Senin, 25 Februari 2008
Aganna Sutta 8
29. Vasettha, seorang khattiya yang hidup dengan perbuatan, perkataandan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untukmencapai penerangan sempurna, maka ia akan mencapai pemusnahan totaldari noda-noda batin (parinibbanena-parinibbati) dalam kehidupansekarang ini. Juga, seorang brahmana yang hidup dengan perbuatan, perkataan danpikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untukmencapai penerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma), maka iaakan mencapai pemusnahan total dari nodanoda batin atau parinibbanadalam kehidupan sekarang ini juga. Juga, seorang vessa yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiranterkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapaipenerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma), maka ia akanmencapai pemusnahan total dari nodanoda batin atau parinibbana dalamkehidupan sekarang ini juga. Juga, seorang sudda yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiranterkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapaipenerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma), maka ia akanmencapai pemusnahan total dari noda-noda batin atau parinibbana dalamkehidupan sekarang ini juga. 30. Vasettha, siapapun dari keempat kelompok masyarakat ini menjadiseorang bhikkhu, arahat, orang yang telah mengalahkan noda-noda batin(jinasavo), telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah meletakkan beban (ohitabharo), telah mencapaikebebasan (anuppattasadattho), telah mematahkan ikatan kelahiran(parikakkhinabhavasannajano), telah terbebas karena memilikipengetahuan (sammadannavimutto); maka dialah yang dinyatakan palingbaik di antara mereka, berdasarkan kebenaran (dhamma) dan tidak atasdasar yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma ituamat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang inimaupun dalam kehidupan yang akan datang. 31. Vasettha, syair ini telah diucapkan oleh Sanam Kumara, salahseorang dari para dewa Brahma : "Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan ini,Yang mempertahankan garis keturunannyaTetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak tanduknyaAdalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia." Vasettha, syair ini telah diucapkan dengan baik dan bukannya diucapkandengan tidak baik oleh Brahma Sanam Kumara, kata-kata yang baik bukankata-kata yang buruk; penuh arti dan bukan kosong dari arti. Vasetthabegitu pula aku menyatakan : "Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan iniYang mempertahankan garis keturunannyaTetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak tanduknyaAdalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia." Demikianlah sabda Sang Bhagava. Vasettha dan Bharadvaja merasa puasdan bersuka cita mendengar sabda Sang Bhagava itu.
Aganna Sutta 7
25. Selanjutnya Vasettha pada suatu waktu, ketika terdapat beberapaorang khattiya memandang rendah cara hidupnya sendiri, merekameninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup sebagai orangtak berumah tangga, dengan berkata: "Aku ingin menjadi pertapa." Juga terdapat beberapa orang brahmana yang memandang rendah carahidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan bermah tangga danmenempuh kehidupan sebagai orang tak berumah tangga, dengan berkata:"Aku ingin menjadi pertapa." Juga, terdapat beberapa orang vessa yang memandang rendah carahidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan rumah tangga danmenempuh hidup sebagai orang tak berumah tangga, dengan berkata : "Akuingin menjadi seorang pertapa." Juga, terdapat beberapa orang sudda yang memandang rendah hidupnyasendiri, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menempuhhidup tak berumah tangga, dengan berkata : "Aku ingin menjadi seorangpertapa." Vasettha, dari empat kelompok masyarakat ini muncullah kelompolpertapa. Asal-usul mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga,dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, danbukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apayang seharusnya demikian), dan bukan terjadi karena apa yang bukandhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha dhamma itu amat bermanfaatbagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalamkehidupan yang akan datang. 26. Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan jahat dalamperbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pandangansalah; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan danperbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelahmati, mereka terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara(duggati), alam siksaan (vinipata), dan alam neraka (niraya). Juga, orang brahmana yang menempuh kehidupan jahat dalam perbutan,perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pandangan salah ; makasebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannyaitu, pada saat kehancuran tubuhnya, mereka terlahir kembali dalam alamcelaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), alamneraka (niraya). Juga, orang vessa yang menempuh kehidupan jahat dalam perbuatan,perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pandangan salah; makasebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannyaitu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahirkembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alamsiksaan (vinipata), alam neraka (niraya). Juga, orang sudda yang menempuh kehidupan salah dalam perbuatan,perkataan dan pikiran; menganut pandangan-pandangan salah; makasebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannyaitu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahirkembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alamsiksaan (vinipata), alam neraka (niraya). 27. Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan bajik dalamperbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandanganbenar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan danperbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelahmati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia (suggati), alamsurga (sagga). Juga, orang brahmana yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan,perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; makasebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannyaitu, pada saat kehancuran tubuhnya. Setelah mati, mereka akan terlahirkembali dalam alam bahagia, alam surga. Juga, orang vessa yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan,perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; makasebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannyaitu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahirkembali dalam alam bahagia, alam surga. Juga, orang sudda yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan,perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; makasebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannyaitu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahirkembali dalam alam bahagia, alam surga. 28. Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan ganda (dvayakari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yangmenganut pandangan campuran (vimissaditthiko); maka sebagai akibatdari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, padasaat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalamalam bahagia maupun alam sengsara. Juga, seorang brahmana yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari),baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran ; yang menganutpandangan campuran (vimissaditthiko); maka sebagai akibat daripandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saatkehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alambahagia maupun alam sengsara. Juga, seorang vessa yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari), baikdan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganutpandangan campuran (vimmissaditthiko); maka sebagai akibat daripandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saatkehancuran tubuhnya, setelah mati, ia terlahir kembali dalam alambahagia maupun alam sengsara. Juga, seorang sudda yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari ) baikdan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganutpandangan-pandangan campuran; maka sebagai akibat daripandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saatkehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alambahagia maupun alam sengsara.
Aganna Sutta 6
20. Vasettha, kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul bersama dan meratapdengan berkata : "Perbuatan-perbuatan jahat telah muncul di kalangankita, pencurian, pemeriksaan, kebohongan dan hukuman menjadi dikenal.Sebaiknya kita memilih salah seseorang di antara kita untuk mengadilimereka yang patut diadili, memeriksa mereka yang patut diperiksa, danmengucilkan mereka yang harus dikucilkan. Dan untuk membalas jasanya,kita akan memberikan sebagian padi kita kepadanya." Vasettha, kemudian mereka memilih salah seorang di antara mereka yangpaling rupawan, paling disukai, paling menyenangkan, paling pandai,dengan berkata kepadanya: "Sahabat yang baik sebaiknya engkaumengadili orang yang patut diadili, memeriksa mereka yang patutdiperiksa, mengucilkan mereka yang patut dikucilkan. Dan kita akanmemberikan sebagian padi milik kita kepadamu." Ia menyetujuinya dan berbuat demikian, dan mereka memberikan sebagianpadi milik mereka kepadanya. 21. Vasettha, dipilih oleh banyak orang adalah apa yang dimaksuddengan Maha Sammata; maka Maha Sammata (Pilihan Agung) merupakanungkapan pertama yang muncul (bagi seorang yang dipilih oleh banyakorang). Penguasa ladang adalah apa yang dimaksud dengan Khattiya; makaKhattiya merupakan ungkapan kedua yang muncul. Ia membuat senang oranglain dengan Dhamma, (dengan melaksanakan prinsip kebenaran) adalah apayang dimaksud dengan Raja; maka Raja merupakan ungkapan ketiga yangmuncul. Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat Khattiya ini,yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asalmula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dariorang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri dan bukan tidakdiingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apa yangseharusnya demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan-dhamma(adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagiumat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupanyang akan datang. 22. Vasettha, kemudian hal seperti berikut ini muncul pada diriorang-orang itu : "Perbuatan-perbuatan jahat telah muncul di kalangankita, sehingga pencurian, pemerkosaan, kebohongan, hukuman danpengucilan menjadi dikenal. Sekarang marilah kita menyingkirkan semuaperbuatan jahat dan kebiasaan tidak sopan." Dan mereka melakukannya. Vasettha, mereka yang menyingkirkan (bahenti) perbuatan-perbuatanjahat dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan adalah apa yang disebutdengan kata "brahmana"; demikianlah 'brahmana' merupakan ungkapanpermulaan bagi mereka yang berbuat demikian. Mereka membuatpondok-pondok dari daun (pannakuti) di hutan, dan bersamadhi di situ.Mereka hidup tanpa perapian, tanpa asap, tidak mempergunakan alu danlumpang; mereka mengumpulkan makanan pada sore hari untuk makan malamdan pada pagi hari untuk makan siang; mereka mencari makanan denganmemasuki desa, kampung dan kota. Setelah memperoleh makanan, merekakembali lagi ke pondok mereka dan bersamadhi. Ketika orang-orang melihat hal ini, mereka berkata: "Orang-orang ini,setelah membuat pondok-pondok dari daun di hutan, lalu bersamadhi disitu. Mereka hidup tanpa perapian, tanpa asap, tidak mempergunakan aludan lumpang; mereka mengumpulkan makanan pada sore hari untuk makanmalam, dan mengumpulkan makanan pada pagi hari untuk makan siang;mereka mencari makanan dengan memasuki desa, kampung dan kota. Setelahmemperoleh makanan mereka kembali ke pondok-pondok mereka danbersamadhi. Vasettha, mereka yang bersamadhi (jhayanti) inilah yang dimaksuddengan Jhayaka atau pelaksana samadhi; demikianlah kata jhayakamerupakan ungkapan kedua yang muncul. 23. Vasettha, karena sebagian di antara mereka tidak tahan bersamadhidi pondok-pondok daun dalam hutan, maka mereka keluar dan tinggal dipinggir-pinggir desa-desa, kampung-kampung dan kota-kota, dan di sanamereka menulis buku (ganthe karonta). Dan ketika orang-orang melihathal ini, mereka berkata: "Orang-orang ini, karena tidak tahanbersamadhi di pondok-pondok daun hutan, maka mereka keluar dan tinggaldi pinggir desa-desa, kampung-kampung dan kota-kota, dan di sanamereka menulis buku. Mereka tidak bersamadhi (ajhayaka). Vasettha, mereka yang tidak bersamadhi inilah yang dimaksud dengan"Ajhayaka"; demikianlah kata ajhayaka merupakan ungkapan-ungkapanketiga yang timbul. Pada waktu itu mereka dipandang yang palingrendah, tetapi sekarang mereka menganggap diri merekalah yang palingtinggi. Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat brahmana ini,dikenal menurut pernyataan permulaan pada masa lampau. Asal mulamereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga bukan dariorang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, dan bukan tidakdiingini, dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apa yangseharusnya memang demikian), bukan terjadi karena apa yang bukandhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaatbagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalamkehidupan yang akan datang. 24. Selanjutnya, Vasettha, terdapat juga sebagian orang lain yangmenempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai macam perdagangan.Mereka yang menempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai macamperdagangan (vissa) inilah yang dimaksud dengan 'Vessa' (KaumPedagang). Demikianlah kata Vessa ini dipergunakan sebagai ungkapanbagi orang-orang tersebut. Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat vessa ini,yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asalmula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dariorang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, bukan tidak diingini;dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yang seharusnyademikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma).Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia,baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akandatang. Selanjutnya Vasettha, selebihnya dari orang-orang ini melakukanpekerjaan berburu. Mereka yang hidup dari hasil berburu dan perbuatanatau pekerjaan lain semacamnya inilah yang dimaksudkan dengan 'Sudda'.Demikianlah kata 'sudda''; ini dipergunakan sebagai ungkapan dariorang-orang tersebut. Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat sudda ini,yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asalmula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dariorang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, dan bukan tidakdiingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yangseharusnya demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma(adhamma). Sesungguhnya, Vasettha dhamma itu amat bermanfaat bagi umatmanusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yangakan datang.
Aganna Sutta 5
17. Vasettha, apa yang pada waktu itu dipandang tidak sopan (adhammasammata), sekarang dipandang sopan (dhamma-sammata). Pada waktu itu,mahluk-mahluk yang melakukan hubungan kelamin tidak diijinkan memasukidesa atau kota selama satu bulan penuh atau dua bulan. Dan pada waktuitu, oleh karena mahluk cepat sekali mencela perbuatan yang tidaksopan tersebut maka mereka mulai membuat rumah-rumah hanya untukmenyembunyikan perbuatan tidak sopan itu. Vasettha, kemudian timbullah pikiran semacam ini dalam diri sebagianmahluk yang berwatak pemalas: "Mengapa aku harus melelahkan dirikudengan mengambil padi pada sore hari untuk makan malam, dan mengambilpadi pada pagi hari untuk makan siang ? Bukankah sebaiknya akumengambil padi yang cukup untuk makan malam dan makan siang sekaligus?" Maka, setelah pergi, ia mengumpulkan padi yang cukup untuk dua kalimakan. Ketika mahluk-mahluk lain datang kepadanya dan berkata : "Sahabat yangbaik, marilah kita pergi mengumpulkan padi" ia berkata : Tidak perlu,sahabat yang baik; aku telah mengambil padi untuk makan malam dansiang." Selanjutnya sebagian mahluk lain datang dan berkata kepadanya: "Sahabat yang baik, marilah kita pergi mengumpulkan padi"; iaberkata: "Tidak perlu, sahabat yang baik, aku telah mengambil padiuntuk dua hari." Demikianlah, dalam cara yang sama mereka menyimpanpadi yang cukup untuk empat hari dan selanjutnya untuk delapan hari. Vasettha, sejak itu mahluk-mahluk tersebut mulai makan padi yangdisimpan. Dedak mulai menutupi butir-butir padi yang dan butir-butirpadi dibungkus sekam. Padi yang telah dituai atau potongan-potonganbatangnya tidak tumbuh kembali, sehingga terjadi masa menunggu. Danbatang-batang padi mulai tumbuh serumpun. 18. Vasettha, kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul bersama dan meratapdengan berkata : "Kebiasaan buruk telah muncul di kalangan kita.Dahulu kita hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran,memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa dan hidupdalam kemegahan. Kita hidup secara demikian dalam masa yang lamasekali. Cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, muncullah bagikita sari tanah dari dalam air, yang memiliki warna, bau dan rasa.Kita mulai membuat sari tanah itu menjadi gumpalan dan menikmatinya.Setelah kita berbuat demikian, maka cahaya tubuh kita lenyap. Ketikacahaya tersebut lenyap, maka matahari, bulan, bintang-bintang dankonstelasi-konstelasi mulai nampak; siang dan malam, bulan danpertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun nampak. Kitamenikmati sari tanah tersebut, memakannya, hidup dengannya, dan halini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejakkelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum dikalangan kita, lalu muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah(bhumipappatiko), yang memiliki warna, bau dan rasa. Kita mulaimenikmatinya, memakannya, hidup dengannya, dan halini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejakkelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum dikalangan kita, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu lenyap. Ketikatumbuhan yang muncul dari tanah itu telah lenyap, lalu muncullahtumbuhan menjalar, yang memiliki warna, bau dan rasa. Kita mulaimenikmatinya, memakannya dan hidup dengannya, dan hal ini berlangsungdemikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dankebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, makatumbuhan menjalar itu lenyap. Ketika tumbuhan menjalar telah lenyap,lalu muncullah padi yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam;harum dengan butir-butir yang bersih. Bilamana setiap malam kitamemetik dan mengambilnya untuk makan siang, maka pada sore hari paditersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus-menerus padiitu muncul. Kita menikmati padi ini, memakannya, hidup dengannya; danhal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejakkelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum dikalangan kita, maka dedak telah menutupi butir padi yang bersih dansekam juga telah membungkus butir-butir padi tersebut. Dan bilamanakita telah memetiknya, padi itu tidak langsung tumbuh kembali,sehingga terjadilahmasa menunggu, dan batang-batang padi mulai tumbuh berumpun. Karenaitu, sekarang ini marilah kita membagi ladang-ladang padi denganmembuat batas-batasnya." Demikianlah mereka membagi ladang-ladang padi dan membuat batas disekeliling ladang bagian mereka masing-masing. 19. Kemudian, Vasettha, sebagian mahluk yang memiliki pembawaan sifatserakah (lolajatiko), yang sedang menjaga ladang bagiannya sendiri,lalu mencuri padi dari ladang orang lain dan memakannya. Merekamenangkap dan memegangnya erat-erat, dan berkata : "Sahabat yang baik,sesungguhnya engkau dalam hal ini telah berbuat jahat. Sewaktu sedangmenjaga ladangmu sendiri, kau telah mencuri milik orang lain danmemakannya. Perhatikanlah baik-baik, jangan berbuat demikian lagi."Untuk kedua kalinya ia berbuat demikian dan juga untuk ketiga kalinya.Dan kembali mereka menangkapnya dan menasehatinya : Sebagian darimereka memukulnya dengan tangan, sebagian melemparinya denganbongkahan tanah dan sebagian memukulnya dengan tongkat. Vasettha, demikianlah awal munculnya perbuatan mencuri; danpemeriksaan, kebohongan dan hukuman pun menjadi dikenal.
Aganna Sutta 4
Vasettha, berikut ini adalah sebuah contoh untuk mengerti mengapaDhamma (Kebenaran) itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalamkehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang : Raja Pasenadi Kosala menyadari bahwa Samana Gotama telah meninggalkanketurunan Sakya, sedangkan Suku Sakya berada di bawah kekuasaan RajaPasenadi Kosala. Suku Sakya memuja dan menghormatinya, mereka bangkitdari tempat duduk, beranjali dan melayaninya. Sekarang, Vasettha; samaseperti Suku Sakya yang melayani Raja Pasenadi Kosala dengan hormat,demikian pula caranya Raja Pasenadi Kosala melayani Sang Tathagata.Karena Raja Pasenadi Kosala berpikir : Bukankah Samana Gotama sempurnakelahirannya (Sujato), sedangkan kelahiranku tidak sempurna ? SamanaGotama itu perkasa, sedangkan aku lemah. Samana Gotama itu sangatmengagumkan, sedangkan aku tidak. Samana Gotama itu memiliki pengaruhyang besar, sedangkan aku hanya memiliki pengaruh yang kecil saja.Demikianlah, karena Raja Pasenadi Kosala menghormati Dhamma,menghargai Dhamma, mengindahkan Dhamma, sujud pada Dhamma, menganggapsuci Dhamma, maka ia memberikan hormat dan sujud pada Sang Tathagata,bangkit dari tempat duduk, beranjali dan melayani Beliau denganhormat. Dengan contoh ini engkau dapat mengerti betapa Dhamma itu amatbermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupundalam kehidupan yang akan datang. 9. Vasettha, engkau semua yang berbeda keturunan, nama, suku dankeluarga; telah meninggalkan kehidupan rumah tangga; mungkin akanditanya: Siapakah engkau ? Maka engkau harus menjawab: Kita adalahpara pertapa yang mengikuti Samana putra Sakya. Vasettha, dia yang teguh keyakinannya kepada Sang Tathagata, berakar,mantap dan kokoh, suatu keyakinan yang tidak dapat digoyahkan lagioleh para pertapa dan brahmana, maupun oleh para dewa, mara dan Brahmaatau siapa pun saja dalam dunia ini, ia dapat berkata: Aku adalah anakSang Bhagava, lahir dari mulut Sang Bhagava, lahir dari Dhamma(Dhammajo), diciptakan oleh Dhamma (dhammanimmitta), pewaris Dhamma(dhammadayako). Mengaga demikian ? Karena, Vasettha, nama-nama berikutini adalah sesuai untuk Sang Tathagata: Dhammakayo (Tubuh Dhamma),Brahmakayo (Tubuh Brahma), Dhammabhuto (perwujudan Dhamma),Brahmabhuto (Perwujudan Brahma).
BHAVANA
XVIII. BHAVANA
I. PENDAHULUAN
A. BELAJAR DHAMMA
1. Teori : Kitab Suci Tipitaka
2. Praktek : Jalan Mulia Berunsur Delapan (Sila, Samadhi, Panna)
3. Hasil Penembusan : Magga, Phala, Nibbana
B. GATI 5
1. Apaya Gati : karena melanggar Sila
2. Manussa Gati : karena melaksanakan Sila
3. Deva Gati : karena melaksanakan Sila
4. Brahma Gati : karena melaksanakan Sila + Samadhi (Samatha Bhavana)
5. Nibbana Gati : karena melaksanakan Sila + Samadhi (Vipassana Bhavana)
II. SAMADHI
A. PANDANGAN SALAH TERHADAP SAMADHI
1. Harus menyingkir dari kesibukan penghidupan sehari-hari
2. Untuk memperoleh kekuatan-kekuatan gaib
3. Bisa kemasukan ‘roh jahat’, dan sebagainya
B. PENGERTIAN SAMADHI YANG SESUNGGUHNYA (YANG BENAR)
Yaitu pemusatan pikiran pada obyek untuk menghilangkan atau menghentikan kekotoran batin (Kilesa)
C. FAEDAH SAMADHI
1. Contoh-contoh umum dapat dilihat dari buku ‘Bhavana’ yang disusun oleh Mettadewi, dan jelaskan alasannya mengapa bisa demikian.
2. Untuk melihat manusia (makhluk) secara keseluruhan sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak sebagai fraksi-fraksi yang pecah.
3. Dalam Buddha Dhamma dikatakan bahwa dalam tubuh manusia ini ada hubungan satu dengan yang lain (saling tergantung). Jadi semua harus diketahui untuk men-cari apa sebabnya bila terjadi suatu kejanggalan. Hal ini ibarat seorang sopir de-ngan mesin mobilnya.
4. Seorang dokter ketika memberi resep, obat tersebut diberikan secara bertahap. Demikian pula Dhamma, diberikan Sila, Samadhi, dan Panna juga secara berta-hap.
5. Proses kerja batin dan jasmani dalam diri manusia pada umumnya yaitu sebagai berikut:
- selalu sibuk
proses TINGKAH - bingung
LAKU - banyak masalah
rangsangan INDIVIDU perasaan, keinginan YANG - kurang percaya diri
kemelekatan KELUAR - takut, dan lain-lain
UMPAN BALIK
Untuk ‘melihat’ ini harus latihan Sati dan Konsentrasi!
D. PETUNJUK AWAL MELAKSANAKAN SAMADHI
1. Tempat
2. Waktu
3. Posisi
4. Petunjuk singkat lainnya:
a. Nasehat dari para guru meditasi
b. Membaca Paritta
c. Memahami prinsip ‘diikatnya’ pikiran pada obyek
E. PEMBAGIAN SAMADHI BERKENAAN DENGAN TUJUANNYA
1. SAMATHA BHAVANA
a. Obyek
Obyeknya ada 40 macam, yaitu:
1) 10 wujud benda
- perwujudan tanah
- perwujudan air
- perwujudan api
- perwujudan angin/udara
- perwujudan warna biru laut
- perwujudan warna kuning
- perwujudan warna merah
- perwujudan warna putih
- perwujudan cahaya
- perwujudan ruangan terbatas
2) 10 wujud kekotoran
- perwujudan suatu mayat membengkak
- perwujudan suatu mayat dengan warna muka kebiru-biruan
- perwujudan suatu mayat yang bernanah
- perwujudan suatu mayat yang terbelah di tengahnya
- perwujudan suatu mayat yang digerogoti binatang, dan lain-lain
- perwujudan suatu mayat yang telah hancur lebur
- perwujudan suatu mayat yang busuk dan hancur
- perwujudan suatu mayat yang berdarah
- perwujudan suatu mayat yang penuh dengan belatung
- perwujudan suatu tengkorak
3) 10 perenungan
- perenungan terhadap sifat-sifat/kualitas Sang Buddha
- perenungan terhadap sifat-sifat/kualitas Dhamma
- perenungan terhadap sifat-sifat/kualitas Sangha
- perenungan terhadap Sila yang dilaksanakan
- perenungan terhadap dana yang telah diberikan
- perenungan terhadap jasa-jasa yang dapat mengakibatkan terlahir di alam dewa
- perenungan terhadap kematian yang akan dialami
- perenungan terhadap kekotoran jasmani
- perenungan terhadap keluar masuknya nafas
- perenungan terhadap Nibbana yang terbebas dari kekotoran batin dan derita.
4) 4 keadaan tidak terbatas
- cinta kasih yang universal, tanpa pamrih
- belas kasihan
- simpati
- keseimbangan batin
5) 4 arupa
- obyek ruangan yang sudah keluar dari perwujudan
- obyek kesadaran yang tanpa batas
- obyek kekosongan
- obyek bukan pencerapan pun bukan tidak pencerapan
6) 1 perenungan terhadap makanan
perenungan terhadap makanan yang menjijikkan, yaitu merenungkan bah-wa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada dalam perut.
7) 1 analisa terhadap unsur jasmani
analisa terhadap keempat unsur, yaitu merenungkan unsur tanah, air, pa-nas, dan udara yang berada dalam jasmani kita.
b. Carita (perilaku)
1) Jenis-jenis Carita
- Raga Carita :
Orang yang mempunyai Lobha (keserakahan), melaksanakan sesuatu ber-dasarkan Lobha dan condong kepada keindahan, kecantikan, dsb.
- Dosa Carita :
Orang yang mempunyai Dosa (kebencian), melaksanakan sesuatu berda-sarkan kebencian dan condong ke arah panas hati, suka marah, suka jengkel, suka iri hati, dsb.
- Moha Carita :
Orang yang mempunyai kegelapan batin, melaksanakan sesuatu berda-sarkan kegelapan batin dan condong ke arah kelemahan batin, suka bingung, suka ragu-ragu, suka khawatir, dsb.
- Saddha Carita :
Orang yang mempunyai keyakinan, melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan dan condong ke arah rendah hati, dsb.
- Buddhi (Nana) Carita :
Orang yang mempunyai pengetahuan Dhamma, melaksanakan sesuatu berdasarkan sifat hati-hati dan condong ke arah perenungan terhadap tiga corak umum (Tilakkhana) dan meditasi.
- Vitakka Carita
Orang yang mempunyai banyak pikiran, melaksanakan sesuatu berdasar-kan tergesa-gesa dan condong ke arah kegugupan, kekhawatiran, dan ke-ragu-raguan.
2) Hubungan Carita dengan obyek meditasi
- Raga Carita : 10 Asubha + 1 Kayagatasati
- Dosa Carita : 4 Appamabba + 4 Kasina warna (biru laut, kuning, merah, putih)
- Moha Carita : 1 Anapanasati
- Saddha Carita : 6 Anussati (Buddha, Dhamma, Savgha, Sila, Caga, Devata)
- Buddhi Carita : 2 Anussati (Marana , Upasama) + 1 Perenungan terhadap makanan + 1 Analisa terhadap keempat unsur
- Vitakka Carita : 1 Anapanasati
3) Obyek yang dapat digunakan oleh semua orang tanpa melihat Caritanya
- 6 Kasina (Pathavi, Apo, Tejo, Vayo, Aloka, Akasa)
- 4 Arupa
c. Proses tahapan
1) Parikamma (Pendahuluan)
- Parikamma Nimitta
- Uggaha Nimitta
2) Upacara (Penghampiran)
- Patibhaga Nimitta
3) Appana (Mencerap obyek, terkonsentrasi dengan kuat)
- Muncul faktor-faktor Jhana (Vitakka, Vicara, Piti, Sukha, Ekaggata)
d. Penghalang
1) 5 Nivarana
- nafsu-nafsu kesenangan indera
- keinginan jahat
- kemalasan dan kelambanan/kelelahan
- kegelisahan dan kekhawatiran
- keragu-raguan
2) 10 Palibodha
- tempat tinggal
- pembantu dan orang yang bertanggungjawab
- keuntungan
- murid dan teman
- pekerjaan
- perjalanan
- orang tua, keluarga, dan saudara
- penyakit
- pelajaran
- kekuatan gaib
e. Hasil
1) Jhana
2) Abhibba
2. VIPASSANA BHAVANA
a. Obyek
Nama (batin) dan Rupa (jasmani) yang dicengkeram Tilakkhana.
Yaitu memperhatikan gerak-gerik Nama dan Rupa terus menerus sehingga da-pat melihat dengan nyata bahwa Nama dan Rupa itu dicengkeram oleh Anicca (ketidakkekalan), Dukkha (ketidakpuasan), dan Anatta (ketanpadirian).
b. 4 Satipatthana
1) Kayanupassana adalah Rupa Khandha
2) Vedananupassana adalah Vedana Khandha
3) Cittanupassana adalah Vibbana Khandha
4) Dhammanupassana adalah Pabca Khandha
c. Penghalang
1) 10 Vipassanupakilesa
- Obhasa (sinar yang gemerlapan)
- Piti (kegiuran yang nyaman)
- Passadi (ketenangan batin)
- Sukha (kebahagiaan)
- Saddha (keyakinan)
- Paggaha (usaha yang kuat)
- Upatthana (ingatan yang terang)
- Nana (pengetahuan)
- Upekkha (keseimbangan batin)
- Nikanti (kepuasan)
2) 4 Vipallasa Dhamma (kekhayalan/kepalsuan/kekeliruan)
- Subha Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang tidak cantik sebagai cantik.
Dibasmi dengan melaksanakan Kayanupassana Satipatthana.
- Sukha Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang derita sebagai bahagia.
Dibasmi dengan melaksanakan Vedananupassana Satipatthana.
- Nicca Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang tidak kekal sebagai kekal.
Dibasmi dengan melaksanakan Cittanupassana Satipatthana.
- Atta Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang tanpa aku sebagai aku.
Dibasmi dengan melaksanakan Dhammanupassana Satipatthana.
d. Hasil
16 Nana (pengetahuan batin)
3. SKEMA BHAVANA
Vipassana Samatha
Upacara
Parikamma
I. PENDAHULUAN
A. BELAJAR DHAMMA
1. Teori : Kitab Suci Tipitaka
2. Praktek : Jalan Mulia Berunsur Delapan (Sila, Samadhi, Panna)
3. Hasil Penembusan : Magga, Phala, Nibbana
B. GATI 5
1. Apaya Gati : karena melanggar Sila
2. Manussa Gati : karena melaksanakan Sila
3. Deva Gati : karena melaksanakan Sila
4. Brahma Gati : karena melaksanakan Sila + Samadhi (Samatha Bhavana)
5. Nibbana Gati : karena melaksanakan Sila + Samadhi (Vipassana Bhavana)
II. SAMADHI
A. PANDANGAN SALAH TERHADAP SAMADHI
1. Harus menyingkir dari kesibukan penghidupan sehari-hari
2. Untuk memperoleh kekuatan-kekuatan gaib
3. Bisa kemasukan ‘roh jahat’, dan sebagainya
B. PENGERTIAN SAMADHI YANG SESUNGGUHNYA (YANG BENAR)
Yaitu pemusatan pikiran pada obyek untuk menghilangkan atau menghentikan kekotoran batin (Kilesa)
C. FAEDAH SAMADHI
1. Contoh-contoh umum dapat dilihat dari buku ‘Bhavana’ yang disusun oleh Mettadewi, dan jelaskan alasannya mengapa bisa demikian.
2. Untuk melihat manusia (makhluk) secara keseluruhan sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak sebagai fraksi-fraksi yang pecah.
3. Dalam Buddha Dhamma dikatakan bahwa dalam tubuh manusia ini ada hubungan satu dengan yang lain (saling tergantung). Jadi semua harus diketahui untuk men-cari apa sebabnya bila terjadi suatu kejanggalan. Hal ini ibarat seorang sopir de-ngan mesin mobilnya.
4. Seorang dokter ketika memberi resep, obat tersebut diberikan secara bertahap. Demikian pula Dhamma, diberikan Sila, Samadhi, dan Panna juga secara berta-hap.
5. Proses kerja batin dan jasmani dalam diri manusia pada umumnya yaitu sebagai berikut:
- selalu sibuk
proses TINGKAH - bingung
LAKU - banyak masalah
rangsangan INDIVIDU perasaan, keinginan YANG - kurang percaya diri
kemelekatan KELUAR - takut, dan lain-lain
UMPAN BALIK
Untuk ‘melihat’ ini harus latihan Sati dan Konsentrasi!
D. PETUNJUK AWAL MELAKSANAKAN SAMADHI
1. Tempat
2. Waktu
3. Posisi
4. Petunjuk singkat lainnya:
a. Nasehat dari para guru meditasi
b. Membaca Paritta
c. Memahami prinsip ‘diikatnya’ pikiran pada obyek
E. PEMBAGIAN SAMADHI BERKENAAN DENGAN TUJUANNYA
1. SAMATHA BHAVANA
a. Obyek
Obyeknya ada 40 macam, yaitu:
1) 10 wujud benda
- perwujudan tanah
- perwujudan air
- perwujudan api
- perwujudan angin/udara
- perwujudan warna biru laut
- perwujudan warna kuning
- perwujudan warna merah
- perwujudan warna putih
- perwujudan cahaya
- perwujudan ruangan terbatas
2) 10 wujud kekotoran
- perwujudan suatu mayat membengkak
- perwujudan suatu mayat dengan warna muka kebiru-biruan
- perwujudan suatu mayat yang bernanah
- perwujudan suatu mayat yang terbelah di tengahnya
- perwujudan suatu mayat yang digerogoti binatang, dan lain-lain
- perwujudan suatu mayat yang telah hancur lebur
- perwujudan suatu mayat yang busuk dan hancur
- perwujudan suatu mayat yang berdarah
- perwujudan suatu mayat yang penuh dengan belatung
- perwujudan suatu tengkorak
3) 10 perenungan
- perenungan terhadap sifat-sifat/kualitas Sang Buddha
- perenungan terhadap sifat-sifat/kualitas Dhamma
- perenungan terhadap sifat-sifat/kualitas Sangha
- perenungan terhadap Sila yang dilaksanakan
- perenungan terhadap dana yang telah diberikan
- perenungan terhadap jasa-jasa yang dapat mengakibatkan terlahir di alam dewa
- perenungan terhadap kematian yang akan dialami
- perenungan terhadap kekotoran jasmani
- perenungan terhadap keluar masuknya nafas
- perenungan terhadap Nibbana yang terbebas dari kekotoran batin dan derita.
4) 4 keadaan tidak terbatas
- cinta kasih yang universal, tanpa pamrih
- belas kasihan
- simpati
- keseimbangan batin
5) 4 arupa
- obyek ruangan yang sudah keluar dari perwujudan
- obyek kesadaran yang tanpa batas
- obyek kekosongan
- obyek bukan pencerapan pun bukan tidak pencerapan
6) 1 perenungan terhadap makanan
perenungan terhadap makanan yang menjijikkan, yaitu merenungkan bah-wa makanan adalah barang yang menjijikkan bila telah berada dalam perut.
7) 1 analisa terhadap unsur jasmani
analisa terhadap keempat unsur, yaitu merenungkan unsur tanah, air, pa-nas, dan udara yang berada dalam jasmani kita.
b. Carita (perilaku)
1) Jenis-jenis Carita
- Raga Carita :
Orang yang mempunyai Lobha (keserakahan), melaksanakan sesuatu ber-dasarkan Lobha dan condong kepada keindahan, kecantikan, dsb.
- Dosa Carita :
Orang yang mempunyai Dosa (kebencian), melaksanakan sesuatu berda-sarkan kebencian dan condong ke arah panas hati, suka marah, suka jengkel, suka iri hati, dsb.
- Moha Carita :
Orang yang mempunyai kegelapan batin, melaksanakan sesuatu berda-sarkan kegelapan batin dan condong ke arah kelemahan batin, suka bingung, suka ragu-ragu, suka khawatir, dsb.
- Saddha Carita :
Orang yang mempunyai keyakinan, melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan dan condong ke arah rendah hati, dsb.
- Buddhi (Nana) Carita :
Orang yang mempunyai pengetahuan Dhamma, melaksanakan sesuatu berdasarkan sifat hati-hati dan condong ke arah perenungan terhadap tiga corak umum (Tilakkhana) dan meditasi.
- Vitakka Carita
Orang yang mempunyai banyak pikiran, melaksanakan sesuatu berdasar-kan tergesa-gesa dan condong ke arah kegugupan, kekhawatiran, dan ke-ragu-raguan.
2) Hubungan Carita dengan obyek meditasi
- Raga Carita : 10 Asubha + 1 Kayagatasati
- Dosa Carita : 4 Appamabba + 4 Kasina warna (biru laut, kuning, merah, putih)
- Moha Carita : 1 Anapanasati
- Saddha Carita : 6 Anussati (Buddha, Dhamma, Savgha, Sila, Caga, Devata)
- Buddhi Carita : 2 Anussati (Marana , Upasama) + 1 Perenungan terhadap makanan + 1 Analisa terhadap keempat unsur
- Vitakka Carita : 1 Anapanasati
3) Obyek yang dapat digunakan oleh semua orang tanpa melihat Caritanya
- 6 Kasina (Pathavi, Apo, Tejo, Vayo, Aloka, Akasa)
- 4 Arupa
c. Proses tahapan
1) Parikamma (Pendahuluan)
- Parikamma Nimitta
- Uggaha Nimitta
2) Upacara (Penghampiran)
- Patibhaga Nimitta
3) Appana (Mencerap obyek, terkonsentrasi dengan kuat)
- Muncul faktor-faktor Jhana (Vitakka, Vicara, Piti, Sukha, Ekaggata)
d. Penghalang
1) 5 Nivarana
- nafsu-nafsu kesenangan indera
- keinginan jahat
- kemalasan dan kelambanan/kelelahan
- kegelisahan dan kekhawatiran
- keragu-raguan
2) 10 Palibodha
- tempat tinggal
- pembantu dan orang yang bertanggungjawab
- keuntungan
- murid dan teman
- pekerjaan
- perjalanan
- orang tua, keluarga, dan saudara
- penyakit
- pelajaran
- kekuatan gaib
e. Hasil
1) Jhana
2) Abhibba
2. VIPASSANA BHAVANA
a. Obyek
Nama (batin) dan Rupa (jasmani) yang dicengkeram Tilakkhana.
Yaitu memperhatikan gerak-gerik Nama dan Rupa terus menerus sehingga da-pat melihat dengan nyata bahwa Nama dan Rupa itu dicengkeram oleh Anicca (ketidakkekalan), Dukkha (ketidakpuasan), dan Anatta (ketanpadirian).
b. 4 Satipatthana
1) Kayanupassana adalah Rupa Khandha
2) Vedananupassana adalah Vedana Khandha
3) Cittanupassana adalah Vibbana Khandha
4) Dhammanupassana adalah Pabca Khandha
c. Penghalang
1) 10 Vipassanupakilesa
- Obhasa (sinar yang gemerlapan)
- Piti (kegiuran yang nyaman)
- Passadi (ketenangan batin)
- Sukha (kebahagiaan)
- Saddha (keyakinan)
- Paggaha (usaha yang kuat)
- Upatthana (ingatan yang terang)
- Nana (pengetahuan)
- Upekkha (keseimbangan batin)
- Nikanti (kepuasan)
2) 4 Vipallasa Dhamma (kekhayalan/kepalsuan/kekeliruan)
- Subha Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang tidak cantik sebagai cantik.
Dibasmi dengan melaksanakan Kayanupassana Satipatthana.
- Sukha Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang derita sebagai bahagia.
Dibasmi dengan melaksanakan Vedananupassana Satipatthana.
- Nicca Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang tidak kekal sebagai kekal.
Dibasmi dengan melaksanakan Cittanupassana Satipatthana.
- Atta Vipallasa
Kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, menganggap sesua-tu yang tanpa aku sebagai aku.
Dibasmi dengan melaksanakan Dhammanupassana Satipatthana.
d. Hasil
16 Nana (pengetahuan batin)
3. SKEMA BHAVANA
Vipassana Samatha
Upacara
Parikamma
DANA
IX. D A N A
1. Pendahuluan
1) Perbuatan yang paling mudah dilakukan
2) Orang miskin justru harus banyak berdana
2. Pengertian berdana
1) Umum
2) Menurut pandangan agama Buddha
3. Bentuk-bentuk dana
1) Amisa Dana
2) Dhamma Dana
3) Abhaya Dana
4) Paricaya Dana
4. Kualitas dana
A. Ditinjau dari manfaat
1) Pemberian kecil manfaat kecil
2) Pemberian kecil manfaat besar
3) Pemberian besar manfaat kecil
4) Pemberian besar manfaat besar
B. Ditinjau dari kehendak
1) Kehendak sebelum berdana
2) Kehendak sewaktu berdana
3) Kehendak setelah berdana
C. Ditinjau dari barang yang didanakan
1) Berdana barang yang sudah buruk yang diri sendiri sudah tidak mau memakai-nya lagi
2) Berdana barang yang baik sebaik diri sendiri memakainya
3) Berdana barang yang lebih baik daripada yang dipakai sendiri
D. Ditinjau dari motif / tujuan
1) Hina Dana
2) Majjhima Dana
3) Panita Dana
E. Ditinjau dari kemurnian pemberi dan penerima dana
1) Kemurnian pemberi bukan kemurnian penerima
2) Kemurnian penerima bukan kemurnian pemberi
3) Tidak murni pemberi dan penerima
4) Kemurnian pemberi dan penerima
F. Ditinjau dari yang patut menerima dana
1) Menurut Dakkhinavibhavga Sutta, Majjhima Nikaya
Ada 14 macam persembahan yang ditujukan kepada pribadi tertentu (Patipugga-la Dana), yaitu :
a. Sammasambuddha
b. Pacceka Buddha
c. Arahat (Arahatta Phala)
d. Mereka yang berpraktek untuk meraih kearahatan (Arahatta Magga)
e. Anagami (Anagami Phala)
f. Mereka yang berpraktek untuk meraih keanagamian (Anagami Magga)
g. Sakadagami Phala
h. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesakadagamian (Sakadagami Magga)
i. Sotapanna (Sotapatti Phala)
j. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesotapanaan (Sotapatti Magga)
k. Orang non-Buddhis yang telah melenyapkan nafsunya (orang yang memiliki Jhana)
l. Orang biasa (awam) yang bermoral (yang mempunyai kesilaan)
m. Orang biasa (awam) yang tidak bermoral (yang jelek kesilaannya)
n. Binatang / hewan
2) Sangha yang merupakan lapangan menanam jasa
a. Sangha bhikkhu dan Sangha bhikkhuni saat Sang Buddha (Sammasambud-dha) sebagai pimpinan Savgha
b. Sangha bhikkhu dan Sanha bhikkhuni sesudah Sang Buddha parinibbana
c. Sangha bhikkhu saja
d. Sangha bhikkhuni saja
e. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dan bhikkhuni dalam jumlah terbatas (sejumlah bhikkhu dan bhikkhuni dari Sangha)
f. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dalam jumlah terbatas (beberapa bhik-khu yang disediakan oleh Sangha)
g. Sangha yang terdiri dari para bhikkhuni dalam jumlah terbatas (beberapa bhik-khuni yang disediakan oleh Sangha)
3) Obyek-obyek yang secara umum memang patut menerima dana
a. Dana yang diberikan kepada orang yang melaksanakan Sila, seperti misalnya para bhikkhu Sangha sekarang ini. Hal ini juga berarti berdana kepada Sangha
b. Dana yang diberikan kepada orang tua (ayah dan ibu)
c. Dana yang diberikan kepada orang yang belum berpenghasilan, misalnya me-reka yang belum mempunyai pekerjaan lalu kita sokong untuk sementara
d. Dana yang diberikan kepada mereka yang memang sedang membutuhkan bantuan, misalnya kepada mereka yang sedang terkena musibah, dan seba-gainya.
5. Cara-cara berdana
Berdana sama dengan menanam pohon yang secara tepat kita harus juga memilih la-han, bibit, dan waktu penanaman serta pemeliharaan. Tetapi bukanlah berarti di dalam berdana ini kita semata-mata hanya mengharapkan adanya hasil yang besar. Bukan itu maksudnya. Dalam hal ini kita hanya berusaha untuk melakukan cara-cara berdana yang paling baik. Nah, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tanaman (dana) kita ini antara lain sebagai berikut :
1) Umum
a. Apa yang kita danakan hendaknya hasil yang kita peroleh dengan cara-cara yang sesuai dengan Dhamma.
b. Dana diberikan kepada orang yang layak menerima.
c. Sebelum diserahkan, dana telah dipersiapkan dan direncanakan dengan pikiran yang baik.
d. Pada waktu diserahkan disertai dengan pikiran ikhlas, rela, dan penuh kebaha-giaan serta tanpa ikatan.
e. Sesudah diserahkan, pada saat-saat selanjutnya pikiran-pikiran baik tersebut te-tap dipelihara dengan cara :
- Merenungkan bahwa dengan berbuat bajik ini semoga sanak keluarga yang te-lah tiada juga ikut bergembira dan dapat pula menikmatinya.
- Tidak lagi menganggap bahwa barang tersebut masih milik kita dan merelakan dengan tulus pada si penerima untuk menggunakannya. Hindarkan diri kita da-ri sikap egois yang selalu menganggap barang itu adalah pemberian kita. Ini merupakan jalan untuk mempraktekkan ajaran Anatta, praktek ‘pasrah’, ‘sume-leh’, dan tidak terikat (melepas).
- Tidak meremehkan kepada siapapun dengan membanggakan apa yang telah kita perbuat. Orang lain boleh membanggakan kebajikan kita, namun hendak-nya dijaga batin atau pikiran kita dari kekotoran batin tersebut.
- Tidak memberikan syarat-syarat yang mengikat yang dibebankan pada peneri-ma dana sehingga ia tidak bebas memanfaatkannya. Ini terjadi karena ketidak-ikhlasan kita kepada orang yang menerima dana. Kita boleh berdana dengan mengatakan maksud penggunaannya, tetapi bukan merupakan syarat yang mengikat. Misalnya kita berdana untuk membangun kuti, tetapi kurang layak kalau kita berdana membangun kuti dengan syarat ini dan itu bagi yang me-nempatinya.
2) Sappurisa Dana 8
Artinya 8 (delapan) macam cara berdana dari orang yang baik.
a. Sucim-deti : berdana sesuatu yang bersih (halal).
b. Panitam-deti : berdana sesuatu yang baik (masih bermanfaat).
c. Kalena-deti : berdana sesuatu yang tepat untuk kondisinya.
d. Kappiyam-deti : berdana sesuatu yang pantas / layak.
e. Vicceya-deti : berdana sesuatu dengan bijaksana.
f. Abhinham-deti : berdana sesuatu secara tetap / teratur.
g. Dadam cittam pasa-deti :
Berdana sesuatu dengan pikiran tenang, pikiran yang baik, dan tidak mengharap-kan pamrih yang dapat menimbulkan kegelisahan, apalagi jika hal yang kita ha-rapkan dengan dana kita itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
h. Datva attamano hoti :
Setelah berdana batin merasa tenang. Hal ini dapat terjadi bila kita berdana de-ngan benar-benar tanpa pamrih dan melihat orang yang menerima dana kita itu berbahagia sehingga kita pun ikut berbahagia.
3) Berdana kepada orang yang telah meninggal
4) Kathina Dana
6. Pahala berdana
1) Dalam kehidupan sekarang
a. Dengan berdana berarti kita telah melaksanakan suatu cara untuk mengurangi si-fat Lobha yang ada dalam diri kita.
b. Dengan berdana berarti kita berlatih ‘melepaskan’ sesuatu milik kita dengan wa-jar, sehingga jika pada suatu saat nanti kita harus atau terpaksa melepaskan sua-tu milik kita sangat kita cintai, maka kita dapat melepaskannya dengan wajar.
c. Dengan berdana berarti kita melatih diri kita agar tidak terlalu melekat pada se-suatu.
d. Dengan berdana maka kita akan disenangi dan mempunyai banyak teman yang kelak dapat menolong di saat kita sedang susah.
2) Dalam kehidupan yang akan datang
a. Dilahirkan sebagai anak dari keluarga yang kaya raya (bila terlahir sebagai manu-sia).
b. Sesudah kita berdana, khususnya kepada bhikkhu Savgha, kita akan mendapat berkah atas perbuatan baik kita seperti yang disebutkan dalam Anumodana Ga-tha, di mana dana akan dapat memberikan manfaat yaitu ‘ayu vanno sukham ba-lam’ yang artinya mendapat berkah ‘usia panjang, wajah cantik / tampan, baha-gia, dan kuat. Semoga dana yang kita berikan memberikan berkah :
- Ayuvaddhako - usia bertambah
- Dhanavaddhako - kekayaan bertambah
- Sirivaddhako - kemakmuran bertambah
- Yasavaddhako - kemasyuran bertambah
- Balavaddhako - kekuatan bertambah
- Vannavaddhako - kecantikan / ketampanan bertambah
- Hotu sabbada - semoga selalu demikian (selalu bertambah)
3) Pahala yang setimpal
Dalam Manapadayi Sutta, Sang Buddha bersabda : “Mereka yang berdana :
* sesuatu yang disenangi - niscaya akan memperoleh sesuatu yang disenangi
* sesuatu yang terunggul - niscaya akan memperoleh sesuatu yang terunggul
* sesuatu yang terbaik - niscaya akan memperoleh sesuatu yang terbaik
* sesuatu yang mulia - niscaya akan memperoleh sesuatu yang mulia”.
Dapatlah dinyatakan bahwa dana senantiasa memberikan pahala yang setimpal ke-pada pelakunya. Kata ‘setimpal’ di sini bukan berarti orang yang berdana sesendok nasi lalu akan memperoleh pahala sesendok nasi yang sama karena banyak faktor lain yang menentukan pahala tersebut misalnya pengertian benar, keyakinan yang mantap, kehendak yang tulus, keikhlasan, dan sebagainya.
7. Masalah-masalah dalam berdana
1) Nilai kedermawanan
2) Alasan orang mau melaksanakan dana
a. Alasan karena pengaruh dari luar
- Karena tertarik melihat orang lain berdana , lalu ia ikut berdana
- Karena malu jika orang lain berdana tetapi dia tidak berdana
- Karena orang yang akan menerima dana adalah orang yang dia senangi
- Karena ada orang yang menyuruhnya berdana
- Karena kewajiban yang ditentukan
- Karena ingin memamerkan kekayaan dan kedermawanannya di lingkungan-nya.
b. Alasan yang bersifat kejiwaan
- Karena ia merasa iba melihat penderitaan orang (makhluk) lain
- Karena memang ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang masih menderita
- Karena ingin berbuat kebajikan terhadap sesama manusia atau kepada makh-luk lain dengan tanpa pamrih
- Karena ingin mempraktekkan ajaran Sang Buddha khususnya ajaran menge-nai ‘melepas’ dan ‘tidak melekat’
- Karena ingin menanam benih kamma yang baik supaya mempunyai buah yang baik pula
3) Alasan orang tidak mau berdana
a. Alasan materi
b. Alasan non materi
- Karena hatinya sedang susah
- Karena kikir dan serakah
- Karena orang yang akan menerima dana adalah orang yang dia benci
- Karena ia berpendapat bahwa berdana itu tidak ada manfaatnya
4) Masalah tujuan orang berdana
a. Tujuan yang bersifat pendorong
- Agar si penerima dana dapat berbahagia
- Agar bila buah kammanya masak, maka buah kamma yang baiklah yang akan ia terima nanti
- Agar sanak keluarganya yang telah meninggal dapat turut merasa bahagia ka-rena dana yang telah dia lakukan itu
- Agar dalam kehidupan sekarang ia dapat mengurangi sifat serakah (Lobha) yang ada dalam dirinya
b. Tujuan yang bersifat pamrih
- Agar ia menjadi orang yang terkenal kedermawanannya
- Agar orang lain menjadi hormat padanya
- Agar ia mendapatkan sesuatu dari orang (pihak) yang telah ia bantu itu
- Agar martabat dan harga dirinya menjadi naik dan lebih baik lagi
- Agar dengan demikian banyak orang yang mau menjadi pengikutnya
8. Kesimpulan
1) Berdana artinya memberi dengan ikhlas, baik yang berupa harta benda, tenaga, maupun jiwa raga demi kepentingan masyarakat dan kesejahteraan semua makhluk
2) Terdapat bermacam-macam dana yang pembagiannya ditentukan berdasarkan ben-tuknya, pengorbanannya, dan lain sebagainya
3) Dalam berdana ada hal-hal tertentu yang harus kita perhatikan, mulai dari jenis ba-rang yang dapat didanakan, orang yang berhak menerima dana, sampai pada kea-daan batin ketika akan berdana, pada saat berdana, dan setelah berdana
4) Di antara sekian banyak jenis dana, Dhammadana adalah yang paling bernilai
5) Adapun Sangha adalah tempat berdana yang paling baik
6) Nilai suatu dana, tidak ditentukan hanya oleh besar atau kecilnya dana itu, tetapi ju-ga ditentukan oleh ketulusan hati orang yang berdana, dan sebagainya
7) Siapapun orangnya, sekalipun ia miskin, tetap bisa berdana, sebab bentuk dana itu tidak terbatas
9. Saran
1) Pada saat sekarang ini masih banyak umat Buddha yang belum mengerti tentang ajaran agamanya. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua yang sudah ‘mengerti’ ajaran untuk menolong mereka melalui Dhammadana
2) Sebaiknya kalau kita hendak berdana, kita perhatikan dulu beberapa hal yang akan menunjang dana kita itu, sehingga menjadi dana yang benar-benar bernilai dan me-nimbulkan buah kamma yang baik; tetapi hal ini jangan disalahartikan untuk semata-mata mencari pahala yang besar
3) Janganlah kita terpaku pada dana yang berbentuk materi saja, tetapi berdanalah ju-ga dengan dana yang berupa bentuk lain, misalnya dengan memberikan nasehat atau ajaran, dengan memaafkan, denganmembantu meringankan pekerjaan, dan sebagainya. Juga seandainya bersedia, tentu akan lebih mulia lagi kalau kita mau menjadi seorang donor dengan mendanakan bagian dari tubuh kita misalnya donor darah, kornea mata, ginjal, dan bagian dari tubuh kita yang lain
4) Sebaiknya kita berdana sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan berdanalah dengan ikhlas dan bijaksana
____________________
1. Pendahuluan
1) Perbuatan yang paling mudah dilakukan
2) Orang miskin justru harus banyak berdana
2. Pengertian berdana
1) Umum
2) Menurut pandangan agama Buddha
3. Bentuk-bentuk dana
1) Amisa Dana
2) Dhamma Dana
3) Abhaya Dana
4) Paricaya Dana
4. Kualitas dana
A. Ditinjau dari manfaat
1) Pemberian kecil manfaat kecil
2) Pemberian kecil manfaat besar
3) Pemberian besar manfaat kecil
4) Pemberian besar manfaat besar
B. Ditinjau dari kehendak
1) Kehendak sebelum berdana
2) Kehendak sewaktu berdana
3) Kehendak setelah berdana
C. Ditinjau dari barang yang didanakan
1) Berdana barang yang sudah buruk yang diri sendiri sudah tidak mau memakai-nya lagi
2) Berdana barang yang baik sebaik diri sendiri memakainya
3) Berdana barang yang lebih baik daripada yang dipakai sendiri
D. Ditinjau dari motif / tujuan
1) Hina Dana
2) Majjhima Dana
3) Panita Dana
E. Ditinjau dari kemurnian pemberi dan penerima dana
1) Kemurnian pemberi bukan kemurnian penerima
2) Kemurnian penerima bukan kemurnian pemberi
3) Tidak murni pemberi dan penerima
4) Kemurnian pemberi dan penerima
F. Ditinjau dari yang patut menerima dana
1) Menurut Dakkhinavibhavga Sutta, Majjhima Nikaya
Ada 14 macam persembahan yang ditujukan kepada pribadi tertentu (Patipugga-la Dana), yaitu :
a. Sammasambuddha
b. Pacceka Buddha
c. Arahat (Arahatta Phala)
d. Mereka yang berpraktek untuk meraih kearahatan (Arahatta Magga)
e. Anagami (Anagami Phala)
f. Mereka yang berpraktek untuk meraih keanagamian (Anagami Magga)
g. Sakadagami Phala
h. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesakadagamian (Sakadagami Magga)
i. Sotapanna (Sotapatti Phala)
j. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesotapanaan (Sotapatti Magga)
k. Orang non-Buddhis yang telah melenyapkan nafsunya (orang yang memiliki Jhana)
l. Orang biasa (awam) yang bermoral (yang mempunyai kesilaan)
m. Orang biasa (awam) yang tidak bermoral (yang jelek kesilaannya)
n. Binatang / hewan
2) Sangha yang merupakan lapangan menanam jasa
a. Sangha bhikkhu dan Sangha bhikkhuni saat Sang Buddha (Sammasambud-dha) sebagai pimpinan Savgha
b. Sangha bhikkhu dan Sanha bhikkhuni sesudah Sang Buddha parinibbana
c. Sangha bhikkhu saja
d. Sangha bhikkhuni saja
e. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dan bhikkhuni dalam jumlah terbatas (sejumlah bhikkhu dan bhikkhuni dari Sangha)
f. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dalam jumlah terbatas (beberapa bhik-khu yang disediakan oleh Sangha)
g. Sangha yang terdiri dari para bhikkhuni dalam jumlah terbatas (beberapa bhik-khuni yang disediakan oleh Sangha)
3) Obyek-obyek yang secara umum memang patut menerima dana
a. Dana yang diberikan kepada orang yang melaksanakan Sila, seperti misalnya para bhikkhu Sangha sekarang ini. Hal ini juga berarti berdana kepada Sangha
b. Dana yang diberikan kepada orang tua (ayah dan ibu)
c. Dana yang diberikan kepada orang yang belum berpenghasilan, misalnya me-reka yang belum mempunyai pekerjaan lalu kita sokong untuk sementara
d. Dana yang diberikan kepada mereka yang memang sedang membutuhkan bantuan, misalnya kepada mereka yang sedang terkena musibah, dan seba-gainya.
5. Cara-cara berdana
Berdana sama dengan menanam pohon yang secara tepat kita harus juga memilih la-han, bibit, dan waktu penanaman serta pemeliharaan. Tetapi bukanlah berarti di dalam berdana ini kita semata-mata hanya mengharapkan adanya hasil yang besar. Bukan itu maksudnya. Dalam hal ini kita hanya berusaha untuk melakukan cara-cara berdana yang paling baik. Nah, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tanaman (dana) kita ini antara lain sebagai berikut :
1) Umum
a. Apa yang kita danakan hendaknya hasil yang kita peroleh dengan cara-cara yang sesuai dengan Dhamma.
b. Dana diberikan kepada orang yang layak menerima.
c. Sebelum diserahkan, dana telah dipersiapkan dan direncanakan dengan pikiran yang baik.
d. Pada waktu diserahkan disertai dengan pikiran ikhlas, rela, dan penuh kebaha-giaan serta tanpa ikatan.
e. Sesudah diserahkan, pada saat-saat selanjutnya pikiran-pikiran baik tersebut te-tap dipelihara dengan cara :
- Merenungkan bahwa dengan berbuat bajik ini semoga sanak keluarga yang te-lah tiada juga ikut bergembira dan dapat pula menikmatinya.
- Tidak lagi menganggap bahwa barang tersebut masih milik kita dan merelakan dengan tulus pada si penerima untuk menggunakannya. Hindarkan diri kita da-ri sikap egois yang selalu menganggap barang itu adalah pemberian kita. Ini merupakan jalan untuk mempraktekkan ajaran Anatta, praktek ‘pasrah’, ‘sume-leh’, dan tidak terikat (melepas).
- Tidak meremehkan kepada siapapun dengan membanggakan apa yang telah kita perbuat. Orang lain boleh membanggakan kebajikan kita, namun hendak-nya dijaga batin atau pikiran kita dari kekotoran batin tersebut.
- Tidak memberikan syarat-syarat yang mengikat yang dibebankan pada peneri-ma dana sehingga ia tidak bebas memanfaatkannya. Ini terjadi karena ketidak-ikhlasan kita kepada orang yang menerima dana. Kita boleh berdana dengan mengatakan maksud penggunaannya, tetapi bukan merupakan syarat yang mengikat. Misalnya kita berdana untuk membangun kuti, tetapi kurang layak kalau kita berdana membangun kuti dengan syarat ini dan itu bagi yang me-nempatinya.
2) Sappurisa Dana 8
Artinya 8 (delapan) macam cara berdana dari orang yang baik.
a. Sucim-deti : berdana sesuatu yang bersih (halal).
b. Panitam-deti : berdana sesuatu yang baik (masih bermanfaat).
c. Kalena-deti : berdana sesuatu yang tepat untuk kondisinya.
d. Kappiyam-deti : berdana sesuatu yang pantas / layak.
e. Vicceya-deti : berdana sesuatu dengan bijaksana.
f. Abhinham-deti : berdana sesuatu secara tetap / teratur.
g. Dadam cittam pasa-deti :
Berdana sesuatu dengan pikiran tenang, pikiran yang baik, dan tidak mengharap-kan pamrih yang dapat menimbulkan kegelisahan, apalagi jika hal yang kita ha-rapkan dengan dana kita itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
h. Datva attamano hoti :
Setelah berdana batin merasa tenang. Hal ini dapat terjadi bila kita berdana de-ngan benar-benar tanpa pamrih dan melihat orang yang menerima dana kita itu berbahagia sehingga kita pun ikut berbahagia.
3) Berdana kepada orang yang telah meninggal
4) Kathina Dana
6. Pahala berdana
1) Dalam kehidupan sekarang
a. Dengan berdana berarti kita telah melaksanakan suatu cara untuk mengurangi si-fat Lobha yang ada dalam diri kita.
b. Dengan berdana berarti kita berlatih ‘melepaskan’ sesuatu milik kita dengan wa-jar, sehingga jika pada suatu saat nanti kita harus atau terpaksa melepaskan sua-tu milik kita sangat kita cintai, maka kita dapat melepaskannya dengan wajar.
c. Dengan berdana berarti kita melatih diri kita agar tidak terlalu melekat pada se-suatu.
d. Dengan berdana maka kita akan disenangi dan mempunyai banyak teman yang kelak dapat menolong di saat kita sedang susah.
2) Dalam kehidupan yang akan datang
a. Dilahirkan sebagai anak dari keluarga yang kaya raya (bila terlahir sebagai manu-sia).
b. Sesudah kita berdana, khususnya kepada bhikkhu Savgha, kita akan mendapat berkah atas perbuatan baik kita seperti yang disebutkan dalam Anumodana Ga-tha, di mana dana akan dapat memberikan manfaat yaitu ‘ayu vanno sukham ba-lam’ yang artinya mendapat berkah ‘usia panjang, wajah cantik / tampan, baha-gia, dan kuat. Semoga dana yang kita berikan memberikan berkah :
- Ayuvaddhako - usia bertambah
- Dhanavaddhako - kekayaan bertambah
- Sirivaddhako - kemakmuran bertambah
- Yasavaddhako - kemasyuran bertambah
- Balavaddhako - kekuatan bertambah
- Vannavaddhako - kecantikan / ketampanan bertambah
- Hotu sabbada - semoga selalu demikian (selalu bertambah)
3) Pahala yang setimpal
Dalam Manapadayi Sutta, Sang Buddha bersabda : “Mereka yang berdana :
* sesuatu yang disenangi - niscaya akan memperoleh sesuatu yang disenangi
* sesuatu yang terunggul - niscaya akan memperoleh sesuatu yang terunggul
* sesuatu yang terbaik - niscaya akan memperoleh sesuatu yang terbaik
* sesuatu yang mulia - niscaya akan memperoleh sesuatu yang mulia”.
Dapatlah dinyatakan bahwa dana senantiasa memberikan pahala yang setimpal ke-pada pelakunya. Kata ‘setimpal’ di sini bukan berarti orang yang berdana sesendok nasi lalu akan memperoleh pahala sesendok nasi yang sama karena banyak faktor lain yang menentukan pahala tersebut misalnya pengertian benar, keyakinan yang mantap, kehendak yang tulus, keikhlasan, dan sebagainya.
7. Masalah-masalah dalam berdana
1) Nilai kedermawanan
2) Alasan orang mau melaksanakan dana
a. Alasan karena pengaruh dari luar
- Karena tertarik melihat orang lain berdana , lalu ia ikut berdana
- Karena malu jika orang lain berdana tetapi dia tidak berdana
- Karena orang yang akan menerima dana adalah orang yang dia senangi
- Karena ada orang yang menyuruhnya berdana
- Karena kewajiban yang ditentukan
- Karena ingin memamerkan kekayaan dan kedermawanannya di lingkungan-nya.
b. Alasan yang bersifat kejiwaan
- Karena ia merasa iba melihat penderitaan orang (makhluk) lain
- Karena memang ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang masih menderita
- Karena ingin berbuat kebajikan terhadap sesama manusia atau kepada makh-luk lain dengan tanpa pamrih
- Karena ingin mempraktekkan ajaran Sang Buddha khususnya ajaran menge-nai ‘melepas’ dan ‘tidak melekat’
- Karena ingin menanam benih kamma yang baik supaya mempunyai buah yang baik pula
3) Alasan orang tidak mau berdana
a. Alasan materi
b. Alasan non materi
- Karena hatinya sedang susah
- Karena kikir dan serakah
- Karena orang yang akan menerima dana adalah orang yang dia benci
- Karena ia berpendapat bahwa berdana itu tidak ada manfaatnya
4) Masalah tujuan orang berdana
a. Tujuan yang bersifat pendorong
- Agar si penerima dana dapat berbahagia
- Agar bila buah kammanya masak, maka buah kamma yang baiklah yang akan ia terima nanti
- Agar sanak keluarganya yang telah meninggal dapat turut merasa bahagia ka-rena dana yang telah dia lakukan itu
- Agar dalam kehidupan sekarang ia dapat mengurangi sifat serakah (Lobha) yang ada dalam dirinya
b. Tujuan yang bersifat pamrih
- Agar ia menjadi orang yang terkenal kedermawanannya
- Agar orang lain menjadi hormat padanya
- Agar ia mendapatkan sesuatu dari orang (pihak) yang telah ia bantu itu
- Agar martabat dan harga dirinya menjadi naik dan lebih baik lagi
- Agar dengan demikian banyak orang yang mau menjadi pengikutnya
8. Kesimpulan
1) Berdana artinya memberi dengan ikhlas, baik yang berupa harta benda, tenaga, maupun jiwa raga demi kepentingan masyarakat dan kesejahteraan semua makhluk
2) Terdapat bermacam-macam dana yang pembagiannya ditentukan berdasarkan ben-tuknya, pengorbanannya, dan lain sebagainya
3) Dalam berdana ada hal-hal tertentu yang harus kita perhatikan, mulai dari jenis ba-rang yang dapat didanakan, orang yang berhak menerima dana, sampai pada kea-daan batin ketika akan berdana, pada saat berdana, dan setelah berdana
4) Di antara sekian banyak jenis dana, Dhammadana adalah yang paling bernilai
5) Adapun Sangha adalah tempat berdana yang paling baik
6) Nilai suatu dana, tidak ditentukan hanya oleh besar atau kecilnya dana itu, tetapi ju-ga ditentukan oleh ketulusan hati orang yang berdana, dan sebagainya
7) Siapapun orangnya, sekalipun ia miskin, tetap bisa berdana, sebab bentuk dana itu tidak terbatas
9. Saran
1) Pada saat sekarang ini masih banyak umat Buddha yang belum mengerti tentang ajaran agamanya. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua yang sudah ‘mengerti’ ajaran untuk menolong mereka melalui Dhammadana
2) Sebaiknya kalau kita hendak berdana, kita perhatikan dulu beberapa hal yang akan menunjang dana kita itu, sehingga menjadi dana yang benar-benar bernilai dan me-nimbulkan buah kamma yang baik; tetapi hal ini jangan disalahartikan untuk semata-mata mencari pahala yang besar
3) Janganlah kita terpaku pada dana yang berbentuk materi saja, tetapi berdanalah ju-ga dengan dana yang berupa bentuk lain, misalnya dengan memberikan nasehat atau ajaran, dengan memaafkan, denganmembantu meringankan pekerjaan, dan sebagainya. Juga seandainya bersedia, tentu akan lebih mulia lagi kalau kita mau menjadi seorang donor dengan mendanakan bagian dari tubuh kita misalnya donor darah, kornea mata, ginjal, dan bagian dari tubuh kita yang lain
4) Sebaiknya kita berdana sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan berdanalah dengan ikhlas dan bijaksana
____________________
Langganan:
Postingan (Atom)
