KEINDAHAN
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
KODHANO DUBBANNO HOTI.
Seseorang yang suka marah akan memiliki penampilan yang buruk.
Avguttaranikaya Sattakanipata.
Sdr/i seDhamma sekalian, setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita bersama-sama mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengada-kan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Keindahan’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Keindahan’.
Sdr/i sekalian, dalam kehidupan manusia pada umumnya, semua orang rata-rata pasti mencintai keindahan. Di mana ada keindahan, pasti menarik perhatian orang yang melihatnya. Dan dari perhatian, lalu timbul kekaguman, dan dari kekaguman ini maka timbullah kecende-rungan untuk menikmati keindahan tersebut terus menerus. Namun, meskipun setiap orang pada umumnya menyukai keindahan, ternyata nilai suatu keindahan adalah relatif bagi setiap orang. Artinya, sesuatu yang dianggap indah oleh seseorang, belum tentu dianggap indah oleh orang lain.
Sdr/i sekalian, jika demikian, maka darimanakah kita ini dapat melihat suatu keindahan? Umumnya, keindahan itu dilihat oleh mata terhadap suatu obyek benda. Misalnya orang cende-rung mempergunakan perhiasan untuk mempercantik diri, menggunakan berbagai asesoris untuk memperindah rumah, dan lain-lain. Semua alat bantu ini dipergunakan orang untuk membuat se-suatu menjadi lebih indah. Nah, keindahan yang demikian ini dapat digolongkan sebagai kein-dahan perhiasan.
Selanjutnya, selain perhiasan, manusia juga cenderung untuk membanggakan keindahan jasmaninya. Keindahan jasmani ini dapat berupa bentuk tubuh yang menarik, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus, tidak terlalu tinggi atau terlalu pendek; kemudian memiliki warna kulit yang menarik dan halus, mempunyai bentuk gigi yang indah, rambut yang bersih dan menarik, dan se-bagainya. Nah, keindahan yang semacam ini disebut sebagai keindahan jasmani.
Lalu, selain keindahan perhiasan dan keindahan jasmani, keindahan seorang manusia ju-ga dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Mereka yang berperilaku baik, sopan santun dan ra-mah tamah, pasti akan menarik perhatian orang lain. Ucapan yang baik dan ramah dapat membu-at orang lain tertarik dengan kepribadian orang tersebut. Inilah yang disebut sebagai keindahan perilaku.
Sdr/i sekalian, selanjutnya, keindahan lain dari seseorang adalah yang disebut sebagai ke-indahan batin. Orang yang indah batinnya adalah mereka yang berhati baik, suka menolong, mencintai semua makhluk, dan sebagainya atau singkatnya adalah mereka yang mengembangkan ‘Brahma Vihara’.
Nah, Sdr/i yang berbahagia, dari keempat jenis keindahan ini, keindahan batin adalah yang paling terutama dan terpenting. Perhiasan sering digunakan hanya untuk menutupi kejelek-an-kejelekan jasmani. Demikian pula keindahan jasmani ternyata tidak mencerminkan keindahan perilaku. Banyak orang yang memiliki jasmani yang menarik tetapi perilakunya buruk. Oleh se-bab itu, keindahan perilaku adalah yang lebih baik daripada keindahan perhiasan dan keindahan jasmani. Akan tetapi, sering kali perilaku yang baik hanya dibuat-buat untuk menutupi sifatnya yang jelek. Oleh karena itu, keindahan yang terbaik adalah keindahan batin. Keindahan batin ti-dak dapat ditutupi dengan keindahan-keindahan lainnya. Keindahan batin tidak dapat dibuat-buat.
Sdr/i sekalian, dari cerita yang telah diuraikan tadi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa keindahan yang paling mudah kita lihat adalah keindahan terluar, yaitu keindahan perhiasan. Jika perhiasannya ditinggalkan, maka yang nampak adalah keindahan jasmani. Dan jika keindahan jasmani ini juga diabaikan, maka kita akan melihat keindahan perilaku. Sedangkan keindahan yang paling halus, adalah keindahan batin. Yaitu keindahan yang dapat bertahan lebih lama dari-pada keindahan-keindahan lainnya yang hanya bersifat sementara.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, Sang Buddha, guru agung kita yang maha sempurna, mengajarkan bahwa keindahan seseorang dapat dikembangkan dengan jalan memiliki Dua Dhamma yang indah, yaitu yang disebut ‘Khanti’ dan ‘Soracca’. Khanti adalah kesabaran. De-ngan perkataan lain, Khanti berarti dapat menahan diri secara wajar pada saat menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam Buddha Dhamma, Khanti ini dibedakan menjadi dua macam.
1. Adhivasasana Khanti
Yaitu kesabaran jasmani. Artinya, walaupun jasmani merasa kecapaian, merasa sakit, lapar atau haus, kita tetap sabar dan dapat menahan diri untuk tidak berteriak, mengerang, ataupun mengeluh. Kita selalu berusaha agar apa yang terjadi pada jasmani tidak membawa pengaruh yang negatif pada batin.
2. Titikkhana Khanti
Yaitu kesabaran batin. Artinya, orang yang memiliki Titikkhana Khanti akan tetap memiliki kesabaran walaupun ia dihina, dimaki atau dimarahi. Titikkhana Khanti merupakan kelanjut-an dari melatih Adhivasasana Khanti.
Sdr/i sekalian, demikianlah penjelasan tentang dua macam Khanti, selanjutnya mengenai Soracca, artinya adalah sikap yang tenang, yaitu tetap melakukan pekerjaan seperti biasa walau-pun ada hal-hal yang tidak menyenangkan. Walau mengalami gangguan, jika batin tetap tenang maka tindakan-tindakan jasmanipun akan tetap tenang dan damai, perkataannya akan tetap ra-mah dan manis didengar. Demikianlah yang dimaksud dengan Soracca.
Sdr/i sekalian, dengan memiliki Khanti dan Soracca, seseorang akan tetap memiliki kein-dahan batin dan perilaku. Keindahan ini akan bertahan lama jika selalu dikembangkan. Dalam menghadapi situasi yang bagaimanapun, orang yang memiliki Khanti dan Soracca akan tetap menarik dan dikagumi oleh setiap orang. Oleh sebab itu, berusahalah untuk tetap memiliki kein-dahan batin ini.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita yang cukup singkat pada hari ini, dan semoga dengan demikian kita semua menjadi selalu menyadari makna dan hakekat dari keindahan ini demi kebahagiaan kita semua. Terimakasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta; semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
___________________
Dipetik dari Dhammavibhanga.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
Senin, 10 Maret 2008
KECIL BUKAN SEPELE
KECIL BUKAN BERARTI SEPELE
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
MÄVAMAÑÑETHA PÄPASSA - NA MAÇ TAÇ AGÄMÍSSATI.
Janganlah meremehkan kejahatan, walaupun itu kecil sekali.
Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi sejenak, marilah sekarang kita arahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Kecil Bukan Berarti Sepele’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Kecil Bukan Berarti Sepele’.
Sdr/i seDhamma sekalian, seperti yang sudah kita ketahui, bahwa pada umumnya, kalau ada sebuah benjolan kecil yang terdapat pada salah satu bagian dari tubuh kita, biasa-nya bisa merupakan suatu kanker ganas. Semua orang yang tahu hal itu, pasti tidak akan me-remehkan tumor kecil tersebut dan segera akan memeriksakan dirinya pada seorang dokter. Dalam hal ini, dokter tersebut akan memperlakukannya dengan serius, terkecuali setelah ke-mudian jelas terbukti bahwa tumor itu tidak ganas. Jadi, memang sesuatu yang kecil itu tidak seharusnya dianggap sepele. Hal ini juga seperti peribahasa yang mengatakan bahwa dengan nila setitik dapat merusak susu sebelanga.
Sdr/i seDhamma sekalian, demikian pula di dalam istilah umum masyarakat kita ini, manusia katanya mengenal adanya dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil hukumannya tentu ringan, dan dosa besar hukumannya pasti akan berat. Nah, karena hal tersebut, maka yang kecil dan ringan itu akhirnya dipandang ‘gampang dihapus’ dan ‘diabaikan’. Akhirnya, me-mang banyak orang yang takut untuk melakukan dosa besar, tetapi dengan demikian mereka malahan justru lebih banyak melakukan dosa-dosa kecil dengan dalih bahwa semua manusia pasti berdosa. Jadi bisa dimaklumi kalau hanya melakukan dosa-dosa yang kecil. Mengapa bisa terjadi pandangan demikian? Karena hal ini diakibatkan bahwa seringkali orang menu-tup mata terhadap segala bentuk kesalahan yang kecil, sehingga akhirnya mereka mengang-gap bahwa kesalahan kecil itu adalah hal yang sudah biasa dan tidak perlu diperhatikan lagi. Sdr/i sekallian, lalu bagaimanakah ajaran Sang Buddha dalam memandang hal tersebut? Apa kah juga demikian? Sdr/i sekalian, ternyata di dalam ajaran Sang Buddha kita malahan di-ingatkan bahwa kesalahan yang kecil itu bukanlah barang yang boleh dianggap sepele atau boleh diremehkan.
Sdr/i, di dalam kitab Dhammapada ayat 121 tadi dikatakan bahwa janganlah mere-mehkan kejahatan walau sekecil apapun, dengan beranggapan bahwa perbuatan buruk itu ti-dak akan membawa akibat. Tetapi sesungguhnya, bagaikan sebuah tempayan akan terisi pe-nuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula si dungu akan penuh de-ngan hasil kejahatan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, perlu kita ketahui bahwa yang dimaksud kejahatan di sini yaitu tidak saja membunuh atau menyakiti orang lain, mencuri, asusila, berdusta, serta mabuk-mabukan, tetapi juga meliputi segala macam perbuatan yang berasal dari keserakah-an, kebencian, dan kebodohan batin dalam bentuknya yang lain seperti berjudi, berkata ka-sar, omong kosong atau membual, menfitnah, dan sebagainya.
Sdr/i seDhamma sekalian, ternyata peraturan larangan dan tata tertib (Vinaya) yang telah ditetapkan oleh Sang Buddha, tidak saja membahas tentang perbuatan yang jahat, tetapi juga mencakup hal-hal kecil yang dapat memberikan peluang untuk timbulnya suatu perbuat-an yang tercela. Sebagai contoh, misalnya seorang bhikkhu yang pantang melakukan hu-bungan kelamin, maka sehubungan dengan hal itu pula, ia juga tidak boleh menyentuh wani-ta sekalipun hanya rambut atau tangannya saja. Juga, untuk mendukung hal tersebut, maka tidak dibenarkan bagi seorang bhikkhu untuk duduk bersama seorang wanita di suatu tempat yang tertutup tanpa ada orang lain yang melihatnya. Mengapa demikian? Apakah hal ini ti-dak terlalu berlebihan dan mengada-ada? Sdr/i sekalian, memang bagi kita mungkin berang-gapan bahwa menyentuh atau duduk berdua dengan orang lain yang berbeda jenis kelamin-nya adalah cuma soal kecil. Tetapi Sdr/i sekalian, ternyata hal itu tidak bisa dianggap remeh dalam kehidupan seorang bhikkhu. Mengapa? Karena hal tersebut dapat membawa akibat yang besar, terutama ketika mereka sedang melatih meditasi, yaitu bisa muncul kesan-kesan sewaktu sedang duduk berduaan tadi sehingga dapat mengganggu latihan meditasinya dan akhirnya bisa juga mengarah untuk melakukan suatu perbuatan yang tercela.
Sdr/i seDhamma sekalian, itu tadi adalah contoh dalam hidup kebhikkhuan, sedang-kan contoh lain, yang kiranya juga cukup aktual dalam kehidupan masyarakat kita, adalah “merokok”. Beberapa waktu yang lampau, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasi onal, pemerintah Indonesia pernah mengajak masyarakat untuk tidak merokok sehari itu. Me rokok dipandang buruk karena asapnya berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, orang-orang yang tidak merokok pun ikut pula terancam bahaya akibat pencemaran yang ditimbulkan-nya. Tetapi, hal yang demikian ini, yaitu bahwa hal tersebut juga membahayakan bagi orang lain, masih belum diperhatikan. Masih dianggap wajar dan bisa dimaklumi.
Sdr/i sekalian, asap rokok memang sering diremehkan karena masih dirasakan tidak begitu mengganggu seperti asap cerobong pabrik atau asap knalpot kendaraan. Sekarang ini, kalau ada pemilik pabrik yang mencemari lingkungannya, bisa digugat sebagai penjahat. Te-tapi, mereka yang merokok masih belum sampai dianggap demikian karena merokok itu ma-sih bisa diterima sebagai perbuatan buruk yang kecil yang masih bisa dianggap sebagai per-buatan wajar dalam masyarakat. Namun Sdr/i sekalian, sesungguhnya, seperti yang dikata-kan di dalam kitab Majjhima Nikäya bab I, bahwa perbuatan apapun, yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, serta pikiran, bila membawa penderitaan untuk diri sendiri, orang lain, maupun kedua-duanya, maka perbuatan itu adalah buruk.
Sdr/i Dhamma sekalian, bila tadi telah dikatakan bahwa kesalahan yang kecil tidak boleh disepelekan, demikian pula sebaliknya, kebaikan yang kecil juga tidak bisa dianggap barang yang sepele. Di dalam kitab Dhammapada ayat 122 tadi dikatakan bahwa jangan me-remehkan kebajikan walaupun sekecil apapun, dengan beranggapan bahwa perbuatan baik itu tidak akan membawa berkah. Tetapi sesungguhnya, bagaikan sebuah tempayan yang akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksa-na akan dipenuhi dengan hasil kebaikan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit.
Sdr/i sekalian, selain itu, ada juga peribahasa yang mengatakan bahwa bila akan mengerjakan sesuatu yang susah, hendaknya dilakukan ketika masih mudah; dan bila akan mengerjakan sesuatu yang besar, hendaknya dilakukan ketika masih kecil. Sdr/i sekalian, hal tersebut adalah suatu kata-kata pengalaman dari mereka yang telah sukses dan mengajarkan agar sesuatu yang kecil itu janganlah diremehkan, janganlah dianggap sepele.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, sebagai contoh, bila kita mau memperhatikan, na-mun ini hanya sebagai bahan perbandingan saja, maka sebuah sekrup kecil daru suatu mesin yang besar bukanlah barang yang dapat disepelekan. Ini juga berarti bahwa tanpa memperha-tikan hal-hal yang kecil, orang bisa tidak akan berhasil untuk menangani suatu pekerjaan yang besar. Banyak orang yang bisa menjadi kaya karena ia mau mengumpulkan penghasil-annya sedikit demi sedikit. Contoh lainnya lagi bahwa hal yang kecil ini tidak dapat diremeh kan misalnya pada uang kecil “limapuluh rupiahan”. Pada saat ini uang kecil tersebut masih sering dianggap tak ada artinya oleh banyak orang. Tetapi ternyata bagi seorang kasir yang melayani pekerjaan besar seperti pembayaran listrik, air minum, atau telepon, uang limapu-luh rupiahan ini tidak bisa dianggap sepele. Kasir tersebut pasti tidak akan mengabaikan uang limapuluh rupiah pun dari rekening yang dibayarkan kepadanya.
Sdr/i seDhamma sekalian, sebagai bahan perenungan selanjutnya, ada sebuah contoh cerita dari Jepang. Konon, ada seorang anak yang bernama Ikkyu yang memasuki kehidupan di suatu biara ketika ia masih kanak-kanak. Suatu ketika, ia menjadi sangat geram karena ada seorang samurai atau pejabat pemerintah yang memanggilnya dengan julukan “bhiksu kecil”. Bukankah ini berarti dia telah disepelekan? Kemudian Ikkyu lalu bertanya kepada orang yang memberinya julukan tersebut. Bila ada lobak yang sedang dicuci, apakah harus dinamai lobak kecil dan lobak besar? Bukankah lobak itu kecil atau besar adalah sama saja, namanya lobak? Maka demikian pula bhiksu adalah bhiksu. Tidak ada bhiksu besar dan bhiksu kecil. Jadi, mengapa ia harus dinamakan bhiksu kecil? Bukankah kalau seorang anak manusia ke-cil pun juga tidak bisa disepelekan dengan dianggap sebagai setengah manusia?
Sdr/i seDhamma sekalian, dari cerita tadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita semua, terutama yang sudah lebih dewasa ini, hendaknya tetap tidak menganggap remeh pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak kecil. Bila ada seorang anak ke-cil yang berbuat tidak benar atau kurang pantas, maka sebaiknya kita cepat-cepat memberi-kan peringatan kepadanya. Janganlah hal itu didiamkan saja atau kita anggap remeh karena hanya anak kecil yang berbuat. Demikian pula bila ada seorang anak kecil yang berbuat ke-baikan, sebaiknya kita harus memberikan dukungan kepadanya supaya dia mau lebih me-ngembangkan lagi sifat-sifat baiknya tersebut. Janganlah hal itu diremehkan hanya karena ki-ta menganggap dia sebagai seorang anak kecil yang tidak perlu diperhatikan.
Sdr/i seDhamma sekalian, sebagai contoh yang masih berhubungan dengan hal terse-but, yaitu masih banyak kita lihat suatu peristiwa di mana banyak orang tua atau orang yang lebih tua, masih menganggap remeh kepada suatu perbuatan baik yang dilakukan oleh anak-anak kecil. Apakah itu? Yaitu bahwa mereka tidak mau membalas salam ucapan “Selamat pagi” atau “Selamat siang” atau bahkan mungkin “Selamat Waisak” atau “Selamat Tahun Baru” yang diucapkan oleh anak-anak mereka, dan juga anak-anak lain yang masih kecil. Hal ini hendaknya perlu juga untuk lebih kita perhatikan lagi di masa-masa yang akan datang.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dham-ma kita pada hari ini dan semoga kita dapat meresapinya dan mempraktikkannya dalam kehi-dupan kita sehari-hari. Serta, tidak ketinggalan pula, sehubungan dengan hal ini, dan dengan memohon maaf sebelumnya, kami pengurus Vihara Dhammacakkhu juga ingin menyampai-kan pesan kepada Sdr/i seDhamma sekalian, bahwa sebaiknya Sdr/i seDhamma semua, ber-sedia juga membantu mengatur kerapihan vihara kita dengan merapikan letak sandal maupun sepatunya di dalam Vihara Dhammacakkhu ini setiap kali datang ke vihara. Dahulu pesan ini juga sudah pernah kami sampaikan namun sekarang ketidakrapihan dalam meletakkan sandal atau sepatu ini sudah mulai terjadi lagi. Jadi, kami sangat memohon kepada Sdr/i semua un-tuk memperhatikan hal ini karena perbuatan mengatur atau merapikan sandal dan sepatu di dalam vihara adalah juga merupakan suatu perbuatan baik yang tidak bisa dianggap kecil, ri-ngan, atau sepele. Dan, hal ini kita lakukan juga demi kebaikan kita sendiri sebagai umat Vi-hara Dhammacakkhu Bogor. Sekian dan terima kasih atas perhatian Sdr/i semua!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk hidup berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Dibacakan pada tanggal:
- sudah pernah.
-
-
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
MÄVAMAÑÑETHA PÄPASSA - NA MAÇ TAÇ AGÄMÍSSATI.
Janganlah meremehkan kejahatan, walaupun itu kecil sekali.
Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi sejenak, marilah sekarang kita arahkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Kecil Bukan Berarti Sepele’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Kecil Bukan Berarti Sepele’.
Sdr/i seDhamma sekalian, seperti yang sudah kita ketahui, bahwa pada umumnya, kalau ada sebuah benjolan kecil yang terdapat pada salah satu bagian dari tubuh kita, biasa-nya bisa merupakan suatu kanker ganas. Semua orang yang tahu hal itu, pasti tidak akan me-remehkan tumor kecil tersebut dan segera akan memeriksakan dirinya pada seorang dokter. Dalam hal ini, dokter tersebut akan memperlakukannya dengan serius, terkecuali setelah ke-mudian jelas terbukti bahwa tumor itu tidak ganas. Jadi, memang sesuatu yang kecil itu tidak seharusnya dianggap sepele. Hal ini juga seperti peribahasa yang mengatakan bahwa dengan nila setitik dapat merusak susu sebelanga.
Sdr/i seDhamma sekalian, demikian pula di dalam istilah umum masyarakat kita ini, manusia katanya mengenal adanya dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil hukumannya tentu ringan, dan dosa besar hukumannya pasti akan berat. Nah, karena hal tersebut, maka yang kecil dan ringan itu akhirnya dipandang ‘gampang dihapus’ dan ‘diabaikan’. Akhirnya, me-mang banyak orang yang takut untuk melakukan dosa besar, tetapi dengan demikian mereka malahan justru lebih banyak melakukan dosa-dosa kecil dengan dalih bahwa semua manusia pasti berdosa. Jadi bisa dimaklumi kalau hanya melakukan dosa-dosa yang kecil. Mengapa bisa terjadi pandangan demikian? Karena hal ini diakibatkan bahwa seringkali orang menu-tup mata terhadap segala bentuk kesalahan yang kecil, sehingga akhirnya mereka mengang-gap bahwa kesalahan kecil itu adalah hal yang sudah biasa dan tidak perlu diperhatikan lagi. Sdr/i sekallian, lalu bagaimanakah ajaran Sang Buddha dalam memandang hal tersebut? Apa kah juga demikian? Sdr/i sekalian, ternyata di dalam ajaran Sang Buddha kita malahan di-ingatkan bahwa kesalahan yang kecil itu bukanlah barang yang boleh dianggap sepele atau boleh diremehkan.
Sdr/i, di dalam kitab Dhammapada ayat 121 tadi dikatakan bahwa janganlah mere-mehkan kejahatan walau sekecil apapun, dengan beranggapan bahwa perbuatan buruk itu ti-dak akan membawa akibat. Tetapi sesungguhnya, bagaikan sebuah tempayan akan terisi pe-nuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula si dungu akan penuh de-ngan hasil kejahatan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, perlu kita ketahui bahwa yang dimaksud kejahatan di sini yaitu tidak saja membunuh atau menyakiti orang lain, mencuri, asusila, berdusta, serta mabuk-mabukan, tetapi juga meliputi segala macam perbuatan yang berasal dari keserakah-an, kebencian, dan kebodohan batin dalam bentuknya yang lain seperti berjudi, berkata ka-sar, omong kosong atau membual, menfitnah, dan sebagainya.
Sdr/i seDhamma sekalian, ternyata peraturan larangan dan tata tertib (Vinaya) yang telah ditetapkan oleh Sang Buddha, tidak saja membahas tentang perbuatan yang jahat, tetapi juga mencakup hal-hal kecil yang dapat memberikan peluang untuk timbulnya suatu perbuat-an yang tercela. Sebagai contoh, misalnya seorang bhikkhu yang pantang melakukan hu-bungan kelamin, maka sehubungan dengan hal itu pula, ia juga tidak boleh menyentuh wani-ta sekalipun hanya rambut atau tangannya saja. Juga, untuk mendukung hal tersebut, maka tidak dibenarkan bagi seorang bhikkhu untuk duduk bersama seorang wanita di suatu tempat yang tertutup tanpa ada orang lain yang melihatnya. Mengapa demikian? Apakah hal ini ti-dak terlalu berlebihan dan mengada-ada? Sdr/i sekalian, memang bagi kita mungkin berang-gapan bahwa menyentuh atau duduk berdua dengan orang lain yang berbeda jenis kelamin-nya adalah cuma soal kecil. Tetapi Sdr/i sekalian, ternyata hal itu tidak bisa dianggap remeh dalam kehidupan seorang bhikkhu. Mengapa? Karena hal tersebut dapat membawa akibat yang besar, terutama ketika mereka sedang melatih meditasi, yaitu bisa muncul kesan-kesan sewaktu sedang duduk berduaan tadi sehingga dapat mengganggu latihan meditasinya dan akhirnya bisa juga mengarah untuk melakukan suatu perbuatan yang tercela.
Sdr/i seDhamma sekalian, itu tadi adalah contoh dalam hidup kebhikkhuan, sedang-kan contoh lain, yang kiranya juga cukup aktual dalam kehidupan masyarakat kita, adalah “merokok”. Beberapa waktu yang lampau, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasi onal, pemerintah Indonesia pernah mengajak masyarakat untuk tidak merokok sehari itu. Me rokok dipandang buruk karena asapnya berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, orang-orang yang tidak merokok pun ikut pula terancam bahaya akibat pencemaran yang ditimbulkan-nya. Tetapi, hal yang demikian ini, yaitu bahwa hal tersebut juga membahayakan bagi orang lain, masih belum diperhatikan. Masih dianggap wajar dan bisa dimaklumi.
Sdr/i sekalian, asap rokok memang sering diremehkan karena masih dirasakan tidak begitu mengganggu seperti asap cerobong pabrik atau asap knalpot kendaraan. Sekarang ini, kalau ada pemilik pabrik yang mencemari lingkungannya, bisa digugat sebagai penjahat. Te-tapi, mereka yang merokok masih belum sampai dianggap demikian karena merokok itu ma-sih bisa diterima sebagai perbuatan buruk yang kecil yang masih bisa dianggap sebagai per-buatan wajar dalam masyarakat. Namun Sdr/i sekalian, sesungguhnya, seperti yang dikata-kan di dalam kitab Majjhima Nikäya bab I, bahwa perbuatan apapun, yang dilakukan dengan badan jasmani, ucapan, serta pikiran, bila membawa penderitaan untuk diri sendiri, orang lain, maupun kedua-duanya, maka perbuatan itu adalah buruk.
Sdr/i Dhamma sekalian, bila tadi telah dikatakan bahwa kesalahan yang kecil tidak boleh disepelekan, demikian pula sebaliknya, kebaikan yang kecil juga tidak bisa dianggap barang yang sepele. Di dalam kitab Dhammapada ayat 122 tadi dikatakan bahwa jangan me-remehkan kebajikan walaupun sekecil apapun, dengan beranggapan bahwa perbuatan baik itu tidak akan membawa berkah. Tetapi sesungguhnya, bagaikan sebuah tempayan yang akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksa-na akan dipenuhi dengan hasil kebaikan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit.
Sdr/i sekalian, selain itu, ada juga peribahasa yang mengatakan bahwa bila akan mengerjakan sesuatu yang susah, hendaknya dilakukan ketika masih mudah; dan bila akan mengerjakan sesuatu yang besar, hendaknya dilakukan ketika masih kecil. Sdr/i sekalian, hal tersebut adalah suatu kata-kata pengalaman dari mereka yang telah sukses dan mengajarkan agar sesuatu yang kecil itu janganlah diremehkan, janganlah dianggap sepele.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, sebagai contoh, bila kita mau memperhatikan, na-mun ini hanya sebagai bahan perbandingan saja, maka sebuah sekrup kecil daru suatu mesin yang besar bukanlah barang yang dapat disepelekan. Ini juga berarti bahwa tanpa memperha-tikan hal-hal yang kecil, orang bisa tidak akan berhasil untuk menangani suatu pekerjaan yang besar. Banyak orang yang bisa menjadi kaya karena ia mau mengumpulkan penghasil-annya sedikit demi sedikit. Contoh lainnya lagi bahwa hal yang kecil ini tidak dapat diremeh kan misalnya pada uang kecil “limapuluh rupiahan”. Pada saat ini uang kecil tersebut masih sering dianggap tak ada artinya oleh banyak orang. Tetapi ternyata bagi seorang kasir yang melayani pekerjaan besar seperti pembayaran listrik, air minum, atau telepon, uang limapu-luh rupiahan ini tidak bisa dianggap sepele. Kasir tersebut pasti tidak akan mengabaikan uang limapuluh rupiah pun dari rekening yang dibayarkan kepadanya.
Sdr/i seDhamma sekalian, sebagai bahan perenungan selanjutnya, ada sebuah contoh cerita dari Jepang. Konon, ada seorang anak yang bernama Ikkyu yang memasuki kehidupan di suatu biara ketika ia masih kanak-kanak. Suatu ketika, ia menjadi sangat geram karena ada seorang samurai atau pejabat pemerintah yang memanggilnya dengan julukan “bhiksu kecil”. Bukankah ini berarti dia telah disepelekan? Kemudian Ikkyu lalu bertanya kepada orang yang memberinya julukan tersebut. Bila ada lobak yang sedang dicuci, apakah harus dinamai lobak kecil dan lobak besar? Bukankah lobak itu kecil atau besar adalah sama saja, namanya lobak? Maka demikian pula bhiksu adalah bhiksu. Tidak ada bhiksu besar dan bhiksu kecil. Jadi, mengapa ia harus dinamakan bhiksu kecil? Bukankah kalau seorang anak manusia ke-cil pun juga tidak bisa disepelekan dengan dianggap sebagai setengah manusia?
Sdr/i seDhamma sekalian, dari cerita tadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita semua, terutama yang sudah lebih dewasa ini, hendaknya tetap tidak menganggap remeh pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak kecil. Bila ada seorang anak ke-cil yang berbuat tidak benar atau kurang pantas, maka sebaiknya kita cepat-cepat memberi-kan peringatan kepadanya. Janganlah hal itu didiamkan saja atau kita anggap remeh karena hanya anak kecil yang berbuat. Demikian pula bila ada seorang anak kecil yang berbuat ke-baikan, sebaiknya kita harus memberikan dukungan kepadanya supaya dia mau lebih me-ngembangkan lagi sifat-sifat baiknya tersebut. Janganlah hal itu diremehkan hanya karena ki-ta menganggap dia sebagai seorang anak kecil yang tidak perlu diperhatikan.
Sdr/i seDhamma sekalian, sebagai contoh yang masih berhubungan dengan hal terse-but, yaitu masih banyak kita lihat suatu peristiwa di mana banyak orang tua atau orang yang lebih tua, masih menganggap remeh kepada suatu perbuatan baik yang dilakukan oleh anak-anak kecil. Apakah itu? Yaitu bahwa mereka tidak mau membalas salam ucapan “Selamat pagi” atau “Selamat siang” atau bahkan mungkin “Selamat Waisak” atau “Selamat Tahun Baru” yang diucapkan oleh anak-anak mereka, dan juga anak-anak lain yang masih kecil. Hal ini hendaknya perlu juga untuk lebih kita perhatikan lagi di masa-masa yang akan datang.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dham-ma kita pada hari ini dan semoga kita dapat meresapinya dan mempraktikkannya dalam kehi-dupan kita sehari-hari. Serta, tidak ketinggalan pula, sehubungan dengan hal ini, dan dengan memohon maaf sebelumnya, kami pengurus Vihara Dhammacakkhu juga ingin menyampai-kan pesan kepada Sdr/i seDhamma sekalian, bahwa sebaiknya Sdr/i seDhamma semua, ber-sedia juga membantu mengatur kerapihan vihara kita dengan merapikan letak sandal maupun sepatunya di dalam Vihara Dhammacakkhu ini setiap kali datang ke vihara. Dahulu pesan ini juga sudah pernah kami sampaikan namun sekarang ketidakrapihan dalam meletakkan sandal atau sepatu ini sudah mulai terjadi lagi. Jadi, kami sangat memohon kepada Sdr/i semua un-tuk memperhatikan hal ini karena perbuatan mengatur atau merapikan sandal dan sepatu di dalam vihara adalah juga merupakan suatu perbuatan baik yang tidak bisa dianggap kecil, ri-ngan, atau sepele. Dan, hal ini kita lakukan juga demi kebaikan kita sendiri sebagai umat Vi-hara Dhammacakkhu Bogor. Sekian dan terima kasih atas perhatian Sdr/i semua!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk hidup berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Dibacakan pada tanggal:
- sudah pernah.
-
-
-
-
-
-
KEBODOHAN
KEBODOHAN
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
YO BALO MABBATI BALYAM, PANDITO VAPI TENA SO.
Orang bodoh yang menyadari kebodohannya, sesungguhnya bukanlah orang bodoh.
Khuddakanikaya Dhammapadagatha.
Sdr/i seDhamma sekalian, seperti biasanya, yaitu setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah kita sekarang bersama-sama membahas serta merenungkan Dhamma, ajaran Sang Buddha, yang pada hari ini berjudul ‘Kebodohan’. Sekali lagi Sdr/i sekalian, judul pem-bahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini adalah ‘Kebodohan’.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, pengertian umum tentang kebodohan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, adalah diartikan sebagai sangat tumpul otaknya atau tidak cerdas. Mi-salnya saja seorang anak dikatakan bodoh karena ia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya. Atau, ia dikatakan bodoh karena ia tidak punya akal untuk mengatasi suatu permasalahan yang diha-dapinya. Jadi, kalau kita amati, arti kebodohan dalam pengertian umum tersebut, cenderung hanya mengarah pada kelemahan kadar intelektual atau segi kecerdasan saja, tetapi kurang begitu berkaitan dengan kualitas batiniah seseorang. Padahal Sdr/i sekalian, yang dimaksud dengan arti kebodohan di sini sesungguhnya mengandung makna agamis yang mengarah langsung pada kualitas batin seseo-rang. Maksudnya yaitu, bahwa yang dimaksud dengan orang bodoh di sini adalah orang yang tidak bijaksana. Dalam kitab Paramatthajotika, yaitu suatu kitab ulasan dari Khuddakapatha, Buddhagho-sa Thera mendefenisikan orang bodoh sebagai orang yang menjalani kehidupan hanya sekedar kare-na bernapas – dalam arti hanya sekedar hidup saja, tidak menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan
Sdr/i seDhamma sekalian, oleh sebab itu, di dalam ajaran agama Buddha, istilah kebodohan ini lebih tepat diartikan sebagai kebodohan batin. Artinya, tidak tahu sebab dan akibat menurut kea-daan yang sebenarnya, menurut hakekat yang sesungguhnya dari segala sesuatu. Jadi, ia tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Atau, ia tidak tahu mana keadaan yang bersyarat (berkondi-si) dan yang tidak bersyarat (tidak berkondisi). Di dalam istilah Buddha Dhamma, pikiran yang me-ngandung kebodohan batin ini disebut Mohamulacitta, yang artinya kesadaran atau pikiran yang mempunyai kebodohan, kegelapan, ketidaktahuan. Atau, kesadaran atau pikiran yang tidak mampu untuk mengetahui sesuatu dengan sewajarnya. Kata Moha dan Avijja mempunyai arti yang sama, yaitu kebodohan batin atau kegelapan batin.
Sdr/i sekalian, selanjutnya perlu kita ketahui, bahwa kesadaran atau pikiran yang mengan-dung kebodohan ini, dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Kebodohan yang bersekutu dengan keragu-raguan, disertai masa bodoh.
2. Kebodohan yang bersekutu dengan kegelisahan, disertai masa bodoh.
Sekarang Sdr/i sekalian yang berbahagia, untuk lebih jelasnya tentang kedua hal kebodohan tersebut maka marilah kita renungkan maknanya dengan lebih seksama lagi satu persatu.
1. Kebodohan yang bersekutu dengan keragu-raguan, disertai masa bodoh.
Sdr/i sekalian, sebelumnya perlu diketahui, bahwa yang dimaksud dari masa bodoh di sini yaitu ka-rena disebabkan tidak tahu, bukan karena mempunyai sedikit kesenangan. Sedangkan yang dimak-sud bersekutu dengan keragu-raguan di sini yaitu kurang yakin. Bahkan, berarti ia tidak yakin atau masih ragu-ragu kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha. Hal ini juga berarti bahwa ia tidak ya-kin akan adanya Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak seperti: Empat Kebenaran Mulia, Kamma dan Tumimbal-lahir, Paticcasamuppada, dan Tiga Corak Umum yang universal. Hal yang demikian ini mudah kita ketahui, misalnya pada saat kita melihat ada orang yang tidak yakin akan adanya kamma vipaka (hasil dari perbuatan), baik dari kehidupan yang lampau, sekarang, dan yang akan datang. Jadi, ia masih ragu-ragu terhadap hal tersebut, yaitu apakah hal itu benar atau tidak.
Sdr/i sekalian, jadi sekali lagi, maksud dari bersekutu dengan keragu-raguan di sini yaitu ku-rang yakin terhadap Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak tersebut dan tidak dapat memutuskan sesua-tu. Sedangkan kalau pembahasannya lebih diperinci lagi, maka yang dimaksud dengan keragu-ragu-an di sini ada 8 macam, yaitu sebagai berikut:
1. Keragu-raguan terhadap Sang Buddha, yaitu apakah Sang Buddha itu memang benar-benar ada atau tidak. Atau, keragu-raguan terhadap Buddhaguna 9 (9 macam kualitas Sang Buddha). Betul-kah Sang Buddha memiliki 9 macam kualitas?
2. Keragu-raguan terhadap Dhamma, yaitu apakah Magga 4, Phala 4, dan Nibbana 1 itu benar-benar ada? Atau, benarkah Dhamma itu dapat membebaskan kita dari penderitaan?
3. Keragu-raguan terhadap Savgha, yaitu apakah betul ada anggota Savgha yang sudah berhasil mencapai tingkat-tingkat kesucian atau mencapai Magga 4 dan Phala 4?
4. Keragu-raguan terhadap Sikha (latihan), yaitu apakah betul ada cara-cara latihan yang terdiri dari Sila, Samadhi, dan Pabba, yang kalau dijalankan dapat mencapai ‘pembebasan’.
5. Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu); dan Dhatu 18 (18 unsur), yang akan datang; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidupan yang akan datang; apakah betul bahwa hal itu memang ada?
6. Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu); dan Dhatu 18 (18 unsur), yang telah lalu; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidupan yang lalu; apakah be-tul bahwa hal itu memang ada?
7. Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu); dan Dhatu 18 (18 unsur), yang telah lalu dan yang akan datang; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidup-an yang telah lalu dan yang akan datang; apakah betul bahwa hal itu memang ada?
8. Keragu-raguan terhadap Paticcasamuppada Dhamma atau Hukum Sebab Akibat yang saling mengkondisikan. Apakah betul bahwa Hukum Sebab Akibat yang saling mengkondisikan ini ada?
Sdr/i seDhamma, itulah tentang 8 macam keragu-raguan, dan setelah kita mengetahui 8 ma-cam keragu-raguan tersebut, lalu bagaimanakah cara untuk mengatasinya? Sdr/i sekalian, keragu-ra-guan tidak dapat diatasi hanya dengan berspekulasi tentang sesuatu yang tidak membawa kita men-capai tujuan. Keragu-raguan hanya dapat diatasi dengan mempelajari Dhamma, sehingga Pabba (kebijaksanaan) menjadi berkembang. Bila Pabba sudah berkembang, maka keragu-raguan tidak akan muncul lagi. Sebagai contoh yaitu apabila kita melihat masalah-masalah yang ada di dunia ini. Bila kita perhatikan, maka terlihatlah bahwa ternyata masalah-masalah di dunia ini adalah hanya masalah dari Nama dan Rupa atau batin dan jasmani. Ya, benar, semua hanyalah merupakan masa-lah Nama dan Rupa. Nama dan Rupa ini adalah tidak kekal, saling timbul dan padam silih berganti. Nah, bilamana Pabba atau kebijaksanaan telah timbul, maka orang dapat memahami sifat-sifat dari Nama dan Rupa yang ditanggapi melalui enam pintu indera tersebut dengan wajar atau sebagaimana adanya. Jadi, bila kita dapat mempelajari tentang Nama dan Rupa yang sedang kita hadapi sekarang, sehingga dapat melihat segala sesuatu dengan sebagaimana adanya, maka di situlah muncul kebijak-sanaan dan tidak akan timbul lagi keragu-raguan.
Sdr/i seDhamma sekalian, sekarang marilah kita merenungkan tentang bentuk kebodohan je-nis yang kedua, yaitu kebodohan yang bersekutu dengan kegelisahan, disertai masa bodoh. Untuk hal ini, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu bahwa pengertian bersekutu dengan kegelisahan arti-nya yaitu, kesadaran atau pikiran itu gelisah, dan terlepas dari konsentrasi pada berbagai macam obyek, tidak tenang atau tidak tetap berada dalam obyek. Jadi Sdr/i sekalian, bilamana ada kegelisah an, tentu pada saat itu tidak akan ada Sati (perhatian jeli). Sati merupakan perhatian untuk melihat atau mengamati sifat-sifat Nama dan Rupa sebagaimana adanya. Sati dapat dilatih dalam setiap tin-dakan kita sehari-hari. Bila seseorang Sati-nya lemah, maka ia cenderung untuk tidak dapat melihat sifat-sifat Nama dan Rupa dengan sebagaimana adanya. Akibatnya, ia selalu berada dalam keadaan pikiran yang bodoh atau Moha. Moha merupakan akar dari dari semua pikiran atau kesadaran yang buruk (Akusala Citta). Moha melandasi Lobha (ketamakan) sehingga tenggelam di dalam tipuan naf su-nafsu indera. Moha juga melandasi Dosa (kebencian), tetapi Moha hanya mempunyai sifat yaitu ketidaktahuan, dan timbulnya adalah tanpa ajakan.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, sekarang marilah kita melihat bagaimana proses timbulnya Moha ini yang terjadinya melalui ke enam pintu indera kita. Misalnya, bila kita mendengar suara ka-rena ada orang yang mengetuk pintu; lalu kalau kita tidak mengenal suara itu, dan kita masih memi-i liki kekotoran batin, maka pada saat itu juga langsung dapat timbul keragu-raguan dalam diri kita dan berpikir apakah ketukan ini disertai dengan sesuatu atau tidak? Atau, pada saat itu juga dapat timbul kegelisahan, misalnya lalu berpikir jangan-jangan ada perampok yang akan masuk, dan seba-gainya lagi. Jadi, dalam pikiran kita tersebut selalu ada keragu-raguan dan kegelisahan.
Sdr/i sekalian, namun untuk hal ini, seorang Ariya Puggala (orang suci), misalnya yang telah mencapai tingkat pertama dari pencapaian Penerangan Sempurna, yaitu Sotapanna, telah dapat mele nyapkan macam-macam Moha yang diikuti oleh keragu-raguan. Ia tidak lagi meragukan tentang Pa-ramattha Dhamma, ia telah memahami hal tersebut sungguh-sungguh. Ia telah yakin, betul-betul ya-kin terhadap Buddha, Dhamma, dan Savgha. Ia telah yakin kepada ‘jalan’ yang menuju terkikisnya semua hambatan, yaitu kekotoran batin. Tetapi Sdr/i sekalian, meskipun demikian, ternyata, baik So tapanna, Sakadagami, dan Anagami, ternyata masih memiliki Moha yang diikuti oleh kegelisahan.. Jadi, mereka ini masih memiliki Moha yang diikuti oleh kegelisahan. Hanya Arahat sajalah yang te-lah terbebas total dari kegelisahan ini.
Jadi Sdr/i sekalian, kebodohan merupakan penutup mata kita terhadap kenyataan akan ada-nya Empat Kebenaran Mulia, atau lebih tepatnya terhadap Hukum-Hukum Mutlak. Hanya dengan melakukan Vipassana (pandangan terang) yang dapat membantu kita untuk mengikis kebodohan ter-sebut. Di dalam naskah Samyuttanikaya Salayatana Vagga, dikisahkan tentang Jambukhadaka, yaitu seorang kelana yang bertanya kepada YA. Sariputta tentang pengertian kebodohan. Dia bertanya de-mikian:”Sahabatku Sariputta, jelaskanlah padaku, apakah yang dimaksud dengan kebodohan itu?” Kemudian YA. Sariputta menjawab:”Sahabatku Jambukhadaka, yang diartikan dengan kebodohan adalah mereka yang tidak mengerti tentang Empat Kebenaran Mulia, yaitu tentang Dukkha, Sebab timbulnya Dukkha, Terhentinya Dukkha, dan Cara yang Menuju ke Terhentinya Dukkha. Itulah yang diartikan dengan kebodohan atau Moha”. Lalu Sdr/i, selanjutnya Jambukhadaka bertanya lagi demikian:”Apakah ada cara untuk menghindari Dukkha itu, sahabatku?” YA. Sariputta menjawab lagi:”Sahabatku, Sang Buddha telah memberikan jawabannya, yaitu dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang merupakan cara untuk mengikis kebodohan (Moha)”.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Kebodohan’. Bila di antara Sdr/i sekalian ada yang kurang jelas dengan makalah ini, atau mungkin di dalam makalah ini ada kesalahan-kesalahan, maka kami persi-lakan untuk membahasnya kembali bersama-sama di dalam diskusi Dhamma setelah selesainya ke-baktian ini. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Sumber Acuan:
1. Abhidhammatthasavgaha, oleh J. Kaharuddin.
2. Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-hari, oleh Nina van Gorkom.
3. Mimbar Agama Buddha Harian Sinar Pagi tanggal 2 dan 9 Maret 1988 “Kebodohan”, oleh Dhar-ma Kusumah.
4. Untaian Dhammakatha, oleh Jan Sabjivaputta.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
YO BALO MABBATI BALYAM, PANDITO VAPI TENA SO.
Orang bodoh yang menyadari kebodohannya, sesungguhnya bukanlah orang bodoh.
Khuddakanikaya Dhammapadagatha.
Sdr/i seDhamma sekalian, seperti biasanya, yaitu setelah kita bersama-sama membaca Paritta dan bermeditasi, maka marilah kita sekarang bersama-sama membahas serta merenungkan Dhamma, ajaran Sang Buddha, yang pada hari ini berjudul ‘Kebodohan’. Sekali lagi Sdr/i sekalian, judul pem-bahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini adalah ‘Kebodohan’.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, pengertian umum tentang kebodohan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, adalah diartikan sebagai sangat tumpul otaknya atau tidak cerdas. Mi-salnya saja seorang anak dikatakan bodoh karena ia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya. Atau, ia dikatakan bodoh karena ia tidak punya akal untuk mengatasi suatu permasalahan yang diha-dapinya. Jadi, kalau kita amati, arti kebodohan dalam pengertian umum tersebut, cenderung hanya mengarah pada kelemahan kadar intelektual atau segi kecerdasan saja, tetapi kurang begitu berkaitan dengan kualitas batiniah seseorang. Padahal Sdr/i sekalian, yang dimaksud dengan arti kebodohan di sini sesungguhnya mengandung makna agamis yang mengarah langsung pada kualitas batin seseo-rang. Maksudnya yaitu, bahwa yang dimaksud dengan orang bodoh di sini adalah orang yang tidak bijaksana. Dalam kitab Paramatthajotika, yaitu suatu kitab ulasan dari Khuddakapatha, Buddhagho-sa Thera mendefenisikan orang bodoh sebagai orang yang menjalani kehidupan hanya sekedar kare-na bernapas – dalam arti hanya sekedar hidup saja, tidak menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan
Sdr/i seDhamma sekalian, oleh sebab itu, di dalam ajaran agama Buddha, istilah kebodohan ini lebih tepat diartikan sebagai kebodohan batin. Artinya, tidak tahu sebab dan akibat menurut kea-daan yang sebenarnya, menurut hakekat yang sesungguhnya dari segala sesuatu. Jadi, ia tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Atau, ia tidak tahu mana keadaan yang bersyarat (berkondi-si) dan yang tidak bersyarat (tidak berkondisi). Di dalam istilah Buddha Dhamma, pikiran yang me-ngandung kebodohan batin ini disebut Mohamulacitta, yang artinya kesadaran atau pikiran yang mempunyai kebodohan, kegelapan, ketidaktahuan. Atau, kesadaran atau pikiran yang tidak mampu untuk mengetahui sesuatu dengan sewajarnya. Kata Moha dan Avijja mempunyai arti yang sama, yaitu kebodohan batin atau kegelapan batin.
Sdr/i sekalian, selanjutnya perlu kita ketahui, bahwa kesadaran atau pikiran yang mengan-dung kebodohan ini, dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Kebodohan yang bersekutu dengan keragu-raguan, disertai masa bodoh.
2. Kebodohan yang bersekutu dengan kegelisahan, disertai masa bodoh.
Sekarang Sdr/i sekalian yang berbahagia, untuk lebih jelasnya tentang kedua hal kebodohan tersebut maka marilah kita renungkan maknanya dengan lebih seksama lagi satu persatu.
1. Kebodohan yang bersekutu dengan keragu-raguan, disertai masa bodoh.
Sdr/i sekalian, sebelumnya perlu diketahui, bahwa yang dimaksud dari masa bodoh di sini yaitu ka-rena disebabkan tidak tahu, bukan karena mempunyai sedikit kesenangan. Sedangkan yang dimak-sud bersekutu dengan keragu-raguan di sini yaitu kurang yakin. Bahkan, berarti ia tidak yakin atau masih ragu-ragu kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha. Hal ini juga berarti bahwa ia tidak ya-kin akan adanya Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak seperti: Empat Kebenaran Mulia, Kamma dan Tumimbal-lahir, Paticcasamuppada, dan Tiga Corak Umum yang universal. Hal yang demikian ini mudah kita ketahui, misalnya pada saat kita melihat ada orang yang tidak yakin akan adanya kamma vipaka (hasil dari perbuatan), baik dari kehidupan yang lampau, sekarang, dan yang akan datang. Jadi, ia masih ragu-ragu terhadap hal tersebut, yaitu apakah hal itu benar atau tidak.
Sdr/i sekalian, jadi sekali lagi, maksud dari bersekutu dengan keragu-raguan di sini yaitu ku-rang yakin terhadap Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak tersebut dan tidak dapat memutuskan sesua-tu. Sedangkan kalau pembahasannya lebih diperinci lagi, maka yang dimaksud dengan keragu-ragu-an di sini ada 8 macam, yaitu sebagai berikut:
1. Keragu-raguan terhadap Sang Buddha, yaitu apakah Sang Buddha itu memang benar-benar ada atau tidak. Atau, keragu-raguan terhadap Buddhaguna 9 (9 macam kualitas Sang Buddha). Betul-kah Sang Buddha memiliki 9 macam kualitas?
2. Keragu-raguan terhadap Dhamma, yaitu apakah Magga 4, Phala 4, dan Nibbana 1 itu benar-benar ada? Atau, benarkah Dhamma itu dapat membebaskan kita dari penderitaan?
3. Keragu-raguan terhadap Savgha, yaitu apakah betul ada anggota Savgha yang sudah berhasil mencapai tingkat-tingkat kesucian atau mencapai Magga 4 dan Phala 4?
4. Keragu-raguan terhadap Sikha (latihan), yaitu apakah betul ada cara-cara latihan yang terdiri dari Sila, Samadhi, dan Pabba, yang kalau dijalankan dapat mencapai ‘pembebasan’.
5. Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu); dan Dhatu 18 (18 unsur), yang akan datang; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidupan yang akan datang; apakah betul bahwa hal itu memang ada?
6. Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu); dan Dhatu 18 (18 unsur), yang telah lalu; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidupan yang lalu; apakah be-tul bahwa hal itu memang ada?
7. Keragu-raguan terhadap Khandha 5 (5 Kelompok Kehidupan); Ayatana 12 (12 unsur dari indera untuk mengetahui sesuatu); dan Dhatu 18 (18 unsur), yang telah lalu dan yang akan datang; yaitu apakah hal-hal itu memang betul-betul ada? Atau, keragu-raguan terhadap adanya kehidup-an yang telah lalu dan yang akan datang; apakah betul bahwa hal itu memang ada?
8. Keragu-raguan terhadap Paticcasamuppada Dhamma atau Hukum Sebab Akibat yang saling mengkondisikan. Apakah betul bahwa Hukum Sebab Akibat yang saling mengkondisikan ini ada?
Sdr/i seDhamma, itulah tentang 8 macam keragu-raguan, dan setelah kita mengetahui 8 ma-cam keragu-raguan tersebut, lalu bagaimanakah cara untuk mengatasinya? Sdr/i sekalian, keragu-ra-guan tidak dapat diatasi hanya dengan berspekulasi tentang sesuatu yang tidak membawa kita men-capai tujuan. Keragu-raguan hanya dapat diatasi dengan mempelajari Dhamma, sehingga Pabba (kebijaksanaan) menjadi berkembang. Bila Pabba sudah berkembang, maka keragu-raguan tidak akan muncul lagi. Sebagai contoh yaitu apabila kita melihat masalah-masalah yang ada di dunia ini. Bila kita perhatikan, maka terlihatlah bahwa ternyata masalah-masalah di dunia ini adalah hanya masalah dari Nama dan Rupa atau batin dan jasmani. Ya, benar, semua hanyalah merupakan masa-lah Nama dan Rupa. Nama dan Rupa ini adalah tidak kekal, saling timbul dan padam silih berganti. Nah, bilamana Pabba atau kebijaksanaan telah timbul, maka orang dapat memahami sifat-sifat dari Nama dan Rupa yang ditanggapi melalui enam pintu indera tersebut dengan wajar atau sebagaimana adanya. Jadi, bila kita dapat mempelajari tentang Nama dan Rupa yang sedang kita hadapi sekarang, sehingga dapat melihat segala sesuatu dengan sebagaimana adanya, maka di situlah muncul kebijak-sanaan dan tidak akan timbul lagi keragu-raguan.
Sdr/i seDhamma sekalian, sekarang marilah kita merenungkan tentang bentuk kebodohan je-nis yang kedua, yaitu kebodohan yang bersekutu dengan kegelisahan, disertai masa bodoh. Untuk hal ini, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu bahwa pengertian bersekutu dengan kegelisahan arti-nya yaitu, kesadaran atau pikiran itu gelisah, dan terlepas dari konsentrasi pada berbagai macam obyek, tidak tenang atau tidak tetap berada dalam obyek. Jadi Sdr/i sekalian, bilamana ada kegelisah an, tentu pada saat itu tidak akan ada Sati (perhatian jeli). Sati merupakan perhatian untuk melihat atau mengamati sifat-sifat Nama dan Rupa sebagaimana adanya. Sati dapat dilatih dalam setiap tin-dakan kita sehari-hari. Bila seseorang Sati-nya lemah, maka ia cenderung untuk tidak dapat melihat sifat-sifat Nama dan Rupa dengan sebagaimana adanya. Akibatnya, ia selalu berada dalam keadaan pikiran yang bodoh atau Moha. Moha merupakan akar dari dari semua pikiran atau kesadaran yang buruk (Akusala Citta). Moha melandasi Lobha (ketamakan) sehingga tenggelam di dalam tipuan naf su-nafsu indera. Moha juga melandasi Dosa (kebencian), tetapi Moha hanya mempunyai sifat yaitu ketidaktahuan, dan timbulnya adalah tanpa ajakan.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, sekarang marilah kita melihat bagaimana proses timbulnya Moha ini yang terjadinya melalui ke enam pintu indera kita. Misalnya, bila kita mendengar suara ka-rena ada orang yang mengetuk pintu; lalu kalau kita tidak mengenal suara itu, dan kita masih memi-i liki kekotoran batin, maka pada saat itu juga langsung dapat timbul keragu-raguan dalam diri kita dan berpikir apakah ketukan ini disertai dengan sesuatu atau tidak? Atau, pada saat itu juga dapat timbul kegelisahan, misalnya lalu berpikir jangan-jangan ada perampok yang akan masuk, dan seba-gainya lagi. Jadi, dalam pikiran kita tersebut selalu ada keragu-raguan dan kegelisahan.
Sdr/i sekalian, namun untuk hal ini, seorang Ariya Puggala (orang suci), misalnya yang telah mencapai tingkat pertama dari pencapaian Penerangan Sempurna, yaitu Sotapanna, telah dapat mele nyapkan macam-macam Moha yang diikuti oleh keragu-raguan. Ia tidak lagi meragukan tentang Pa-ramattha Dhamma, ia telah memahami hal tersebut sungguh-sungguh. Ia telah yakin, betul-betul ya-kin terhadap Buddha, Dhamma, dan Savgha. Ia telah yakin kepada ‘jalan’ yang menuju terkikisnya semua hambatan, yaitu kekotoran batin. Tetapi Sdr/i sekalian, meskipun demikian, ternyata, baik So tapanna, Sakadagami, dan Anagami, ternyata masih memiliki Moha yang diikuti oleh kegelisahan.. Jadi, mereka ini masih memiliki Moha yang diikuti oleh kegelisahan. Hanya Arahat sajalah yang te-lah terbebas total dari kegelisahan ini.
Jadi Sdr/i sekalian, kebodohan merupakan penutup mata kita terhadap kenyataan akan ada-nya Empat Kebenaran Mulia, atau lebih tepatnya terhadap Hukum-Hukum Mutlak. Hanya dengan melakukan Vipassana (pandangan terang) yang dapat membantu kita untuk mengikis kebodohan ter-sebut. Di dalam naskah Samyuttanikaya Salayatana Vagga, dikisahkan tentang Jambukhadaka, yaitu seorang kelana yang bertanya kepada YA. Sariputta tentang pengertian kebodohan. Dia bertanya de-mikian:”Sahabatku Sariputta, jelaskanlah padaku, apakah yang dimaksud dengan kebodohan itu?” Kemudian YA. Sariputta menjawab:”Sahabatku Jambukhadaka, yang diartikan dengan kebodohan adalah mereka yang tidak mengerti tentang Empat Kebenaran Mulia, yaitu tentang Dukkha, Sebab timbulnya Dukkha, Terhentinya Dukkha, dan Cara yang Menuju ke Terhentinya Dukkha. Itulah yang diartikan dengan kebodohan atau Moha”. Lalu Sdr/i, selanjutnya Jambukhadaka bertanya lagi demikian:”Apakah ada cara untuk menghindari Dukkha itu, sahabatku?” YA. Sariputta menjawab lagi:”Sahabatku, Sang Buddha telah memberikan jawabannya, yaitu dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang merupakan cara untuk mengikis kebodohan (Moha)”.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, demikianlah perenungan dan pembahasan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Kebodohan’. Bila di antara Sdr/i sekalian ada yang kurang jelas dengan makalah ini, atau mungkin di dalam makalah ini ada kesalahan-kesalahan, maka kami persi-lakan untuk membahasnya kembali bersama-sama di dalam diskusi Dhamma setelah selesainya ke-baktian ini. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Sumber Acuan:
1. Abhidhammatthasavgaha, oleh J. Kaharuddin.
2. Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-hari, oleh Nina van Gorkom.
3. Mimbar Agama Buddha Harian Sinar Pagi tanggal 2 dan 9 Maret 1988 “Kebodohan”, oleh Dhar-ma Kusumah.
4. Untaian Dhammakatha, oleh Jan Sabjivaputta.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
-
KEBAHAGIAAN DAN PENDERITAAN
KEBAHAGIAAN DAN PENDERITAAN
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
SABBATTHA DUKKHASSA SUKHAM PAHANAM.
Kebahagiaan akan muncul sebagai akibat dari padamnya penderitaan.
Khuddakanikaya Dhammapadagatha.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, seperti biasanya, setelah kita bersama-sama mem-baca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengisi kebaktian pada pagi hari ini de-ngan mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini dipetik dari Ki-tab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, yaitu yang membahas tentang ‘Kebahagiaan dan Penderitaan’. Jadi sekali lagi, tema pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, yaitu ‘Kebahagiaan dan Penderitaan’.
Sdr/i sekalian, seperti yang telah kita ketahui selama ini, kehidupan kita selalu diling-kupi oleh kebahagiaan dan penderitaan secara silih berganti. Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan dan menghindarkan penderitaan. Tetapi ternyata, pada kenyataannya, hal terse-but tidak dapat terpenuhi terus menerus secara demikian sesuai dengan yang mereka inginkan itu. Jadi pada hakekatnya, setiap orang pasti terlibat dengan penderitaan dan kebahagiaan se-lama kehidupannya. Oleh sebab itu, karena adanya hakekat yang demikian tersebut, maka se-mua orang akhirnya tidak puas dengan kebahagiaan yang sifatnya hanya sementara atau keba-hagiaan yang masih diselingi dengan penderitaan. Akhirnya, mereka lalu mengarahkan tujuan hidup mereka kepada suatu tujuan akhir, yaitu suatu kebahagiaan yang abadi. Tetapi, yang di-namakan kebahagiaan akhir yang abadi ini, dalam setiap ajaran dari berbagai agama yang ada di dunia ini, ternyata juga sangat berbeda-beda.
Nah, Sdr/i seDhamma, berdasarkan atas hal-hal tadi itulah, dan supaya kita dapat lebih jelas lagi mengetahui apa pengertian kebahagiaan dan penderitaan ini, maka pada hari ini kita bersama-sama membahas petikan dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, yang isinya membahas tentang pengertian kebahagiaan dan penderitaan. Sdr/i sekalian, menurut isi dari petikan kitab suci ini, kebahagiaan (atau yang dalam bahasa Pali disebut ‘Sukha’), dibagi menjadi dua macam, yaitu kebahagiaan jasmaniah (Kayika-sukha) dan kebahagiaan batin (Cetasika-sukha). Pengertian dari kebahagiaan jasmaniah adalah kebahagiaan yang diukur berdasarkan indera-indera jasmani. Artinya yaitu, apabila badan jasmani kita ini berada dalam keadaan sehat, tidak sedang terganggu oleh rasa lapar dan haus, dan tidak sedang menderita penyakit-penyakit organ tubuh lainnya, maka hal itu dikatakan sedang berada dalam suatu kondisi kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan jasmaniah. Sedangkan yang dimaksud dengan kebahagiaan batin (Cetasika-sukha), merupakan hasil dari sebab-sebab yang ada di dalam batin. Artinya yaitu, apabila pikiran kita sedang terserap di dalam kegembiraan, yang disebabkan apakah karena terpenuhinya keinginan-keinginan indera kita, atau karena te-lah melakukan suatu perbuatan baik, atau bahkan karena kegiuran yang timbul dari Pandang-an Terang, maka hal itu dikatakan bahwa batin berada di dalam keadaan kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan batin.
Sdr/i sekalian, setelah kita mengetahui tentang dua macam kebahagiaan tadi, yang ten-tunya penjelasan tersebut belumlah cukup, maka kita akan membahas lebih lanjut petikan dari kitab suci tadi yang ternyata juga menjelaskan adanya pengertian lain dari kebahagiaan (su-kha) ini. Di sana disebutkan bahwa pengertian lain dari kebahagiaan ini juga dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1. Kebahagiaan dengan mata kail berumpan, atau kebahagiaan yang berma-ta kail (Samisa-sukha) dan 2. Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-sukha).
Sdr/i sekalian, yang dimaksud dengan kebahagiaan dengan mata kail berumpan yaitu kebahagiaan yang timbul karena terpenuhinya keinginan-keinginan kesenangan indera kita, atau dapat juga dikatakan kebahagiaan yang berdasarkan pada obyek-obyek luar, yaitu benda-benda atau materi. Disebut dengan kebahagiaan mata kail berumpan karena kebahagiaan se-macam ini berhubungan dengan kemelekatan dan bila demikian, pasti memiliki keburukan-keburukan yang tersembunyi, misalnya kesedihan, ratap tangis, dan sebagainya apabila keba-hagiaannya tadi sudah padam. Dan, arti yang lebih dalam dari kebahagiaan dengan mata kail berumpan ini, menurut kitab komentar yaitu, kebahagiaan yang menjadikan seseorang tengge-lam di dalam arus roda perputaran kelahiran dan kematian (samsara) dengan penderitaan yang tidak dapat dipisahkan, bagaikan mata kail berumpan tadi. Demikianlah yang dimaksud de-ngan kebahagiaan mata kail berumpan.
Sdr/i, selanjutnya adalah tentang kebahagiaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-su-kha). Yang dimaksud dengan hal ini yaitu kebahagiaan yang timbul dari perasaan-perasaan keagamaan, seperti misalnya kegiuran dan pandangan terang atau peninggalan kesenangan-kesenangan indera. Dan menurut kitab komentar, kebahagiaan tanpa mata kail berumpan ini adalah kebahagiaan yang memungkinkan seseorang untuk dapat menghancurkan roda perpu-taran kelahiran dan kematian, yang memberikan padanya suatu pandangan terang di atas ke-duniawian. Demikianlah yang dimaksud dengan kebahagiaan tanpa mata kail berumpan.
Sdr/i seDhamma, selanjutnya, setelah kita mengenal dan mengerti tentang jenis dan pembagian dari kebahagiaan, marilah sekarang kita juga melihat pembagian dari masalah pen-deritaan. Menurut isi dari petikan Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata, penderitaan juga dibagi menjadi dua macam, yaitu penderitaan jasmaniah (Kayika-dukkha) dan penderitaan ba-tiniah (Cetasika-dukkha). Yang dimaksud dengan penderitaan jasmaniah di sini yaitu berla-wanan artinya dengan kebahagiaan jasmaniah seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi, arti dari penderitaan jasmaniah di sini yaitu menyatakan pada kondisi jasmani yang sedang terganggu oleh penyakit, rasa lapar atau haus, atau juga sewaktu sedang terganggu oleh unsur-unsur yang merangsang seperti panas dan dingin yang luar biasa. Itulah yang dimaksud dengan pen-deritaan jasmaniah. Dan selanjutnya marilah kita bahas tentang penderitaan batiniah. Yang di-maksud dengan penderitaan batiniah yaitu penderitaan yang disebabkan oleh kesedihan, duka cita, kekecewaan, ratap tangis, penyesalan, dan sebagainya. Itulah yang dimaksud dengan penderitaan batiniah.
Sdr/i sekalian, demikianlah pembahasan tentang jenis-jenis penderitaan, tetapi, seperti halnya pada pembahasan tentang kebahagiaan tadi, ternyata pembahasan tentang penderitaan ini juga belum cukup jika hanya sampai sekian saja. Di dalam petikan kitab suci tadi juga ma-sih ada pembahasan selanjutnya tentang penderitaan ini yaitu tentang pengertian lain dari pen-deritaan. Pengertian lain dari penderitaan (Dukkha) ini juga dibagi menjadi dua macam, yaitu 1. Penderitaan dengan mata kail berumpan (Samisa-dukkha) dan 2. Penderitaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-dukkha).
Sdr/i, pengertian dari penderitaan dengan mata kail berumpan ini berlawanan dengan pengertian tentang kebahagiaan dengan mata kail berumpan seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi, yang dimaksud dengan penderitaan mata kail berumpan (Samisa-dukkha) ini yaitu pen-deritaan yang timbul karena padamnya obyek-obyek kesenangan indera. Hal ini mungkin da-pat berupa penderitaan jasmaniah seperti misalnya terserang penyakit, terluka, kematian, atau dapat juga berupa penderitaan batin batiniah seperti misalnya kesedihan, duka cita, penyesal-an, dan sebagainya sebagai akibat dari padamnya obyek-obyek kesenangan indera. Itulah yang dimaksud dengan penderitaan mata kail berumpan. Jadi, maksudnya yang jelas yaitu, de-ngan padamnya obyek-obyek kesenangan indera ini, lalu muncullah penderitaan sebagai aki-bat selanjutnya. Jadi, berlawanan dengan terpenuhinya keinginan-keinginan indera, baru mun-cul penderitaan.
Sdr/i seDhamma, selanjutnya adalah pembahasan yang kedua, yaitu penderitaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-dukkha). Yang dimaksud dengan penderitaan tanpa mata kail berumpan yaitu penderitaan yang timbul dari suatu usaha untuk berbuat baik, seperti misalnya adanya kesukaran-kesukaran, gangguan-gangguan, kesakitan, bahkan juga bahaya-bahaya lain yang timbul sewaktu melaksanakan Sila (kemoralan), sewaktu mempraktikkan meditasi, dan sebagainya. Jadi, untuk lebih jelasnya dalam hal ini yaitu, orang atau makhluk tersebut cukup menderita atau mengalami gangguan-gangguan ketika sedang menjalankan Sila atau meditasi-nya. Tetapi, akibat yang diperoleh dari hal itu bukanlah merupakan penderitaan. Oleh sebab itu, hal ini dikatakan sebagai penderitaan yang tanpa mata kail berumpan. Jadi Sdr/i sekalian, sekali lagi supaya lebih jelas, bahwa yang dimaksud dengan mata kail berumpan di sini yaitu menyebabkan timbulnya penderitaan bagi kita, sedangkan tanpa mata kail berumpan adalah yang tidak menyebabkan penderitaan bagi kita selanjutnya.
Sdr/i sekalian, demikianlah tadi penjelasan dari isi petikan Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101 tentang kebahagiaan dan penderitaan, yang secara keseluruhan semua ada 4 macam, yaitu:
1. Kebahagiaan dengan mata kail berumpan, atau kebahagiaan tetapi yang dapat menimbul-kan penderitaan.
2. Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan, atau kebahagiaan yang tidak menimbulkan pen-deritaan.
3. Penderitaan dengan mata kail berumpan, atau penderitaan yang dapat menyebabkan tim-bulnya penderitaan juga.
4. Penderitaan tanpa mata kail berumpan, atau penderitaan tetapi yang tidak menyebabkan timbulnya penderitaan selanjutnya.
Sdr/i seDhamma sekalian, demikianlah tadi uraian Dhamma tentang penderitaan dan kebahagiaan yang diambil dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, semoga de-ngan mengertinya kita terhadap ajaran tersebut, akan tampak semakin jelaslah tujuan akhir ki-ta tentang apa dan bagaimana yang dimaksud dengan kebahagiaan kekal yang sesungguhnya, sehingga kita sebagai umat Buddha sudah tidak salah pandangan lagi tentang maksud dari ke-bahagiaan yang kekal itu. Demikianlah uraian dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini, semoga dengan bertambahnya pengertian kita tersebut, dapat membahagiakan diri kita sendiri dan juga semua makhluk.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Buku Acuan:
Vajirananavarorasa, Dhamma Vibhaga. C.V. Lovina Indah. Jakarta, hal. 23 – 26.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
SABBATTHA DUKKHASSA SUKHAM PAHANAM.
Kebahagiaan akan muncul sebagai akibat dari padamnya penderitaan.
Khuddakanikaya Dhammapadagatha.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, seperti biasanya, setelah kita bersama-sama mem-baca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengisi kebaktian pada pagi hari ini de-ngan mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini dipetik dari Ki-tab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, yaitu yang membahas tentang ‘Kebahagiaan dan Penderitaan’. Jadi sekali lagi, tema pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, yaitu ‘Kebahagiaan dan Penderitaan’.
Sdr/i sekalian, seperti yang telah kita ketahui selama ini, kehidupan kita selalu diling-kupi oleh kebahagiaan dan penderitaan secara silih berganti. Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan dan menghindarkan penderitaan. Tetapi ternyata, pada kenyataannya, hal terse-but tidak dapat terpenuhi terus menerus secara demikian sesuai dengan yang mereka inginkan itu. Jadi pada hakekatnya, setiap orang pasti terlibat dengan penderitaan dan kebahagiaan se-lama kehidupannya. Oleh sebab itu, karena adanya hakekat yang demikian tersebut, maka se-mua orang akhirnya tidak puas dengan kebahagiaan yang sifatnya hanya sementara atau keba-hagiaan yang masih diselingi dengan penderitaan. Akhirnya, mereka lalu mengarahkan tujuan hidup mereka kepada suatu tujuan akhir, yaitu suatu kebahagiaan yang abadi. Tetapi, yang di-namakan kebahagiaan akhir yang abadi ini, dalam setiap ajaran dari berbagai agama yang ada di dunia ini, ternyata juga sangat berbeda-beda.
Nah, Sdr/i seDhamma, berdasarkan atas hal-hal tadi itulah, dan supaya kita dapat lebih jelas lagi mengetahui apa pengertian kebahagiaan dan penderitaan ini, maka pada hari ini kita bersama-sama membahas petikan dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, yang isinya membahas tentang pengertian kebahagiaan dan penderitaan. Sdr/i sekalian, menurut isi dari petikan kitab suci ini, kebahagiaan (atau yang dalam bahasa Pali disebut ‘Sukha’), dibagi menjadi dua macam, yaitu kebahagiaan jasmaniah (Kayika-sukha) dan kebahagiaan batin (Cetasika-sukha). Pengertian dari kebahagiaan jasmaniah adalah kebahagiaan yang diukur berdasarkan indera-indera jasmani. Artinya yaitu, apabila badan jasmani kita ini berada dalam keadaan sehat, tidak sedang terganggu oleh rasa lapar dan haus, dan tidak sedang menderita penyakit-penyakit organ tubuh lainnya, maka hal itu dikatakan sedang berada dalam suatu kondisi kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan jasmaniah. Sedangkan yang dimaksud dengan kebahagiaan batin (Cetasika-sukha), merupakan hasil dari sebab-sebab yang ada di dalam batin. Artinya yaitu, apabila pikiran kita sedang terserap di dalam kegembiraan, yang disebabkan apakah karena terpenuhinya keinginan-keinginan indera kita, atau karena te-lah melakukan suatu perbuatan baik, atau bahkan karena kegiuran yang timbul dari Pandang-an Terang, maka hal itu dikatakan bahwa batin berada di dalam keadaan kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan batin.
Sdr/i sekalian, setelah kita mengetahui tentang dua macam kebahagiaan tadi, yang ten-tunya penjelasan tersebut belumlah cukup, maka kita akan membahas lebih lanjut petikan dari kitab suci tadi yang ternyata juga menjelaskan adanya pengertian lain dari kebahagiaan (su-kha) ini. Di sana disebutkan bahwa pengertian lain dari kebahagiaan ini juga dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1. Kebahagiaan dengan mata kail berumpan, atau kebahagiaan yang berma-ta kail (Samisa-sukha) dan 2. Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-sukha).
Sdr/i sekalian, yang dimaksud dengan kebahagiaan dengan mata kail berumpan yaitu kebahagiaan yang timbul karena terpenuhinya keinginan-keinginan kesenangan indera kita, atau dapat juga dikatakan kebahagiaan yang berdasarkan pada obyek-obyek luar, yaitu benda-benda atau materi. Disebut dengan kebahagiaan mata kail berumpan karena kebahagiaan se-macam ini berhubungan dengan kemelekatan dan bila demikian, pasti memiliki keburukan-keburukan yang tersembunyi, misalnya kesedihan, ratap tangis, dan sebagainya apabila keba-hagiaannya tadi sudah padam. Dan, arti yang lebih dalam dari kebahagiaan dengan mata kail berumpan ini, menurut kitab komentar yaitu, kebahagiaan yang menjadikan seseorang tengge-lam di dalam arus roda perputaran kelahiran dan kematian (samsara) dengan penderitaan yang tidak dapat dipisahkan, bagaikan mata kail berumpan tadi. Demikianlah yang dimaksud de-ngan kebahagiaan mata kail berumpan.
Sdr/i, selanjutnya adalah tentang kebahagiaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-su-kha). Yang dimaksud dengan hal ini yaitu kebahagiaan yang timbul dari perasaan-perasaan keagamaan, seperti misalnya kegiuran dan pandangan terang atau peninggalan kesenangan-kesenangan indera. Dan menurut kitab komentar, kebahagiaan tanpa mata kail berumpan ini adalah kebahagiaan yang memungkinkan seseorang untuk dapat menghancurkan roda perpu-taran kelahiran dan kematian, yang memberikan padanya suatu pandangan terang di atas ke-duniawian. Demikianlah yang dimaksud dengan kebahagiaan tanpa mata kail berumpan.
Sdr/i seDhamma, selanjutnya, setelah kita mengenal dan mengerti tentang jenis dan pembagian dari kebahagiaan, marilah sekarang kita juga melihat pembagian dari masalah pen-deritaan. Menurut isi dari petikan Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata, penderitaan juga dibagi menjadi dua macam, yaitu penderitaan jasmaniah (Kayika-dukkha) dan penderitaan ba-tiniah (Cetasika-dukkha). Yang dimaksud dengan penderitaan jasmaniah di sini yaitu berla-wanan artinya dengan kebahagiaan jasmaniah seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi, arti dari penderitaan jasmaniah di sini yaitu menyatakan pada kondisi jasmani yang sedang terganggu oleh penyakit, rasa lapar atau haus, atau juga sewaktu sedang terganggu oleh unsur-unsur yang merangsang seperti panas dan dingin yang luar biasa. Itulah yang dimaksud dengan pen-deritaan jasmaniah. Dan selanjutnya marilah kita bahas tentang penderitaan batiniah. Yang di-maksud dengan penderitaan batiniah yaitu penderitaan yang disebabkan oleh kesedihan, duka cita, kekecewaan, ratap tangis, penyesalan, dan sebagainya. Itulah yang dimaksud dengan penderitaan batiniah.
Sdr/i sekalian, demikianlah pembahasan tentang jenis-jenis penderitaan, tetapi, seperti halnya pada pembahasan tentang kebahagiaan tadi, ternyata pembahasan tentang penderitaan ini juga belum cukup jika hanya sampai sekian saja. Di dalam petikan kitab suci tadi juga ma-sih ada pembahasan selanjutnya tentang penderitaan ini yaitu tentang pengertian lain dari pen-deritaan. Pengertian lain dari penderitaan (Dukkha) ini juga dibagi menjadi dua macam, yaitu 1. Penderitaan dengan mata kail berumpan (Samisa-dukkha) dan 2. Penderitaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-dukkha).
Sdr/i, pengertian dari penderitaan dengan mata kail berumpan ini berlawanan dengan pengertian tentang kebahagiaan dengan mata kail berumpan seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi, yang dimaksud dengan penderitaan mata kail berumpan (Samisa-dukkha) ini yaitu pen-deritaan yang timbul karena padamnya obyek-obyek kesenangan indera. Hal ini mungkin da-pat berupa penderitaan jasmaniah seperti misalnya terserang penyakit, terluka, kematian, atau dapat juga berupa penderitaan batin batiniah seperti misalnya kesedihan, duka cita, penyesal-an, dan sebagainya sebagai akibat dari padamnya obyek-obyek kesenangan indera. Itulah yang dimaksud dengan penderitaan mata kail berumpan. Jadi, maksudnya yang jelas yaitu, de-ngan padamnya obyek-obyek kesenangan indera ini, lalu muncullah penderitaan sebagai aki-bat selanjutnya. Jadi, berlawanan dengan terpenuhinya keinginan-keinginan indera, baru mun-cul penderitaan.
Sdr/i seDhamma, selanjutnya adalah pembahasan yang kedua, yaitu penderitaan tanpa mata kail berumpan (Niramisa-dukkha). Yang dimaksud dengan penderitaan tanpa mata kail berumpan yaitu penderitaan yang timbul dari suatu usaha untuk berbuat baik, seperti misalnya adanya kesukaran-kesukaran, gangguan-gangguan, kesakitan, bahkan juga bahaya-bahaya lain yang timbul sewaktu melaksanakan Sila (kemoralan), sewaktu mempraktikkan meditasi, dan sebagainya. Jadi, untuk lebih jelasnya dalam hal ini yaitu, orang atau makhluk tersebut cukup menderita atau mengalami gangguan-gangguan ketika sedang menjalankan Sila atau meditasi-nya. Tetapi, akibat yang diperoleh dari hal itu bukanlah merupakan penderitaan. Oleh sebab itu, hal ini dikatakan sebagai penderitaan yang tanpa mata kail berumpan. Jadi Sdr/i sekalian, sekali lagi supaya lebih jelas, bahwa yang dimaksud dengan mata kail berumpan di sini yaitu menyebabkan timbulnya penderitaan bagi kita, sedangkan tanpa mata kail berumpan adalah yang tidak menyebabkan penderitaan bagi kita selanjutnya.
Sdr/i sekalian, demikianlah tadi penjelasan dari isi petikan Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101 tentang kebahagiaan dan penderitaan, yang secara keseluruhan semua ada 4 macam, yaitu:
1. Kebahagiaan dengan mata kail berumpan, atau kebahagiaan tetapi yang dapat menimbul-kan penderitaan.
2. Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan, atau kebahagiaan yang tidak menimbulkan pen-deritaan.
3. Penderitaan dengan mata kail berumpan, atau penderitaan yang dapat menyebabkan tim-bulnya penderitaan juga.
4. Penderitaan tanpa mata kail berumpan, atau penderitaan tetapi yang tidak menyebabkan timbulnya penderitaan selanjutnya.
Sdr/i seDhamma sekalian, demikianlah tadi uraian Dhamma tentang penderitaan dan kebahagiaan yang diambil dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, semoga de-ngan mengertinya kita terhadap ajaran tersebut, akan tampak semakin jelaslah tujuan akhir ki-ta tentang apa dan bagaimana yang dimaksud dengan kebahagiaan kekal yang sesungguhnya, sehingga kita sebagai umat Buddha sudah tidak salah pandangan lagi tentang maksud dari ke-bahagiaan yang kekal itu. Demikianlah uraian dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini, semoga dengan bertambahnya pengertian kita tersebut, dapat membahagiakan diri kita sendiri dan juga semua makhluk.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Buku Acuan:
Vajirananavarorasa, Dhamma Vibhaga. C.V. Lovina Indah. Jakarta, hal. 23 – 26.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
KARMA MENURUT AKIBATNYA
KARMA MENURUT KEKUATANNYA
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
KALYÄNAKÄRÍ KALYÄNAÇ PÄPAKÄRÍ CA PÄPAKAÇ.
Barang siapa berbuat baik akan menerima akibat yang baik, dan barang siapa berbuat jahat akan menerima akibat yang buruk.
Khuddakanikäya Jätaka Dukanipäta.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan pe-renuntan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Karma Menurut Kekuatannya’. Sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Karma Menurut Keku-atannya’, di mana makalah ini juga bisa merupakan lanjutan dari makalah yang lalu, yaitu masih berkenaan dengan Hukum Kamma.
Sdr/i sekalian, pembagian karma menurut kekuatannya adalah salah satu pembahasan pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa dalam Visuddhi Magga. Pembagian kar-ma oleh Buddhaghosa ini juga didasarkan pada kata-kata Sang Buddha yang tersebar dalam Kitab Suci Tipitaka. Secara keseluruhan, pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa ini adalah sebagai berikut:
1. Karma menurut jangka waktu berbuahnya.
2. Karma menurut kekuatannya.
3. Karma menurut fungsinya.
Masing-masing golongan tadi terdiri dari empat macam, dan bila disatukan seluruhnya ada duabelas macam, sehingga semuanya itu kadang-kadang disebut ‘duabelas karma’. Keduabe-las karma ini dapat bersifat baik (kusala) dan dapat bersifat buruk (akusala).
Sdr/i seDhamma sekalian, pada pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, yaitu tentang karma menurut tingkat kekuatannya dalam menghasilkan akibat, ternyata dapat kita ketahui bahwa golongan karma yang menurut kekuatannya ini terdiri dari empat macam. Hal ini akan dijelaskan satu persatu, yaitu sebagai berikut:
1. Garuka Kamma, adalah karma yang paling berat bobotnya di antara semua karma lainnya. Dan, karena sifatnya yang amat kuat, maka karma semacam ini akan masak terlebih dahulu daripada karma-karma yang lainnya. Selama karma ini menghasilkan akibatnya, maka tidak akan ada karma lainnya yang berkesempatan untuk menghasilkan akibatnya (menjadi masak) pada saat itu. Sebagai suatu perbandingan, dapatlah kita umpamakan dengan seseorang yang menjatuhkan berbagai macam benda, misalnya batu, kayu, karton, dan bulu ayam. Maka, da-lam hal ini, tentu saja batu yang dijatuhkan akan sampai ke tanah terlebih dahulu, baru ke-mudian diikuti dengan sepotong kayu, karton, dan akhirnya bulu ayam. Garuka Kamma, di-tinjau dari seginya yang buruk (akusala), adalah melakukan salah satu atau lebih dari lima macam perbuatan yang paling jahat, yaitu:
1. Membunuh ibu sendiri.
2. Membunuh ayah sendiri.
3. Membunuh orang yang telah mencapai kesucian sempurna, yaitu Arahat.
4. Melukai tubuh seorang Buddha.
5. Menyebabkan perpecahan dalam persaudaraan para bhikkhu (Saégha).
Kelima macam perbuatan ini dikatakan sebagai karma yang paling buruk di antara semua karma lainnya. Seseorang yang telah melakukan salah satu di antara kelima macam perbuat-an di atas tadi, maka dalam hidupnya yang sekarang ini ia tidak akan dapat memahami Kebe-naran Mutlak, karena ia sendirilah yang telah menciptakan rintangan bagi pencapaiannya itu. Selain itu, setelah kematiannya, maka ia akan terlahir kembali dalam alam neraka yang pa-ling mengerikan, yaitu ‘niraya avici’. Contoh dari akusala garuka kamma adalah perbuatan yang dilakukan oleh Raja Ajatasattu, dan juga perbuatan yang dilakukan oleh Devadatta yang hidup pada masa Sang Buddha.
Sdr/i sekalian, dalam Samannaphala Sutta diterangkan bahwa Raja Ajatasattu setelah mendengar uraian Sutta ini, menyatakan penyesalannya kepada Sang Buddha atas perbuatan salah yang telah dilakukannya yaitu membunuh ayahnya sendiri. Raja Ajatasattu berkata de-mikian:”Bhante, aku mengaku telah melakukan perbuatan salah; telah begitu bodoh, lemah, dan jahatnya aku sehingga karena menginginkan tahta kerajaan, aku sampai membunuh ayah ku sendiri, seorang raja yang setia pada kebenaran, manusia kebenaran’. Nah, sehubungan dengan pengakuan Raja Ajatasattu tentang perbuatannya itu, di dalam Samannaphala Sutta, Digha Nikäya, disebutkan bahwa Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu demikian:”Para bhikkhu, seandainya sang raja tidak membunuh ayahnya … pastilah mata Dhamma (Dham-macakkhu) yang bersih tanpa noda akan timbul dalam dirinya”.
Sdr/i, akhirnya, setelah bertemu dan mendengar Sutta ini, Raja Ajatasattu melakukan banyak sekali perbuatan baik. Ia berusaha dengan segenap kemampuan untuk mengimbangi kejahatan yang telah dilakukan itu dengan mengembangkan kebajikan. Dipupuknyalah keya-kinannya yang benar terhadap Sang Tiratana: Buddha, Dhamma, dan Ariya Saégha. Dengan penuh ketulusan ia senantiasa menyokong kebutuhan hidup para bhikkhu. Lebih daripada itu, Raja Ajatasattu memberikan andil yang sangat berharga yaitu mensponsori dalam penye-lenggaraan Saéghasamaya pertama di Rajagaha untuk menghimpun dan merangkum ajaran murni Sang Buddha Gotama. Namun, walaupun banyak perbuatan baik (kusala kamma) yang dilakukannya, ia tetap harus melunasi akibat kejahatannya, yaitu meninggal karena dibu nuh oleh putranya sendiri yang bernama Udayibhadda yang dulu lahir tepat pada hari ke-mangkatan ayahnya. Raja Ajatasattu terlahir di alam Niraya Lohikumbhiya dan nenurut Di-gha Nikäya Atthakatha, ia akan berada di alam niraya tersebut selama 60.000 tahun, dan ke-lak ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha yang bernama Viditavisesa.
Sdr/i seDhamma sekalian, sedangkan Devadatta adalah saudara dari Yasodhara yang menjadi isteri Pangeran Siddharta. Ketika Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu dan me-ngajarkan Dhamma kepada Suku Sakya, Devadatta bersama Ananda, Bhagu, Anurudha, Upali, dan lain-lainnya ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu selama satu vassa (masa musim hujan), Devadatta memiliki ‘iddhividha’ atau kemampuan batin fisik, yang dapat mengubah dirinya seperti anak kecil yang dilingkari oleh banyak ular. Namun, Devadatta memiliki keinginan jahat yaitu mau mengganti kedudukan Sang Buddha sebagai kepala atau pimpinan para bhikkhu (Saégha). Ketika keinginan jahat itu muncul dan mengu-asai pikiran Devadatta, maka kemampuan iddhividhanya langsung lenyap. Tetapi, karena nafsu keinginannya terlalu kuat, ia memecah belah Saégha. Para bhikkhu yang bodoh ada yang mengikuti Devadatta dan mengakui dia sebagai pimpinan Saégha. Dorongan niat jahat-nya lebih berkobar dengan rencananya untuk membunuh Sang Buddha. Devadatta pergi ke sebuah bukit, menyiapkan batu besar dan menunggu Sang Buddha yang akan lewat di bawah bukit tersebut. Demikianlah, ketika Sang Buddha lewat di bawah bukit, dengan sekuat tena-ga Devadatta menggulingkan batu besar itu ke bawah. Sang Buddha tidak tertimpa oleh batu besar itu, namun ada serpihan batu yang mengenai ibu jari kaki Beliau dan mengakibatkan jari kaki Beliau berdarah. Devadatta pergi, dan tidak berapa lama kemudian Devadatta sakit. Ketika ia menyadari bahwa kematiannya telah dekat, Devadatta meminta pengikutnya untuk mengusung dia dan membawanya menghadap kepada Sang Buddha. Ketika Devadatta sam-pai pada suatu tempat tertentu, para pengusungnya tidak sanggup memikulnya lagi karena ja-lan yang dilalui sulit didaki. Devadatta turun dari usungan, namun ketika kakinya menyentuh tanah, ia langsung ditelan bumi dan meninggal. Setelah meninggal ia langsung terlahir kem-bali di alam neraka Avici.
Sdr/i sekalian, Devadatta ditelan oleh bumi maupun ia terlahir di alam neraka Avici adalah diakibatkan oleh akusala garuka kamma atau kamma buruknya yang hebat. Namun, dalam Dhammapada Attakatha dikatakan bahwa karena Devadatta pernah pula berbuat baik, antara lain pernah menjadi bhikkhu, maka kelak di kemudian hari ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha.
Sdr/i sekalian, pada segi yang baiknya (kusala), garuka kamma menyatakan pada de-lapan macam pencapaian tingkat samadhi, yaitu empat tingkat Rupa Jhäna dan empat tingkat Arupa Jhäna.
Pembahasan selanjutnya yaitu Bahula Kamma, adalah karma yang sering berulang-ulang kali dilakukan oleh seseorang melalui saluran badan jasmani, ucapan, dan pikiran, se-hingga tertimbun dalam wataknya. Contoh dari karma seperti ini adalah mereka yang hidup sebagai tukang jagal, nelayan, petani, olahragawan, penari, pencopet, sopir, dan sabagainya. Karma kebiasaan ini akan memberikan akibatnya terlebih dahulu apabila seseorang tidak me-lakukan garuka kamma.
Sdr/i, pembahsan jenis yang ketiga adalah yang disebut Asanna Kamma, yaiut karma yang dibuat oleh seseorang pada saat menjelang kematian, atau dapat pula berupa perbuatan-perbuatan yang dahulu pernah dilakukan semasa hidupnya (yaitu perbuatan melalui pikiran atau batin) yang ia ingat kembali dengan amat jelas pada saat ia berada di ambang pintu ke-matian. Namun, sesungguhnya karma macam ini amatlah ditentukan oleh sifat dari kebiasaan seseorang. Bila seseorang telah berbuat jahat untuk waktu yang lama, maka hanya sedikit se-kali kemungkinan baginya untuk mempunyai asanna kamma yang baik. Sebaliknya, seseo-rang yang telah terbiasa berbuat bajik semasa hidupnya, maka sedikit sekali kemungkinan-nya untuk memiliki asanna kamma yang jelek. Menurut agama Buddha, karma ini sangat menentukan jenis kelahiran mendatang dari orang yang sedang berada di ambang pintu kema tian, yaitu apakah ia akan dilahirkan kembali dalam alam sengsara atau dalam alam bahagia, tergantung pada karma ini.
Misalnya Sdr/i, suatu contoh yang sebenarnya jarang terjadi, seseorang yang biasa berbuat jahat dan pada saat kematiannya ia teringat akan beberapa perbuatan baiknya yang pernah ia lakukan; kemudian ia mati dengan pikiran yang berdiam pada ingatan akan perbu-atan baiknya itu, maka ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia karena kekuatan asanna kammanya itu. Namun, meskipun demikian, ia tidak dapat lama menikmatinya dan segera akan disusul dengan akibat-akibat buruk dari perbuatan-perbuatan jahatnya yang telah ia laku kan sepanjang masa hidupnya yang lampau. Berkenaan dengan hukum kamma macam ini, Sang Buddha telah mengumpamakan dengan sekumpulan sapi yang berada di sebuah kan-dang tertutup. Sapi yang berada di ambang pintu pasti yang akan keluar terlebih dahulu apa-bila pintunya dibuka betapapun tua dan lemahnya sapi itu. Namun, tidak lama kemudian, sa-pi-sapi yang kuat akan dapat segera menyusul dan meninggalkannya di belakang.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jenis keempat dari penggolongan kamma menurut bobotnya adalah yang disebut Kattata Kamma. Kattata kamma adalah suatu perbuatan yang dilakukan berdasarkan kehendak tertentu, dan perbuatan ini dilakukan hanya sekali saja atau beberapa kali namun bukan perbuatan yang dilakukan terus menerus seperti pada Bahula atau Acinna kamma. Dengan kata lain, semua perbuatan yang tidak termasuk klasifikasi Garuka kamma, Bahula atau Acinna kamma, serta Asanna kamma, adalah dikelompokkan dalam Kattata kamma ini.
Untuk jelasnya, misalnya ada seseorang yang memberikan dana makanan kepada orang lain, dan perbuatan ini dilakukannya hanya sekali atau dua kali sebulan dengan waktu yang tidak tetap. Begitu pula dengan orang lain yang melakukan perbuatan salah seperti membunuh, mencuri, berzinah, berdusta, dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya yang dilaku-kan hanya sekali atau beberapa kali saja. Semua perbuatan positif atau negatif tersebut di atas ini dikelompokkan dalam Kattata kamma.
Sdr/i, Kattata kamma ini digolongkan sebagai karma yang paling lemah di antara se-mua karma yang lainnya dan akan memberikan akibatnya apabila karma lainnya tidak ada. Sebagai contoh mengenai Kattata kamma ini misalnya ada seorang petani yang melemparkan batu ke arah sekumpulan burung yang memakan padinya. Tujuannya hanyalah untuk meng-usir burung-burung itu, dan bukan untuk membunuh mereka. Namun, ternyata batu itu me-ngenai kepala seekor itik yang berada di sekitar tempat itu sehingga akibatnya itik tersebut mati. Dalam hal ini, karma petani itu digolongkan sebagai Kattata kamma. Dalam kasus-ka-sus semacam ini, karma tidak dapat dinilai semata-mata hanya berdasarkan atas ukuran aki-bat-akibatnya saja, tetapi motif atau kehendak yang berada di belakang perbuatan itu juga harus dipertimbangkan. Oleh sebab itu, Kattata kamma hanya memiliki kemampuan yang amat kecil bila dibandingkan dengan karma-karma lain dalam menghasilkan akibatnya.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Karma Menurut Kekuatannya’. Dan, bagi Sdr/i yang masih belum jelas, dapat membahasnya kembali setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
KALYÄNAKÄRÍ KALYÄNAÇ PÄPAKÄRÍ CA PÄPAKAÇ.
Barang siapa berbuat baik akan menerima akibat yang baik, dan barang siapa berbuat jahat akan menerima akibat yang buruk.
Khuddakanikäya Jätaka Dukanipäta.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan pe-renuntan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Karma Menurut Kekuatannya’. Sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Karma Menurut Keku-atannya’, di mana makalah ini juga bisa merupakan lanjutan dari makalah yang lalu, yaitu masih berkenaan dengan Hukum Kamma.
Sdr/i sekalian, pembagian karma menurut kekuatannya adalah salah satu pembahasan pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa dalam Visuddhi Magga. Pembagian kar-ma oleh Buddhaghosa ini juga didasarkan pada kata-kata Sang Buddha yang tersebar dalam Kitab Suci Tipitaka. Secara keseluruhan, pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa ini adalah sebagai berikut:
1. Karma menurut jangka waktu berbuahnya.
2. Karma menurut kekuatannya.
3. Karma menurut fungsinya.
Masing-masing golongan tadi terdiri dari empat macam, dan bila disatukan seluruhnya ada duabelas macam, sehingga semuanya itu kadang-kadang disebut ‘duabelas karma’. Keduabe-las karma ini dapat bersifat baik (kusala) dan dapat bersifat buruk (akusala).
Sdr/i seDhamma sekalian, pada pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini, yaitu tentang karma menurut tingkat kekuatannya dalam menghasilkan akibat, ternyata dapat kita ketahui bahwa golongan karma yang menurut kekuatannya ini terdiri dari empat macam. Hal ini akan dijelaskan satu persatu, yaitu sebagai berikut:
1. Garuka Kamma, adalah karma yang paling berat bobotnya di antara semua karma lainnya. Dan, karena sifatnya yang amat kuat, maka karma semacam ini akan masak terlebih dahulu daripada karma-karma yang lainnya. Selama karma ini menghasilkan akibatnya, maka tidak akan ada karma lainnya yang berkesempatan untuk menghasilkan akibatnya (menjadi masak) pada saat itu. Sebagai suatu perbandingan, dapatlah kita umpamakan dengan seseorang yang menjatuhkan berbagai macam benda, misalnya batu, kayu, karton, dan bulu ayam. Maka, da-lam hal ini, tentu saja batu yang dijatuhkan akan sampai ke tanah terlebih dahulu, baru ke-mudian diikuti dengan sepotong kayu, karton, dan akhirnya bulu ayam. Garuka Kamma, di-tinjau dari seginya yang buruk (akusala), adalah melakukan salah satu atau lebih dari lima macam perbuatan yang paling jahat, yaitu:
1. Membunuh ibu sendiri.
2. Membunuh ayah sendiri.
3. Membunuh orang yang telah mencapai kesucian sempurna, yaitu Arahat.
4. Melukai tubuh seorang Buddha.
5. Menyebabkan perpecahan dalam persaudaraan para bhikkhu (Saégha).
Kelima macam perbuatan ini dikatakan sebagai karma yang paling buruk di antara semua karma lainnya. Seseorang yang telah melakukan salah satu di antara kelima macam perbuat-an di atas tadi, maka dalam hidupnya yang sekarang ini ia tidak akan dapat memahami Kebe-naran Mutlak, karena ia sendirilah yang telah menciptakan rintangan bagi pencapaiannya itu. Selain itu, setelah kematiannya, maka ia akan terlahir kembali dalam alam neraka yang pa-ling mengerikan, yaitu ‘niraya avici’. Contoh dari akusala garuka kamma adalah perbuatan yang dilakukan oleh Raja Ajatasattu, dan juga perbuatan yang dilakukan oleh Devadatta yang hidup pada masa Sang Buddha.
Sdr/i sekalian, dalam Samannaphala Sutta diterangkan bahwa Raja Ajatasattu setelah mendengar uraian Sutta ini, menyatakan penyesalannya kepada Sang Buddha atas perbuatan salah yang telah dilakukannya yaitu membunuh ayahnya sendiri. Raja Ajatasattu berkata de-mikian:”Bhante, aku mengaku telah melakukan perbuatan salah; telah begitu bodoh, lemah, dan jahatnya aku sehingga karena menginginkan tahta kerajaan, aku sampai membunuh ayah ku sendiri, seorang raja yang setia pada kebenaran, manusia kebenaran’. Nah, sehubungan dengan pengakuan Raja Ajatasattu tentang perbuatannya itu, di dalam Samannaphala Sutta, Digha Nikäya, disebutkan bahwa Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu demikian:”Para bhikkhu, seandainya sang raja tidak membunuh ayahnya … pastilah mata Dhamma (Dham-macakkhu) yang bersih tanpa noda akan timbul dalam dirinya”.
Sdr/i, akhirnya, setelah bertemu dan mendengar Sutta ini, Raja Ajatasattu melakukan banyak sekali perbuatan baik. Ia berusaha dengan segenap kemampuan untuk mengimbangi kejahatan yang telah dilakukan itu dengan mengembangkan kebajikan. Dipupuknyalah keya-kinannya yang benar terhadap Sang Tiratana: Buddha, Dhamma, dan Ariya Saégha. Dengan penuh ketulusan ia senantiasa menyokong kebutuhan hidup para bhikkhu. Lebih daripada itu, Raja Ajatasattu memberikan andil yang sangat berharga yaitu mensponsori dalam penye-lenggaraan Saéghasamaya pertama di Rajagaha untuk menghimpun dan merangkum ajaran murni Sang Buddha Gotama. Namun, walaupun banyak perbuatan baik (kusala kamma) yang dilakukannya, ia tetap harus melunasi akibat kejahatannya, yaitu meninggal karena dibu nuh oleh putranya sendiri yang bernama Udayibhadda yang dulu lahir tepat pada hari ke-mangkatan ayahnya. Raja Ajatasattu terlahir di alam Niraya Lohikumbhiya dan nenurut Di-gha Nikäya Atthakatha, ia akan berada di alam niraya tersebut selama 60.000 tahun, dan ke-lak ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha yang bernama Viditavisesa.
Sdr/i seDhamma sekalian, sedangkan Devadatta adalah saudara dari Yasodhara yang menjadi isteri Pangeran Siddharta. Ketika Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu dan me-ngajarkan Dhamma kepada Suku Sakya, Devadatta bersama Ananda, Bhagu, Anurudha, Upali, dan lain-lainnya ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu selama satu vassa (masa musim hujan), Devadatta memiliki ‘iddhividha’ atau kemampuan batin fisik, yang dapat mengubah dirinya seperti anak kecil yang dilingkari oleh banyak ular. Namun, Devadatta memiliki keinginan jahat yaitu mau mengganti kedudukan Sang Buddha sebagai kepala atau pimpinan para bhikkhu (Saégha). Ketika keinginan jahat itu muncul dan mengu-asai pikiran Devadatta, maka kemampuan iddhividhanya langsung lenyap. Tetapi, karena nafsu keinginannya terlalu kuat, ia memecah belah Saégha. Para bhikkhu yang bodoh ada yang mengikuti Devadatta dan mengakui dia sebagai pimpinan Saégha. Dorongan niat jahat-nya lebih berkobar dengan rencananya untuk membunuh Sang Buddha. Devadatta pergi ke sebuah bukit, menyiapkan batu besar dan menunggu Sang Buddha yang akan lewat di bawah bukit tersebut. Demikianlah, ketika Sang Buddha lewat di bawah bukit, dengan sekuat tena-ga Devadatta menggulingkan batu besar itu ke bawah. Sang Buddha tidak tertimpa oleh batu besar itu, namun ada serpihan batu yang mengenai ibu jari kaki Beliau dan mengakibatkan jari kaki Beliau berdarah. Devadatta pergi, dan tidak berapa lama kemudian Devadatta sakit. Ketika ia menyadari bahwa kematiannya telah dekat, Devadatta meminta pengikutnya untuk mengusung dia dan membawanya menghadap kepada Sang Buddha. Ketika Devadatta sam-pai pada suatu tempat tertentu, para pengusungnya tidak sanggup memikulnya lagi karena ja-lan yang dilalui sulit didaki. Devadatta turun dari usungan, namun ketika kakinya menyentuh tanah, ia langsung ditelan bumi dan meninggal. Setelah meninggal ia langsung terlahir kem-bali di alam neraka Avici.
Sdr/i sekalian, Devadatta ditelan oleh bumi maupun ia terlahir di alam neraka Avici adalah diakibatkan oleh akusala garuka kamma atau kamma buruknya yang hebat. Namun, dalam Dhammapada Attakatha dikatakan bahwa karena Devadatta pernah pula berbuat baik, antara lain pernah menjadi bhikkhu, maka kelak di kemudian hari ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha.
Sdr/i sekalian, pada segi yang baiknya (kusala), garuka kamma menyatakan pada de-lapan macam pencapaian tingkat samadhi, yaitu empat tingkat Rupa Jhäna dan empat tingkat Arupa Jhäna.
Pembahasan selanjutnya yaitu Bahula Kamma, adalah karma yang sering berulang-ulang kali dilakukan oleh seseorang melalui saluran badan jasmani, ucapan, dan pikiran, se-hingga tertimbun dalam wataknya. Contoh dari karma seperti ini adalah mereka yang hidup sebagai tukang jagal, nelayan, petani, olahragawan, penari, pencopet, sopir, dan sabagainya. Karma kebiasaan ini akan memberikan akibatnya terlebih dahulu apabila seseorang tidak me-lakukan garuka kamma.
Sdr/i, pembahsan jenis yang ketiga adalah yang disebut Asanna Kamma, yaiut karma yang dibuat oleh seseorang pada saat menjelang kematian, atau dapat pula berupa perbuatan-perbuatan yang dahulu pernah dilakukan semasa hidupnya (yaitu perbuatan melalui pikiran atau batin) yang ia ingat kembali dengan amat jelas pada saat ia berada di ambang pintu ke-matian. Namun, sesungguhnya karma macam ini amatlah ditentukan oleh sifat dari kebiasaan seseorang. Bila seseorang telah berbuat jahat untuk waktu yang lama, maka hanya sedikit se-kali kemungkinan baginya untuk mempunyai asanna kamma yang baik. Sebaliknya, seseo-rang yang telah terbiasa berbuat bajik semasa hidupnya, maka sedikit sekali kemungkinan-nya untuk memiliki asanna kamma yang jelek. Menurut agama Buddha, karma ini sangat menentukan jenis kelahiran mendatang dari orang yang sedang berada di ambang pintu kema tian, yaitu apakah ia akan dilahirkan kembali dalam alam sengsara atau dalam alam bahagia, tergantung pada karma ini.
Misalnya Sdr/i, suatu contoh yang sebenarnya jarang terjadi, seseorang yang biasa berbuat jahat dan pada saat kematiannya ia teringat akan beberapa perbuatan baiknya yang pernah ia lakukan; kemudian ia mati dengan pikiran yang berdiam pada ingatan akan perbu-atan baiknya itu, maka ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia karena kekuatan asanna kammanya itu. Namun, meskipun demikian, ia tidak dapat lama menikmatinya dan segera akan disusul dengan akibat-akibat buruk dari perbuatan-perbuatan jahatnya yang telah ia laku kan sepanjang masa hidupnya yang lampau. Berkenaan dengan hukum kamma macam ini, Sang Buddha telah mengumpamakan dengan sekumpulan sapi yang berada di sebuah kan-dang tertutup. Sapi yang berada di ambang pintu pasti yang akan keluar terlebih dahulu apa-bila pintunya dibuka betapapun tua dan lemahnya sapi itu. Namun, tidak lama kemudian, sa-pi-sapi yang kuat akan dapat segera menyusul dan meninggalkannya di belakang.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jenis keempat dari penggolongan kamma menurut bobotnya adalah yang disebut Kattata Kamma. Kattata kamma adalah suatu perbuatan yang dilakukan berdasarkan kehendak tertentu, dan perbuatan ini dilakukan hanya sekali saja atau beberapa kali namun bukan perbuatan yang dilakukan terus menerus seperti pada Bahula atau Acinna kamma. Dengan kata lain, semua perbuatan yang tidak termasuk klasifikasi Garuka kamma, Bahula atau Acinna kamma, serta Asanna kamma, adalah dikelompokkan dalam Kattata kamma ini.
Untuk jelasnya, misalnya ada seseorang yang memberikan dana makanan kepada orang lain, dan perbuatan ini dilakukannya hanya sekali atau dua kali sebulan dengan waktu yang tidak tetap. Begitu pula dengan orang lain yang melakukan perbuatan salah seperti membunuh, mencuri, berzinah, berdusta, dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya yang dilaku-kan hanya sekali atau beberapa kali saja. Semua perbuatan positif atau negatif tersebut di atas ini dikelompokkan dalam Kattata kamma.
Sdr/i, Kattata kamma ini digolongkan sebagai karma yang paling lemah di antara se-mua karma yang lainnya dan akan memberikan akibatnya apabila karma lainnya tidak ada. Sebagai contoh mengenai Kattata kamma ini misalnya ada seorang petani yang melemparkan batu ke arah sekumpulan burung yang memakan padinya. Tujuannya hanyalah untuk meng-usir burung-burung itu, dan bukan untuk membunuh mereka. Namun, ternyata batu itu me-ngenai kepala seekor itik yang berada di sekitar tempat itu sehingga akibatnya itik tersebut mati. Dalam hal ini, karma petani itu digolongkan sebagai Kattata kamma. Dalam kasus-ka-sus semacam ini, karma tidak dapat dinilai semata-mata hanya berdasarkan atas ukuran aki-bat-akibatnya saja, tetapi motif atau kehendak yang berada di belakang perbuatan itu juga harus dipertimbangkan. Oleh sebab itu, Kattata kamma hanya memiliki kemampuan yang amat kecil bila dibandingkan dengan karma-karma lain dalam menghasilkan akibatnya.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Karma Menurut Kekuatannya’. Dan, bagi Sdr/i yang masih belum jelas, dapat membahasnya kembali setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
JENIS-JENIS MAKHLUK
JENIS-JENIS MAKHLUK
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
NATTHI KHANDASAMÄ DUKKHÄ.
Tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan (khandha).
Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Parit ta dan bermeditasi sejenak, maka marilah sekarang kita isi kebaktian kita ini dengan pemba-hasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini adalah ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’.
Sdr/i sekalian, bila beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas bersama-sama tentang sesuatu yang disebut sebagai makhluk, lalu tentang ciri-cirinya, tentang darimana asalnya, dan sebagainya, yang ditinjau secara ilmu pengetahuan dan secara Buddha Dham-ma, maka pada hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang jenis-jenis makhluk terse-but yang juga ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan dan dari sudut Buddha Dhamma.
Sdr/i seDhamma, menurut pandangan ilmu pengetahuan, semua organisme hidup di-bagi dalam dua bagian besar, yaitu dunia tanaman dan dunia hewan atau yang biasa disebut dengan istilah Flora dan Fauna. Dunia tanaman ini dibagi lagi dalam beberapa kelompok be-sar (divisio) yaitu sebagai berikut:
1. Thallophyta, yaitu tanaman yang paling sederhana. Tidak mempunyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Contoh dari hal ini yaitu ganggang dan jamur.
2. Briophyta, adalah kelompok tanaman dengan daun-daun yang sederhana dan mempunyai bagian-bagian yang menyerupai akar dan batang, misalnya tumbuhan lumut.
3. Pteridophyta, adalah kelompok tingkatan tanaman yang lebih maju lagi, yaitu sudah mem-punyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Hanya saja cara berkembangbiaknya be-lum menggunakan biji tetapi masih dengan spora.
4. Spermatophyta, adalah kelompok tanaman yang paling maju tingkatannya, yaitu sudah berkembangbiak dengan biji dan juga mempunyai sistem perakaran yang luas untuk menyerap air dan mineral-mineral.
Demikianlah pembagian besar dalam kelompok tanaman, sedangkan dalam kelompok hewan juga terdapat pembagian besar yang demikian, yaitu hewan yang tidak mempunyai tulang punggung belakang dan yang mempunyai tulang punggung belakang. Pembagian ini pun ju-ga masih dikelompokkan lagi dari yang paling sederhana misalnya saja Protozoa atau bina-tang bersel satu sampai dengan kelompok mamalia atau binatang yang menyusui. Hanya saja hal-hal tersebut tidak dapat kami uraikan semua di sini karena kurang bermakna. Pokoknya, yang penting kita tahu bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk atau organisme hidup itu, juga dikelompokkan dari yang paling sederhana susunannya sam-pai yang paling tinggi tingkatannya. Sekarang, bagaimanakah dengan pengelompokan makh-luk menurut pandangan Buddha Dhamma? Apakah prinsipnya juga demikian?
Sdr/i seDhamma, ternyata pembagian makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma prinsipnya adalah juga demikian, yaitu ada tingkatan makhluk yang paling menderita batin-nya sampai pada tingkatan makhluk yang paling sempurna batinnya. Hanya saja, perlu dike-tahui bahwa yang dimaksud makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma ini sangat berbe-da dengan pandangan ilmu pengetahuan. Kalau menurut pandangan ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk yaitu mencakup tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan; sedangkan menurut pandangan Buddha Dhamma, secara umum yang disebut makhluk yaitu semua yang memiliki Pañcakkhandha atau lima kelompok kehidupan. Jadi, dalam hal ini tumbuh-tumbuhan tidak termasuk makhluk karena tumbuh-tumbuhan tidak mempunyai Pañcakkhan-dha. Dan, tentang Pañcakkhandha ini, kiranya sudah tidak perlu lagi diuraikan di sini karena sudah sangat sering kita bahas.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jadi sekali lagi, yang disebut makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma adalah terdiri dari perpaduan unsur-unsur lima kelompok kehi-dupan yang selalu berproses. Oleh sebab itu, yang terlahir di alam-alam kehidupan adalah Pañcakkhandha ini, dan yang mati di alam-alam kehidupan adalah juga Pañcakkhandha ini. Dan selanjutnya, dikatakan bahwa lima kelompok kehidupan tersebut adalah dukkha dan dukkha itulah lima kelompok kehidupan. Jadi, yang namanya makhluk adalah Pañcakkhan-dha yang masih terkena dukkha, dan apabila diringkas, maka Pañcakkhandha ini cukup dise-but sebagai Näma dan Rìpa atau batin dan jasmani. Menurut Buddha Dhamma, makhluk-makhluk yang berdiam di 31 alam kehidupan itu, secara rinci, yaitu menurut keadaan dari perkembangan batin makhluk tersebut, dibagi atau dikelompokkan dalam 12 macam. Namun Sdr/i seDhamma sekalian, sebelum kita lanjutkan dengan pembahasan dari 12 macam makh-luk ini, maka terlebih dahulu harus kita mengerti tentang keadaan batin seseorang bila ditin-jau dari segi kadar kekotoran batinnya.
Sdr/i sekalian, sebagai umat Buddha yang sudah sering ke vihara dan sudah sering belajar Dhamma, tentu kita semua sudah tahu bahwa ada 6 akar perbuatan yang terdiri dari 3 akar perbuatan jahat dan 3 akar perbuatan baik. 3 akar perbuatan jahat ini yaitu Lobha (kese-rakahan), Dosa (kebencian), dan Moha (kegelapan batin); sedangkan 3 akar perbuatan baik yaitu Alobha (tidak serakah), Adosa (tidak benci), dan Amoha (tidak bodoh atau bijaksana). Sdr/i sekalian, 6 akar perbuatan ini juga dapat kita sebut sebagai 6 hetu, yaitu 3 kusala hetu atau 3 akar yang baik dan 3 akusala hetu atau 3 akar yang tidak baik. Tetapi, untuk istilah se-lanjutnya nanti, kusala hetu cukup disebut dengan sebutan hetu saja. Jadi, yang dimaksud hetu di sini adalah kusala hetu tersebut.
Sdr/i seDhamma, hetu-hetu inilah yang membuat seseorang terlahirkan dengan kon-disi yang tidak sama. Karena, seperti telah kita ketahui, bahwa manusia ini rata-rata masih memiliki Moha di dalam diri mereka, walaupun kadar moha mereka tersebut berbeda-beda. Tetapi, selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Ini harus kita sa-dari, bahwa selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Sedangkan Moha ini akan tetap ada sebelum seseorang mencapai tingkat kesucian Arahat. Jadi sekali la-gi Sdr/i sekalian, hetu-hetu inilah yang bisa membuat seseorang terlahirkan dengan kondisi yang tidak sama.
Sdr/i seDhamma, seperti telah kita ketahui, bahwa kondisi pikiran seseorang sebelum kematian, adalah yang paling menentukan seseorang itu akan terlahirkan kembali di alam apa dan dalam kondisi yang bagaimana. Jadi, kondisi pikiran seseorang sebelum meninggal ini sangat penting dan harus dijaga supaya sebelum meninggal selalu berada dalam kondisi pi-kiran yang baik agar nanti dapat terlahir kembali dengan kondisi yang baik pula. Kalau pada saat-saat menjelang kematian, dalam pikiran orang itu timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu pula dalam pikirannya tidak ada Alobha, Adosa, dan Amoha yang tim-bul. Mengapa demikian? Karena, dalam satu saat atau satu moment kesadaran, hanya bisa muncul satu macam obyek pikiran. Jadi, kalau pada saat itu dalam pikiran orang tersebut timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu juga dalam pikirannya tidak akan muncul Alobha, Adosa, dan Amoha. Akibatnya, dia berada dalam keadaan yang tidak tenang, sehingga kalau dia terlahirkan kembali, maka dia disebut sebagai ‘yang dilahirkan dengan kondisi Ahetuka’, atau yang dilahirkan dengan kondisi tidak mempunyai akar yang baik, atau bisa juga disebut terlahirkan dengan tidak mempunyai hetu yang baik. Jadi, dia terlahirkan dengan tanpa hetu atau ‘Ahetuka’. Dan, orang atau makhluk yang terlahirkan da-lam kondisi seperti ini, yaitu kondisi Ahetuka, maka dia akan terlahir kembali di alam-alam rendah seperti alam neraka, setan, asura, dan binatang; atau bisa juga terlahir sebagai manu-sia cacat, baik itu cacat pisik maupun cacat mental.
Sdr/i sekalian, selanjutnya, kalau menjelang kematian, dalam pikirannya tidak mun-cul Lobha dan Dosa, tetapi masih ada Moha meskipun munculnya tidak bersama-sama de-ngan Alobha dan Adosa. Jadi sekali lagi, pokoknya tidak muncul Lobha dan Dosa, meski-pun masih ada Moha, maka dia akan terlahirkan dengan memiliki dua akar atau dua hetu yai-tu Alobha hetu dan Adosa hetu. Hal ini disebut terlahirkan dengan ‘Dvihetuka’. Dvi artinya dua dan hetu artinya akan. Nah, bila terlahirkan dalam kondisi Dvihetuka ini, dia bisa terla-hirkan sebagai manusia normal atau dewa tingkat rendah. Hanya saja, dalam kondisi demiki-an ini masih susah untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian atau mencapai tingkat-tingkat Jhäna dalam kehidupan sekarang.
Selanjutnya lagi, Sdr/i seDhamma, kalau pikiran menjelang kematian tidak ada Lo-bha, Dosa, dan Moha; atau dapat dikatakan, pada saat itu pikirannya dalam kondisi Alobha, Adosa, dan Amoha; misalnya saja dia sadar (mengerti) tentang tidak adanya ‘roh’ atau ‘aku’ dan yang ada hanyalah Pañcakkhandha yang selalu berproses; dia memahami betul makna Anicca, dan sebagainya, maka dia dikatakan terlahirkan dengan kondisi Tihetuka atau terla-hirkan dengan tiga hetu. Bila terlahirkan dalam kondisi Tihetuka ini, maka kalau dia seka-rang berusaha dengan sungguh-sungguh, misalnya kalau dia melakukan samatha bhavana, maka dia bisa mencapai jhäna-jhäna; dan bila dia melakukan vipassana bhavana, maka dia bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian.
Jadi Sdr/i sekalian, hendaknya sekarang kita tahu bahwa di dalam diri kita ini ada 6 hetu atau 6 akar perbuatan, yang bisa menentukan tingkatan batin kita selanjutnya. Dan, 6 hetu ini akan muncul atau akan terjadi bila dikondisikan dengan kondisi-kondisi yang tepat, dan munculnya juga selalu berganti-ganti atau susul menyusul. Tetapi, pada waktu susul me-nyusul itu, misalnya pada waktu adanya Alobha, Adosa, dan Amoha, bukan berarti lalu dia sudah tidak punya Lobha, Dosa, dan Moha lagi. Bukan demikian. Jadi, dia hanya dilahirkan dengan akan kebaikan yang kuat karena akar kejahatannya pada saat itu sedang tidak mun-cul. Sdr/i sekalian, memang, kalau sesuatu dilakukan dengan cetana yang begitu kuat, maka pada saat menjelang kematian hal itu bisa muncul atau teringat kembali, sehingga dia terlahir kan lagi sesuai dengan kondisi pikirannya pada saat menjelang kematian tersebut.
Sdr/i sekalian, setelah kita membahas tentang 6 hetu ini, maka marilah sekarang kita membahas tentang 12 macam makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma, walaupun se-cara ringkas. Ke 12 macam makhluk ini pembagiannya ditinjau berdasarkan perkembangan batinnya. Ke 12 macam makhluk tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Dugati Ahetuka Pugala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyedihkan’; misalnya makhluk neraka, setan, binatang, dan asura.
2. Sugati Ahetuka Puggala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyenangkan’; misal-nya manusia cacat atau dewa tingkat rendah.
3. Dvihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘dua akar’, misalnya manusia nor-mal, dewa-dewa semua tingkat.
4. Tihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘tiga akar’.
5. Sotapatti Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ yang menarik hati, merupa kan orang suci tingkat pertama.
6. Sotapatti Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ yang menarik hati, merupakan orang suci tingkat kedua.
7. Sakadagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan lahir sekali lagi, merupakan orang suci tingkat ketiga.
8. Sakadagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk lahir sekali lagi, meru pakan orang suci tingkat keempat.
9. Anagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan tidak terlahir lagi, me-rupakan orang suci tingkat kelima.
10. Anagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk tidak terlahir lagi, meru-pakan orang suci tingkat keenam.
11. Arahatta Magga, yaitu mekhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ kesucian, merupakan orang suci tingkat ketujuh.
12. Arahatta Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ mencapai kesucian, merupakan orang suci tingkat kedelapan.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yaitu tentang jenis-jenis makhluk, terutama menurut pandangan Buddha Dhamma. Dan, bila di antara Sdr/i sekalian ada yang belum jelas, maka kami persilakan un-tuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Buku Acuan:
-
-
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
NATTHI KHANDASAMÄ DUKKHÄ.
Tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan (khandha).
Khuddakanikäya Dhammapadagäthä.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, setelah kita bersama-sama membaca Parit ta dan bermeditasi sejenak, maka marilah sekarang kita isi kebaktian kita ini dengan pemba-hasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’. Jadi sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini adalah ‘Jenis-jenis Makhluk Menurut Pandangan Buddha Dhamma’.
Sdr/i sekalian, bila beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas bersama-sama tentang sesuatu yang disebut sebagai makhluk, lalu tentang ciri-cirinya, tentang darimana asalnya, dan sebagainya, yang ditinjau secara ilmu pengetahuan dan secara Buddha Dham-ma, maka pada hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang jenis-jenis makhluk terse-but yang juga ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan dan dari sudut Buddha Dhamma.
Sdr/i seDhamma, menurut pandangan ilmu pengetahuan, semua organisme hidup di-bagi dalam dua bagian besar, yaitu dunia tanaman dan dunia hewan atau yang biasa disebut dengan istilah Flora dan Fauna. Dunia tanaman ini dibagi lagi dalam beberapa kelompok be-sar (divisio) yaitu sebagai berikut:
1. Thallophyta, yaitu tanaman yang paling sederhana. Tidak mempunyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Contoh dari hal ini yaitu ganggang dan jamur.
2. Briophyta, adalah kelompok tanaman dengan daun-daun yang sederhana dan mempunyai bagian-bagian yang menyerupai akar dan batang, misalnya tumbuhan lumut.
3. Pteridophyta, adalah kelompok tingkatan tanaman yang lebih maju lagi, yaitu sudah mem-punyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Hanya saja cara berkembangbiaknya be-lum menggunakan biji tetapi masih dengan spora.
4. Spermatophyta, adalah kelompok tanaman yang paling maju tingkatannya, yaitu sudah berkembangbiak dengan biji dan juga mempunyai sistem perakaran yang luas untuk menyerap air dan mineral-mineral.
Demikianlah pembagian besar dalam kelompok tanaman, sedangkan dalam kelompok hewan juga terdapat pembagian besar yang demikian, yaitu hewan yang tidak mempunyai tulang punggung belakang dan yang mempunyai tulang punggung belakang. Pembagian ini pun ju-ga masih dikelompokkan lagi dari yang paling sederhana misalnya saja Protozoa atau bina-tang bersel satu sampai dengan kelompok mamalia atau binatang yang menyusui. Hanya saja hal-hal tersebut tidak dapat kami uraikan semua di sini karena kurang bermakna. Pokoknya, yang penting kita tahu bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk atau organisme hidup itu, juga dikelompokkan dari yang paling sederhana susunannya sam-pai yang paling tinggi tingkatannya. Sekarang, bagaimanakah dengan pengelompokan makh-luk menurut pandangan Buddha Dhamma? Apakah prinsipnya juga demikian?
Sdr/i seDhamma, ternyata pembagian makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma prinsipnya adalah juga demikian, yaitu ada tingkatan makhluk yang paling menderita batin-nya sampai pada tingkatan makhluk yang paling sempurna batinnya. Hanya saja, perlu dike-tahui bahwa yang dimaksud makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma ini sangat berbe-da dengan pandangan ilmu pengetahuan. Kalau menurut pandangan ilmu pengetahuan, maka yang disebut makhluk yaitu mencakup tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan; sedangkan menurut pandangan Buddha Dhamma, secara umum yang disebut makhluk yaitu semua yang memiliki Pañcakkhandha atau lima kelompok kehidupan. Jadi, dalam hal ini tumbuh-tumbuhan tidak termasuk makhluk karena tumbuh-tumbuhan tidak mempunyai Pañcakkhan-dha. Dan, tentang Pañcakkhandha ini, kiranya sudah tidak perlu lagi diuraikan di sini karena sudah sangat sering kita bahas.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, jadi sekali lagi, yang disebut makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma adalah terdiri dari perpaduan unsur-unsur lima kelompok kehi-dupan yang selalu berproses. Oleh sebab itu, yang terlahir di alam-alam kehidupan adalah Pañcakkhandha ini, dan yang mati di alam-alam kehidupan adalah juga Pañcakkhandha ini. Dan selanjutnya, dikatakan bahwa lima kelompok kehidupan tersebut adalah dukkha dan dukkha itulah lima kelompok kehidupan. Jadi, yang namanya makhluk adalah Pañcakkhan-dha yang masih terkena dukkha, dan apabila diringkas, maka Pañcakkhandha ini cukup dise-but sebagai Näma dan Rìpa atau batin dan jasmani. Menurut Buddha Dhamma, makhluk-makhluk yang berdiam di 31 alam kehidupan itu, secara rinci, yaitu menurut keadaan dari perkembangan batin makhluk tersebut, dibagi atau dikelompokkan dalam 12 macam. Namun Sdr/i seDhamma sekalian, sebelum kita lanjutkan dengan pembahasan dari 12 macam makh-luk ini, maka terlebih dahulu harus kita mengerti tentang keadaan batin seseorang bila ditin-jau dari segi kadar kekotoran batinnya.
Sdr/i sekalian, sebagai umat Buddha yang sudah sering ke vihara dan sudah sering belajar Dhamma, tentu kita semua sudah tahu bahwa ada 6 akar perbuatan yang terdiri dari 3 akar perbuatan jahat dan 3 akar perbuatan baik. 3 akar perbuatan jahat ini yaitu Lobha (kese-rakahan), Dosa (kebencian), dan Moha (kegelapan batin); sedangkan 3 akar perbuatan baik yaitu Alobha (tidak serakah), Adosa (tidak benci), dan Amoha (tidak bodoh atau bijaksana). Sdr/i sekalian, 6 akar perbuatan ini juga dapat kita sebut sebagai 6 hetu, yaitu 3 kusala hetu atau 3 akar yang baik dan 3 akusala hetu atau 3 akar yang tidak baik. Tetapi, untuk istilah se-lanjutnya nanti, kusala hetu cukup disebut dengan sebutan hetu saja. Jadi, yang dimaksud hetu di sini adalah kusala hetu tersebut.
Sdr/i seDhamma, hetu-hetu inilah yang membuat seseorang terlahirkan dengan kon-disi yang tidak sama. Karena, seperti telah kita ketahui, bahwa manusia ini rata-rata masih memiliki Moha di dalam diri mereka, walaupun kadar moha mereka tersebut berbeda-beda. Tetapi, selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Ini harus kita sa-dari, bahwa selama masih ada Moha, maka Lobha dan Dosa akan tetap muncul. Sedangkan Moha ini akan tetap ada sebelum seseorang mencapai tingkat kesucian Arahat. Jadi sekali la-gi Sdr/i sekalian, hetu-hetu inilah yang bisa membuat seseorang terlahirkan dengan kondisi yang tidak sama.
Sdr/i seDhamma, seperti telah kita ketahui, bahwa kondisi pikiran seseorang sebelum kematian, adalah yang paling menentukan seseorang itu akan terlahirkan kembali di alam apa dan dalam kondisi yang bagaimana. Jadi, kondisi pikiran seseorang sebelum meninggal ini sangat penting dan harus dijaga supaya sebelum meninggal selalu berada dalam kondisi pi-kiran yang baik agar nanti dapat terlahir kembali dengan kondisi yang baik pula. Kalau pada saat-saat menjelang kematian, dalam pikiran orang itu timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu pula dalam pikirannya tidak ada Alobha, Adosa, dan Amoha yang tim-bul. Mengapa demikian? Karena, dalam satu saat atau satu moment kesadaran, hanya bisa muncul satu macam obyek pikiran. Jadi, kalau pada saat itu dalam pikiran orang tersebut timbul Lobha, Dosa, dan Moha, maka otomatis pada saat itu juga dalam pikirannya tidak akan muncul Alobha, Adosa, dan Amoha. Akibatnya, dia berada dalam keadaan yang tidak tenang, sehingga kalau dia terlahirkan kembali, maka dia disebut sebagai ‘yang dilahirkan dengan kondisi Ahetuka’, atau yang dilahirkan dengan kondisi tidak mempunyai akar yang baik, atau bisa juga disebut terlahirkan dengan tidak mempunyai hetu yang baik. Jadi, dia terlahirkan dengan tanpa hetu atau ‘Ahetuka’. Dan, orang atau makhluk yang terlahirkan da-lam kondisi seperti ini, yaitu kondisi Ahetuka, maka dia akan terlahir kembali di alam-alam rendah seperti alam neraka, setan, asura, dan binatang; atau bisa juga terlahir sebagai manu-sia cacat, baik itu cacat pisik maupun cacat mental.
Sdr/i sekalian, selanjutnya, kalau menjelang kematian, dalam pikirannya tidak mun-cul Lobha dan Dosa, tetapi masih ada Moha meskipun munculnya tidak bersama-sama de-ngan Alobha dan Adosa. Jadi sekali lagi, pokoknya tidak muncul Lobha dan Dosa, meski-pun masih ada Moha, maka dia akan terlahirkan dengan memiliki dua akar atau dua hetu yai-tu Alobha hetu dan Adosa hetu. Hal ini disebut terlahirkan dengan ‘Dvihetuka’. Dvi artinya dua dan hetu artinya akan. Nah, bila terlahirkan dalam kondisi Dvihetuka ini, dia bisa terla-hirkan sebagai manusia normal atau dewa tingkat rendah. Hanya saja, dalam kondisi demiki-an ini masih susah untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian atau mencapai tingkat-tingkat Jhäna dalam kehidupan sekarang.
Selanjutnya lagi, Sdr/i seDhamma, kalau pikiran menjelang kematian tidak ada Lo-bha, Dosa, dan Moha; atau dapat dikatakan, pada saat itu pikirannya dalam kondisi Alobha, Adosa, dan Amoha; misalnya saja dia sadar (mengerti) tentang tidak adanya ‘roh’ atau ‘aku’ dan yang ada hanyalah Pañcakkhandha yang selalu berproses; dia memahami betul makna Anicca, dan sebagainya, maka dia dikatakan terlahirkan dengan kondisi Tihetuka atau terla-hirkan dengan tiga hetu. Bila terlahirkan dalam kondisi Tihetuka ini, maka kalau dia seka-rang berusaha dengan sungguh-sungguh, misalnya kalau dia melakukan samatha bhavana, maka dia bisa mencapai jhäna-jhäna; dan bila dia melakukan vipassana bhavana, maka dia bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian.
Jadi Sdr/i sekalian, hendaknya sekarang kita tahu bahwa di dalam diri kita ini ada 6 hetu atau 6 akar perbuatan, yang bisa menentukan tingkatan batin kita selanjutnya. Dan, 6 hetu ini akan muncul atau akan terjadi bila dikondisikan dengan kondisi-kondisi yang tepat, dan munculnya juga selalu berganti-ganti atau susul menyusul. Tetapi, pada waktu susul me-nyusul itu, misalnya pada waktu adanya Alobha, Adosa, dan Amoha, bukan berarti lalu dia sudah tidak punya Lobha, Dosa, dan Moha lagi. Bukan demikian. Jadi, dia hanya dilahirkan dengan akan kebaikan yang kuat karena akar kejahatannya pada saat itu sedang tidak mun-cul. Sdr/i sekalian, memang, kalau sesuatu dilakukan dengan cetana yang begitu kuat, maka pada saat menjelang kematian hal itu bisa muncul atau teringat kembali, sehingga dia terlahir kan lagi sesuai dengan kondisi pikirannya pada saat menjelang kematian tersebut.
Sdr/i sekalian, setelah kita membahas tentang 6 hetu ini, maka marilah sekarang kita membahas tentang 12 macam makhluk menurut pandangan Buddha Dhamma, walaupun se-cara ringkas. Ke 12 macam makhluk ini pembagiannya ditinjau berdasarkan perkembangan batinnya. Ke 12 macam makhluk tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Dugati Ahetuka Pugala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyedihkan’; misalnya makhluk neraka, setan, binatang, dan asura.
2. Sugati Ahetuka Puggala, yaitu makhluk ‘tanpa akar’ dan ‘yang menyenangkan’; misal-nya manusia cacat atau dewa tingkat rendah.
3. Dvihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘dua akar’, misalnya manusia nor-mal, dewa-dewa semua tingkat.
4. Tihetuka Puggala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘tiga akar’.
5. Sotapatti Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ yang menarik hati, merupa kan orang suci tingkat pertama.
6. Sotapatti Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ yang menarik hati, merupakan orang suci tingkat kedua.
7. Sakadagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan lahir sekali lagi, merupakan orang suci tingkat ketiga.
8. Sakadagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk lahir sekali lagi, meru pakan orang suci tingkat keempat.
9. Anagami Magga, yaitu makhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ dan tidak terlahir lagi, me-rupakan orang suci tingkat kelima.
10. Anagami Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ untuk tidak terlahir lagi, meru-pakan orang suci tingkat keenam.
11. Arahatta Magga, yaitu mekhluk yang mencapai ‘jalan masuk’ kesucian, merupakan orang suci tingkat ketujuh.
12. Arahatta Phala, yaitu makhluk yang mempunyai ‘pahala’ mencapai kesucian, merupakan orang suci tingkat kedelapan.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yaitu tentang jenis-jenis makhluk, terutama menurut pandangan Buddha Dhamma. Dan, bila di antara Sdr/i sekalian ada yang belum jelas, maka kami persilakan un-tuk mendiskusikan bersama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Buku Acuan:
-
-
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
JANTUNG KEMANUSIAAN
JANTUNG KEMANUSIAAN
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
PUÑÑAÇ COREHI DÌHARAÇ
Jasa kebajikan tak dapat dirampas.
Saçyuttanikäya Sagäthavagga.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tadi membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita untuk membahas serta me renungkan salah satu Dhamma ajaran Sang Buddha yaitu tentang pengertian ‘Jantung Kema-nusiaan’. Jadi sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Jantung Kemanusiaan’.
Sdr/i sekalian, sekarang ini kita telah memasuki suatu bulan yang di dalam agama Buddha dikenal sebagai bulan Magha, di mana pada bulan purnama sempurna di bulan Ma-gha ini umat Buddha memperingati hari suci Magha. Hari suci Magha merupakan hari yang sangat bersejarah, keramat, dan istimewa; karena pada hari suci ini terjadi suatu peristiwa penting yang ditandai dengan empat peristiwa, yaitu sebagai berikut:
1. Pada saat bulan purnama sempurna di bulan Magha, 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian sempurna atau Arahat, datang bertemu di Veluvana arama di kota Rajagaha.
2. Ke-1250 bhikkhu yang kesemuanya telah mencapai Arahat tersebut, datang dari tempat yang berlain-lainan berkumpul di Veluvana arama di kota Rajagaha untuk menjumpai Sang Buddha, tanpa janji, tanpa musyawarah, tanpa persetujuan sebelumnya. Mereka da-tang serempak pada hari dan di tempat yang sama.
3. Seribu duaratus limapuluh bhikkhu tersebut, semuanya pada waktu ditahbiskan sebagai bhikkhu, ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha sendiri dengan sebutan ‘Ehi bhikkhu upasampada’, yang artinya para bhikkhu yang ditahbis langsung oleh Sang Buddha sen-diri.
4. Pada peristiwa yang istimewa ini, Sang Buddha membabarkan khotbah ‘Tiga Bait’ yang merupakan inti dari Dhamma ajaran Sang Buddha. Khotbah tiga bait ini dikenal juga de-ngan sebutan Oväda Patimokkhä, yang merupakan anjuran tentang penghayatan Dhamma. Apakah isinya? Pada kesempatan ini marilah kita ulangi dan renungkan bersama isi serta makna dari khotbah tiga bait tersebut. Demikianlah yang Sang Buddha babarkan:
Menghindari semua perbuatan jahat,
Menambah kebaikan,
Membersihkan pikiran sendiri,
Inilah ajaran semua Buddha.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, bait ini sesungguhnya tersusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Namun, kalau kita mau merenungkan dalam-dalam ternyata kalimat-kalimat sederhana tersebut adalah jantung dari kemanusiaan. Merupakan jantung dan tuntutan setiap umat manusia di muka bumi ini, yaitu ‘menghindari semua perbuatan jahat, menambah keba-ikan, dan membersihkan pikiran sendiri’.
“Tidak berbuat jahat”, adalah tuntutan semua ajaran agama. Tidak berbuat jahat ada-lah suara hati sanubari manusia yang paling murni, paling dalam. Kejahatan adalah pembawa penderitaan bagi makhluk lain. Bahkan, merupakan penyebab utama bencana bagi dunia ini. Dan lebih daripada itu, kejahatan adalah penghancur kehidupan kita sendiri. Karena itu, ja-nganlah kita berbuat jahat. “Jangan berbuat jahat” merupakan permintaan kita kepada diri ki-ta sendiri. Juga permintaan kita kepada setiap umat manusia. Kejahatan tidak pernah disetu-jui oleh hati nurani umat manusia. Kejahatan tidak pernah mendapat kompromi dari semua ajaran agama. Sdr/i, pada waktu Sang Buddha ditanya oleh Yakkha Alavaka tentang apakah yang harus dibunuh, maka Sang Buddha menjawab dengan tegas:”Kejahatanlah yang harus dibunuh”. Dan yang paling utama, kejahatan dalam diri kita sendirilah yang harus kita bunuh.
Sdr/i sekalian, selanjutnya mengenai “Tambahkanlah kebaikan”, adalah juga tuntutan kuat bagi setiap umat manusia dari semua ajaran agama. Dalam kehidupan ini, berusahalah kita berbuat baik. Sekali lagi, berbuat baik, berbuat dengan hati yang tulus. Berbuat baik ha-nya dengan tujuan supaya orang lain mendapat kebaikan, dan kebaikan dalam diri kita sendi-ri menjadi bertambah. Karena itu sesadar-sadarnya, ternyata hanya kebaikanlah yang akan membuat kita bahagia; yang akan membuat kita mampu bertahan menghadapi segala macam problem dan ketegangan dalam kehidupan ini.
Jadi Sdr/i, bukan kekerasan, bukan pula kekuasaan, bukan peperangan, bukan materi, tetapi hanyalah kebaikan. Kebaikan yang tuluslah yang akan menciptakan perdamaian di bu-mi ini di mana pun juga. Janganlah kita berbuat baik dengan pamrih yang lain, misalnya pamrih materi, pamrih kedudukan, pamrih nama, dan bermacam-macam pamrih rendah lain-nya. Jadi meskipun susah, berusahalah semampu mungkin menolong mereka yang membu-tuhkan pertolongan, mereka yang sedang menderita. Berusahalah menghibur mereka yang sedang sedih, bantulah mereka dengan niat yang murni, tanpa embel-embel. Kebaikan inilah modal terbesar bagi kita untuk mencapai semua cita-cita luhur kita. Tanpa kebaikan, kehidup an kita akan cepat hancur.
Sdr/i sekalian, kalau kita berusaha berbuat baik dengan setulus-tulusnya, maka kita pasti merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati, yang lain daripada kebahagiaan-kebahagia an yang lain. Sdr/i, memang dalam dunia ini, dalam kacamata materi, kebaikan itu kelihatan lemah. Kebaikan itu berbeda jauh dengan kekuasaan, dengan kegaiban, kekayaan dan benda-benda dunia lainnya. Namun, kebaikan mampu mengatasi segala-galanya. Meskipun kita mungkin pada suatu ketika terkena salah pengertian, ataupun fitnahan, atau perbuatan-perbu-atan jahat lainnya, hendaknya kita tetap teguh dalam niat baik kita yang tulus. Niat baik ini-lah yang akan mengangkat kehidupan kita dari semuanya itu.
Sdr/i sekalian, memang susah untuk membuktikan secara teori bahwa kebaikan yang kelihatan lemah mampu mengatasi kekerasan dan kejahatan. Tetapi kebenaran ini akan terli-hat dalam kehidupan kita sendiri bila kita telah membuktikannya. Alangkah menyedihkan, bi la di dunia ini sebagian besar umat manusia sudah tidak mempunyai keyakinan lagi terhadap kebaikan yang tulus dan murni. Alangkah menyedihkan, bila di dunia ini banyak di antara ki ta yang berbuat baik, tetapi baik yang hanya tampak luarnya saja, sedangkan di balik itu ter-sembunyi pamrih, pamrih nama, pamrih kedudukan, kemenangan, materi, dan seribu satu ma cam yang lain. Bila demikian, maka dunia kita ini akan dilanda krisis kebaikan.
Sdr/i, di antara semuanya, kebaikanlah yang paling unggul. Di antara senjata, senjata kebaikan yang paling tajam. Di antara kekuatan, kekuatan kebaikan yang paling hebat. Di antara segala ilmu gaib, kebaikan adalah kesaktian yang paling ampuh. Di antara semua ma-teri, kebaikan adalah kekayaan yang paling luhur. Di alam semesta ini, tidak ada yang bisa menaklukkan kebaikan. Meskipun dewa Brahma turun ke bumi, kebaikan tetap di atas segala galanya.
Sdr/i yang berbahagia, seorang umat Buddha hendaknya selalu hidup dengan tenang menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari. Apapun bentuknya. Karena, seorang umat Bud dha, demikian juga kita semua, hendaknya selalu mempunyai keyakinan yang teguh kuat ter-hadap kebaikan. Kebaikan yang tulus dan murni. Seandainya kita sudah berada di ujung maut, kalau kita masih mempunyai karma-karma baik, karma baik itulah yang akan menyela matkan kita. Berbahagialah Sdr/i yang teguh di dalam kebaikan.
Akhirnya Sdr/i sekalian, pada khotbah istimewa dalam bait ke 3 tersebut Sang Bud-dha mengatakan:”Bersihkanlah pikiran sendiri”. Tidak berbuat jahat dan selalu menambah ke baikan dengan niat yang tulus, adalah pangkal kebersihan pikiran. Pikiran ini harus kita ber-sihkan sendiri. Karena, tidak seorang pun, sekali pun dewa, bisa membuat pikiran kita menja di bersih atau suci. Dengan pikiran yang bersih, kita akan dapat bertahan dalam kehidupan ini. Berseri-seri di mana pun juga. Batin kita tenang dan cemerlang.
Sdr/i sekalian, inilah tiga kaliamt sederhana yang keramat dan suci, yang menjadi tun tutan suci sanubari setiap umat manusia. Jantung kemanusiaan dan jalan kebahagiaan. “Menghindari semua perbuatan jahat, menambah kebaikan, dan membersihkan pikiran sen-diri”. Demikianlah Sdr/i yang berbahagia, perenungan dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini dan semoga dapat menjadi motivasi kita dalam berbuat kebaikan.
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
PUÑÑAÇ COREHI DÌHARAÇ
Jasa kebajikan tak dapat dirampas.
Saçyuttanikäya Sagäthavagga.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita tadi membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi kita untuk membahas serta me renungkan salah satu Dhamma ajaran Sang Buddha yaitu tentang pengertian ‘Jantung Kema-nusiaan’. Jadi sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Jantung Kemanusiaan’.
Sdr/i sekalian, sekarang ini kita telah memasuki suatu bulan yang di dalam agama Buddha dikenal sebagai bulan Magha, di mana pada bulan purnama sempurna di bulan Ma-gha ini umat Buddha memperingati hari suci Magha. Hari suci Magha merupakan hari yang sangat bersejarah, keramat, dan istimewa; karena pada hari suci ini terjadi suatu peristiwa penting yang ditandai dengan empat peristiwa, yaitu sebagai berikut:
1. Pada saat bulan purnama sempurna di bulan Magha, 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian sempurna atau Arahat, datang bertemu di Veluvana arama di kota Rajagaha.
2. Ke-1250 bhikkhu yang kesemuanya telah mencapai Arahat tersebut, datang dari tempat yang berlain-lainan berkumpul di Veluvana arama di kota Rajagaha untuk menjumpai Sang Buddha, tanpa janji, tanpa musyawarah, tanpa persetujuan sebelumnya. Mereka da-tang serempak pada hari dan di tempat yang sama.
3. Seribu duaratus limapuluh bhikkhu tersebut, semuanya pada waktu ditahbiskan sebagai bhikkhu, ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha sendiri dengan sebutan ‘Ehi bhikkhu upasampada’, yang artinya para bhikkhu yang ditahbis langsung oleh Sang Buddha sen-diri.
4. Pada peristiwa yang istimewa ini, Sang Buddha membabarkan khotbah ‘Tiga Bait’ yang merupakan inti dari Dhamma ajaran Sang Buddha. Khotbah tiga bait ini dikenal juga de-ngan sebutan Oväda Patimokkhä, yang merupakan anjuran tentang penghayatan Dhamma. Apakah isinya? Pada kesempatan ini marilah kita ulangi dan renungkan bersama isi serta makna dari khotbah tiga bait tersebut. Demikianlah yang Sang Buddha babarkan:
Menghindari semua perbuatan jahat,
Menambah kebaikan,
Membersihkan pikiran sendiri,
Inilah ajaran semua Buddha.
Sdr/i sekalian yang berbahagia, bait ini sesungguhnya tersusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Namun, kalau kita mau merenungkan dalam-dalam ternyata kalimat-kalimat sederhana tersebut adalah jantung dari kemanusiaan. Merupakan jantung dan tuntutan setiap umat manusia di muka bumi ini, yaitu ‘menghindari semua perbuatan jahat, menambah keba-ikan, dan membersihkan pikiran sendiri’.
“Tidak berbuat jahat”, adalah tuntutan semua ajaran agama. Tidak berbuat jahat ada-lah suara hati sanubari manusia yang paling murni, paling dalam. Kejahatan adalah pembawa penderitaan bagi makhluk lain. Bahkan, merupakan penyebab utama bencana bagi dunia ini. Dan lebih daripada itu, kejahatan adalah penghancur kehidupan kita sendiri. Karena itu, ja-nganlah kita berbuat jahat. “Jangan berbuat jahat” merupakan permintaan kita kepada diri ki-ta sendiri. Juga permintaan kita kepada setiap umat manusia. Kejahatan tidak pernah disetu-jui oleh hati nurani umat manusia. Kejahatan tidak pernah mendapat kompromi dari semua ajaran agama. Sdr/i, pada waktu Sang Buddha ditanya oleh Yakkha Alavaka tentang apakah yang harus dibunuh, maka Sang Buddha menjawab dengan tegas:”Kejahatanlah yang harus dibunuh”. Dan yang paling utama, kejahatan dalam diri kita sendirilah yang harus kita bunuh.
Sdr/i sekalian, selanjutnya mengenai “Tambahkanlah kebaikan”, adalah juga tuntutan kuat bagi setiap umat manusia dari semua ajaran agama. Dalam kehidupan ini, berusahalah kita berbuat baik. Sekali lagi, berbuat baik, berbuat dengan hati yang tulus. Berbuat baik ha-nya dengan tujuan supaya orang lain mendapat kebaikan, dan kebaikan dalam diri kita sendi-ri menjadi bertambah. Karena itu sesadar-sadarnya, ternyata hanya kebaikanlah yang akan membuat kita bahagia; yang akan membuat kita mampu bertahan menghadapi segala macam problem dan ketegangan dalam kehidupan ini.
Jadi Sdr/i, bukan kekerasan, bukan pula kekuasaan, bukan peperangan, bukan materi, tetapi hanyalah kebaikan. Kebaikan yang tuluslah yang akan menciptakan perdamaian di bu-mi ini di mana pun juga. Janganlah kita berbuat baik dengan pamrih yang lain, misalnya pamrih materi, pamrih kedudukan, pamrih nama, dan bermacam-macam pamrih rendah lain-nya. Jadi meskipun susah, berusahalah semampu mungkin menolong mereka yang membu-tuhkan pertolongan, mereka yang sedang menderita. Berusahalah menghibur mereka yang sedang sedih, bantulah mereka dengan niat yang murni, tanpa embel-embel. Kebaikan inilah modal terbesar bagi kita untuk mencapai semua cita-cita luhur kita. Tanpa kebaikan, kehidup an kita akan cepat hancur.
Sdr/i sekalian, kalau kita berusaha berbuat baik dengan setulus-tulusnya, maka kita pasti merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati, yang lain daripada kebahagiaan-kebahagia an yang lain. Sdr/i, memang dalam dunia ini, dalam kacamata materi, kebaikan itu kelihatan lemah. Kebaikan itu berbeda jauh dengan kekuasaan, dengan kegaiban, kekayaan dan benda-benda dunia lainnya. Namun, kebaikan mampu mengatasi segala-galanya. Meskipun kita mungkin pada suatu ketika terkena salah pengertian, ataupun fitnahan, atau perbuatan-perbu-atan jahat lainnya, hendaknya kita tetap teguh dalam niat baik kita yang tulus. Niat baik ini-lah yang akan mengangkat kehidupan kita dari semuanya itu.
Sdr/i sekalian, memang susah untuk membuktikan secara teori bahwa kebaikan yang kelihatan lemah mampu mengatasi kekerasan dan kejahatan. Tetapi kebenaran ini akan terli-hat dalam kehidupan kita sendiri bila kita telah membuktikannya. Alangkah menyedihkan, bi la di dunia ini sebagian besar umat manusia sudah tidak mempunyai keyakinan lagi terhadap kebaikan yang tulus dan murni. Alangkah menyedihkan, bila di dunia ini banyak di antara ki ta yang berbuat baik, tetapi baik yang hanya tampak luarnya saja, sedangkan di balik itu ter-sembunyi pamrih, pamrih nama, pamrih kedudukan, kemenangan, materi, dan seribu satu ma cam yang lain. Bila demikian, maka dunia kita ini akan dilanda krisis kebaikan.
Sdr/i, di antara semuanya, kebaikanlah yang paling unggul. Di antara senjata, senjata kebaikan yang paling tajam. Di antara kekuatan, kekuatan kebaikan yang paling hebat. Di antara segala ilmu gaib, kebaikan adalah kesaktian yang paling ampuh. Di antara semua ma-teri, kebaikan adalah kekayaan yang paling luhur. Di alam semesta ini, tidak ada yang bisa menaklukkan kebaikan. Meskipun dewa Brahma turun ke bumi, kebaikan tetap di atas segala galanya.
Sdr/i yang berbahagia, seorang umat Buddha hendaknya selalu hidup dengan tenang menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari. Apapun bentuknya. Karena, seorang umat Bud dha, demikian juga kita semua, hendaknya selalu mempunyai keyakinan yang teguh kuat ter-hadap kebaikan. Kebaikan yang tulus dan murni. Seandainya kita sudah berada di ujung maut, kalau kita masih mempunyai karma-karma baik, karma baik itulah yang akan menyela matkan kita. Berbahagialah Sdr/i yang teguh di dalam kebaikan.
Akhirnya Sdr/i sekalian, pada khotbah istimewa dalam bait ke 3 tersebut Sang Bud-dha mengatakan:”Bersihkanlah pikiran sendiri”. Tidak berbuat jahat dan selalu menambah ke baikan dengan niat yang tulus, adalah pangkal kebersihan pikiran. Pikiran ini harus kita ber-sihkan sendiri. Karena, tidak seorang pun, sekali pun dewa, bisa membuat pikiran kita menja di bersih atau suci. Dengan pikiran yang bersih, kita akan dapat bertahan dalam kehidupan ini. Berseri-seri di mana pun juga. Batin kita tenang dan cemerlang.
Sdr/i sekalian, inilah tiga kaliamt sederhana yang keramat dan suci, yang menjadi tun tutan suci sanubari setiap umat manusia. Jantung kemanusiaan dan jalan kebahagiaan. “Menghindari semua perbuatan jahat, menambah kebaikan, dan membersihkan pikiran sen-diri”. Demikianlah Sdr/i yang berbahagia, perenungan dan pembahasan Dhamma kita pada hari ini dan semoga dapat menjadi motivasi kita dalam berbuat kebaikan.
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
Langganan:
Postingan (Atom)
