setelah kebaktian ini selesai. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta; semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
___________________

Buku acuan:
1. The Art of Living.
2. The Discourse Summaries.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
-

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEMORALAN

HUBUNGAN ANTARA MORAL DAN USIA KEHIDUPAN MANUSIA

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa (3x).

Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita membaca Paritta dan bermeditasi sejenak, marilah sekarang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Hubungan antara Moral dan Usia Kehidupan Manusia’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Hubungan antara Moral dan Usia Kehidupan Manusia’.
Sdr/i sekalian, hubungan antara moral manusia dan usia kehidupan mereka ternyata sangat erat sekali. Artinya, dengan adanya kemerosotan moral maka usia kehidupan manusia menjadi semakin pendek dan rupa manusia pun kelihatannya semakin bertambah buruk. Namun, bila moral manusia baik, maka usia mereka menjadi semakin panjang dan bentuk rupa mereka juga semakin cantik atau tampan. Sdr/i, sekarang ini, usia kehidupan manusia rata-rata sudah semakin merosot terus. Walaupun sekarang ini ilmu pengetahuan sudah semakin maju dan berkembang, banyak sekali obat-obatan yang sudah ditemukan untuk menunjang kesehatan manusia, tetapi ternyata umur kehidupan manusia sekarang rata-rata hanya sekitar 80 sampai 100 tahun saja. Hal ini dapat kita amati sendiri dalam kehidupan kita di dunia ini. Jadi, nampaknya tanda-tanda akan berkurangnya usia kehidupan manusia menjadi lebih nyata sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sang Buddha karena kemerosotan moral sudah semakin banyak kita lihat di sekitar kita sekarang ini.
Sdr/i sekalian, malapetaka terburuk yang akan datang menimpa kita nanti, sehubungan de-ngan adanya kemerosotan moral ini, yaitu bahwa manusia akan bersifat seperti binatang dan saling membunuh. Walaupun itu berarti masih beberapa generasi lagi, tetapi telah dapat kita bayangkan kejadiannya. Nah, untuk itu, tentu saja kita harus berusaha guna memperlambat atau menghambat agar peristiwa tersebut tidak terjadi. Namun Sdr/i sekalian, dapatkah kita sebagai manusia ini berbuat sesuatu untuk hal tersebut? Untuk itu, hendaknya harus selalu kita ingat sabda Sang Buddha yang berbunyi sebagai berikut:
“Setiap orang adalah pemilik dari perbuatannya sendiri; pewaris dari perbuatannya sendiri; terlahir dari perbuatannya sendiri; bersaudara dengan perbuatannya sendiri; terlindung oleh perbuatannya sendiri. Apa pun perbuatan yang dilakukannya, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisinya”.
Dengan demikian Sdr/i, manusia dapat menentukan masa depannya, namun semua tingkah la-kunya harus diselaraskan dan diseimbangkan dengan Hukum Moral atau Hukum Kamma.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, hubungan erat antara segi moral spiritual dan panjang pendeknya usia kehidupan manusia, dapat kita baca dalam salah satu khotbah Sang Buddha, yaitu yang berjudul Cakkavattisihanada Sutta. Sekarang, marilah kita ikuti bersama-sama uraian dari khotbah Sang Buddha tersebut.
Para bhikkhu, kemudian para menteri, para pegawai istana, para pejabat keuangan, para pengawal dan penjaga serta orang-orang yang hidup dengan melaksanakan pem-bacaan mantera, pergi menemui raja dan berkata:”Wahai raja, rakyatmu yang raja pe-rintah berdasarkan idemu dan caramu sendiri, yang berbeda dengan cara-cara yang mereka ikuti dahulu, ternyata tidak sukses seperti yang biasa mereka capai di masa raja-raja yang terdahulu, yaitu yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci. Se-karang, dalam kerajaan ini ada para menteri, para pegawai istana, para pejabat keuang-an, para pengawal dan penjaga, serta orang-orang yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantera, kami semua ini dan yang lain-lain, memiliki pengetahuan tentang kewajiban maharaja yang suci dari Raja Cakkavatti. Apabila raja menanyakan hal itu kepada kami, maka kami akan menerangkannya”.
Para bhikkhu, kemudian raja mempersilakan para menteri dan orang-orang lainnya duduk, setelah itu raja bertanya kepada mereka tentang kewajiban maharaja yang suci dari Raja Cakkavatti. Mereka menerangkan hal itu kepada raja. Ketika raja telah men-dengar hal itu, raja memperhatikan, menjaga dan melindungi rakyatnya dengan baik, tetapi, ia tidak memberikan dana kepada orang-orang miskin. Karena tidak berdana kepada orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah.
Para bhikkhu, demikianlah, karena dana tidak diberikan kepada orang-orang yang miskin, maka kemelaratan bertambah meluas. Karena kemelaratan bertambah, maka pencuri bertambah. Karena pencuri bertambah, maka kekerasan berkembang dengan cepat. Disebabkan karena kekerasan yang meluas, maka pembunuhan menjadi biasa. Karena pembunuhan terjadi, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia menjadi berkurang. Batas usia kehidupan mereka pada masa itu adalah 80.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 40.000 tahun.
Selanjutnya, di antara orang-orang yang batas usia kehidupannya 40.000 tahun itu … ada yang telah berdusta dengan sengaja. Demikianlah, karena dana-dana tidak di-berikan kepada orang-orang yang miskin maka kemelelaratan meluas, … kemudian mencuri, … kekerasan, … pembunuhan, … hingga berdusta menjadi biasa. Karena berdusta telah menjadi biasa, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia men-jadi berkurang. Batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 40.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 20.000 tahun.
Selanjutnya, di antara orang-orang yang batas usia kehidupannya 20.000 tahun itu … ada yang telah menfitnah dengan sengaja. Demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang yang miskin maka kemelelaratan meluas, … kemudian mencuri, … kekerasan, … pembunuhan, … berdusta, … hingga menfitnah menjadi biasa. Karena menfitnah telah menjadi biasa, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia menjadi berkurang. Batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 20.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 10.000 tahun.
Selanjutnya, di antara orang-orang yang batas usia kehidupannya 10.000 tahun itu ada yang cantik dan ada yang buruk, sehingga mereka yang berparas buruk merasa iri terhadap yang berparas cantik. Akibatnya, orang-orang yang berparas buruk ini berzi-nah dengan isteri-isteri tetangga mereka. Demikianlah, …karena perzinahan berkem-bang, maka batas usia dan kecantikan manusia menjadi berkurang. Batas usia kehidup-an manusia pada waktu itu adalah 10.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 5.000 tahun.
Pada masa kehidupan dari orang-orang yang batas usia kehidupan mereka hanya 5.000 tahun ini, telah berkembang dua hal yaitu kata-kata kasar dan membual. Karena kedua hal ini berkembang, maka batas usia kehidupan manusia menjadi berku-rang. Batas usia kehidupan manusia pada waktu itu adalah itu adalah 5.000 tahun, akan tetapi usia kehidupan anak-anak mereka ada yang hanya 2.500 tahun dan ada yang hanya 2.000 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 2.500 tahun ini, iri hati dan dendam berkembang. Karena kedua hal ini berkembang, maka batas usia kehi-dupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia yang pada masa itu adalah 2.500 tahun dan 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 1.000 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 1.000 tahun ini, pan-dangan sesat (micchaditthi) berkembang. Karena pandangan sesat ini berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan yang pada masa itu adalah 1.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka hanyalah 500 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 500 tahun ini, ada tiga hal yang berkembang, yaitu: berzinah dengan saudara sendiri, keserakahan, dan pe-muasan nafsu. Karena tiga hal ini berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia yang pada masa itu adalah 500 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang 250 tahun dan ada yang hanya 200 tahun.
Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 250 tahun ini, hal-hal se-bagai berikut ini berkembang: kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat kepada para samana dan pertapa, dan kurang patuh pada pemimpin masya-rakat. Karena hal-hal ini berkembang dan meluas, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia yang pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanyalah 100 tahun.
Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia ini akan mempu-nyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Di antara orang-orang yang batas usia kehi-dupan mereka 10 tahun, umur 5 tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega, minyak tila, gula, dan garam akan lenyap. Bagai mereka ini, biji-bijian kudrusa akan merupa-kan makanan yang terbaik. Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan ma-kanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang, sedangkan se-puluh macam melakukan perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat; di antara mereka tidak ada lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik. Siapa yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan pertapa, serta tidak ada lagi kepatuhan kepada para pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana dan pertapa, serta patuh kepada para pemimpin, namun pada masa orang-orang yang batas usia ke-hidupan mereka hanya 10 tahun ini, rasa berbakti, hormat, dan patuh sudah tidak ada lagi.
Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun itu, tidak akan ada lagi pikiran yang membatasi untuk kawin dengan ibu, bibi dari pi-hak ibu, bibi dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan isteri dari kakak ayah atau isteri guru. Dunia akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagai-kan kambing, domba, burung, babi, anjing, dan serigala.
Di antara orang-orang ini, saling bermusuhan yang kuat akan menjadi hukum, pera-saan benci yang hebat, dendam yang kuat, serta keinginan membunuh dari ibu terha-dap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya, dan seterusnya …. Hal ini terjadi ba-gaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.
Para bhikkhu, bagi orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama seminggu. Selama masa ini, mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar; pedang tajam akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan mereka berpikir:”Individu ini adalah binatang liar. Individu ini adalah binatang liar”. Dengan pedang mereka saling membunuh.
Sementara itu, ada orang-orang tertentu berpikir:”Sebaiknya kita jangan membu-nuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh kita. Marilah kita menyembu-nyikan diri ke dalam belukar, ke dalam hutan, ke cekungan tepi sungai, ke dalam gua gunung, dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di hutan”. Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada hari ketujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan sungai, dan gua, mereka akan saling berangkulan dan akan saling membantu dengan berkata:”O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih hidup!”
Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan sebagai berikut:”Kare-na kita melakukan cara-cara jahat, maka kita kehilangan banyak saudara. Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan”. Akhirnya, mereka akan berusaha untuk tidak membu-nuh, hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka batas usia kehidupan hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak me-reka mencapai 20 tahun.
Para bhikkhu, selanjutnya hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun:”Sekarang, karena kita mengikuti dan melaksa-nakan kebajikan, maka batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak menfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan sesat, ki-ta berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut ini, yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak, dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepa-da kedua orang tua kita, kita menghormat para samana dan pertapa, serta kita patuh kepada pemimpin masyarakat. Marilah kita selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan ini".
Demikianlah, mereka akan selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan: tidak meng-ambil apa yang tidak diberikan … berbakti kepada kedua orang tua, menghormat para samana dan pertapa, serta patuh kepada pemimpin masyarakat. Karena mereka melak-sanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 80 tahun; … anak-anak mereka mencapai 160 tahun; … anak-anak mereka mencapai 320 tahun; … anak-anak mereka mencapai 640 tahun; … anak-anak mereka mencapai 2.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 20.000 tahun; … anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan mereka yang pada masa itu hanya ber-batas usia kehidupan 40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka mencapai batas usia kehidupan 80.000 tahun.
Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 80.000 ta-hun, maka usia perkawinan bagi wanita adalah pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya akan ada tiga penyakit, yaitu: keinginan, lupa makan, dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota yang lain….
Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya …. Dhamma kebenar-an … akan dibabarkan … kehidupan suci akan dibina dan dipaparkan dengan sempur-na … seperti yang Saya lakukan sekarang ini. Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhik-khu Savgha, seperti Saya sekarang ini ….
Sdr/i seDhamma sekalian, demikianlah petikan dari khotbah Sang Buddha yang berjudul Cakkavattisihanada Sutta, yang berisikan tentang hubungan antara moral dan batas usia kehi-dupan manusia. Dan mengapa hal tersebut dapat terjadi? Kami rasa Sdr/i yang ada di vihara ini dapat menjawab sendiri, dan apabila ada pertanyaan yang masih membingungkan, maka kami persilakan untuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
__________

Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-

GEMPA BUMI

GEMPA BUMI
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
DHAMMO HAVE RAKKHATI DHAMMACARIM
NA DUGGATIM GACCHATI DHAMMACARI.
Dhamma akan melindungi mereka yang melaksanakan
Mereka yang melaksanakan Dhamma tak akan hidup sengsara.
Khuddakanikaya Jataka Theragatha.

Sdr/i seDhamma yang berbahagia, marilah sekarang kita bersama-sama menga-rahkan perhatian dan konsentrasi kita untuk mengisi kebaktian ini dengan mengada-kan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Gempa Bu-mi’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini ya itu ‘Gempa Bumi’.
Sdr/i sekalian, kalau kita membaca atau mendengar berita-berita yang terdapat di berbagai media massa, baik melalui radio, koran, majalah, ataupun melalui teve, ki-ta dapat mengetahui bahwa sekarang ini sedang banyak sekali terjadi peristiwa gempa bumi di mana-mana, di bumi kita ini. Gempa bumi itu ada yang terjadi di luar negeri, misalnya di India, di California (Amerika Serikat), di Jepang, di beberapa negara di be nua Eropa, dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak sempat kita ketahui berita-nya. Demikian pula Sdr/i, gempa bumi itu juga ada yang terjadi di dalam negeri, seper ti misalnya di Maluku, di Jakarta, di Lampung, dan yang sekarang sedang terjadi yaitu di daerah …..
Sdr/i sekalian, bagi kita yang sudah pernah belajar tentang ilmu bumi, maka pe-ristiwa gempa bumi itu adalah hanya suatu gejala alam yang biasa saja, tidak ada hal-hal istimewanya. Tetapi Sdr/i sekalian, ternyata, cara berpikir kita ini tidak hanya sam pai di situ saja. Memang benar, bahwa gempa bumi itu hanyalah merupakan suatu pe-ristiwa gejala alam saja, tetapi mengapa kok terjadinya gejala alam itu tempatnya seo-lah-olah ‘milih’. Jadi, gejala alam itu seolah-olah ‘milih’ tempat. Mengapa kok terjadi nya tidak di tengah-tengah hutan yang lebat yang tidak ada penduduknya sama sekali? Mengapa kok terjadinya gempa itu tidak di tengah-tengah gurun pasir raksasa saja, yang juga tidak ada penduduknya? Mengapa tidak demikian? Mengapa gempa bumi itu terjadinya justru di daerah yang cukup padat penduduknya? Bukankah ini bisa me-nimbulkan banyak penderitaan? Cobalah Sdr/i renungkan, bila di negara-negara yang sudah maju saja, seperti Amerika dan Jepang, kalau mereka terkena gempa bumi ini, mereka masih kalang kabut tidak keruan. Nah, apalagi kalau gempa itu terjadi di nega ra-negara yang belum maju misalnya seperti negara-negara di benua Afrika; atau juga di negara-negara yang sedang berkembang, seperti di India, Filipina, bahkan di Indo-nesia sendiri; sudah tentu hal itu akan menimbulkan keadaan yang lebih kalang kabut lagi bila dibandingkan dengan mereka yang sudah maju dan sudah biasa menghadapi gempa bumi tersebut. Nah, jadi mengapa demikian? Benarkah gempa bumi itu juga ‘milih’ tempat dan sasaran untuk terjadinya dia? Benarkah demikian?
Sdr/i yang berbahagia, ternyata banyak sekali pendapat-pendapat yang memba-has tentang masalah gempa bumi ini, termasuk dengan masalah pertanyaan tadi, baik ditinjau dari segi ilmu pengetahuan ataupun dari segi yang lainnya lagi, misalnya dari segi keagamaan. Ada yang menjawab bahwa gempa bumi itu adalah suatu peristiwa alam yang sudah tidak bisa diatur oleh siapapun juga di dunia ini. Jadi, menurut dia, manusia itu hanya bisa mengatur untuk mencegah terjadinya bencana alam dalam ba-tas-batas tertentu saja, tetapi tidak bisa mencegah dalam keadaan yang lebih jauh lagi, seperti gunung meletus, banjir, gempa bumi, dan sebagainya. Lalu Sdr/i, ada juga pen dapat yang mengatakan bahwa bencana alam yang sudah tidak bisa diatasi manusia ini disebabkan karena memang sudah merupakan hukuman dari Yang Mahakuasa. Ja-di, manusia tidak bisa mencegahnya biar bagaimanapun canggihnya ilmu pengetahu-an. Itu sudah merupakan hukuman dari Yang Mahakuasa untuk manusia-manusia yang sudah penuh dengan ‘dosa’. Namun Sdr/i, di antara manusia yang menjadi kor-ban gempa itu ternyata ada yang bertanya demikian:”Mengapa saya yang sering berbu at baik kok juga ikut dihukum terkena gempa ini? Mengapa anak-anak yang masih ke-cil-kecil, yang belum banyak berbuat salah, kok juga ikut dihukum terkena gempa bu-mi ini?” Demikianlah Sdr/i, kira-kira jawaban dan pendapat tentang gempa bumi ini yang ternyata juga masih simpang siur. Bahkan, salah seorang penyair dan penyanyi yang sudah cukup terkenal, melalui salah satu lagunya, dia mengatakan bahwa untuk mengetahui tentang terjadinya bencana alam ini, kita disuruh untuk bertanya pada rum put yang bergoyang.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tahu bagaimana kira-kira pan-dangan secara umum tentang gempa bumi ini, sekarang marilah kita tinjau hal itu dari sudut pandangan Buddha Dhamma. Sdr/i sekalian, di dalam ajaran agama Buddha, ter nyata dengan jelas sekali Sang Buddha menerangkan tentang sebab-sebab terjadinya gempa bumi ini. Di dalam cerita tentang riwayat Sang Buddha, diceritakan bahwa be-berapa bulan sebelum Sang Buddha parinibbana, Beliau masih selalu membabarkan Dhamma dari daerah ke daerah; pada waktu itu tibalah Sang Buddha dan YA. Ananda di sebuah cetiya yang bernama Cetiya Capala, di dekat Vesali. Setelah Beliau membe-rikan nasehat dan khotbah Dhamma kepada YA. Ananda, dan YA. Ananda pergi me-ngundurkan diri, datanglah Mara mendekati Sang Buddha. Sambil berdiri di satu sisi, Mara berkata kepada Sang Buddha:”Sekarang, Yang Mulia, sudilah agar Sang Bhaga-va mengakhiri masa hidupnya; semoga Yang Terbahagia berkenan memasuki parinib-bana. Waktunya sesungguhnya telah tiba bagi Sang Bhagava parinibbana. Sebab, per-nah dulu Sang Bhagava berkata kepadaku demikian:’Aku tak akan mengakhiri hidup-Ku sebelum para bhikkhu dan bhikkhuni, upasaka dan upasika, benar-benar menjadi murid sejati, yaitu bijaksana, patuh kepada tata tertib, pandai dan terpelajar, pemeliha-ra Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, memiliki tingkah laku yang patut, dan se-telah mendengar ajaran Sang Guru, sanggup untuk menerangkannya kembali, untuk mengkhotbahkannya, membabarkannya, membahasnya secara terperinci dan membu-atnya terang; dan kalau timbul pendapat yang berbeda, dapat memberikan bukti-bukti yang benar dan seksama, dan menguraikan dengan baik ajaranKu yang menyakinkan dan dapat membebaskan manusia’. Dan sekarang Yang Mulia, para bhikkhu dan bhik-khuni, upasaka dan upasika, sudah menjadi murid-murid Sang Bhagava seperti yang diharapkan. Karena itu, O, Yang Mulia, Sang Bhagava hendaknya mengakhiri masa hidupNya sekarang; semoga Yang Terbahagia berkenan memasuki parinibbana. Wak-tunya sesungguhnya telah tiba bagi Sang Bhagava parinibbana”.
“Selain itu, Yang Mulia, sebab pernah juga Sang Bhagava mengucapkan kata-kata ini kepadaku:’Aku tidak akan mengakhiri hidupKu, O, Mara yang jahat, sebelum penghidupan suci yang Aku ajarkan telah berhasil baik, makmur, terkenal, disukai oleh umum, dan berkembang; sebelum penghidupan suci ini dikenal baik oleh para de wa dan manusia’. Sang Bhagava, dan inipun sekarang telah menjadi kenyataan. Kare-na itu, O, Yang Mulia, Sang Bhagava hendaknya mengakhiri masa hidupNya seka-rang; semoga Yang Terbahagia berkenan memasuki parinibbana. Waktunya sesung-guhnya telah tiba bagi Sang Bhagava untuk parinibbana.
Sdr/i sekalian, demikian tadi permohonan Mara supaya Sang Buddha bersedia untuk mengakhiri hidupNya, yaitu bersedia supaya cepat-cepat parinibbana karena alasannya semua tugas dan keinginan Sang Buddha telah selesai dipenuhi. Sdr/i seka-lian, menghadapi hal tersebut, Sang Buddha lalu menjawab demikian:”Engkau tidak usah bersusah payah, orang jahat. Tidak lama lagi Sang Tathagata memang akan me-masuki parinibbana. Tiga bulan lagi Sang Tathagata akan mengakhiri hidupNya”. De-mikianlah Sdr/i, pernyataan dari Sang Buddha tersebut. Dan di Cetiya Capala, dengan penuh kesadaran dan pikiran terpusat, Sang Buddha mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupNya. Kemudian setelah Sang Buddha mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupNya, maka terjadilah gempa bumi yang hebat, menakutkan, mengeri kan, dan guntur gemuruh di langit. Sang Buddha memandang kejadian ini dengan pe-nuh pengertian dan kemudian Beliau mengucapkan syair seperti ini:
“Yang menjadi sebab kehidupan, kasar atau halus,
Yaitu proses tumimbal-lahir, telah dilepas oleh Sang Pertapa,
Dengan hati tenang dan gembira, seperti menembus pakaian dari rantai,
Ia mematahkan ‘sebab’ dari kehidupanNya sendiri”.
Sdr/i sekalian, demikianlah syair yang diucapkan oleh Sang Buddha, dan di da-lam batin YA. Ananda timbul pikiran yang demikian:”Mengagumkan benar dan ajaib sekali! Bumi menggetar hebat dan menakutkan! Sedangkan guntur bergemuruh de-ngan dahsyat dan mengerikan di langit! Apakah sebabnya? Apakah yang dapat menim bulkan gempa bumi sedahsyat ini?
Sdr/i sekalian yang berbahagia, YA. Ananda kemudian menghampiri Sang Bha gava, memberi hormat dengan khidmat, mengambil tempat duduk di satu sisi, dan ke-mudian bertanya kepada Sang Buddha:”Mengagumkan benar dan ajaib sekali, Bhan-te! Bumi menggetar hebat dan menakutkan! Sedangkan guntur bergemuruh dengan dahsyat dan mengerikan di langit! Apakah sebabnya? Apakah yang menimbulkan gempa bumi sedahsyat ini, Bhante?”
Sdr/i sekalian, Sang Buddha lalu menjawab:”Ananda, terdapat delapan alasan, delapan sebab, yang dapat menimbulkan gempa bumi yang hebat. Apakah kedelapan sebab tersebut?”
“Bumi ini, Ananda, tercipta karena ada zat cair; zat cair tercipta karena ada uda ra; dan udara tercipta karena ada ruang (akasa). Apabila Ananda, terjadi gangguan he-bat di udara, maka zat cair itu akan mendapat tekanan; dan zat cair yang mendapat te-kanan ini akan menimbulkan pergeseran dalam lapisan bumi. Ini adalah sebab perta-ma yang menimbulkan sebuah gempa bumi yang hebat.
Selain dari itu, Ananda, apabila ada seorang pertapa atau orang suci yang memi liki kekuatan besar dan dapat menguasai pikirannya, atau seorang dewa yang berkuasa dan berkemampuan besar mengembangkan pemusatan pikiran yang kuat terhadap si-fat yang terbatas dari unsur tanah dan terhadap sifat yang tak terbatas dari unsur cair; maka orang itu pun dapat menyebabkan bumi ini bergetar dan bergoyang. Ini adalah sebab kedua yang dapat menimbulkan sebuah gempa bumi yang hebat.
Selanjutnya, Ananda :
- Ketika Sang Bodhisatta turun dari surga Tusita dan masuk di rahim ibunya, dengan penuh kesadaran dan pikiran terpusat; (3)
- Dan ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, dengan penuh kesadar-an dan pikiran terpusat; (4)
- Ketika Sang Tathagata merealisasi Penerangan Agung, Penerangan yang Sempurna dan tak ada bandingnya; (5)
- Ketika Sang Tathagata menggerakkan Roda Dhamma yang gilang gemilang; (6)
- Ketika Sang Tathagata mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupNya; (7)
- Dan ketika mencapai parinibbana, di mana tak ada lagi tertinggal unsur keme lekatan. (8)
Maka pada peristiwa-peristiwa tersebut tadi, bumi ini akan bergetar dan bergoyang. Ini semua, Ananda, adalah delapan alasan, delapan sebab, yang dapat menimbulkan gempa bumi”.
Sdr/i seDhamma sekalian, demikian tadi sabda Sang Bhagava tentang adanya delapan sebab atau delapan alasan terjadinya gempa bumi yang dijelaskan dalam Mahaparinibbana Sutta, Dighanikaya II, 16; mengenai hari-hari terakhir Sang Bud-dha. Dan bersama ini pula, kami akhiri pembahasan dan perenungan Dhamma kita pa-da hari ini yang bertemakan ‘Gempa Bumi’. Bila di antara Sdr/i ada yang ingin berta-nya tentang makalah ini, dapat kita diskusikan bersama-sama setelah selesainya kebak tian ini. Terimakasih.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
_____________________

Buku Acuan:
1. Riwayat Hidup Buddha Gotama, penyusun S. Widyadharma.
2. Berbagai media massa tentang masalah ‘gempa bumi’.

Dibacakan pada tanggal :
-
-
-
-
-