FRUSTASI
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
ATTHE JÄTE CA PANDITAÇ
Dalam menghadapi suatu masalah, seorang bijaksana senantiasa diharapkan.
Khuddakanikäya Jätaka Ekanipäta.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, marilah sekarang kita bersama-sama mengarah-kan perhatian dan konsentrasi kita untuk membahas dan merenungkan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Frustasi’. Sekali lagi Sdr/i seDhamma, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Frustasi’.
Sdr/i sekalian, sebagai manusia yang bermasyarakat, tentu kita semua yang ada di Vihära ini sudah tidak asing lagi bila mendengar sebuah kata yaitu kata ‘frustasi’, dan bah-kan kita semua ini pasti juga memahami arti atau makna dari kata ‘frustasi’ tersebut. Sdr/i seDhamma, namun meskipun demikian, untuk lebih jelasnya, maka kami terlebih dahulu akan menjelaskan pengertian dari kata ‘frustasi’ ini supaya kita dapat lebih mudah mema-hami maknanya, terutama dalam hubungannya dengan Dhamma, ajaran Sang Buddha.
Sdr/i yang berbahagia, apabila ada seseorang yang dalam suatu kegiatan atau dalam suatu usahanya dapat mencapai tujuan kesuksesan atau keberhasilan, tentu ia akan merasa puas. Tetapi, bila usahanya untuk mencapai tujuan itu mengalami suatu kegagalan karena adanya rintangan-rintangan tertentu, maka akan timbullah kekecewaan dalam dirinya. Nah, bila kekecewaan ini menjadi mendalam dan berlangsung terus menerus, maka akan menim-bulkan suatu keadaan batin yang biasa disebut dengan istilah ‘frustasi’. Frustasi ini menye-babkan tidak adanya keseimbangan dalam tindakan emosinya atau keadaan batinnya. Atau, sebenarnya lebih tepat bila dikatakan bahwa karena keseimbangan batinnya yang kurang kuat itulah maka menyebabkan timbulnya frustasi. Sdr/i, kekecewaan yang terus menerus sehingga menyebabkan timbulnya kondisi yang disebut frustasi ini, tentu sifatnya emosional sehingga orang yang mengalaminya menjadi kurang mampu untuk menggunakan pikiran yang rasional (nalar) dan juga cara berpikir serta tindakannya menjadi lamban, tidak ada daya adaptasi atau kemampuan menyesuaikan diri.
Sdr/i sekalian, sumber atau lebih tepatnya ‘sebab’ dari frustasi yang emosional ini dapat berasal dari orang lain, dari benda-benda, atau alam sekitarnya. Banyak sekali bentuk frustasi enosional ini, dan untuk lebih jelasnya akan kami uraikan beberapa contoh yaitu se-perti berikut ini:
Contoh pertama Sdr/i, secara pengertian umum, ada reaksi emosional yang dikata-kan sebagai ‘reaksi emosional yang tak terpikirkan’. Sebagai contoh misalnya, karena sese-orang tidak berhasil dalam mencapai tujuannya atau keberhasilannya, maka ia langsung bereaksi dengan marah-marah, dan bahkan mungkin sampai merusak sesuatu yang ada di sekitarnya atau bahkan ada juga yang merusak dirinya sendiri. Jadi, begitu dia tahu bahwa usahanya itu mengalami kegagalan, secara spontan ia langsung ‘ngamuk-ngamuk’, pukul sana pukul sini, termasuk mungkin memukuli dirinya sendiri. Inilah contoh dari reaksi emo-sional yang secara umum dikatakan ‘tidak terpikirkan’.
Sdr/i sekallian, ada lagi contoh dari bentuk reaksi emosional yang tidak terpikirkan lainnya, yaitu tentang adanya seorang mahasiswa yang tiba-tiba pingsan setelah ia mengeta-hui bahwa ia tidak lulus dalam ujian akhirnya. Reaksi ini tercetus dengan menunjukkan si-kap yang tidak berdaya, pasif, atau patah hati, dan sebagainya yang secara emosional. Ben-tuk lain lagi dari reaksi emosional ini bisa kita lihat pada orang yang sedang mengalaminya, yaitu walaupun ia telah dewasa, namun ia bisa menunjukkan tingkah laku yang sifatnya ke-kanak-kanakan, misalnya ia akan langsung menangis meraung-raung saat itu juga, bahkan sampai berguling-guling di lantai, dan sebagainya. Nah, tingkah laku seperti itu juga meru-pakan suatu contoh dari bentuk frustasi yang disebut ‘regression’ atau ‘kemunduruan’, yaitu ia menjadi bertingkah laku seperti anak-anak.
Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya, kami masih ingin memberikan bentuk frustasi lainnya agar bisa menjadi lebih jelas lagi. Bentuk frustasi yang merupakan reaksi batin ini adalah dengan cara mengulang kembali dari suatu cara yang pernah memberikan hasil yang baik bagi dirinya. Misalnya, bila ada seorang anak kecil yang meminta sesuatu, tetapi oleh orang tuanya tidak diberi atau ditolak. Akibatnya, anak tersebut frustasi, dan reaksinya yaitu dia langsung menangis. Nah, karena menangis tersebut, akhirnya orang tuanya lalu memberikan apa yang dimintanya itu. Pengalaman ini, akhirnya ia gunakan kembali atau ia ulangi kembali pada waktu-waktu selanjutnya nanti yaitu pada saat permintaannya tidak di-penuhi oleh orang tuanya.
Sdr/i seDhamma, masih ada lagi bentuk frustasi emosional lainnya yaitu di mana orang tersebut menekan emosinya atau berusaha untuk melupakan sesuatu perbuatan atau pengalaman yang telah dilakukannya, karena perbuatan atau pengalaman itu dianggap pe-ngalaman pahit atau buruk. Misalnya, seseorang yang pernah melakukan perbuatan keji se-perti membunuh, mencuri, berzinah, dan sebagainya. Lalu, pengalaman ini ingin ia lupakan atau ditekan, sebab hal ini merupakan pengalaman yang buruk. Sdr/i, selanjutnya masih ada bentuk frustasi yang lain lagi, yaitu bentuk frustasi dengan melakukan suatu perbuatan yang dibuat-buat. Misalnya seorang mahasiswa karena saking takutnya kepada dosen pada waktu menghadapi ujian, maka ia lalu menggerak-gerakkan kaki atau tangannya untuk menghilang kan atau menutupi perasaan takutnya itu.
Sdr/i yang berbahagia, demikianlah beberapa bentuk frustasi yang telah kita ketahui, dan itu semua merupakan sebagian saja dari berbagai macam bentuk frustasi yang ada di dunia ini. Demikian pula kalau Sdr/i membaca cerita Buddhis, di sana juga kita dapati ber-bagai peristiwa tentang masalah frustasi ini. Misalnya saja cerita tentang Pangeran Nanda yang merasa menyesal dan menderita setelah ditahbiskan menjadi bhikkhu, karena terus menerus memikirkan istrinya yang cantik yang bernama Janapada Kalyani. Hal ini dilihat oleh bhikkhu lainnya yang kemudian menegurnya :”Mengapa anda kelihatan sedih?” “Sau-dara, aku sebenarnya menyesal. Aku tidak menyukai penghidupan sebagai bhikkhu. Aku ingin melepaskan jubah dan pulang ke istana”, jawab Pangeran Nanda. Sdr/i, bhikkhu yang menemuinya itu kemudian pergi dan melaporkan peristiwa tersebut kepada Sang Buddha. Akhirnya, Sang Buddha memanggil Pangeran Nanda dan menanyakan kebenaran laporan itu. Setelah mengetahui kebenaran itu, Sang Buddha dengan kekuatan batinNya memegang tangan Pangeran Nanda dan membawanya ke alam Deva Tävatiçsä. Dalam perjalanan itu Sang Buddha menunjukkan hutan yang terbakar kepada Pangeran Nanda, di mana di hutan itu ada seekor kera rakus yang sedang duduk di atas dahan yang terbakar. Telinga, hidung, dan ekor kera itu telah terbakar pula. Nah, ketika sampai di alam Deva Tävatiçsä, Sang Buddha menunjukkan kepada Pangeran Nanda limaratus bidadari berkaki ungu yang mela-yani Deva Sakka, yaitu rajanya para deva. Setelah menunjukkan kedua hal itu, Sang Bud-dha lalu bertanya kepada Pangeran Nanda :”Nanda, yang mana kamu pandang lebih cantik, lebih indah, dan lebih menyenangkan untuk dilihat? Istrimu Janapada Kalyani, atau limara-tus bidadari berkaki ungu ini?” Pangeran Nanda menjawab:”Bhante, kalau begini, Janapada Kalyani hanya sebanding cantiknya dengan kera yang telah kehilangan telinga, hidung, dan ekornya karena terbakar di hutan tadi. Sangat jauh bedanya, Bhante. Oleh sebab itu, bila dibandingkan dengan para bidadari ini, maka isteri saya tidak termasuk hitungan. Ia tidak setitik kecilpun bila dibandingkan dengan mereka. Sebaliknya, limaratus bidadari ini adalah sangat cantik, sangat menarik, dan molek sekali, Bhante”. Sang Buddha kemudian berkata lagi :”Benar, Nanda, bergembiralah. Saya menjamin, saya memberi garansi, bahwa engkau pasti bisa mendapatkan limaratus bidadari berkaki ungu itu, bila engkau mau bekerja keras”. “Wah, kalau Bhante menggaransikan saya bisa mendapatkan limaratus bidadari ini, maka dengan segala senang hati saya ingin terus hidup sebagai bhikkhu”. Sdr/i sekalian, demikian lah kisah Pangeran Nanda yang frustasi, yang akhirnya bisa ditolong oleh Sang Buddha.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, masih ada cerita lain tentang masalah frustasi ini yaitu seperti yang disebutkan dalam Mahä Parinibbäna Sutta berikut ini :”Demikianlah, ke-tika Sang Bhagavä telah parinibbäna, beberapa bhikkhu yang belum terbebas dari kemele-katan, mengangkat tangan mereka dan menangis sedih, beberapa di antara mereka, bergu-ling-guling di atas tanah sambil menangis dan meratap, ‘Terlalu cepat Sang Sugata lenyap dari pandangan’. Demikianlah, ratapan para bhikkhu yang masih mengalami frustasi ketika Sang Buddha parinibbäna.
Sdr/i yang berbahagia, contoh cerita frustasi lainnya kami ambil dari Therigäthä, Canto VI ; 50 : yang menceritakan tentang seorang wanita yang bernama Patacara, yang sa-ngat menderita karena dalam satu hari ia ditinggal mati oleh suami, dua anaknya, dan juga kedua orang tua serta saudara-saudaranya. Ia menjadi gila karena menanggung kesedihan ini, tetapi setelah bertemu Sang Buddha, akhirnya ia dapat sembuh kembali. Demikian pula dengan cerita Mahäpajapati yang juga mengalami frustasi yang hebat ketika anak satu-satu-nya meninggal. Ia dapat disembuhkan dari frustasinya itu setelah bertemu Sang Buddha dan hanya disuruh mencari segenggam biji lada dari suatu keluarga yang belum pernah menga-lami kematian di keluarganya.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, akhirnya sebagai contoh terakhir dari sekian ba-nyak contoh mengenai frustasi ini, maka kami akan menceritakan keadaan Sang Buddha sendiri ketika Beliau baru saja beberapa minggu merealisasi Penerangan Sempurna. Ketika itu, Sang Buddha di bawah pohon Ajapala Banyan merenungkan demikian :”Dhamma yang telah Kupamani ini sungguh sangat dalam, sulit dirasakan, sulit dipahami, halus, agung, ti-dak dalam jangkauan logika, dan hanya bisa dipahami oleh mereka yang bijaksana. ….. Maka, jika Aku harus mengajar Dhamma, pihak lain tidak akan memahamiKu. Itu akan menjemukanKu, itu akan melelahkanKu”. Demikianlah Sdr/i, renungan dari Sang Buddha tersebut, dan setelah merenungkan demikian itu, akhirnya sebuah syair indah yang belum pernah terdengar, diutarakan oleh Sang Buddha sebagai berikut :”Dengan susah payah Kupahami Dhamma. Tidaklah perlu untuk membabarkannya sekarang. Dhamma ini tidak mudah untuk dipahami oleh mereka yang dikuasai keserakahan dan kebencian. Mereka yang masih dikendalikan keserakahan, diselimuti kegelapan, tidak dapat melihat Dhamma ini yang berjalan menentang arus, yang sulit dimengerti, mendalam, sukar dirasakan, dan halus”. Jadi singkatnya saja, Dhamma ini dalam sekali dan sulit untuk dimengerti. Hal ini menimbulkan perasaan enggan dalam diri Sang Buddha untuk mengajarkan Dhamma tersebut. Demikianlah kira-kira contoh cerita frustasi yang juga dialami oleh Sang Buddha sendiri. Dan, hal tersebut bisa diatasi oleh Sang Buddha setelah Brahma Sahampati, yang dapat membaca pikiran Sang Buddha saat itu, dan juga karena takut bahwa dunia mungkin hancur karena tidak ada yang mendengar Dhamma, turun dari Brahmaloka lalu menghadap Beliau dan memohon Beliau untuk mengajarkan Dhamma dengan menyatakan demikian: ”O, Guru, biarlah Yang Mulia membabarkan Dhamma! Biarlah Yang Sempurna membabarkan Dhamma! Dalam dunia ini, terdapat juga makhluk dengan sedikit debu di mata mereka, yang apabila tidak mendengar Dhamma akan jatuh. Mereka itulah yang akan memahami Dhamma yang akan diajarkan”.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah tadi beberapa contoh dari bentuk-bentuk frustasi yang dapat kita ketahui pada pembahasan dan perenungan Dhamma hari ini. Semoga setelah kita dapat mengenali lebih baik lagi tentang perihal frustasi ini, maka diha-rapkan kita dapat mengatasinya dengan baik. Dan, apabila di antara Sdr/i sekallian ada yang ingin bertanya tentang makalah ini, atau mungkin ada yang berpendapat bahwa makalah ini salah sehingga bisa menimbulkan frustasi, maka kami persilakan untuk mendiskusikan ber-sama-sama setelah selesainya kebaktian ini. Terima kasih!
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Sumber Acuan:
1. Pengantar Psikologi. Oleh E. Usman Effendi dan Juhaya S Praja.
2. Cerita Buddhis Dhammapada Atthakatha I. Alih bahasa Bhikkhu Aggabalo.
3. Riwayat Hidup Buddha Gotama. Penyusun S. Widyadharma.
4. Sang Buddha dan Ajaran - AjaranNya, bagian I. Oleh Bhikkhu Narada.
Dibacakan pada tanggal :
- 13 Februari 1994.
- 14 April 1996.
- 11 Agustus 1999.
-
-
-
-
Senin, 10 Maret 2008
DHAMMA YANG ALAMIAH
DHAMMA YANG ALAMIAH
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
SATAM DHAMMO DURANVAYO.
Dhamma orang bijaksana, sangat sulit dimengerti.
Samyuttanikaya Sagathavagga.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, seperti biasanya, yaitu bila kita melakukan ke-baktian, maka kita akan mengisi pula dengan pembahasan dan perenungan Dhamma. Hal ini selalu kita lakukan setiap kita melakukan kebaktian. Oleh sebab itu Sdr/i seDhamma, dapatlah dikatakan bahwa selama ini kita tentu sudah mempunyai pengertian Dhamma yang cukup banyak. Apalagi, ki-ta juga sudah sering berdiskusi dan menelaah Dhamma sesudah kita selesai melakukan kebaktian. Tetapi Sdr/i sekalian, untuk hari ini, Dhamma yang akan kita bahas bersama agak berbeda dari pem-bahasan-pembahasan Dhamma sebelumnya. Hari ini, kita akan membahas Dhamma yang alamiah. Dalam pembahasan Dhamma yang alamiah ini, kita harus lebih seksama lagi karena untuk menjaga supaya tidak terjadi timbulnya salah tanggapan.
Sdr/i seDhamma, ketika pohon sedang berbunga, angin berhembus dan menjatuhkan bunga-bunganya ke tanah. Bunga-bunga yang tidak jatuh akan berkembang menjadi buah yang kecil. Teta-pi, bila angin berhembus lagi, ia akan menjatuhkan juga beberapa buah yang kecil ini. Hanya sisa-nya saja mungkin yang tetap tumbuh menjadi buah sampai hampir masak atau sampai ranum, sebe-lum mereka akhirnya jatuh ke tanah.
Sdr/i seDhamma, begitu pula halnya dengan manusia. Seperti bunga dan buah yang tertiup angin tadi, mereka juga berguguran dalam keadaan yang berbeda. Ada yang meninggal sejak masih dalam rahim, ada pula yang meninggal beberapa hari sejak kelahirannya. Ada yang hidup beberapa tahun lalu meninggal sebelum mencapai kedewasaannya. Ada yang meninggal dalam masa remaja, ada pula yang mencapai usia yang sangat tua sebelum akhirnya meninggal dunia.
Sdr/i seDhamma, jika kita merenungkan tentang manusia ini, membandingkan dengan buah-buah tadi, kedua-duanya sangat tidak menentu atau tidak kekal. Ketidakkekalan ini dapat juga dili-hat dalam kehidupan keviharaan. Beberapa orang datang untuk ditahbiskan, tetapi kemudian pikir-annya berubah dan meninggalkan kehidupan kebiaraan. Ada yang setelah ditahbiskan lalu memutus-kan untuk melepas jubah. Ada pula yang hanya menjalani kehidupan biarawan selama satu vassa. Jadi, seperti buah-buah tadi, semua tidak menentu.
Sdr/i seDhamma, pikiran kita pun demikian. Pikiran baik muncul dan padam dari batin kita, sama seperti buah-buah tadi. Sang Buddha memahami ketidakkekalan dari semua benda. Beliau memperhatikan peristiwa buah-buahan yang ditiup angin dan membandingkannya dengan para bhik-khu dan samanera yang menjadi murid-muridNya. Beliau menemukan bahwa sesungguhnya mereka adalah sama, yaitu tidak kekal.
Sdr/i, bagi mereka yang selalu melatih kesadaran atau kewaspadaan, tidaklah terlalu membu-tuhkan orang lain untuk menasehati dan mengajarkan segala sesuatu, baru bisa mengerti. Sebagai contoh adalah Sang Buddha, yang dalam kehidupanNya yang lampau pernah menjadi raja Chanoko-mun (Cakkavati). Beliau tidak membutuhkan banyak belajar, yang dilakukannya adalah mengamati sebuah pohon mangga.
Sdr/i seDhamma, pada suatu hari, ketika raja sedang mengunjungi sebuah taman bersama pa-ra pengawal dan menterinya, dari punggung gajahnya ia melihat beberapa pohon mangga penuh de-ngan buah yang masak. Karena tidak ada yang boleh berhenti pada waktu itu, raja lalu bertekad da-lam hati untuk memetik mangga-mangga itu dalam perjalanan pulang nanti. Tetapi, tanpa sepengeta-huan raja, para menteri secara sembunyi-sembunyi telah memetik mangga-mangga itu. Mereka menggunakan tongkat untuk memukul ranting, sehingga daun-daun mangga itu berhamburan.
Ketika kembali ke hutan mangga pada petang harinya, raja telah membayangkan kelezatan buah mangga itu. Tetapi ia hanya menemukan bahwa mangga-mangga itu telah habis. Bahkan, ran-ting dan daunnya pun berserakan di tanah. Raja menjadi kecewa dan bingung, kemudian ia memper-hatikan pohon mangga lainnya yang masih utuh. Dalam hatinya ia bertanya, mengapa demikian? Kemudian ia sadar bahwa pohon itu ternyata tidak ada buahnya. Jika pohon tidak ada buahnya atau tidak mempunyai buah, maka tidak akan ada orang yang menyentuhnya. Pelajaran ini membuatnya asyik berpikir dalam perjalanan pulang ke istananya. “Tidak menyenangkan, menyusahkan, dan su-lit untuk menjadi raja. Kedudukannya harus dijaga sungguh-sungguh. Bagaimana kalau ada yang mencoba menyerang, merampok, dan merampas kerajaanku?” Akhirnya, raja tidak dapat beristira-hat dengan tenang, bahkan dalam tidurnya ia sering diganggu mimpi-mimpi yang tidak menyenang-kan. Dia merenungkan sekali lagi, pohon mangga yang tanpa buah yang tidak diganggu. “Jika saya sama seperti pohon itu, maka daun dan rantingku tidak akan diganggu”. Demikian pikir raja. Dalam kamarnya ia duduk bermeditasi. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang pertapa setelah mendapat ilham dari pohon mangga. Ia membandingkan dirinya dengan pohon mangga lalu berke-simpulan bahwa jika seseorang tidak terlibat dalam cara-cara duniawi, ia akan benar-benar bebas, bebas dari kecemasan dan kesulitan. Bahkan pikirannya pun tidak akan terganggu.
Sdr/i seDhamma, sejak saat itu, kemanapun ia pergi, jika ditanya siapa gurunya, maka ia akan menjawab:”Sebuah pohon mangga”. Ia tidak membutuhkan begitu banyak pelajaran. Pohon mangga menyebabkan timbulnya pengertian pada ‘Opanayiko Dhamma’, yaitu ajaran yang menun-tun ke dalam batin. Dan dengan pengertiannya ini, ia menjadi pertapa, yaitu orang yang sedikit ke-butuhannya, puas dengan yang sedikit, dan menyukai kesepian. Kedudukannya sebagai raja dilepas-kan, sehingga akhirnya pikirannya penuh dengan ketenangan.
Sdr/i seDhamma, dalam cerita ini, kita dapat melihat ketika Sang Buddha masih sebagai Bo-dhisatta yang selalu terus menerus mengembangkan latihannya. Jadi, seperti halnya Sang Buddha ketika masih menjadi Bodhisatta Raja Cakkavati, kitapun seharusnya melihat sekeliling kita dan mengamatinya, sebab segala sesuatu di dunia ini sesungguhnya telah siap untuk mengajar kita. Bah-kan dengan sedikit kebijaksanaan, kita dapat melihat peristiwa-peristiwa di dunia ini dengan jelas. Kita akan mengerti bahwa semua yang ada di alam ini adalah seorang guru. Pohon dan tanaman menjalar misalnya, dapat membuka pikiran kita terhadap kenyataan Kebenaran Mutlak. Dengan ke-bijaksanaan tersebut, kita tidak perlu bertanya atau belajar dari orang lain. Kita cukup belajar dari alam untuk mendapatkan penerangan, seperti dalam cerita Raja Cakkavati tadi. Sebab, segala sesua-tu di alam ini selalu mengikuti jalannya Hukum Kebenaran Mutlak. Tidak pernah menyimpang dari Hukum Kebenaran Mutlak tersebut.
Sdr/i seDhamma, hal lain yang berkaitan dengan kebijaksanaan adalah ketenangan dan pe-ngendalian nafsu. Hal ini akan membawa kita pada pemahaman mendalam tentang kebiasaan alam. Dalam hal ini kita akan mengetahui tentang kebenaran mutlak dari semua benda, yaitu Anicca, Duk-kha, dan Anatta. Pada mulanya mereka akan muncul, kemudian tumbuh dan berkembang, selalu ber-ubah terus, dan akhirnya mati. Demikian pula manusia dan hewan, mereka terlahir, tumbuh, dan ber-kembang, dan sampai tiba saatnya mereka harus mati. Keanekaragaman yang terjadi dalam kehidup-annya menunjukkan ‘Jalan Kebenaran’. Itulah yang dikatakan bahwa semua benda tidak kekal, akan gugur dan hancur sebagai kondisinya yang alamiah.
Sdr/i sekalian, jika kita memiliki kesadaran dan pengertian, jika kita belajar dengan penuh perhatian, maka kita akan dapat melihat bagaimana Dhamma yang sesungguhnya. Dalam hal ini, berarti kita akan melihat manusia sebagai suatu benda yang lahir, berkembang, dan akhirnya mati. Tiap orang adalah subyek dalam lingkaran kelahiran dan kematian. Oleh karena itu, tiap orang di dunia ini adalah ‘satu’ benda. Jadi, dengn melihat satu orang dengan jelas adalah sama dengan meli-hat semua orang di dunia ini.
Sdr/i seDhamma, dalam cara yang sama, sebenarnya segala sesuatu adalah Dhamma. Bukan saja hanya apa yang dapat kita lihat dengan mata, tetapi juga mencakup semua yang kita lihat de-ngan pikiran kita. Sebuah pikiran muncul, kemudian berubah, dan akhirnya padam. Itulah yang di-namakan ‘Nama Dhamma’, yaitu suatu keadaan batin yang selalu muncul, berlangsung, dan padam. Inilah sesungguhnya sifat alamiah dari pikiran itu. Semua ini adalah Kebenaran Mulia dari Dham-ma. Jika seseorang tidak dapat melihat dan mengamati dengan cara ini, maka ia sesungguhnya ‘tidak melihat’. Dan, jika seseorang telah ‘melihat’, ia akan memiliki kebijaksanaan untuk mendengarkan Dhamma sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Sang Arahanta Samma Sambuddha.
Di manakah Sang Buddha berada?
Sang Buddha berada di dalam Dhamma.
Di manakah Dhamma berada?
Dhamma berada di dalam Sang Buddha.
Nah, sekarang!
Di manakah Savgha berada?
Savgha berada di dalam Dhamma.
Sdr/i sekalian, dalam hal ini, berarti Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha, berada dalam pi-kiran kita, tetapi kita harus melihat mereka dengan jelas. Banyak orang yang berkata demikian:”Oh, Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha berada dalam pikiranku”. Tetapi, ternyata tingkah laku mereka tidak pantas. Jika demikian, maka tidak benar bahwa Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha dapat di-temukan dalam pikiran orang yang seperti itu. Sebab, pikiran adalah awal dari segalanya, sehingga pikiranlah yang mengenal Dhamma. Dengan melihat segala sesuatu berdasarkan Dhamma, maka ki-ta akan dapat mengetahui bahwa di dunia ini Kebenaran Mutlak itu ada, dan karena itulah maka kita memiliki kemungkinan untuk berlatih dan merealisasikannya.
Sdr/i sekalian, dalam hal ‘Nama Dhamma’, yaitu perasaan, pikiran, khayalan, dan lain-lain, semua tidak kekal. Ketika kemarahan timbul, ia akan tumbuh dan berkembang dan akhirnya padam. Perasaan senang pun juga demikian, ia akan timbul, berlangsung, dan kemudian padam. Jadi, sesung guhnya semua itu ‘kosong’ belaka. Semua itu sesungguhnya bukanlah ‘sesuatu’. Hal tersebut hanya-lah proses dari semua benda baik mental maupun material. Dalam diri kita ini mereka adalah batin dan jasmani. Sedangkan di luar diri kita, misalnya pepohonan atau tumbuh-tumbuhan dan sebagai-nya, mereka adalah aneka ragam benda-benda yang memperlihatkan hukum universal tentang keti-dakkekalan.
Baik pohon, gunung, ataupun hewan, semua adalah Dhamma. Segala sesuatu adalah Dham-ma. Di manakah Dhamma ini berada? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apa yang bukan Dhamma itulah yang tidak ada. Dhamma adalah alamiah. Inilah yang dikatakan sebagai ‘Sacca Dhamma’, Dhamma Kebenaran, Dhamma Sejati. Jika seseorang melihat alam, ia melihat Dhamma, jika ia melihat Dhamma, maka ia telah melihat alam. Dengan melihat alam, secara otomatis kita me-ngetahui Dhamma.
Sdr/i seDhamma, jadi apa gunanya banyak belajar kalau dalam kenyataannya bahwa kehidup an ini setiap saat, setiap perbuatan, hanyalah sebuah lingkaran dari kelahiran dan kematian yang tak pernah berakhir. Jadi, jika kita penuh perhatian dan selalu sadar akan keadaan kita, misalnya ketika sedang duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring, maka pengetahuan kita itu telah siap untuk dilahir-kan. Itulah pengetahuan tentang Dhamma Sejati yang ada di sini sekarang ini juga.
Jadi Sdr/i, sekarang ini Sang Buddha, yaitu Sang Buddha yang sesungguhnya, masih tetap ada. Beliau adalah Dhamma itu sendiri, yaitu yang disebut Sacca Dhamma. Dan, Sacca Dhamma ini, yang memungkinkan seseorang menjadi Buddha, masih tetap ada. Ia tidak akan pergi ke mana pun. Sacca Dhamma ini membangkitkan dua Buddha. Satu dalam tubuh jasmani, dan satunya lagi dalam pikiran.
Dhamma Sejati, menurut sabda Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda, hanya dapat dicapai dengan berlatih. Siapapun yang melihat Dhamma, ia melihat Buddha. Dan siapapun yang melihat Buddha, ia juga melihat Dhamma. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Tentu kita semua sudah dapat memahaminya.
Sdr/i, dahulu kala, Sang Buddha juga belum ada. Beliau baru ada ketika Siddharta Gotama menemukan Dhamma dan menjadi Buddha. Jadi, Beliaupun sama seperti kita. Jadi, jika kita menger ti akan Dhamma, maka kita akan dapat menjadi Buddha. Ini dikatakan Buddha dalam pikiran atau ‘Nama Dhamma’.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini tentang Dhamma yang alamiah. Semoga perbuatan baik kita ini dapat menambah kebi-jaksanaan kita dan kebahagiaan semua makhluk. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Dipetik dari Bodhinyana, Dhamma Nature, halaman 27 – 33.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
SATAM DHAMMO DURANVAYO.
Dhamma orang bijaksana, sangat sulit dimengerti.
Samyuttanikaya Sagathavagga.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, seperti biasanya, yaitu bila kita melakukan ke-baktian, maka kita akan mengisi pula dengan pembahasan dan perenungan Dhamma. Hal ini selalu kita lakukan setiap kita melakukan kebaktian. Oleh sebab itu Sdr/i seDhamma, dapatlah dikatakan bahwa selama ini kita tentu sudah mempunyai pengertian Dhamma yang cukup banyak. Apalagi, ki-ta juga sudah sering berdiskusi dan menelaah Dhamma sesudah kita selesai melakukan kebaktian. Tetapi Sdr/i sekalian, untuk hari ini, Dhamma yang akan kita bahas bersama agak berbeda dari pem-bahasan-pembahasan Dhamma sebelumnya. Hari ini, kita akan membahas Dhamma yang alamiah. Dalam pembahasan Dhamma yang alamiah ini, kita harus lebih seksama lagi karena untuk menjaga supaya tidak terjadi timbulnya salah tanggapan.
Sdr/i seDhamma, ketika pohon sedang berbunga, angin berhembus dan menjatuhkan bunga-bunganya ke tanah. Bunga-bunga yang tidak jatuh akan berkembang menjadi buah yang kecil. Teta-pi, bila angin berhembus lagi, ia akan menjatuhkan juga beberapa buah yang kecil ini. Hanya sisa-nya saja mungkin yang tetap tumbuh menjadi buah sampai hampir masak atau sampai ranum, sebe-lum mereka akhirnya jatuh ke tanah.
Sdr/i seDhamma, begitu pula halnya dengan manusia. Seperti bunga dan buah yang tertiup angin tadi, mereka juga berguguran dalam keadaan yang berbeda. Ada yang meninggal sejak masih dalam rahim, ada pula yang meninggal beberapa hari sejak kelahirannya. Ada yang hidup beberapa tahun lalu meninggal sebelum mencapai kedewasaannya. Ada yang meninggal dalam masa remaja, ada pula yang mencapai usia yang sangat tua sebelum akhirnya meninggal dunia.
Sdr/i seDhamma, jika kita merenungkan tentang manusia ini, membandingkan dengan buah-buah tadi, kedua-duanya sangat tidak menentu atau tidak kekal. Ketidakkekalan ini dapat juga dili-hat dalam kehidupan keviharaan. Beberapa orang datang untuk ditahbiskan, tetapi kemudian pikir-annya berubah dan meninggalkan kehidupan kebiaraan. Ada yang setelah ditahbiskan lalu memutus-kan untuk melepas jubah. Ada pula yang hanya menjalani kehidupan biarawan selama satu vassa. Jadi, seperti buah-buah tadi, semua tidak menentu.
Sdr/i seDhamma, pikiran kita pun demikian. Pikiran baik muncul dan padam dari batin kita, sama seperti buah-buah tadi. Sang Buddha memahami ketidakkekalan dari semua benda. Beliau memperhatikan peristiwa buah-buahan yang ditiup angin dan membandingkannya dengan para bhik-khu dan samanera yang menjadi murid-muridNya. Beliau menemukan bahwa sesungguhnya mereka adalah sama, yaitu tidak kekal.
Sdr/i, bagi mereka yang selalu melatih kesadaran atau kewaspadaan, tidaklah terlalu membu-tuhkan orang lain untuk menasehati dan mengajarkan segala sesuatu, baru bisa mengerti. Sebagai contoh adalah Sang Buddha, yang dalam kehidupanNya yang lampau pernah menjadi raja Chanoko-mun (Cakkavati). Beliau tidak membutuhkan banyak belajar, yang dilakukannya adalah mengamati sebuah pohon mangga.
Sdr/i seDhamma, pada suatu hari, ketika raja sedang mengunjungi sebuah taman bersama pa-ra pengawal dan menterinya, dari punggung gajahnya ia melihat beberapa pohon mangga penuh de-ngan buah yang masak. Karena tidak ada yang boleh berhenti pada waktu itu, raja lalu bertekad da-lam hati untuk memetik mangga-mangga itu dalam perjalanan pulang nanti. Tetapi, tanpa sepengeta-huan raja, para menteri secara sembunyi-sembunyi telah memetik mangga-mangga itu. Mereka menggunakan tongkat untuk memukul ranting, sehingga daun-daun mangga itu berhamburan.
Ketika kembali ke hutan mangga pada petang harinya, raja telah membayangkan kelezatan buah mangga itu. Tetapi ia hanya menemukan bahwa mangga-mangga itu telah habis. Bahkan, ran-ting dan daunnya pun berserakan di tanah. Raja menjadi kecewa dan bingung, kemudian ia memper-hatikan pohon mangga lainnya yang masih utuh. Dalam hatinya ia bertanya, mengapa demikian? Kemudian ia sadar bahwa pohon itu ternyata tidak ada buahnya. Jika pohon tidak ada buahnya atau tidak mempunyai buah, maka tidak akan ada orang yang menyentuhnya. Pelajaran ini membuatnya asyik berpikir dalam perjalanan pulang ke istananya. “Tidak menyenangkan, menyusahkan, dan su-lit untuk menjadi raja. Kedudukannya harus dijaga sungguh-sungguh. Bagaimana kalau ada yang mencoba menyerang, merampok, dan merampas kerajaanku?” Akhirnya, raja tidak dapat beristira-hat dengan tenang, bahkan dalam tidurnya ia sering diganggu mimpi-mimpi yang tidak menyenang-kan. Dia merenungkan sekali lagi, pohon mangga yang tanpa buah yang tidak diganggu. “Jika saya sama seperti pohon itu, maka daun dan rantingku tidak akan diganggu”. Demikian pikir raja. Dalam kamarnya ia duduk bermeditasi. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang pertapa setelah mendapat ilham dari pohon mangga. Ia membandingkan dirinya dengan pohon mangga lalu berke-simpulan bahwa jika seseorang tidak terlibat dalam cara-cara duniawi, ia akan benar-benar bebas, bebas dari kecemasan dan kesulitan. Bahkan pikirannya pun tidak akan terganggu.
Sdr/i seDhamma, sejak saat itu, kemanapun ia pergi, jika ditanya siapa gurunya, maka ia akan menjawab:”Sebuah pohon mangga”. Ia tidak membutuhkan begitu banyak pelajaran. Pohon mangga menyebabkan timbulnya pengertian pada ‘Opanayiko Dhamma’, yaitu ajaran yang menun-tun ke dalam batin. Dan dengan pengertiannya ini, ia menjadi pertapa, yaitu orang yang sedikit ke-butuhannya, puas dengan yang sedikit, dan menyukai kesepian. Kedudukannya sebagai raja dilepas-kan, sehingga akhirnya pikirannya penuh dengan ketenangan.
Sdr/i seDhamma, dalam cerita ini, kita dapat melihat ketika Sang Buddha masih sebagai Bo-dhisatta yang selalu terus menerus mengembangkan latihannya. Jadi, seperti halnya Sang Buddha ketika masih menjadi Bodhisatta Raja Cakkavati, kitapun seharusnya melihat sekeliling kita dan mengamatinya, sebab segala sesuatu di dunia ini sesungguhnya telah siap untuk mengajar kita. Bah-kan dengan sedikit kebijaksanaan, kita dapat melihat peristiwa-peristiwa di dunia ini dengan jelas. Kita akan mengerti bahwa semua yang ada di alam ini adalah seorang guru. Pohon dan tanaman menjalar misalnya, dapat membuka pikiran kita terhadap kenyataan Kebenaran Mutlak. Dengan ke-bijaksanaan tersebut, kita tidak perlu bertanya atau belajar dari orang lain. Kita cukup belajar dari alam untuk mendapatkan penerangan, seperti dalam cerita Raja Cakkavati tadi. Sebab, segala sesua-tu di alam ini selalu mengikuti jalannya Hukum Kebenaran Mutlak. Tidak pernah menyimpang dari Hukum Kebenaran Mutlak tersebut.
Sdr/i seDhamma, hal lain yang berkaitan dengan kebijaksanaan adalah ketenangan dan pe-ngendalian nafsu. Hal ini akan membawa kita pada pemahaman mendalam tentang kebiasaan alam. Dalam hal ini kita akan mengetahui tentang kebenaran mutlak dari semua benda, yaitu Anicca, Duk-kha, dan Anatta. Pada mulanya mereka akan muncul, kemudian tumbuh dan berkembang, selalu ber-ubah terus, dan akhirnya mati. Demikian pula manusia dan hewan, mereka terlahir, tumbuh, dan ber-kembang, dan sampai tiba saatnya mereka harus mati. Keanekaragaman yang terjadi dalam kehidup-annya menunjukkan ‘Jalan Kebenaran’. Itulah yang dikatakan bahwa semua benda tidak kekal, akan gugur dan hancur sebagai kondisinya yang alamiah.
Sdr/i sekalian, jika kita memiliki kesadaran dan pengertian, jika kita belajar dengan penuh perhatian, maka kita akan dapat melihat bagaimana Dhamma yang sesungguhnya. Dalam hal ini, berarti kita akan melihat manusia sebagai suatu benda yang lahir, berkembang, dan akhirnya mati. Tiap orang adalah subyek dalam lingkaran kelahiran dan kematian. Oleh karena itu, tiap orang di dunia ini adalah ‘satu’ benda. Jadi, dengn melihat satu orang dengan jelas adalah sama dengan meli-hat semua orang di dunia ini.
Sdr/i seDhamma, dalam cara yang sama, sebenarnya segala sesuatu adalah Dhamma. Bukan saja hanya apa yang dapat kita lihat dengan mata, tetapi juga mencakup semua yang kita lihat de-ngan pikiran kita. Sebuah pikiran muncul, kemudian berubah, dan akhirnya padam. Itulah yang di-namakan ‘Nama Dhamma’, yaitu suatu keadaan batin yang selalu muncul, berlangsung, dan padam. Inilah sesungguhnya sifat alamiah dari pikiran itu. Semua ini adalah Kebenaran Mulia dari Dham-ma. Jika seseorang tidak dapat melihat dan mengamati dengan cara ini, maka ia sesungguhnya ‘tidak melihat’. Dan, jika seseorang telah ‘melihat’, ia akan memiliki kebijaksanaan untuk mendengarkan Dhamma sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Sang Arahanta Samma Sambuddha.
Di manakah Sang Buddha berada?
Sang Buddha berada di dalam Dhamma.
Di manakah Dhamma berada?
Dhamma berada di dalam Sang Buddha.
Nah, sekarang!
Di manakah Savgha berada?
Savgha berada di dalam Dhamma.
Sdr/i sekalian, dalam hal ini, berarti Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha, berada dalam pi-kiran kita, tetapi kita harus melihat mereka dengan jelas. Banyak orang yang berkata demikian:”Oh, Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha berada dalam pikiranku”. Tetapi, ternyata tingkah laku mereka tidak pantas. Jika demikian, maka tidak benar bahwa Sang Buddha, Dhamma, dan Savgha dapat di-temukan dalam pikiran orang yang seperti itu. Sebab, pikiran adalah awal dari segalanya, sehingga pikiranlah yang mengenal Dhamma. Dengan melihat segala sesuatu berdasarkan Dhamma, maka ki-ta akan dapat mengetahui bahwa di dunia ini Kebenaran Mutlak itu ada, dan karena itulah maka kita memiliki kemungkinan untuk berlatih dan merealisasikannya.
Sdr/i sekalian, dalam hal ‘Nama Dhamma’, yaitu perasaan, pikiran, khayalan, dan lain-lain, semua tidak kekal. Ketika kemarahan timbul, ia akan tumbuh dan berkembang dan akhirnya padam. Perasaan senang pun juga demikian, ia akan timbul, berlangsung, dan kemudian padam. Jadi, sesung guhnya semua itu ‘kosong’ belaka. Semua itu sesungguhnya bukanlah ‘sesuatu’. Hal tersebut hanya-lah proses dari semua benda baik mental maupun material. Dalam diri kita ini mereka adalah batin dan jasmani. Sedangkan di luar diri kita, misalnya pepohonan atau tumbuh-tumbuhan dan sebagai-nya, mereka adalah aneka ragam benda-benda yang memperlihatkan hukum universal tentang keti-dakkekalan.
Baik pohon, gunung, ataupun hewan, semua adalah Dhamma. Segala sesuatu adalah Dham-ma. Di manakah Dhamma ini berada? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apa yang bukan Dhamma itulah yang tidak ada. Dhamma adalah alamiah. Inilah yang dikatakan sebagai ‘Sacca Dhamma’, Dhamma Kebenaran, Dhamma Sejati. Jika seseorang melihat alam, ia melihat Dhamma, jika ia melihat Dhamma, maka ia telah melihat alam. Dengan melihat alam, secara otomatis kita me-ngetahui Dhamma.
Sdr/i seDhamma, jadi apa gunanya banyak belajar kalau dalam kenyataannya bahwa kehidup an ini setiap saat, setiap perbuatan, hanyalah sebuah lingkaran dari kelahiran dan kematian yang tak pernah berakhir. Jadi, jika kita penuh perhatian dan selalu sadar akan keadaan kita, misalnya ketika sedang duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring, maka pengetahuan kita itu telah siap untuk dilahir-kan. Itulah pengetahuan tentang Dhamma Sejati yang ada di sini sekarang ini juga.
Jadi Sdr/i, sekarang ini Sang Buddha, yaitu Sang Buddha yang sesungguhnya, masih tetap ada. Beliau adalah Dhamma itu sendiri, yaitu yang disebut Sacca Dhamma. Dan, Sacca Dhamma ini, yang memungkinkan seseorang menjadi Buddha, masih tetap ada. Ia tidak akan pergi ke mana pun. Sacca Dhamma ini membangkitkan dua Buddha. Satu dalam tubuh jasmani, dan satunya lagi dalam pikiran.
Dhamma Sejati, menurut sabda Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda, hanya dapat dicapai dengan berlatih. Siapapun yang melihat Dhamma, ia melihat Buddha. Dan siapapun yang melihat Buddha, ia juga melihat Dhamma. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Tentu kita semua sudah dapat memahaminya.
Sdr/i, dahulu kala, Sang Buddha juga belum ada. Beliau baru ada ketika Siddharta Gotama menemukan Dhamma dan menjadi Buddha. Jadi, Beliaupun sama seperti kita. Jadi, jika kita menger ti akan Dhamma, maka kita akan dapat menjadi Buddha. Ini dikatakan Buddha dalam pikiran atau ‘Nama Dhamma’.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini tentang Dhamma yang alamiah. Semoga perbuatan baik kita ini dapat menambah kebi-jaksanaan kita dan kebahagiaan semua makhluk. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Dipetik dari Bodhinyana, Dhamma Nature, halaman 27 – 33.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
DHAMMA YANG ABADI
DHAMMA HUKUM YANG ABADI
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
DHAMMAM CARE SUCARITAM.
Janganlah lalai melakukan Dhamma yang benar.
Khuddakanikaya Dhammapadagatha.
Sdr/i seDhamma sekalian, setelah kita tadi bersama-sama membaca Paritta dan bermedi-tasi, maka selanjutnya marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri kita untuk memasuki aca-ra selanjutnya yaitu pembahasan dan perenungan Dhamma. Sdr/i yang berbahagia, pada hari ini, Dhamma yang akan kita bahas bersama-sama adalah yang berjudul ‘Dhamma Hukum yang Aba-di’. Dan semoga, setelah kita selesai berbuat baik dengan mendengarkan uraian Dhamma ini, ja-sa dari perbuatan baik kita tersebut dapat bermanfaat bagi kita dan bagi semua makhluk yang ada di alam semesta ini.
Sdr/i sekalian, Dhamma yang ditemukan oleh guru agung kita yaitu Sang Buddha Gota-ma, yang kemudian diajarkan kepada kita sekalian umat Buddha, adalah mempunyai satu tujuan, yaitu untuk memberikan santapan nektar pada batin kita agar menjadi sehat, segar, sejahtera, te-guh, dan sentosa. Artinya, juga bertujuan untuk membersihkan batin kita dari noda-noda, seperti antara lain: keserakahan yang tak pernah merasa cukup dan berpuas hati; kebencian yang senan-tiasa menyiksa; pengertian dan pandangan salah yang selalu menimbulkan masalah; kemelekatan tolol yang konyol; keakuan; kesombongan; serta keangkuhan yang menyesatkan; dan lain seba-gainya.
Sdr/i sekalian, Dhamma menjadikan batin kita bebas, merdeka, penuh keseimbangan, pe-nuh toleransi dan harmonis, serta bijaksana, dan juga sekaligus membangkitkan keikhlasan untuk mengabdi demi kesejahteraan, kemajuan, dan manfaat orang banyak. Sdr/i sekalian, untuk men-capai keadaan batin yang sedemikian itu, kita memerlukan sarana yang sangat membantu usaha kita tersebut, yaitu: 1. Keyakinan, 2. Semangat, 3. Perhatian, 4. Konsentrasi, dan 5. Kebijaksana-an yang semua itu dinamakan ‘Lima Kekuatan’, yang amat ampuh untuk membantu perjuangan kita dalam hal mengembangkan kebajikan.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, keyakinan muncul dan berkembang karena kita terus menerus melaksanakan kebajikan seperti berdana, ibadah agama, dan moral agama yang baik. Sedangkan semangat, perhatian, dan konsentrasi, muncul dan berkembang karena kita rajin ber-meditasi. Dan akhirnya, kebijaksanaan akan berkembang karena kita taat melaksanakan moral agama dan rajin bermeditasi.
Sdr/i, keyakinan adalah kekayaan batin, moral (Sila) adalah ibarat pakaian indah yang ki-ta kenakan pada badan dan membuat badan kita menjadi indah pula. Kebajikan moral, kegunaan-nya adalah untuk mencegah, menahan, memutuskan, serta mengendalikan ucapan dan perbuatan yang jahat, salah, dan merugikan. Dan sebaliknya, menjaga dan meluruskan ucapan dan perbuat-an menjadi selalu berguna dan bermanfaat. Inilah kebajikan moral, namun masih belum merupa-kan kebajikan yang tertinggi.
Selanjutnya adalah semangat. Semangat di sini berarti tekun, rajin, ulet, keras hati, berte-kad teguh, berani, dan tidak henti-hentinya memperjuangkan kebajikan. Inilah yang dimaksud sebagai semangat. Sedangkan perhatian penuh, berarti selalu waspada dan mengendalikan pikir-an, ucapan, dan perbuatan agar jangan sampai menyimpang dari sasaran kebajikan. Jadi, selalu menyadari apa yang baik dan yang buruk, serta memiliki sikap yang lepas dari kejahatan dan ke-tololan (kegelapan batin).
Sekarang tentang konsentrasi. Konsentrasi berarti menjadikan pikiran terpusat teguh pada satu obyek. Jadi, pikiran tidak tumpul, tertutup, lamban atau asyik mengembara pada keinginan-keinginan yang lampau dan yang akan datang, melainkan pikiran menjadi stabil, mantap, teguh terpusat, dan tak tergoyahkan.
Sdr/i seDhamma sekalian, semangat, perhatian, dan konsentrasi itu merupakan bantuan kekuatan tritunggal yang sanggup meningkatkan batin kita yang masih duniawi sekali, menjadi lebih tinggi dan lebih murni. Batin kita menjadi tidak begitu tertarik lagi pada kesenangan-kese-nangan inderawi yang bernilai rendah dan kekanak-kanakan. Inilah batin yang sudah meningkat maju, walaupun kita tidak menjadi bhikkhu atau tidak tinggal di vihara; atau, walaupun kita ma-sih berumahtangga dan bekerja seperti biasa.
Sdr/i yang berbahagia, yang terakhir, yaitu kebijaksanaan, yang digolongkan pada keba-jikan tertinggi, adalah dapat muncul dan berkembang karena kita tekun dan ulet melaksanakan moral agama dan bermeditasi sehingga mampu mencapai tingkat pemusatan pikiran yang perta-ma, yang kedua, yang ketiga, dan yang keempat. Atau, bila dalam praktik meditasi khusus, telah mencapai tingkat pengetahuan spiritual yang tinggi (Bana), di mana sang batin dapat melihat dua aspek dari sang pikiran, yaitu sang pikiran yang terus menerus mengalami perubahan (muncul dan padam), dan sang pikiran yang ‘menembus’ Nibbana yang tidak mengalami perubahan.
Sdr/i seDhamma sekalian, sekarang, mengapa kita umat Buddha harus menggunakan Dhamma untuk mencapai keadaan batin yang sedemikian itu? Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita terlebih dahulu berusaha memahami dengan baik tentang arti, makna, hakikat, dan manfaat dari Dhamma itu; kemudian tentang alasan mengapa kita harus belajar Dhamma, dan kemudian mempraktikkannya.
Sdr/i seDhamma, adalah rahasia alam yang harus dimengerti untuk tujuan meningkatkan kehidupan kita ini agar dapat meraih kebijaksanaan dan kebahagiaan tertinggi; yaitu suatu keada-an kehidupan yang dapat mengatasi dan mengeliminir semua problem, masalah, ketidakpuasan, konflik, derita, sedih, takut, cemas, agitasi, frustasi, dan lain sebagainya. Hidup ini, terutama da-lam konteks Dhamma, adalah peristiwa proses alam yang disebut Dhamma Jati, yaitu sesuatu yang timbul dari dan oleh dirinya sendiri, oleh hukum-hukum alam yang terkandung di dalam dirinya sendiri. Nah, Sdr/i sekalian, rahasia dari alam kehidupan atau Dhamma ini, mempunyai empat aspek yaitu sebagai berikut: 1. Alam itu sendiri, 2. Hukum alam, 3. Tingkah laku kita yang sesuai atau tidak sesuai dengan hukum alam itu, dan 4. Buah atau akibat yang muncul kare-na tingkah laku tersebut tadi.
Jadi, pahamilah Dhamma yang berada pada jasmani dan batin yang kita anggap sebagai diri kita sendiri ini. Di situ terdapat hukum alam yang mengontrol hidup dan kehidupan ini. Pi-kiran, ucapan, dan perbuatan kita harus sesuai dan selaras dengan hukum alam, sehingga akan berakibat hidup sejahtera, tenang, damai, dan bahagia. Akan tetapi, bila pikiran, ucapan, dan per-buatan kita tidak sesuai, tidak selaras, dan bertentangan dengan hukum alam, maka akibatnya adalah penderitaan, ketidakpuasan, banyak problem atau masalah, sedih, takut, cemas, konflik, frustasi, dan sebagainya. Jadi, jelas dan terang sekali, bahwa dalam diri kita masing-masing ini berlakulah empat aspek Dhamma tersebut dan saling berkaitan.
Sdr/i sekalian, apabila kita menyelidiki dengan seksama ke empat aspek Dhamma ini se-cara komplit, kita akhirnya akan mengerti bahwa hidup dan kehidupan ini adalah semata-mata hanya perwujudan dari empat aspek Dhamma atau rahasia dari alam kehidupan tersebut tadi. Jadi, itulah alasannya mengapa kita sebaiknya mengerti dan menghayati Dhamma, kemudian mengamalkannya sebaik mungkin demi kemajuan dan peningkatan hidup kita ini, sampai akhir-nya nanti mampu mengatasi semua bentuk derita dan ketidakpuasan.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, ada empat cara yang sangat bermanfaat untuk dapat berhasil meningkatkan kehidupan kita ini. Ke empat cara tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mencegah munculnya sesuatu yang jahat, yang membahayakan, atau merusak kehidupan kita.
2. Mengusir atau menghancurkan sesuatu yang jahat, yang buruk, yang telah muncul pada diri kita.
3. Memperbanyak kebajikan atau melakukan hal yang bermanfaat untuk pengembangan diri kita.
4. Mempertahankan dan mengembangkan hal-hal yang baik, bermanfaat untuk pengembangan diri kita.
Sdr/i, selanjutnya hal yang sangat penting, bahkan yang akan menjadi kunci kesuksesan kita dalam mempraktikkan Dhamma, adalah menelusuri secara lebih mendalam akan Kebenaran Mutlak dari Dhamma ini, yang berarti menyelidiki dan mempelajari rahasia tertinggi dari alam ini. Dengan memiliki pengetahuan ini, kita dapat mengarahkan kehidupan kita dengan lebih baik. Sdr/i, rahasia kebenaran hukum alam ini ternyata adalah Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata yang selalu mengontrol hidup dan kehidupan ini. Anicca berarti bahwa segala sesuatu yang muncul karena adanya sebab, adanya syarat atau kondisi, adalah tidak kekal, mengalami perubahan terus menerus, yaitu timbul dan padam, lahir dan mati. Dukkha berarti bahwa segala sesuatu yang berubah-ubah tadi adalah tidak dapat memuaskan keinginan kita, sehingga timbul-lah ketidakpuasan, problem atau masalah, frustasi, konflik, kesedihan, dan derita. Sedangkan Anatta berarti bahwa segala sesuatu dalam arti Kebenaran Tertinggi, adalah ‘bukan aku’, ‘bukan milikku’, ‘bukan kepunyaanku yang mutlak’. Bolehlah disimpulkan bahwa apa yang kita anggap sebagai ‘milik’ itu sebenarnya hanyalah sekedar hak pakai, hak guna, hak usaha, atau hak kum-pul bersama, yang berlaku hanya untuk waktu yang sementara. Kemudian Subbata berarti bahwa segala sesuatu itu adalah kosong dari ‘aku’. Dan Tathata berarti bahwa proses hidup dan kehi-dupan ini hanyalah begitu-begitu saja, hanya demikian-demikian saja, hanya fenomena sekejap yang timbul dan padam, muncul dan padam dengan sangat cepat, menyajikan ketidakpuasan, bu-kan milik, dan kosong dari ‘aku’.
Sdr/i yang berbahagia, kesemua itu, Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata, ada-lah kebenaran yang mutlak, hukum alam yang berlaku di seluruh alam semesta. Kebenaran ini ti-dak dapat dibantah. Kita umat Buddha harus meresapkan benar-benar pengertian ini dan mengin-safi betul-betul melalui praktik-praktik meditasi khusus. Dan, bila batin kita sudah merealisir dan meyakini sepenuhnya kebenaran hukum alam ini, maka terjadilah proses alkimia spiritual, proses transformasi pada batin kita; yaitu batin kita tidak mau lagi berulah macam-macam, cengeng, ke-kanak-kanakan, melainkan menjadi lebih dewasa, matang dan mantap, serta dapat menempuh ja-lan yang benar. Batin mulai dapat melihat segala sesuatu dalam keadaan proporsi yang sebenar-nya, yaitu apa dan bagaimana keadaan benda-benda serta batin yang sebenarnya. Ternyata ben-da-benda dan batin hanyalah fenomena-fenomena yang berproses timbul dan padam dengan sa-ngat cepat sekali, dan berhakekat Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata. Mereka tidak dapat dinilai sebagai baik atau buruk, benar atau salah, datang atau pergi, menang atau kalah, se-nang atau susah, untung atau rugi, positif atau negatif, apabila kita sudah menginsafi benar-benar Dhamma yang tinggi ini yang disebut Tathata. Adapun pandangan dualisme seperti tadi itu ada-lah konsep pikiran kita yang masih duniawi sekali, masih bersifat kekanak-kanakan, cengeng, dan belum dewasa dalam hal spiritual. Tetapi, pengertian Tathata atau ‘hanya kedemikianan’, akan dapat mengatasi semua artian positif dan negatif, optimisme dan pesimisme, mengatasi se-mua paham dualisme.
Sdr/i sekalian, inilah usaha kita yang pertama untuk mencapai kemajuan selanjutnya, yai-tu batin kita akan mulai melepaskan belenggu-belenggu yang sangat kuat, beban-beban yang sa-ngat berat, yaitu yang berupa kemelekatan-kemelekatan pada apa yang disenangi dan yang tidak disenangi. Kalau dahulu kita sangat melekat kepada apa yang disenangi, menganggapnya sebagai kekal, menyenangkan terus, dan sebagai milikku selamanya, tetapi sekarang dapat melihat de-ngan jelas sebagai Anicca, Dukkha, dan Anatta. Dan, apabila beberapa bentuk kemelekatan atau belenggu, atau beban, telah dapat dilepaskan, maka ini akan mengakibatkan batin menjadi ringan serta nyaman.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah uraian Dhamma untuk perenungan kita pada hari ini, dan semoga dapat bermanfaat bagi kita sendiri maupun bagi kebahagiaan semua makhluk. Terimakasih.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta; semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
___________________
Dipetik dari :
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
DHAMMAM CARE SUCARITAM.
Janganlah lalai melakukan Dhamma yang benar.
Khuddakanikaya Dhammapadagatha.
Sdr/i seDhamma sekalian, setelah kita tadi bersama-sama membaca Paritta dan bermedi-tasi, maka selanjutnya marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri kita untuk memasuki aca-ra selanjutnya yaitu pembahasan dan perenungan Dhamma. Sdr/i yang berbahagia, pada hari ini, Dhamma yang akan kita bahas bersama-sama adalah yang berjudul ‘Dhamma Hukum yang Aba-di’. Dan semoga, setelah kita selesai berbuat baik dengan mendengarkan uraian Dhamma ini, ja-sa dari perbuatan baik kita tersebut dapat bermanfaat bagi kita dan bagi semua makhluk yang ada di alam semesta ini.
Sdr/i sekalian, Dhamma yang ditemukan oleh guru agung kita yaitu Sang Buddha Gota-ma, yang kemudian diajarkan kepada kita sekalian umat Buddha, adalah mempunyai satu tujuan, yaitu untuk memberikan santapan nektar pada batin kita agar menjadi sehat, segar, sejahtera, te-guh, dan sentosa. Artinya, juga bertujuan untuk membersihkan batin kita dari noda-noda, seperti antara lain: keserakahan yang tak pernah merasa cukup dan berpuas hati; kebencian yang senan-tiasa menyiksa; pengertian dan pandangan salah yang selalu menimbulkan masalah; kemelekatan tolol yang konyol; keakuan; kesombongan; serta keangkuhan yang menyesatkan; dan lain seba-gainya.
Sdr/i sekalian, Dhamma menjadikan batin kita bebas, merdeka, penuh keseimbangan, pe-nuh toleransi dan harmonis, serta bijaksana, dan juga sekaligus membangkitkan keikhlasan untuk mengabdi demi kesejahteraan, kemajuan, dan manfaat orang banyak. Sdr/i sekalian, untuk men-capai keadaan batin yang sedemikian itu, kita memerlukan sarana yang sangat membantu usaha kita tersebut, yaitu: 1. Keyakinan, 2. Semangat, 3. Perhatian, 4. Konsentrasi, dan 5. Kebijaksana-an yang semua itu dinamakan ‘Lima Kekuatan’, yang amat ampuh untuk membantu perjuangan kita dalam hal mengembangkan kebajikan.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, keyakinan muncul dan berkembang karena kita terus menerus melaksanakan kebajikan seperti berdana, ibadah agama, dan moral agama yang baik. Sedangkan semangat, perhatian, dan konsentrasi, muncul dan berkembang karena kita rajin ber-meditasi. Dan akhirnya, kebijaksanaan akan berkembang karena kita taat melaksanakan moral agama dan rajin bermeditasi.
Sdr/i, keyakinan adalah kekayaan batin, moral (Sila) adalah ibarat pakaian indah yang ki-ta kenakan pada badan dan membuat badan kita menjadi indah pula. Kebajikan moral, kegunaan-nya adalah untuk mencegah, menahan, memutuskan, serta mengendalikan ucapan dan perbuatan yang jahat, salah, dan merugikan. Dan sebaliknya, menjaga dan meluruskan ucapan dan perbuat-an menjadi selalu berguna dan bermanfaat. Inilah kebajikan moral, namun masih belum merupa-kan kebajikan yang tertinggi.
Selanjutnya adalah semangat. Semangat di sini berarti tekun, rajin, ulet, keras hati, berte-kad teguh, berani, dan tidak henti-hentinya memperjuangkan kebajikan. Inilah yang dimaksud sebagai semangat. Sedangkan perhatian penuh, berarti selalu waspada dan mengendalikan pikir-an, ucapan, dan perbuatan agar jangan sampai menyimpang dari sasaran kebajikan. Jadi, selalu menyadari apa yang baik dan yang buruk, serta memiliki sikap yang lepas dari kejahatan dan ke-tololan (kegelapan batin).
Sekarang tentang konsentrasi. Konsentrasi berarti menjadikan pikiran terpusat teguh pada satu obyek. Jadi, pikiran tidak tumpul, tertutup, lamban atau asyik mengembara pada keinginan-keinginan yang lampau dan yang akan datang, melainkan pikiran menjadi stabil, mantap, teguh terpusat, dan tak tergoyahkan.
Sdr/i seDhamma sekalian, semangat, perhatian, dan konsentrasi itu merupakan bantuan kekuatan tritunggal yang sanggup meningkatkan batin kita yang masih duniawi sekali, menjadi lebih tinggi dan lebih murni. Batin kita menjadi tidak begitu tertarik lagi pada kesenangan-kese-nangan inderawi yang bernilai rendah dan kekanak-kanakan. Inilah batin yang sudah meningkat maju, walaupun kita tidak menjadi bhikkhu atau tidak tinggal di vihara; atau, walaupun kita ma-sih berumahtangga dan bekerja seperti biasa.
Sdr/i yang berbahagia, yang terakhir, yaitu kebijaksanaan, yang digolongkan pada keba-jikan tertinggi, adalah dapat muncul dan berkembang karena kita tekun dan ulet melaksanakan moral agama dan bermeditasi sehingga mampu mencapai tingkat pemusatan pikiran yang perta-ma, yang kedua, yang ketiga, dan yang keempat. Atau, bila dalam praktik meditasi khusus, telah mencapai tingkat pengetahuan spiritual yang tinggi (Bana), di mana sang batin dapat melihat dua aspek dari sang pikiran, yaitu sang pikiran yang terus menerus mengalami perubahan (muncul dan padam), dan sang pikiran yang ‘menembus’ Nibbana yang tidak mengalami perubahan.
Sdr/i seDhamma sekalian, sekarang, mengapa kita umat Buddha harus menggunakan Dhamma untuk mencapai keadaan batin yang sedemikian itu? Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita terlebih dahulu berusaha memahami dengan baik tentang arti, makna, hakikat, dan manfaat dari Dhamma itu; kemudian tentang alasan mengapa kita harus belajar Dhamma, dan kemudian mempraktikkannya.
Sdr/i seDhamma, adalah rahasia alam yang harus dimengerti untuk tujuan meningkatkan kehidupan kita ini agar dapat meraih kebijaksanaan dan kebahagiaan tertinggi; yaitu suatu keada-an kehidupan yang dapat mengatasi dan mengeliminir semua problem, masalah, ketidakpuasan, konflik, derita, sedih, takut, cemas, agitasi, frustasi, dan lain sebagainya. Hidup ini, terutama da-lam konteks Dhamma, adalah peristiwa proses alam yang disebut Dhamma Jati, yaitu sesuatu yang timbul dari dan oleh dirinya sendiri, oleh hukum-hukum alam yang terkandung di dalam dirinya sendiri. Nah, Sdr/i sekalian, rahasia dari alam kehidupan atau Dhamma ini, mempunyai empat aspek yaitu sebagai berikut: 1. Alam itu sendiri, 2. Hukum alam, 3. Tingkah laku kita yang sesuai atau tidak sesuai dengan hukum alam itu, dan 4. Buah atau akibat yang muncul kare-na tingkah laku tersebut tadi.
Jadi, pahamilah Dhamma yang berada pada jasmani dan batin yang kita anggap sebagai diri kita sendiri ini. Di situ terdapat hukum alam yang mengontrol hidup dan kehidupan ini. Pi-kiran, ucapan, dan perbuatan kita harus sesuai dan selaras dengan hukum alam, sehingga akan berakibat hidup sejahtera, tenang, damai, dan bahagia. Akan tetapi, bila pikiran, ucapan, dan per-buatan kita tidak sesuai, tidak selaras, dan bertentangan dengan hukum alam, maka akibatnya adalah penderitaan, ketidakpuasan, banyak problem atau masalah, sedih, takut, cemas, konflik, frustasi, dan sebagainya. Jadi, jelas dan terang sekali, bahwa dalam diri kita masing-masing ini berlakulah empat aspek Dhamma tersebut dan saling berkaitan.
Sdr/i sekalian, apabila kita menyelidiki dengan seksama ke empat aspek Dhamma ini se-cara komplit, kita akhirnya akan mengerti bahwa hidup dan kehidupan ini adalah semata-mata hanya perwujudan dari empat aspek Dhamma atau rahasia dari alam kehidupan tersebut tadi. Jadi, itulah alasannya mengapa kita sebaiknya mengerti dan menghayati Dhamma, kemudian mengamalkannya sebaik mungkin demi kemajuan dan peningkatan hidup kita ini, sampai akhir-nya nanti mampu mengatasi semua bentuk derita dan ketidakpuasan.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, ada empat cara yang sangat bermanfaat untuk dapat berhasil meningkatkan kehidupan kita ini. Ke empat cara tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mencegah munculnya sesuatu yang jahat, yang membahayakan, atau merusak kehidupan kita.
2. Mengusir atau menghancurkan sesuatu yang jahat, yang buruk, yang telah muncul pada diri kita.
3. Memperbanyak kebajikan atau melakukan hal yang bermanfaat untuk pengembangan diri kita.
4. Mempertahankan dan mengembangkan hal-hal yang baik, bermanfaat untuk pengembangan diri kita.
Sdr/i, selanjutnya hal yang sangat penting, bahkan yang akan menjadi kunci kesuksesan kita dalam mempraktikkan Dhamma, adalah menelusuri secara lebih mendalam akan Kebenaran Mutlak dari Dhamma ini, yang berarti menyelidiki dan mempelajari rahasia tertinggi dari alam ini. Dengan memiliki pengetahuan ini, kita dapat mengarahkan kehidupan kita dengan lebih baik. Sdr/i, rahasia kebenaran hukum alam ini ternyata adalah Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata yang selalu mengontrol hidup dan kehidupan ini. Anicca berarti bahwa segala sesuatu yang muncul karena adanya sebab, adanya syarat atau kondisi, adalah tidak kekal, mengalami perubahan terus menerus, yaitu timbul dan padam, lahir dan mati. Dukkha berarti bahwa segala sesuatu yang berubah-ubah tadi adalah tidak dapat memuaskan keinginan kita, sehingga timbul-lah ketidakpuasan, problem atau masalah, frustasi, konflik, kesedihan, dan derita. Sedangkan Anatta berarti bahwa segala sesuatu dalam arti Kebenaran Tertinggi, adalah ‘bukan aku’, ‘bukan milikku’, ‘bukan kepunyaanku yang mutlak’. Bolehlah disimpulkan bahwa apa yang kita anggap sebagai ‘milik’ itu sebenarnya hanyalah sekedar hak pakai, hak guna, hak usaha, atau hak kum-pul bersama, yang berlaku hanya untuk waktu yang sementara. Kemudian Subbata berarti bahwa segala sesuatu itu adalah kosong dari ‘aku’. Dan Tathata berarti bahwa proses hidup dan kehi-dupan ini hanyalah begitu-begitu saja, hanya demikian-demikian saja, hanya fenomena sekejap yang timbul dan padam, muncul dan padam dengan sangat cepat, menyajikan ketidakpuasan, bu-kan milik, dan kosong dari ‘aku’.
Sdr/i yang berbahagia, kesemua itu, Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata, ada-lah kebenaran yang mutlak, hukum alam yang berlaku di seluruh alam semesta. Kebenaran ini ti-dak dapat dibantah. Kita umat Buddha harus meresapkan benar-benar pengertian ini dan mengin-safi betul-betul melalui praktik-praktik meditasi khusus. Dan, bila batin kita sudah merealisir dan meyakini sepenuhnya kebenaran hukum alam ini, maka terjadilah proses alkimia spiritual, proses transformasi pada batin kita; yaitu batin kita tidak mau lagi berulah macam-macam, cengeng, ke-kanak-kanakan, melainkan menjadi lebih dewasa, matang dan mantap, serta dapat menempuh ja-lan yang benar. Batin mulai dapat melihat segala sesuatu dalam keadaan proporsi yang sebenar-nya, yaitu apa dan bagaimana keadaan benda-benda serta batin yang sebenarnya. Ternyata ben-da-benda dan batin hanyalah fenomena-fenomena yang berproses timbul dan padam dengan sa-ngat cepat sekali, dan berhakekat Anicca, Dukkha, Anatta, Subbata, dan Tathata. Mereka tidak dapat dinilai sebagai baik atau buruk, benar atau salah, datang atau pergi, menang atau kalah, se-nang atau susah, untung atau rugi, positif atau negatif, apabila kita sudah menginsafi benar-benar Dhamma yang tinggi ini yang disebut Tathata. Adapun pandangan dualisme seperti tadi itu ada-lah konsep pikiran kita yang masih duniawi sekali, masih bersifat kekanak-kanakan, cengeng, dan belum dewasa dalam hal spiritual. Tetapi, pengertian Tathata atau ‘hanya kedemikianan’, akan dapat mengatasi semua artian positif dan negatif, optimisme dan pesimisme, mengatasi se-mua paham dualisme.
Sdr/i sekalian, inilah usaha kita yang pertama untuk mencapai kemajuan selanjutnya, yai-tu batin kita akan mulai melepaskan belenggu-belenggu yang sangat kuat, beban-beban yang sa-ngat berat, yaitu yang berupa kemelekatan-kemelekatan pada apa yang disenangi dan yang tidak disenangi. Kalau dahulu kita sangat melekat kepada apa yang disenangi, menganggapnya sebagai kekal, menyenangkan terus, dan sebagai milikku selamanya, tetapi sekarang dapat melihat de-ngan jelas sebagai Anicca, Dukkha, dan Anatta. Dan, apabila beberapa bentuk kemelekatan atau belenggu, atau beban, telah dapat dilepaskan, maka ini akan mengakibatkan batin menjadi ringan serta nyaman.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah uraian Dhamma untuk perenungan kita pada hari ini, dan semoga dapat bermanfaat bagi kita sendiri maupun bagi kebahagiaan semua makhluk. Terimakasih.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta; semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
___________________
Dipetik dari :
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
-
CULA SIHANADA
CÌLASÍHANÄDA SUTTA
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
SABBE DHAMMÄ NÄLAÇ ABHINIVESÄYA.
Semua Dhamma mengajarkan hendaknya orang tidak melekat terhadap sesuatu.
Majjhimanikäya Mìlapannäsaka.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan pe-renungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Cìlasíhanäda Sutta’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Cìlasíhanäda Sutta’, yang kami ambil dari kitab Majjhima Nikäya bagian Síhanäda Vagga. Sekarang, marilah kita ikuti bersama-sama pembahasan Sutta ini.
Sdr/i sekalian, pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, di taman milik Anathapindika, di Savatthi. Pada saat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu demikian:”Para bhikkhu”. “Ya, Bhante”, jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata lagi:”Para bhikkhu, hanya di sini ada samana, hanya di sini ada samana kedua, hanya di sini ada samana ketiga, dan hanya di sini ada samana keempat. Dalam ajaran lain tidak ada samana; beginilah hal itu harus diraungkan (síhanäda)”.
Sdr/i yang berbahagia, begitulah Sang Bhagava mulai bersabda kepada para bhikkhu, dan sebelum dilanjutkan, terlebih dahulu kami jelaskan, bahwa yang dimaksud dengan kata ‘samana’ oleh Sang Buddha di sini artinya yaitu Sotapanna. Sedangkan ‘samana kedua’ arti-nya ‘Sakadagami’; ‘samana ketiga’ artinya ‘Anagami’; dan ‘samana keempat’ artinya adalah ‘Arahat’. Sekarang, marilah kita lanjutkan uraian Sutta ini, yaitu lanjutan dari sabda Sang Bhagava tadi.
“Para bhikkhu, mungkin pertapa dari sekte lain ada yang bertanya begini:’Apakah se-babnya maka Anda mengatakan demikian, yaitu bahwa dalam ajaran lain tidak ada samana (orang suci)?’ Untuk itu, pertanyaan tersebut harus dijawab demikian:’Saudara, empat Dhamma telah dinyatakan oleh Sang Bhagava, yaitu:
1. Kami yakin pada guru (Sang Buddha).
2. Kami yakin kepada Dhamma.
3. Kami memiliki Síla yang sempurna.
4. Kami mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma (sahadhammika) apakah mereka umat awam atau pabbajja.
Berdasarkan hal-hal itulah maka kami menyatakan begitu”.
“Namun para bhikkhu, meskipun demikian, para pertapa dari sekte yang lain masih dapat berkata begini:’Kami juga yakin kepada guru, yaitu guru kami. Kami juga yakin kepada Dhamma, yaitu dhamma kami. Síla kami sempurna, yaitu sesuai dengan Síla kami. Dan, kami juga mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja. Jadi, apakah perbedaannya?’
“Para bhikkhu, hal itu harus dijawab dengan bertanya lagi begini:’Apakah tujuannya hanya satu, atau banyak?’ “Mereka pasti akan menjawab dengan benar:’Tujuannya hanya satu’.
“Apakah tujuan itu bebas dari nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, dan kemelekatan?” “Ya, tujuan itu bebas dari nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, dan kemelekatan”.
“Apakah tujuan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan?’ “Ya, tu-juan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan”.
“Demikianlah para bhikkhu, jawab mereka tersebut dengan benar”.
“Tetapi para bhikkhu, meskipun demikian, selanjutnya ada hal-hal yang perlu dijelaskan lagi yaitu sebagai berikut: ada dua ditthi (pandangan), yaitu bhava ditthi (pandangan tentang ada nya makhluk), dan vibhava ditthi (pandangan tanpa ada makhluk).
* Para samana atau brahmana yang berpaham bhava ditthi menentang paham vibhava ditthi.
* Para samana atau brahmana yang berpaham vibhava ditthi menentang paham bhava ditthi.
Para samana dan brahmana yang tidak mengerti sebagaimana adanya tentang sebab, terhenti-nya, kesenangan, bahaya, dan jalan ke luar dari ditthi (pandangan) itu, adalah diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan, tanpa penglihatan, terlibat pro dan kontra, menyenangi dan menikmati perbedaan. Mereka tidak dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka-cita, dan putus asa. Mereka tidak da-pat bebas dari dukkha (penderitaan).
Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana adanya tentang sebab, terhentinya, kesenangan, bahaya, dan jalan ke luar dari dua ditthi (pandangan) itu, adalah tidak diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan. Mereka berpenglihatan, tidak ter libat dalam pro dan kontra, tidak menyenangi dan tidak menikmati perbedaan. Mereka dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka-cita, dan putus asa. Mereka dapat terbebas dari dukkha.
Selanjutnya para bhikkhu, ada empat macam kemelekatan (upadana), yaitu:
1. Kemelekatan pada nafsu indera (kama upadana).
2. Kemelekatan pada pandangan salah (ditthi upadana).
3. Kemelekatan pada upacara dan ritual (silabbata upadana).
4. Kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal (attavada upadana).
Ada samana dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, tetapi tidak secara rinci menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan’ nya itu. Mereka menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera’, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, maupun kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Mengapa demiki-an? Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana adanya tentang tiga macam kemelekatan tersebut. Akibatnya, mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang se-mua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas yang berke-naan dengan nafsu indera saja, tanpa menerangkan tiga macam kemelekatan lainnya.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, . . . . Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu in-dera dan kemelekatan pada pandangan salah., tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mengerti.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, . . . . Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu in-dera, kemelekatan pada pandangan salah, dan kemelekatan pada upacara ritual, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Menga-pa demikian? Karena mereka tidak mengerti.
Dalam ‘Dhammavinaya’ seperti itu, adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan Dhamma, namun tidak terarah dengan benar; pelaksanaan Síla sempurna juga tidak terarah dengan benar; mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja juga tidak terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena Dhamma-vinaya itu salah diuraikan, salah dinyatakan, tanpa tujuan, tidak mengarah pada kedamaian, dan dibabarkan oleh bukan seorang Sammä Sambuddha.
Jika Tathagata, Arahat Sammä Sambuddha, yang membabarkan pengetahuan jelas tentang semua macam kemelekatan tersebut, Beliau tentu dengan sempurna menguraikan semua ma-cam kemelekatan tersebut, yaitu kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandang-an salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, serta kemelekatan tentang adanya jiwa yang kekal.
Dalam ‘Dhammavinaya’ seperti itu, adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan Dhamma yang terarah dengan benar, pelaksanaan Síla sempurna yang terarah dengan benar, mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja yang terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena Dhammavinaya itu benar diuraikan, benar dinyatakan, bertujuan, mengarah pada kedamaian, dan dibabarkan oleh seorang Sam-mä Sambuddha.
Lalu, apa yang dimaksud dengan ‘sumber’ atau sebab, tempat kelahiran, dan yang mempro-duksi empat macam kemelekatan tersebut?
Empat macam kemelekatan itu bersumber atau bersebab dari keinginan (tanha), lahir dari keinginan, dan diproduksi oleh keinginan.
Lalu, apakah sumber atau sebab dari keinginan itu?
Keinginan bersumber atau bersebab dari perasaan (vedana), lahir dari perasaan, dan dipro-duksi oleh perasaan.
Apakah sumber atau sebab dari perasaan itu?
Perasaan bersumber atau bersebab dari kontak (phassa), lahir dari kontak, dan diproduksi oleh kontak.
Apakah sumber atau sebab dari kontak itu?
Kontak bersumber atau bersebab dari enam landasan indera (salayatana), lahir dari enam lan dasan indera, dan diproduksi oleh enam landasan indera.
Apakah sumber atau sebab dari enam landasan indera itu?
Enam landasan indera bersumber atau bersebab dari batin dan jasmani (nama - rupa), lahir dari batin dan jasmani, dan diproduksi oleh batin dan jasmani.
Apakah sumber atau sebab dari batin dan jasmani itu?
Batin dan jasmani bersumber atau bersebab dari kesadaran tumimbal lahir (vinnana), lahir dari kesadaran tumimbal lahir, dan diproduksi oleh kesadaran tumimbal lahir.
Apakah sumber atau sebab dari kesadaran tumimbal lahir itu?
Kesadaran tumimbal lahir bersumber atau bersebab dari bentuk-bentuk perbuatan (sankhara) lahir dari bentuk-bentuk perbuatan, dan diproduksi oleh bentuk-bentuk perbuatan.
Apakah sumber atau sebab dari bentuk-bentuk perbuatan itu?
Bentuk-bentuk perbuatan bersumber atau bersebab dari kebodohan batin (avijja), lahir dari kebodohan batin, dan diproduksi oleh kebodohan batin.
Segera setelah kebodohan batin (avijja) dihentikan dan pengetahuan muncul, maka ia tidak lagi melekat pada nafsu indera, pandangan salah, upacara dan ritual, serta pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Ketika tidak ada kemelekatan, maka ia tidak menderita. Ketika ia ti-dak menderita, maka ia merealisasi Nibbäna: kelahiran telah terhenti, kehidupan suci telah dicapai, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada sesuatu yang melebihi ini”.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Cìlasíhanäda Sutta’, yang kami petik dari kitab Majjhi-ma Nikäya bagian Síhanäda Vagga, Sutta ke 11. Semoga dengan telah dibahasnya Sutta ini bersama-sama, maka kebijaksanaan dan kebahagiaan kita menjadi bertambah sehingga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan kita sendiri maupun bagi kesejahteraan semua makhluk.
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Buku Acuan:
1. Kitab Suci Sutta Pitaka II, Materi Pokok Universitas Terbuka modul 7 - 12, disusun oleh Corneles Wowor, hal. 35 - 37.
(Catatan: dengan gubahan seperlunya).
2. Dhamma Vibhaga Penggolongan Dhamma II, disusun oleh Vajirananavarorasa, alih ba-hasa Bhikkhu Jeto, hal. v.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammä Sambuddhassa (3x).
SABBE DHAMMÄ NÄLAÇ ABHINIVESÄYA.
Semua Dhamma mengajarkan hendaknya orang tidak melekat terhadap sesuatu.
Majjhimanikäya Mìlapannäsaka.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah sekarang kita pusatkan perhatian dan konsentrasi kita guna mengadakan pembahasan dan pe-renungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Cìlasíhanäda Sutta’. Sekali lagi Sdr/i, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Cìlasíhanäda Sutta’, yang kami ambil dari kitab Majjhima Nikäya bagian Síhanäda Vagga. Sekarang, marilah kita ikuti bersama-sama pembahasan Sutta ini.
Sdr/i sekalian, pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, di taman milik Anathapindika, di Savatthi. Pada saat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu demikian:”Para bhikkhu”. “Ya, Bhante”, jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata lagi:”Para bhikkhu, hanya di sini ada samana, hanya di sini ada samana kedua, hanya di sini ada samana ketiga, dan hanya di sini ada samana keempat. Dalam ajaran lain tidak ada samana; beginilah hal itu harus diraungkan (síhanäda)”.
Sdr/i yang berbahagia, begitulah Sang Bhagava mulai bersabda kepada para bhikkhu, dan sebelum dilanjutkan, terlebih dahulu kami jelaskan, bahwa yang dimaksud dengan kata ‘samana’ oleh Sang Buddha di sini artinya yaitu Sotapanna. Sedangkan ‘samana kedua’ arti-nya ‘Sakadagami’; ‘samana ketiga’ artinya ‘Anagami’; dan ‘samana keempat’ artinya adalah ‘Arahat’. Sekarang, marilah kita lanjutkan uraian Sutta ini, yaitu lanjutan dari sabda Sang Bhagava tadi.
“Para bhikkhu, mungkin pertapa dari sekte lain ada yang bertanya begini:’Apakah se-babnya maka Anda mengatakan demikian, yaitu bahwa dalam ajaran lain tidak ada samana (orang suci)?’ Untuk itu, pertanyaan tersebut harus dijawab demikian:’Saudara, empat Dhamma telah dinyatakan oleh Sang Bhagava, yaitu:
1. Kami yakin pada guru (Sang Buddha).
2. Kami yakin kepada Dhamma.
3. Kami memiliki Síla yang sempurna.
4. Kami mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma (sahadhammika) apakah mereka umat awam atau pabbajja.
Berdasarkan hal-hal itulah maka kami menyatakan begitu”.
“Namun para bhikkhu, meskipun demikian, para pertapa dari sekte yang lain masih dapat berkata begini:’Kami juga yakin kepada guru, yaitu guru kami. Kami juga yakin kepada Dhamma, yaitu dhamma kami. Síla kami sempurna, yaitu sesuai dengan Síla kami. Dan, kami juga mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja. Jadi, apakah perbedaannya?’
“Para bhikkhu, hal itu harus dijawab dengan bertanya lagi begini:’Apakah tujuannya hanya satu, atau banyak?’ “Mereka pasti akan menjawab dengan benar:’Tujuannya hanya satu’.
“Apakah tujuan itu bebas dari nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, dan kemelekatan?” “Ya, tujuan itu bebas dari nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, dan kemelekatan”.
“Apakah tujuan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan?’ “Ya, tu-juan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan”.
“Demikianlah para bhikkhu, jawab mereka tersebut dengan benar”.
“Tetapi para bhikkhu, meskipun demikian, selanjutnya ada hal-hal yang perlu dijelaskan lagi yaitu sebagai berikut: ada dua ditthi (pandangan), yaitu bhava ditthi (pandangan tentang ada nya makhluk), dan vibhava ditthi (pandangan tanpa ada makhluk).
* Para samana atau brahmana yang berpaham bhava ditthi menentang paham vibhava ditthi.
* Para samana atau brahmana yang berpaham vibhava ditthi menentang paham bhava ditthi.
Para samana dan brahmana yang tidak mengerti sebagaimana adanya tentang sebab, terhenti-nya, kesenangan, bahaya, dan jalan ke luar dari ditthi (pandangan) itu, adalah diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan, tanpa penglihatan, terlibat pro dan kontra, menyenangi dan menikmati perbedaan. Mereka tidak dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka-cita, dan putus asa. Mereka tidak da-pat bebas dari dukkha (penderitaan).
Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana adanya tentang sebab, terhentinya, kesenangan, bahaya, dan jalan ke luar dari dua ditthi (pandangan) itu, adalah tidak diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan. Mereka berpenglihatan, tidak ter libat dalam pro dan kontra, tidak menyenangi dan tidak menikmati perbedaan. Mereka dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka-cita, dan putus asa. Mereka dapat terbebas dari dukkha.
Selanjutnya para bhikkhu, ada empat macam kemelekatan (upadana), yaitu:
1. Kemelekatan pada nafsu indera (kama upadana).
2. Kemelekatan pada pandangan salah (ditthi upadana).
3. Kemelekatan pada upacara dan ritual (silabbata upadana).
4. Kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal (attavada upadana).
Ada samana dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, tetapi tidak secara rinci menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan’ nya itu. Mereka menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera’, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, maupun kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Mengapa demiki-an? Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana adanya tentang tiga macam kemelekatan tersebut. Akibatnya, mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang se-mua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas yang berke-naan dengan nafsu indera saja, tanpa menerangkan tiga macam kemelekatan lainnya.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, . . . . Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu in-dera dan kemelekatan pada pandangan salah., tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mengerti.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekat-an, . . . . Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu in-dera, kemelekatan pada pandangan salah, dan kemelekatan pada upacara ritual, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Menga-pa demikian? Karena mereka tidak mengerti.
Dalam ‘Dhammavinaya’ seperti itu, adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan Dhamma, namun tidak terarah dengan benar; pelaksanaan Síla sempurna juga tidak terarah dengan benar; mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja juga tidak terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena Dhamma-vinaya itu salah diuraikan, salah dinyatakan, tanpa tujuan, tidak mengarah pada kedamaian, dan dibabarkan oleh bukan seorang Sammä Sambuddha.
Jika Tathagata, Arahat Sammä Sambuddha, yang membabarkan pengetahuan jelas tentang semua macam kemelekatan tersebut, Beliau tentu dengan sempurna menguraikan semua ma-cam kemelekatan tersebut, yaitu kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandang-an salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, serta kemelekatan tentang adanya jiwa yang kekal.
Dalam ‘Dhammavinaya’ seperti itu, adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan Dhamma yang terarah dengan benar, pelaksanaan Síla sempurna yang terarah dengan benar, mencintai saudara-saudara pelaksana Dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbajja yang terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena Dhammavinaya itu benar diuraikan, benar dinyatakan, bertujuan, mengarah pada kedamaian, dan dibabarkan oleh seorang Sam-mä Sambuddha.
Lalu, apa yang dimaksud dengan ‘sumber’ atau sebab, tempat kelahiran, dan yang mempro-duksi empat macam kemelekatan tersebut?
Empat macam kemelekatan itu bersumber atau bersebab dari keinginan (tanha), lahir dari keinginan, dan diproduksi oleh keinginan.
Lalu, apakah sumber atau sebab dari keinginan itu?
Keinginan bersumber atau bersebab dari perasaan (vedana), lahir dari perasaan, dan dipro-duksi oleh perasaan.
Apakah sumber atau sebab dari perasaan itu?
Perasaan bersumber atau bersebab dari kontak (phassa), lahir dari kontak, dan diproduksi oleh kontak.
Apakah sumber atau sebab dari kontak itu?
Kontak bersumber atau bersebab dari enam landasan indera (salayatana), lahir dari enam lan dasan indera, dan diproduksi oleh enam landasan indera.
Apakah sumber atau sebab dari enam landasan indera itu?
Enam landasan indera bersumber atau bersebab dari batin dan jasmani (nama - rupa), lahir dari batin dan jasmani, dan diproduksi oleh batin dan jasmani.
Apakah sumber atau sebab dari batin dan jasmani itu?
Batin dan jasmani bersumber atau bersebab dari kesadaran tumimbal lahir (vinnana), lahir dari kesadaran tumimbal lahir, dan diproduksi oleh kesadaran tumimbal lahir.
Apakah sumber atau sebab dari kesadaran tumimbal lahir itu?
Kesadaran tumimbal lahir bersumber atau bersebab dari bentuk-bentuk perbuatan (sankhara) lahir dari bentuk-bentuk perbuatan, dan diproduksi oleh bentuk-bentuk perbuatan.
Apakah sumber atau sebab dari bentuk-bentuk perbuatan itu?
Bentuk-bentuk perbuatan bersumber atau bersebab dari kebodohan batin (avijja), lahir dari kebodohan batin, dan diproduksi oleh kebodohan batin.
Segera setelah kebodohan batin (avijja) dihentikan dan pengetahuan muncul, maka ia tidak lagi melekat pada nafsu indera, pandangan salah, upacara dan ritual, serta pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Ketika tidak ada kemelekatan, maka ia tidak menderita. Ketika ia ti-dak menderita, maka ia merealisasi Nibbäna: kelahiran telah terhenti, kehidupan suci telah dicapai, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada sesuatu yang melebihi ini”.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dham-ma kita pada hari ini yang berjudul ‘Cìlasíhanäda Sutta’, yang kami petik dari kitab Majjhi-ma Nikäya bagian Síhanäda Vagga, Sutta ke 11. Semoga dengan telah dibahasnya Sutta ini bersama-sama, maka kebijaksanaan dan kebahagiaan kita menjadi bertambah sehingga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan kita sendiri maupun bagi kesejahteraan semua makhluk.
Sabbe sattä bhavantu sukhitattä, semoga semua makhluk berbahagia!
Sädhu! Sädhu! Sädhu!
____________________
Buku Acuan:
1. Kitab Suci Sutta Pitaka II, Materi Pokok Universitas Terbuka modul 7 - 12, disusun oleh Corneles Wowor, hal. 35 - 37.
(Catatan: dengan gubahan seperlunya).
2. Dhamma Vibhaga Penggolongan Dhamma II, disusun oleh Vajirananavarorasa, alih ba-hasa Bhikkhu Jeto, hal. v.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
CETASIKA - ABHIDHAMMA
CETASIKA (FAKTOR-FAKTOR BATIN)
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa (3x).
YONISO VICINE DHAMMAM
Periksalah Dhamma dengan amat teliti dan cermat.
Majjhimanikaya Uparipannasaka..
Sdr/i yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah seka-rang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi, guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Cetasika (Faktor-Faktor Batin). Ja-di sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Cetasika (Faktor-Faktor Batin).
Sdr/i sekalian, kita tentu tahu, bahwa yang namanya manusia, seperti kita ini, tentu terdiri dari batin dan jasmani. Jasmani, terbentuk dari perpaduan beberapa unsur materi, yaitu unsur padat, unsur cair, unsur panas, dan unsur gerak. Sedangkan batin, juga merupakan perpaduan dari beberapa unsur batin, yaitu: perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Jadi jelas, bahwa batin kita ternyata juga meru-pakan perpaduan, bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Nah Sdr/i seDhamma, untuk pembahasan kali ini, kami akan menguraikan salah satu dari unsur batin tadi, yaitu yang disebut ‘bentuk-bentuk pikiran’. Alasannya? Karena mengenai bentuk-bentuk pikiran ini, masih jarang sekali dibahas dalam setiap perbincangan Dhamma.
Sdr/i sekalian, yang namanya pikiran, atau kesadaran, yang dalam bahasa Pali disebut Citta, artinya yaitu ‘sadar akan sesuatu’. Jadi, sadar akan sesuatu. Maksudnya, keadaan mengetahui sesuatu atau mengetahui obyek. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran. Jadi, pada ‘satu saat’ kesadaran, hanya bisa ada ‘satu obyek’ saja. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran atau keadaaan mengetahui obyek. Dan, dalam batin manusia, dapat muncul berbagai jenis kesadaran, tergantung dari fenomena yang dialami sewaktu organ-organ indera kita kontak dengan obyeknya masing-masing. Nah, Sdr/i sekalian, setelah kita tahu apa yang dimaksud dengan kesadaran, maka se-karang marilah kita bahas lebih lanjut lagi, yaitu hal-hal apa saja yang bisa membuat terbentuknya suatu kesadaran. Jadi, faktor-faktor apa saja yang diperlukan untuk bisa terwujudnya suatu kesadaran.
Sdr/i seDhamma, ternyata dalam ajaran Buddha Dhamma dijelaskan, bahwa sa-tu kesadaran akan muncul bersamaan dengan faktor-faktor batin atau bentuk-bentuk pikiran, atau yang dalam bahasa Pali disebut Cetasika. Sebenarnya, istilah ‘faktor-faktor batin’ ini lebih tepat digunakan daripada istilah ‘bentuk-bentuk pikiran’. Jadi, satu kesadaran akan muncul bersamaan dengan faktor-faktor batin (Cetasika). Tidak ada suatu kesadaran yang muncul tanpa mengandung faktor-faktor batin. Dengan kata lain, faktor-faktor batin inilah yang sesungguhnya membentuk suatu kesadaran. Fak-tor-faktor batin inilah yang merupakan syarat mutlak bagi terbentuknya suatu kesa-daran. Kemunculan satu jenis kesadaran (Citta), tergantung dari jenis-jenis faktor-faktor batin (Cetasika) yang membentuknya.
Sdr/i seDhamma, di dalam ajaran Buddha Dhamma, ada 52 jenis faktor-faktor batin atau Cetasika. Dari kelimapuluhdua jenis Cetasika ini, apabila dihubungkan de-ngan pembahasan manusia atau makhluk, maka Sabba (pencerapan) dan Vedana (perasaan) sudah merupakan dua Cetasika. Sedangkan 50 buah Cetasika selebihnya, secara kolektif disebut sebagai Savkhara khandha. Namun perlu diketahui, bahwa isti-lah ‘Savkhara’ ini merupakan istilah dalam Buddha Dhamma yang banyak mengan-dung arti sesuai dengan pemakaiannya. Oleh sebab itu, kita hendaknya berhati-hati dalam menggunakan istilah ‘Savkhara’ ini.
Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya marilah kita bahas bersama-sama 52 faktor-faktor batin ini secara lebih seksama. Ke 52 faktor-faktor batin itu adalah:
1. Kontak (Phassa)
2. Perasaan (Vedana)
3. Pencerapan (Sabba)
4. Kehendak (Cetana)
5. Faktor keterpusatan (Ekaggata)
6. Fakor vitalitas psikis (Jivitindriya)
7. Perhatian (Manasikara).
Tujuh jenis faktor batin (Cetasika) ini, yaitu …. , disebut universal atau umum, karena semuanya itu secara umum dijumpai di semua jenis kesadaran (Citta). Hal ini dalam bahasa Pali disebut ‘Sabba-citta-sadharana-cetasika 7’, yang artinya 7 Ceta-sika yang umum terdapat di semua Citta (kesadaran). Jadi, dengan kata lain, setiap ke-sadaran atau Citta, sedikitnya terdiri dari 7 faktor batin (Cetasika) yang umum ter-sebut.
Sdr/i sekalian, selanjutnya, setelah yang 7 macam tadi, di antara 52 faktor batin ini, terdapat enam faktor batin yang disebut ‘khusus’ (Pakinnaka). Mengapa disebut khusus? Karena, mereka tidak selalu ada di dalam setiap Citta (kesadaran). Nah, Ke-enam Cetasika atau faktor batin yang khusus ini adalah:
1. Pengarahan pikiran pada obyek (Vitakka)
2. Perenungan penopang (Vicara)
3. Keputusan (Adhimokkha)
4. Semangat (Viriya)
5. Kegiuran (Piti)
6. Hasrat berbuat (Chanda)
Keenam jenis faktor batin yang khusus ini tidak memihak kepada sisi moral atau pun sisi tak bermoral (immoral), akan tetapi lebih cenderung disebut sebagai ‘unmoral’ atau netral. Namun Sdr/i, apabila ke-enam Cetasika tersebut muncul bersama Akusala Citta (kesadaran tak bermoral), maka mereka menjadi tidak baik (Akusala); dan apabila muncul bersama Kusala Citta (kesadaran yang bermoral), maka mereka akan menjadi baik (Kusala). Jadi, mereka ini tergantung kepada ‘teman-teman’ mereka.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita mengetahui 7 Cetasika yang uni-versal, dan kemudian juga 6 Cetasika yang khusus, marilah kita lanjutkan lagi uraian ini dengan membahas faktor-faktor batin (Cetasika) yang bersifat buruk. (Akusala). Sdr/i, ada 14 macam faktor batin (Cetasika) yang bersifat buruk, yaitu sebagai berikut:
1. Kebodohan batin (Moha)
2. Tidak malu dalam berbuat jahat (Ahirika)
3. Tidak takut akan akibat perbuatan jahat (Anottappa)
4. Kegelisahan (Uddhacca)
5. Keserakahan (Lobha)
6. Pandangan keliru (Ditthi)
7. Kesombongan (Mana)
8. Kebencian (Dosa)
9. Iri hati (Issa)
10. Keegoisan/kekikiran (Macchariya)
11. Kekhawatiran (Kukkucca)
12. Kemalasan (Thina)
13. Kelambanan batin (Middha)
14. Keraguan skeptis (Vicikiccha)
Sdr/i seDhamma, ke 14 faktor batin (Cetasika) ini, bersama-sama dengan 13 Ce tasika yang tadi, yaitu 7 universal dan 6 khusus, akan bergabung dalam berbagai cara dan kombinasi, membentuk atau memproduksi berbagai jenis kesadaran yang tidak baik (Akusala Citta). Jadi, ke 14 Cetasika ini disebut Akusala karena selalu berkaitan/
selalu mengkondisikan timbulnya Akusala Citta (kesadaran yang tidak bermoral).
Sdr/i yang berbahagia, demikianlah tentang 14 faktor batin (Cetasika) yang bu-ruk. Selanjutnya, marilah kita membahas pula tentang faktor-faktor batin yang baik (Kusala). Sdr/i, terdapat 19 faktor batin yang baik atau indah yang disebut ‘Sobhana-cetasika’, yang artinya 19 faktor batin yang baik atau indah, yang terdapat secara umum pada semua kesadaran yang indah (Sobhana Citta). Mereka ini adalah:
1. Keyakinan (Saddha)
2. Perhatian murni (Sati)
3. Malu akan berbuat jahat (Hiri)
4. Takut akan akibat perbuatan jahat (Ottappa)
5. Tidak serakah / dermawan (Alobha)
6. Tidak membenci / cinta kasih (Adosa)
7. Keseimbangan batin (Tatramajjhattata)
8. Ketenangan / kesabaran bentuk batin (Kaya-passadhi)
9. Ketenangan / kesabaran kesadaran (Citta-passadhi)
10. Keringanan bentuk batin (Kaya-lahuta)
11. Keringanan kesadaran (Citta-lahuta)
12. Sifat menurut bentuk batin (Kaya-muduta)
13. Sifat menurut kesadaran (Citta-muduta)
14. Sifat adaptasi bentuk batin (Kaya-kammabbata)
15. Sifat adaptasi kesadaran (Citta-kammabbata)
16. Kemampuan / keahlian bentuk batin (Kaya-pagubbata)
17. Kemampuan / keahlian kesadaran (Citta-pagubbata)
18. Ketulusan bentuk batin (Kayujukata)
19. Ketulusan kesadaran (Cittujukata)
Sdr/i seDhamma, demikianlah tentang 19 faktor batin yang indah yang terdapat di semua kesadaran yang baik atau yang disebut ‘Sobhana-cetasika’. Dan selanjutnya, masih ada lagi tiga faktor batin dalam berpantang, atau yang disebut sebagai Virati Cetasika. Tiga faktor batin ini yaitu:
1. Berbicara benar (Samma-vaca)
2. Berbuat benar (Samma-kammanta)
3. Berpenghidupan benar (Samma-ajiva)
Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya lagi, masih ada dua Cetasika atau dua faktor batin yang disebut faktor batin tanpa batas atau Appamabba Cetasika. Kedua faktor batin ini adalah:
1. Belas kasihan (Karuna)
2. Simpati akan kebahagiaan makhluk lain (Mudita)
Sdr/i, Karuna dan Mudita ini disebut sebagai faktor batin tanpa batas karena mereka memiliki obyek (Arammana) yang tanpa batas. Dan selanjutnya, masih ada satu faktor batin lagi yang disebut faktor batin kebijaksanaan (Pabba). Kebijaksanaan (Pabba) adalah faktor batin yang baik serta bermoral yang ke-25. Jadi Sdr/i sekalian, semua tadi, kalau dijumlahkan, terdapat 25 faktor batin yang indah (Sobhana Ceta-sika).
Sdr/i sekalian, selanjutnya, supaya tidak terlalu bingung, secara garis besar, faktor-faktor batin tadi dapat diringkas sebagai berikut ini:
- ada 13 Cetasika yang bersifat tidak baik pun tidak buruk, kemudian
- ada 14 Cetasika yang bersifat buruk, dan
- ada 25 Cetasika yang bersifat indah dan baik
Cetasika-cetasika tersebut muncul berkelompok dengan kombinasi tertentu di dalam batin kita.
Sdr/i seDhamma, langkah selanjutnya, untuk lebih mematangkan pemahaman kita, marilah sekali lagi kita melihat bagaimana satu kesadaran atau Citta muncul, dan apa yang sesungguhnya menyusun kesadaran (Citta) itu. Sdr/i, kebutuhan/perlengkap-an awal tertentu penting sekali untuk dipenuhi bagi munculnya suatu kesadaran. Misal nya, harus terdapat kontak (Phassa); harus ada perasaan (Vedana) terhadap obyek; ha-rus terdapat pencerapan (Sabba) terhadap obyek; dan harus ada beberapa faktor batin lain. Dalam hal ini, setiap kesadaran (Citta), sedikitnya terdiri dari 7 faktor batin (Ce-tasika) yaitu:
1. Kontak (Phassa)
2. Perasaan (Vedana)
3. Pencerapan (Sabba)
4. Kehendak (Cetana)
5. Faktor keterpusatan (Ekaggata)
6. Fakor vitalitas psikis (Jivitindriya)
7. Perhatian (Manasikara).
Ketujuh faktor batin ini disebut ‘universal’ (Sabba-citta-sadharana) karena me-reka pasti muncul di semua jenis kesadaran (Citta). Jadi, Citta atau kesadaran apa saja, pasti mengandung 7 faktor batin ini. Selanjutnya, ada faktor batin yang tidak berpihak pada segi moral maupun immoral, yaitu yang disebut Pakinnaka Cetasika atau faktor batin khusus. Faktor batin khusus ini ada 6, yaitu:
1. Pengarahan pikiran pada obyek (Vitakka)
2. Perenungan penopang (Vicara)
3. Keputusan (Adhimokkha)
4. Semangat (Viriya)
5. Kegiuran (Piti)
6. Hasrat berbuat (Chanda)
Enam jenis faktor batin ini disebut ‘khusus’ karena fungsinya tergantung kepa-da faktor batin lain yang bersekutu dengannya, baik faktor batin lain itu bersifat mo-ral maupun immoral. Nah, ke-13 faktor batin tadi, yaitu 7 universal dan 6 khusus, apa-bila bercampur dengan 14 Akusala Cetasika dalam berbagai kombinasi, tergantung persepsi yang dialami dari waktu ke waktu, maka akan muncul berbagai jenis kesa-daran yang buruk / tak bermoral / immoral (Akusala Citta). Sebaliknya, apabila ke-13 faktor batin tadi bercampur dalam berbagai kombinasi dengan Sobhana Cetasika (fak-tor batin yang indah dan baik), maka akan muncul kesadaran yang indah (Sobhana Citta). Nah, hal yang harus diperhatikan pada tahap ini yaitu, bahwa ke-19 jenis faktor indah (Sobhana Cetasika) yang pertama tadi, semuanya pasti hadir. Jadi, tanpa ke-19 faktor batin indah ini, maka tidak mungkin muncul kesadaran indah bermoral. Dengan kata lain, setiap Sobhana Citta, harus dan pasti mengandung ke-19 belas jenis Cetasi-ka yang indah ini.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Cetasika atau Fakor-Faktor Batin’. Semoga semua yang telah kita lakukan ini dapat menambah pengetahuan Dhamma kita. Dan, bila ada pertanyaan, marilah kita diskusikan bersama-sama setelah selesainya kebakti-an ini. Terimakasih.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa (3x).
YONISO VICINE DHAMMAM
Periksalah Dhamma dengan amat teliti dan cermat.
Majjhimanikaya Uparipannasaka..
Sdr/i yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah seka-rang kita mengarahkan perhatian dan konsentrasi, guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma, yang pada hari ini berjudul ‘Cetasika (Faktor-Faktor Batin). Ja-di sekali lagi, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Cetasika (Faktor-Faktor Batin).
Sdr/i sekalian, kita tentu tahu, bahwa yang namanya manusia, seperti kita ini, tentu terdiri dari batin dan jasmani. Jasmani, terbentuk dari perpaduan beberapa unsur materi, yaitu unsur padat, unsur cair, unsur panas, dan unsur gerak. Sedangkan batin, juga merupakan perpaduan dari beberapa unsur batin, yaitu: perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Jadi jelas, bahwa batin kita ternyata juga meru-pakan perpaduan, bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Nah Sdr/i seDhamma, untuk pembahasan kali ini, kami akan menguraikan salah satu dari unsur batin tadi, yaitu yang disebut ‘bentuk-bentuk pikiran’. Alasannya? Karena mengenai bentuk-bentuk pikiran ini, masih jarang sekali dibahas dalam setiap perbincangan Dhamma.
Sdr/i sekalian, yang namanya pikiran, atau kesadaran, yang dalam bahasa Pali disebut Citta, artinya yaitu ‘sadar akan sesuatu’. Jadi, sadar akan sesuatu. Maksudnya, keadaan mengetahui sesuatu atau mengetahui obyek. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran. Jadi, pada ‘satu saat’ kesadaran, hanya bisa ada ‘satu obyek’ saja. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran atau keadaaan mengetahui obyek. Dan, dalam batin manusia, dapat muncul berbagai jenis kesadaran, tergantung dari fenomena yang dialami sewaktu organ-organ indera kita kontak dengan obyeknya masing-masing. Nah, Sdr/i sekalian, setelah kita tahu apa yang dimaksud dengan kesadaran, maka se-karang marilah kita bahas lebih lanjut lagi, yaitu hal-hal apa saja yang bisa membuat terbentuknya suatu kesadaran. Jadi, faktor-faktor apa saja yang diperlukan untuk bisa terwujudnya suatu kesadaran.
Sdr/i seDhamma, ternyata dalam ajaran Buddha Dhamma dijelaskan, bahwa sa-tu kesadaran akan muncul bersamaan dengan faktor-faktor batin atau bentuk-bentuk pikiran, atau yang dalam bahasa Pali disebut Cetasika. Sebenarnya, istilah ‘faktor-faktor batin’ ini lebih tepat digunakan daripada istilah ‘bentuk-bentuk pikiran’. Jadi, satu kesadaran akan muncul bersamaan dengan faktor-faktor batin (Cetasika). Tidak ada suatu kesadaran yang muncul tanpa mengandung faktor-faktor batin. Dengan kata lain, faktor-faktor batin inilah yang sesungguhnya membentuk suatu kesadaran. Fak-tor-faktor batin inilah yang merupakan syarat mutlak bagi terbentuknya suatu kesa-daran. Kemunculan satu jenis kesadaran (Citta), tergantung dari jenis-jenis faktor-faktor batin (Cetasika) yang membentuknya.
Sdr/i seDhamma, di dalam ajaran Buddha Dhamma, ada 52 jenis faktor-faktor batin atau Cetasika. Dari kelimapuluhdua jenis Cetasika ini, apabila dihubungkan de-ngan pembahasan manusia atau makhluk, maka Sabba (pencerapan) dan Vedana (perasaan) sudah merupakan dua Cetasika. Sedangkan 50 buah Cetasika selebihnya, secara kolektif disebut sebagai Savkhara khandha. Namun perlu diketahui, bahwa isti-lah ‘Savkhara’ ini merupakan istilah dalam Buddha Dhamma yang banyak mengan-dung arti sesuai dengan pemakaiannya. Oleh sebab itu, kita hendaknya berhati-hati dalam menggunakan istilah ‘Savkhara’ ini.
Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya marilah kita bahas bersama-sama 52 faktor-faktor batin ini secara lebih seksama. Ke 52 faktor-faktor batin itu adalah:
1. Kontak (Phassa)
2. Perasaan (Vedana)
3. Pencerapan (Sabba)
4. Kehendak (Cetana)
5. Faktor keterpusatan (Ekaggata)
6. Fakor vitalitas psikis (Jivitindriya)
7. Perhatian (Manasikara).
Tujuh jenis faktor batin (Cetasika) ini, yaitu …. , disebut universal atau umum, karena semuanya itu secara umum dijumpai di semua jenis kesadaran (Citta). Hal ini dalam bahasa Pali disebut ‘Sabba-citta-sadharana-cetasika 7’, yang artinya 7 Ceta-sika yang umum terdapat di semua Citta (kesadaran). Jadi, dengan kata lain, setiap ke-sadaran atau Citta, sedikitnya terdiri dari 7 faktor batin (Cetasika) yang umum ter-sebut.
Sdr/i sekalian, selanjutnya, setelah yang 7 macam tadi, di antara 52 faktor batin ini, terdapat enam faktor batin yang disebut ‘khusus’ (Pakinnaka). Mengapa disebut khusus? Karena, mereka tidak selalu ada di dalam setiap Citta (kesadaran). Nah, Ke-enam Cetasika atau faktor batin yang khusus ini adalah:
1. Pengarahan pikiran pada obyek (Vitakka)
2. Perenungan penopang (Vicara)
3. Keputusan (Adhimokkha)
4. Semangat (Viriya)
5. Kegiuran (Piti)
6. Hasrat berbuat (Chanda)
Keenam jenis faktor batin yang khusus ini tidak memihak kepada sisi moral atau pun sisi tak bermoral (immoral), akan tetapi lebih cenderung disebut sebagai ‘unmoral’ atau netral. Namun Sdr/i, apabila ke-enam Cetasika tersebut muncul bersama Akusala Citta (kesadaran tak bermoral), maka mereka menjadi tidak baik (Akusala); dan apabila muncul bersama Kusala Citta (kesadaran yang bermoral), maka mereka akan menjadi baik (Kusala). Jadi, mereka ini tergantung kepada ‘teman-teman’ mereka.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah kita mengetahui 7 Cetasika yang uni-versal, dan kemudian juga 6 Cetasika yang khusus, marilah kita lanjutkan lagi uraian ini dengan membahas faktor-faktor batin (Cetasika) yang bersifat buruk. (Akusala). Sdr/i, ada 14 macam faktor batin (Cetasika) yang bersifat buruk, yaitu sebagai berikut:
1. Kebodohan batin (Moha)
2. Tidak malu dalam berbuat jahat (Ahirika)
3. Tidak takut akan akibat perbuatan jahat (Anottappa)
4. Kegelisahan (Uddhacca)
5. Keserakahan (Lobha)
6. Pandangan keliru (Ditthi)
7. Kesombongan (Mana)
8. Kebencian (Dosa)
9. Iri hati (Issa)
10. Keegoisan/kekikiran (Macchariya)
11. Kekhawatiran (Kukkucca)
12. Kemalasan (Thina)
13. Kelambanan batin (Middha)
14. Keraguan skeptis (Vicikiccha)
Sdr/i seDhamma, ke 14 faktor batin (Cetasika) ini, bersama-sama dengan 13 Ce tasika yang tadi, yaitu 7 universal dan 6 khusus, akan bergabung dalam berbagai cara dan kombinasi, membentuk atau memproduksi berbagai jenis kesadaran yang tidak baik (Akusala Citta). Jadi, ke 14 Cetasika ini disebut Akusala karena selalu berkaitan/
selalu mengkondisikan timbulnya Akusala Citta (kesadaran yang tidak bermoral).
Sdr/i yang berbahagia, demikianlah tentang 14 faktor batin (Cetasika) yang bu-ruk. Selanjutnya, marilah kita membahas pula tentang faktor-faktor batin yang baik (Kusala). Sdr/i, terdapat 19 faktor batin yang baik atau indah yang disebut ‘Sobhana-cetasika’, yang artinya 19 faktor batin yang baik atau indah, yang terdapat secara umum pada semua kesadaran yang indah (Sobhana Citta). Mereka ini adalah:
1. Keyakinan (Saddha)
2. Perhatian murni (Sati)
3. Malu akan berbuat jahat (Hiri)
4. Takut akan akibat perbuatan jahat (Ottappa)
5. Tidak serakah / dermawan (Alobha)
6. Tidak membenci / cinta kasih (Adosa)
7. Keseimbangan batin (Tatramajjhattata)
8. Ketenangan / kesabaran bentuk batin (Kaya-passadhi)
9. Ketenangan / kesabaran kesadaran (Citta-passadhi)
10. Keringanan bentuk batin (Kaya-lahuta)
11. Keringanan kesadaran (Citta-lahuta)
12. Sifat menurut bentuk batin (Kaya-muduta)
13. Sifat menurut kesadaran (Citta-muduta)
14. Sifat adaptasi bentuk batin (Kaya-kammabbata)
15. Sifat adaptasi kesadaran (Citta-kammabbata)
16. Kemampuan / keahlian bentuk batin (Kaya-pagubbata)
17. Kemampuan / keahlian kesadaran (Citta-pagubbata)
18. Ketulusan bentuk batin (Kayujukata)
19. Ketulusan kesadaran (Cittujukata)
Sdr/i seDhamma, demikianlah tentang 19 faktor batin yang indah yang terdapat di semua kesadaran yang baik atau yang disebut ‘Sobhana-cetasika’. Dan selanjutnya, masih ada lagi tiga faktor batin dalam berpantang, atau yang disebut sebagai Virati Cetasika. Tiga faktor batin ini yaitu:
1. Berbicara benar (Samma-vaca)
2. Berbuat benar (Samma-kammanta)
3. Berpenghidupan benar (Samma-ajiva)
Sdr/i yang berbahagia, selanjutnya lagi, masih ada dua Cetasika atau dua faktor batin yang disebut faktor batin tanpa batas atau Appamabba Cetasika. Kedua faktor batin ini adalah:
1. Belas kasihan (Karuna)
2. Simpati akan kebahagiaan makhluk lain (Mudita)
Sdr/i, Karuna dan Mudita ini disebut sebagai faktor batin tanpa batas karena mereka memiliki obyek (Arammana) yang tanpa batas. Dan selanjutnya, masih ada satu faktor batin lagi yang disebut faktor batin kebijaksanaan (Pabba). Kebijaksanaan (Pabba) adalah faktor batin yang baik serta bermoral yang ke-25. Jadi Sdr/i sekalian, semua tadi, kalau dijumlahkan, terdapat 25 faktor batin yang indah (Sobhana Ceta-sika).
Sdr/i sekalian, selanjutnya, supaya tidak terlalu bingung, secara garis besar, faktor-faktor batin tadi dapat diringkas sebagai berikut ini:
- ada 13 Cetasika yang bersifat tidak baik pun tidak buruk, kemudian
- ada 14 Cetasika yang bersifat buruk, dan
- ada 25 Cetasika yang bersifat indah dan baik
Cetasika-cetasika tersebut muncul berkelompok dengan kombinasi tertentu di dalam batin kita.
Sdr/i seDhamma, langkah selanjutnya, untuk lebih mematangkan pemahaman kita, marilah sekali lagi kita melihat bagaimana satu kesadaran atau Citta muncul, dan apa yang sesungguhnya menyusun kesadaran (Citta) itu. Sdr/i, kebutuhan/perlengkap-an awal tertentu penting sekali untuk dipenuhi bagi munculnya suatu kesadaran. Misal nya, harus terdapat kontak (Phassa); harus ada perasaan (Vedana) terhadap obyek; ha-rus terdapat pencerapan (Sabba) terhadap obyek; dan harus ada beberapa faktor batin lain. Dalam hal ini, setiap kesadaran (Citta), sedikitnya terdiri dari 7 faktor batin (Ce-tasika) yaitu:
1. Kontak (Phassa)
2. Perasaan (Vedana)
3. Pencerapan (Sabba)
4. Kehendak (Cetana)
5. Faktor keterpusatan (Ekaggata)
6. Fakor vitalitas psikis (Jivitindriya)
7. Perhatian (Manasikara).
Ketujuh faktor batin ini disebut ‘universal’ (Sabba-citta-sadharana) karena me-reka pasti muncul di semua jenis kesadaran (Citta). Jadi, Citta atau kesadaran apa saja, pasti mengandung 7 faktor batin ini. Selanjutnya, ada faktor batin yang tidak berpihak pada segi moral maupun immoral, yaitu yang disebut Pakinnaka Cetasika atau faktor batin khusus. Faktor batin khusus ini ada 6, yaitu:
1. Pengarahan pikiran pada obyek (Vitakka)
2. Perenungan penopang (Vicara)
3. Keputusan (Adhimokkha)
4. Semangat (Viriya)
5. Kegiuran (Piti)
6. Hasrat berbuat (Chanda)
Enam jenis faktor batin ini disebut ‘khusus’ karena fungsinya tergantung kepa-da faktor batin lain yang bersekutu dengannya, baik faktor batin lain itu bersifat mo-ral maupun immoral. Nah, ke-13 faktor batin tadi, yaitu 7 universal dan 6 khusus, apa-bila bercampur dengan 14 Akusala Cetasika dalam berbagai kombinasi, tergantung persepsi yang dialami dari waktu ke waktu, maka akan muncul berbagai jenis kesa-daran yang buruk / tak bermoral / immoral (Akusala Citta). Sebaliknya, apabila ke-13 faktor batin tadi bercampur dalam berbagai kombinasi dengan Sobhana Cetasika (fak-tor batin yang indah dan baik), maka akan muncul kesadaran yang indah (Sobhana Citta). Nah, hal yang harus diperhatikan pada tahap ini yaitu, bahwa ke-19 jenis faktor indah (Sobhana Cetasika) yang pertama tadi, semuanya pasti hadir. Jadi, tanpa ke-19 faktor batin indah ini, maka tidak mungkin muncul kesadaran indah bermoral. Dengan kata lain, setiap Sobhana Citta, harus dan pasti mengandung ke-19 belas jenis Cetasi-ka yang indah ini.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, demikianlah pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yang berjudul ‘Cetasika atau Fakor-Faktor Batin’. Semoga semua yang telah kita lakukan ini dapat menambah pengetahuan Dhamma kita. Dan, bila ada pertanyaan, marilah kita diskusikan bersama-sama setelah selesainya kebakti-an ini. Terimakasih.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
____________________
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
Senin, 03 Maret 2008
TIRATANA
IV. T I R A T A N A
1. Arti Tiratana dan mengapa yakin pada Tiratana
A. Artinya ‘tiga permata’ yaitu Buddha (sebagai guru), Dhamma (sebagai ajaran), dan Sangha (sebagai siswa yang berhasil).
B. Jadi, ada siswa yang berhasil sebagai bukti kebenaran dari ajaran sang guru.
Oleh karena ada siswa yang berhasil inilah maka kita mau meyakini Tiratana, mau menja-dikan Tiratana sebagai ‘perlindungan’ kita.
C. Dikatakan sebagai permata karena Tiratana nilainya sangat luhur
1) Buddha Nibbana
2) Dhamma Nibbana Nibbana = sangat luhur
3) Sangha Nibbana
2. Beberapa perumpamaan Tiratana
Buddha, Dhamma, dan Sangha tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pembahasannya. Jadi, kalau ada guru, maka harus ada ajaran dan juga harus ada siswa yang berhasil untuk membuktikan ke-benaran ajaran sang guru tersebut. Oleh sebab itu, ketiga hal ini saling berkaitan. Dalam Khud-dakanikaya Khuddakapatha dijelaskan beberapa perumpamaan dari Tiratana di antaranya yaitu:
BUDDHA DHAMMA SANGHA
1) Dokter Obat Pasien yang sudah sembuh
2) Matahari Sinar Bumi yang terkena sinar
3) Sopir kapal Kapal Penumpang yang sampai tujuan
4) Penunjuk harta karun Peta Orang yang menemukan harta karun
5) Busur panah Anak panah Sasaran yang terkena anak panah
6) Pelatih kuda Metode melatih Kuda yang terlatih
3. Skema Tiratana (lihat pada lampiran ‘skema’)
4. Penjelasan singkat Tiratana
A. Penegasan arti Ti = tiga (mengapa?) dan Ratana = permata (mengapa?)
B. Kualitas Tiratana
1) Kualitas Buddha ada 9 (Buddhanussati)
2) Kualitas Dhamma ada 6 (Dhammanussati)
3) Kualitas Sangha ada 9 (Sanghanussati)
C. Sammasambuddha
1) Defenisi
a. Orang yang mencapai kebuddhaan
b. Dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain
c. Mengajarkan Dhamma (ajaranNya)
d. Yang diajar dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Kemunculan
a. Dalam satu umur dunia (kappa), paling banyak hanya muncul lima orang Samma-sambuddha
b. Sekali muncul hanya satu orang dalam lingkup satu Buddhajatikkhetta (ribuan tata surya gugus galaxy)
c. Pada saat itu siklus moral manusia sedang bagus (usia manusia rata-rata antara 100 tahun sampai 100.000 tahun)
3) Syarat-syarat menjadi Sammasambuddha
a. Sudah mempunyai simpanan Parami (kesempurnaan kebajikan) yang tingkat biasa sebanyak 100.000 kappa
b. Dia lalu bertekad di depan Sammasambuddha yang ada pada waktu itu
c. Sammasambuddha tersebut lalu memberikan ‘penegasan’
d. Sejak saat itu dia disebut ‘Bodhisatta’ dan harus menyempurnakan Parami-nya lagi untuk dapat menjadi Sammasambuddha
4) Penjelasan Parami (kesempurnaan kebajikan)
SAD PARAMITA DASA PARAMI
a. Dana Dana
Metta
Nekkhamma
b. Sila Sila
Sacca
c. Kshanti Khanti
d. Virya Viriya
Adhitthana
e. Dhyana Upekkha
f. Prajna Panna
Ada 3 (tiga) tingkatan Parami
a. Biasa mengorbankan kedudukan dan harta benda
b. Sedang mengorbankan organ tubuh
c. Tinggi mengorbankan kehidupan
PARAMI SAVAKA BUDDHA PACCEKA BUDDHA SAMMASAMBUDDHA
a. Biasa …… 100.000 kappa
100.000 kappa
b. Sedang …………………. 4 Asankheyya 100.000 kappa
c. Tinggi …………………………………………….
D. Pacceka Buddha
1) Defenisi
a. Orang yang mencapai kebuddhaan
b. Dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain
c. Tidak mengajarkan Dhamma (ajaran)
d. Seandainya mengajar, maka yang diajar tidak mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Kemunculan
a. Muncul pada saat di dunia ini tidak ada ajaran Sammasambuddha
b. Sekali muncul banyak orang
c. Pada saat itu siklus moral manusia sedang tidak bagus
3) Syarat-syarat menjadi Pacceka Buddha
Mempunyai simpanan Parami tingkat biasa dan sedang sebanyak 100.000 kappa
E. Savaka Buddha
1) Defenisi
a. Orang yang mencapai kebuddhaan
b. Karena mempelajari ajaran Sammasambuddha
c. Mengajarkan Dhamma (ajaran)
d. Yang diajar dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Kemunculan
a. Muncul pada saat di dunia ini ada ajaran Sammasambuddha
b. Sekali muncul banyak orang
c. Pada saat itu siklus moral manusia sedang bagus
3) Syarat-syarat menjadi Savaka Buddha
Mempunyai simpanan Parami tingkat biasa sebanyak 100.000 kappa
F. Pariyati Dhamma (teori) lihat pembahasan kitab suci Tipitaka (Pali)
G. Patipati Dhamma (praktik) lihat pembahasan Sila dan Samadhi.
H. Pativeda (hasil penembusan)
1) Magga (jalan kesucian) begitu Magga langsung disusul Phala!
2) Phala (hasil kesucian) (analogi ‘orang melangkah’ atau ‘siswa naik kelas’)
3) Nibbana (tidak berkondisi)
Penjelasan tingkat-tingkat kesucian
Ada 10 (sepuluh) belenggu batin (Dasa Samyojana) yang dipatahkan, yaitu:
BELENGGU BATIN SOTAPANNA SAKADAGAMI ANAGAMI ARAHAT
1. Sakkayaditthi ´ ´ ´ ´
2. Vicikiccha ´ ´ ´ ´
3. Silabbataparamasa ´ ´ ´ ´
4. Patigha/Byapada √ ´ ´
5. Kamaraga √ ´ ´
6. Ruparaga ´
7. Aruparaga ´
8. Mana ´
9. Udaccha ´
10. Avijja ´
I. Sangha (pesamuan)
1) Ariya Sangha pesamuan mereka yang sudah mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Sammuti Sangha pesamuan para bhikkhu yang belum mencapai tingkat kesucian
5. Ungkapan berlindung pada Tiratana
A. Mengucapkan Tisarana (tiga perlindungan)
Buddham saranam gacchami
Dhammam saranam gacchami
Sangham saranam gacchami
Dutiyam’ pi Buddham saranam gacchami
Dutiyam’ pi Dhammam saranam gacchami
Dutiyam’ pi Sangham saranam gacchami
Tatiyam’ pi Buddham saranam gacchami
Tatiyam’ pi Dhammam saranam gacchami
Tatiyam’ pi Sangham saranam gacchami
B. Riwayat pengucapan Tisarana
Ketika 60 Arahat menyebarkan Dhamma di dunia untuk faedah orang banyak (yaitu sesu-dah YA. Yasa dan kawan-kawannya telah mencapai Arahat), supaya praktis mereka diberi kewenangan oleh Sang Buddha untuk mentahbiskan sendiri kepada mereka yang ingin menjadi bhikkhu dengan syarat sebagai berikut:
1) Setelah rambut dan jenggotnya dicukur (jadi, kalau mau menjadi bhikkhu, inilah yang pertama kali dilakukan)
2) Kemudian ia mengenakan jubah kuning
3) Lalu ia memberi hormat (bersujud di kaki bhikkhu), berjongkok (duduk bersimpuh ber-tumpu lutut) sambil berabjali.
4) Kemudian ia harus diberitahu:
“Ucapkanlah demikian:’Saya berlindung kepada Buddha
Saya berlindung kepada Dhamma
Saya berlindung kepada Sangha
Untuk kedua kalinya (idem 3 kalimat di atas)
Untuk ketiga kalinya (idem 3 kalimat di atas)
Cara ini disebut Tisaranagamana Upasampada yang sekarang digunakan untuk pentah-bisan samanera.
Riwayat ini diucapkan oleh Sang Buddha sendiri, bukan oleh siswa Beliau, yaitu terda-pat dalam Khuddakanikaya Khuddakapatha bagian Saranattaya.
C. Aspek-aspek keyakinan
1) Aspek pengertian
2) Aspek kemauan
3) Aspek kebahagiaan
Artinya, kita harus mengerti dulu akan adanya kebenaran, barulah kemudian kita mau me-laksanakan dan kemudian hasil dari praktik/pelaksanaan itulah yang akan membuahkan hasil yaitu kebahagiaan.
D. Makna berlindung pada Tiratana
Maknanya adalah perlindungan yang aktif, artinya hasil usaha kita sendirilah yang dapat melindungi kita. Jadi, mereka yang praktik Dhamma akan terlindungi oleh Dhamma dan yang tidak praktik tidak akan terlindungi. Dhammo have rakkhati dhammacarim, chattam mahantam viya vassakale (Dhamma melindungi seseorang yang melaksanakannya, bagai-kan payung besar di musim hujan).
Analogi: - ingin mencapai tepi seberang
- ingin mencapai puncak gunung
1. Arti Tiratana dan mengapa yakin pada Tiratana
A. Artinya ‘tiga permata’ yaitu Buddha (sebagai guru), Dhamma (sebagai ajaran), dan Sangha (sebagai siswa yang berhasil).
B. Jadi, ada siswa yang berhasil sebagai bukti kebenaran dari ajaran sang guru.
Oleh karena ada siswa yang berhasil inilah maka kita mau meyakini Tiratana, mau menja-dikan Tiratana sebagai ‘perlindungan’ kita.
C. Dikatakan sebagai permata karena Tiratana nilainya sangat luhur
1) Buddha Nibbana
2) Dhamma Nibbana Nibbana = sangat luhur
3) Sangha Nibbana
2. Beberapa perumpamaan Tiratana
Buddha, Dhamma, dan Sangha tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pembahasannya. Jadi, kalau ada guru, maka harus ada ajaran dan juga harus ada siswa yang berhasil untuk membuktikan ke-benaran ajaran sang guru tersebut. Oleh sebab itu, ketiga hal ini saling berkaitan. Dalam Khud-dakanikaya Khuddakapatha dijelaskan beberapa perumpamaan dari Tiratana di antaranya yaitu:
BUDDHA DHAMMA SANGHA
1) Dokter Obat Pasien yang sudah sembuh
2) Matahari Sinar Bumi yang terkena sinar
3) Sopir kapal Kapal Penumpang yang sampai tujuan
4) Penunjuk harta karun Peta Orang yang menemukan harta karun
5) Busur panah Anak panah Sasaran yang terkena anak panah
6) Pelatih kuda Metode melatih Kuda yang terlatih
3. Skema Tiratana (lihat pada lampiran ‘skema’)
4. Penjelasan singkat Tiratana
A. Penegasan arti Ti = tiga (mengapa?) dan Ratana = permata (mengapa?)
B. Kualitas Tiratana
1) Kualitas Buddha ada 9 (Buddhanussati)
2) Kualitas Dhamma ada 6 (Dhammanussati)
3) Kualitas Sangha ada 9 (Sanghanussati)
C. Sammasambuddha
1) Defenisi
a. Orang yang mencapai kebuddhaan
b. Dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain
c. Mengajarkan Dhamma (ajaranNya)
d. Yang diajar dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Kemunculan
a. Dalam satu umur dunia (kappa), paling banyak hanya muncul lima orang Samma-sambuddha
b. Sekali muncul hanya satu orang dalam lingkup satu Buddhajatikkhetta (ribuan tata surya gugus galaxy)
c. Pada saat itu siklus moral manusia sedang bagus (usia manusia rata-rata antara 100 tahun sampai 100.000 tahun)
3) Syarat-syarat menjadi Sammasambuddha
a. Sudah mempunyai simpanan Parami (kesempurnaan kebajikan) yang tingkat biasa sebanyak 100.000 kappa
b. Dia lalu bertekad di depan Sammasambuddha yang ada pada waktu itu
c. Sammasambuddha tersebut lalu memberikan ‘penegasan’
d. Sejak saat itu dia disebut ‘Bodhisatta’ dan harus menyempurnakan Parami-nya lagi untuk dapat menjadi Sammasambuddha
4) Penjelasan Parami (kesempurnaan kebajikan)
SAD PARAMITA DASA PARAMI
a. Dana Dana
Metta
Nekkhamma
b. Sila Sila
Sacca
c. Kshanti Khanti
d. Virya Viriya
Adhitthana
e. Dhyana Upekkha
f. Prajna Panna
Ada 3 (tiga) tingkatan Parami
a. Biasa mengorbankan kedudukan dan harta benda
b. Sedang mengorbankan organ tubuh
c. Tinggi mengorbankan kehidupan
PARAMI SAVAKA BUDDHA PACCEKA BUDDHA SAMMASAMBUDDHA
a. Biasa …… 100.000 kappa
100.000 kappa
b. Sedang …………………. 4 Asankheyya 100.000 kappa
c. Tinggi …………………………………………….
D. Pacceka Buddha
1) Defenisi
a. Orang yang mencapai kebuddhaan
b. Dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain
c. Tidak mengajarkan Dhamma (ajaran)
d. Seandainya mengajar, maka yang diajar tidak mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Kemunculan
a. Muncul pada saat di dunia ini tidak ada ajaran Sammasambuddha
b. Sekali muncul banyak orang
c. Pada saat itu siklus moral manusia sedang tidak bagus
3) Syarat-syarat menjadi Pacceka Buddha
Mempunyai simpanan Parami tingkat biasa dan sedang sebanyak 100.000 kappa
E. Savaka Buddha
1) Defenisi
a. Orang yang mencapai kebuddhaan
b. Karena mempelajari ajaran Sammasambuddha
c. Mengajarkan Dhamma (ajaran)
d. Yang diajar dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Kemunculan
a. Muncul pada saat di dunia ini ada ajaran Sammasambuddha
b. Sekali muncul banyak orang
c. Pada saat itu siklus moral manusia sedang bagus
3) Syarat-syarat menjadi Savaka Buddha
Mempunyai simpanan Parami tingkat biasa sebanyak 100.000 kappa
F. Pariyati Dhamma (teori) lihat pembahasan kitab suci Tipitaka (Pali)
G. Patipati Dhamma (praktik) lihat pembahasan Sila dan Samadhi.
H. Pativeda (hasil penembusan)
1) Magga (jalan kesucian) begitu Magga langsung disusul Phala!
2) Phala (hasil kesucian) (analogi ‘orang melangkah’ atau ‘siswa naik kelas’)
3) Nibbana (tidak berkondisi)
Penjelasan tingkat-tingkat kesucian
Ada 10 (sepuluh) belenggu batin (Dasa Samyojana) yang dipatahkan, yaitu:
BELENGGU BATIN SOTAPANNA SAKADAGAMI ANAGAMI ARAHAT
1. Sakkayaditthi ´ ´ ´ ´
2. Vicikiccha ´ ´ ´ ´
3. Silabbataparamasa ´ ´ ´ ´
4. Patigha/Byapada √ ´ ´
5. Kamaraga √ ´ ´
6. Ruparaga ´
7. Aruparaga ´
8. Mana ´
9. Udaccha ´
10. Avijja ´
I. Sangha (pesamuan)
1) Ariya Sangha pesamuan mereka yang sudah mencapai tingkat-tingkat kesucian
2) Sammuti Sangha pesamuan para bhikkhu yang belum mencapai tingkat kesucian
5. Ungkapan berlindung pada Tiratana
A. Mengucapkan Tisarana (tiga perlindungan)
Buddham saranam gacchami
Dhammam saranam gacchami
Sangham saranam gacchami
Dutiyam’ pi Buddham saranam gacchami
Dutiyam’ pi Dhammam saranam gacchami
Dutiyam’ pi Sangham saranam gacchami
Tatiyam’ pi Buddham saranam gacchami
Tatiyam’ pi Dhammam saranam gacchami
Tatiyam’ pi Sangham saranam gacchami
B. Riwayat pengucapan Tisarana
Ketika 60 Arahat menyebarkan Dhamma di dunia untuk faedah orang banyak (yaitu sesu-dah YA. Yasa dan kawan-kawannya telah mencapai Arahat), supaya praktis mereka diberi kewenangan oleh Sang Buddha untuk mentahbiskan sendiri kepada mereka yang ingin menjadi bhikkhu dengan syarat sebagai berikut:
1) Setelah rambut dan jenggotnya dicukur (jadi, kalau mau menjadi bhikkhu, inilah yang pertama kali dilakukan)
2) Kemudian ia mengenakan jubah kuning
3) Lalu ia memberi hormat (bersujud di kaki bhikkhu), berjongkok (duduk bersimpuh ber-tumpu lutut) sambil berabjali.
4) Kemudian ia harus diberitahu:
“Ucapkanlah demikian:’Saya berlindung kepada Buddha
Saya berlindung kepada Dhamma
Saya berlindung kepada Sangha
Untuk kedua kalinya (idem 3 kalimat di atas)
Untuk ketiga kalinya (idem 3 kalimat di atas)
Cara ini disebut Tisaranagamana Upasampada yang sekarang digunakan untuk pentah-bisan samanera.
Riwayat ini diucapkan oleh Sang Buddha sendiri, bukan oleh siswa Beliau, yaitu terda-pat dalam Khuddakanikaya Khuddakapatha bagian Saranattaya.
C. Aspek-aspek keyakinan
1) Aspek pengertian
2) Aspek kemauan
3) Aspek kebahagiaan
Artinya, kita harus mengerti dulu akan adanya kebenaran, barulah kemudian kita mau me-laksanakan dan kemudian hasil dari praktik/pelaksanaan itulah yang akan membuahkan hasil yaitu kebahagiaan.
D. Makna berlindung pada Tiratana
Maknanya adalah perlindungan yang aktif, artinya hasil usaha kita sendirilah yang dapat melindungi kita. Jadi, mereka yang praktik Dhamma akan terlindungi oleh Dhamma dan yang tidak praktik tidak akan terlindungi. Dhammo have rakkhati dhammacarim, chattam mahantam viya vassakale (Dhamma melindungi seseorang yang melaksanakannya, bagai-kan payung besar di musim hujan).
Analogi: - ingin mencapai tepi seberang
- ingin mencapai puncak gunung
Kamis, 28 Februari 2008
Bulan Dana Kathina
BULAN DANA, BULAN KATHINA
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
NATTHI CITTE PASANNAMHI APPAKA NAMA DAKKHINA.
Suatu pemberian tak pernah memiliki nilai yang kecil bila diberikan dengan kesungguhan hati.
Khuddakanikaya Vimanavatthu.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah kita se-karang mengarahkan perhatian dan konsentrasi guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Bulan Dana, Bulan Kathina’. Jadi sekali lagi Sdr/i sekalian, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Bulan Dana, Bulan Kathina’, karena berkenaan untuk menyambut bulan Kathina pada tahun ini.
Sdr/i sekalian, istilah ‘bulan dana’ pasti sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling populer adalah bulan dana PMI, di mana pada saat itu PMI mengumpulkan dana dari masyarakat dengan berbagai cara. Ada yang menjual sticker lewat karcis tanda masuk di gedung-ge-dung pertunjukan; ada lagi yang dengan cara meminta sumbangan suka rela dari masyarakat; kemu-dian ada yang dengan cara mengedarkan map-map yang berisi formulir permohonan dana di seko-lahan-sekolahan; atau dengan cara-cara yang lainnya lagi. Sdr/i, kegiatan ini bersifat suka rela dan tidak memaksa. Namun, kalaupun dalam praktiknya ada petugas yang memaksa masyarakat untuk membeli sticker atau barang-barang lainnya tadi, itu merupakan masalah yang lain lagi.
Sdr/i yang berbahagia, di dalam agama Buddha, ternyata juga terdapat yang namanya bulan dana seperti itu walaupun maknanya tentu berbeda. Bulan dana di dalam agama Buddha ini tidak menggunakan istilah ‘bulan dana umat Buddha’ atau ‘bulan berdana bagi umat Buddha’ atau dengan istilah yang lainnya lagi, karena masa satu bulan yang merupakan bulan dana tersebut, sudah dikenal dengan istilah ‘bulan Kathina’ atau ‘masa Kathina’. Bulan Kathina ini selalu hadir antara bulan Ok-tober dan bulan Nopember, yakni setelah ‘masa Vassa’ berakhir. Pada saat tersebut adalah masa yang tepat bagi umat Buddha untuk memberikan dana kepada para bhikkhu yang telah menjalankan Vassa; dan tentang arti ‘masa Vassa’ ini Sdr/i, dahulu sudah pernah dijelaskan, dan nanti dapat dije-laskan lagi dalam diskusi Dhamma kita.
Sdr/i seDhamma sekalian, sebenarnya masa Kathina merupakan bulan terakhir dari musim hujan. Sang Buddha memberikan ijin kepada para bhikkhu bahwa satu bulan terakhir dari musim hujan merupakan waktu untuk mencari kain atau bahan jubah yang baru, guna mengganti jubah lama yang telah robek. Sdr/i sekalian, kalau dibayangkan, memang kehidupan di jaman Sang Bud-dha tentu tidak sama dengan kehidupan di jaman sekarang. Dalam kitab-kitab suci banyak dicerita-kan tentang kehidupan di jaman Sang Buddha ini. Ada orang yang kaya raya, ada raja yang menjadi sponsor atau yang menyokong kehidupan para bhikkhu, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu saja tidak semua bhikkhu hidup dari bantuan orang kaya atau raja yang memerintah.
Sdr/i sekalian, para bhikkhu yang hidup di daerah yang makmur, yang didukung oleh orang kaya atau raja, tentu tidak akan kesulitan untuk mendapatkan empat kebutuhan pokok. Nampaknya umat Buddha pada jaman Sang Buddha ini selalu menyediakan empat kebutuhan pokok tersebut de-ngan baik. Tetapi, untuk jubah, para bhikkhu pada umumnya mengumpulkan kain-kain bekas pem-bungkus mayat. Kain pembungkus mayat ini dikenal dengan nama ‘pamsukula’. Kain-kain tersebut dikumpulkan dan dijahit menurut ketentuan yang ada untuk menjadi jubah. Pembuatan jubah ini bia-sanya dilakukan pada masa Kathina; dan untuk mewarnai serta memotong kain tersebut, diperlukan alat berupa bingkai untuk membentang kain jubah tersebut, bingkai ini juga dikenal dengan nama Kathina.
Sdr/i sekalian, masa Kathina merupakan satu kurun waktu yang cukup baik bagi umat Bud-dha untuk mempraktikkan perbuatan baik terutama dengan cara berdana. Mengapa demikian? Kare-na seperti yang sudah sering kita ketahui, bahwa ladang yang paling baik untuk menerima dana ada-lah Savgha atau persamuan para bhikkhu. Dalam Savghanussati atau perenungan terhadap kualitas Savgha dinyatakan demikian ‘lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta’. Tentu saja banyak juga tempat lain seperti panti asuhan, rumah jompo, dan sebagainya lagi yang juga merupakan tempat-tempat yang cukup baik atau pantas untuk menerima dana.
Sdr/i seDhamma, dalam masa satu bulan tersebut, umat memilih satu hari tertentu untuk me-rayakan upacara Kathina. Pemilihan hari tersebut tergantung dari umat sendiri, di samping juga ke-sediaan para bhikkhu yang akan menghadiri upacara Kathina yang diadakan itu.
Sdr/i sekalian, lalu apa saja yang bisa diberikan atau yang bisa didanakan kepada para bhik-khu pada saat upacara Kathina Puja ini? Sdr/i, pertanyaan ini sering muncul dan kadang-kadang menjadi pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh diri sendiri karena memang tidak tahu jawaban-nya. Sdr/i, untuk hal ini, dana yang dapat kita berikan adalah bisa berupa empat kebutuhan pokok para bhikkhu, yaitu: jubah atau bahan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Empat ke-butuhan pokok tersebut merupakan kebutuhan minimal bagi semua orang. Tetapi, dalam hal ini, pe-ngertian memberikan kebutuhan berupa tempat tinggal di sini bukan berarti membawa rumah BTN atau rumah dengan sistem ‘knock down’ yang kini sedang populer itu. Bukan demikian! Pengertian tempat tinggal di sini berarti ‘kuti’ yang ada di vihara, yang merupakan sumbangan umat ketika da-lam pembangunannya.
Sdr/i sekalian, di samping itu, umat juga dapat memberikan keperluan yang lainnya seperti sabun, sikat gigi, handuk, pasta gigi, dan benda-benda lainnya yang masih bisa dikatakan untuk ke-perluan bhikkhu. Kemudian, banyaknya dana yang kita berikan kepada para bhikkhu tersebut juga tergantung pada pribadi kita sendiri, tergantung pada kerelaan kita, dan faktor-faktor lainnya yang ada di dalam batin kita sendiri.
Sdr/i seDhamma sekalian, akibat banyaknya umat Buddha yang merayakan Kathina ini, maka vihara-vihara yang cukup besar dan terkenal bisa menjadi seperti super market. Sabun, pasta gigi, sikat gigi, handuk, kain putih, dan sebagainya lagi menjadi sangat banyak. Tentu saja hal terse-but tidak semuanya digunakan oleh para bhikkhu, dan tentunya para bhikkhu juga tidak mungkin menjualnya kembali. Akhirnya, dana tersebut disalurkan kembali kepada umat yang memerlukan di daerah-daerah atau diserahkan ke panti asuhan. Oleh karena itu, akhirnya dalam beberapa tahun be-lakangan ini, umat lebih senang memberikan uang. Hal ini disebabkan karena umat tidak tahu ten-tang apa saja yang sedang dibutuhkan oleh para bhikkhu pada saat itu, apakah untuk pendidikan para calon bhikkhu di luar negeri, atau untuk membantu pembangunan beberapa vihara di daerah, ataupun untuk membantu para guru agama yang bertugas di daerah dengan honor yang minim. Jadi, kalau dengan berdana berupa uang, tentu dapat lebih bisa dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang ada atau yang harus dipenuhi.
Sdr/i sekalian, perlu juga diketahui, bahwa dana yang akan dipersembahkan pada saat Kathi-na ini adalah bukan hanya untuk para bhikkhu tertentu saja atau hanya kepada bhikkhu yang dise-nangi ataupun hanya kepada para bhikkhu yang sering memberikan khotbah-khotbah Dhamma di vihara. Bukan, bukan hanya untuk itu saja. Tetapi, dana tersebut sesungguhnya adalah dipersembah-kan kepada Savgha. Jadi kepada Savgha. Dana tersebut dipersembahkan kepada Savgha, bukan ke-pada pribadi bhikkhu yang hadir dalam perayaan tersebut.
Sdr/i seDhamma, namun, karena terbatasnya jumlah bhikkhu yang ada di Indonesia, maka hal ini menyebabkan upacara Kathina Puja yang dilaksanakan oleh umat Buddha di Indonesia hanya bisa dihadiri oleh seorang atau dua orang bhikkhu saja. Tetapi walaupun demikian, perayaan Kathi-na tetap bisa berlangsung di vihara-vihara dan para bhikkhu juga tetap berusaha untuk hadir dalam perayaan tersebut. Di samping itu, sesungguhnya juga terdapat beberapa pilihan dalam upacara Ka-thina yang dapat dilakukan oleh umat Buddha. Upacara-upacara pilihan tersebut adalah sebagai beri-kut ini:
1. Upacara civara dana di masa Kathina
Dalam hal ini dana yang kita persembahkan adalah berupa bahan jubah atau jubah, di samping juga ada dana-dana yang lainnya kepada Savgha. Upacara ini dapat berlangsung walaupun hanya dihadiri oleh seorang bhikkhu yang mewakili Savgha.
2. Upacara dana di masa Kathina
Dalam hal ini dana yang dapat kita persembahkan berupa keperluan para bhikkhu, dengan tanpa jubah atau bahan jubah. Upacara ini dapat dilaksanakan walaupun hanya dihadiri oleh seorang atau dua orang bhikkhu.
3. Upacara Savgha dana di masa Kathina
Dalam upacara ini biasanya dihadiri oleh empat atau lima orang bhikkhu yang mewakili Savgha; dan persembahan yang dapat kita berikan adalah berupa keperluan para bhikkhu serta jubah dan bahan jubah.
Sdr/i, salah satu dari tiga pilihan upacara Kathina tersebut dapat dilakukan pada salah satu hari di masa Kathina, sehingga dengan demikian kita telah berusaha untuk melaksanakan perbuatan baik melalui berdana.
Sdr/i, selain itu, walaupun persembahan atau dana yang kita berikan mungkin tidak banyak, namun pikiran yang menyertai persembahan tersebut akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada akibatnya. Jadi, persembahan yang diberikan hendaknya disertai dengan kehendak (cetana) yang baik, yaitu pada saat sebelum memberi dana, pada saat memberi dana, dan pada saat sesudah memberi dana. Hal ini akan dapat memberikan buah yang lebih besar daripada mereka yang membe-ri dengan tujuan atau dengan niat yang kurang baik. Namun Sdr/i sekalian, penjelasan pengertian ini bukanlah ‘iming-iming’ bagi Sdr/i yang ada di sini supaya mencari buah kamma yang sebesar-besar-nya. Bukan, bukan itu maksudnya.
Sdr/i seDhamma, setelah tadi kita mengetahui ada tiga jenis upacara dalam Kathina ini, lalu bagaimanakah sesungguhnya yang disebut dengan upacara Kathina yang sebenarnya itu? Sdr/i seka-lian, upacara Kathina yang sebenarnya, dalam arti yang sesuai dengan Vinaya, adalah upacara per-sembahan bahan jubah dan pembuatan jubah Kathina. Upacara ini hanya dapat berlangsung jika pada masa vassa berdiam lima orang bhikkhu di satu vihara. Apabila kurang dari lima bhikkhu, maka umat tidak bisa melaksanakan upacara Kathina yang sebenarnya ini. Di Indonesia, upacara Kathina Puja yang sebenarnya ini pernah dilaksanakan untuk pertama kalinya di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya di Jakarta yaitu pada tahun 1988 dan menyusul kemudian pada tahun-tahun yang lain di beberapa tempat yang lain.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, namun, walaupun mungkin di daerah kita sekarang ini ti-dak bisa berlangsung upacara Kathina Puja dalam arti yang sebenarnya tersebut, tetapi kesempatan yang ada untuk berdana sebaiknya tidak kita lewatkan begitu saja. Bahkan, sampai kelak setelah ma-sa Kathina ini berakhir, kita juga hendaknya masih terus melakukan perbuatan baik dengan cara ber-dana atau dengan cara yang lainnya lagi. Jadi, kesempatan untuk berbuat baik ini tidak akan bera-khir. Ladang untuk berbuat baik cukup banyak, demikian pula cara untuk berbuat baik. Semuanya itu dapat kita kembangkan dalam kehidupan sekarang ini juga.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, tentunya kita semua yang berada di sini sudah siap untuk menyambut perayaan Kathina pada bulan ini, baik di vihara kita sendiri atau juga di viha-ra-vihara yang lainnya. Untuk hal ini, kami mengucapkan ‘Selamat Hari Kathina’. Semoga perbuat-an baik yang telah kita kembangkan dapat menghasilkan kebahagiaan bagi semua pihak selain juga kebahagiaan bagi diri kita sendiri. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
___________________
Sumber Acuan: dikutip dari berbagai sumber dengan gubahan seperlunya.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa (3x).
NATTHI CITTE PASANNAMHI APPAKA NAMA DAKKHINA.
Suatu pemberian tak pernah memiliki nilai yang kecil bila diberikan dengan kesungguhan hati.
Khuddakanikaya Vimanavatthu.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, setelah membaca Paritta dan bermeditasi, marilah kita se-karang mengarahkan perhatian dan konsentrasi guna mengadakan pembahasan dan perenungan Dhamma yang pada hari ini berjudul ‘Bulan Dana, Bulan Kathina’. Jadi sekali lagi Sdr/i sekalian, judul pembahasan dan perenungan Dhamma kita pada hari ini yaitu ‘Bulan Dana, Bulan Kathina’, karena berkenaan untuk menyambut bulan Kathina pada tahun ini.
Sdr/i sekalian, istilah ‘bulan dana’ pasti sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling populer adalah bulan dana PMI, di mana pada saat itu PMI mengumpulkan dana dari masyarakat dengan berbagai cara. Ada yang menjual sticker lewat karcis tanda masuk di gedung-ge-dung pertunjukan; ada lagi yang dengan cara meminta sumbangan suka rela dari masyarakat; kemu-dian ada yang dengan cara mengedarkan map-map yang berisi formulir permohonan dana di seko-lahan-sekolahan; atau dengan cara-cara yang lainnya lagi. Sdr/i, kegiatan ini bersifat suka rela dan tidak memaksa. Namun, kalaupun dalam praktiknya ada petugas yang memaksa masyarakat untuk membeli sticker atau barang-barang lainnya tadi, itu merupakan masalah yang lain lagi.
Sdr/i yang berbahagia, di dalam agama Buddha, ternyata juga terdapat yang namanya bulan dana seperti itu walaupun maknanya tentu berbeda. Bulan dana di dalam agama Buddha ini tidak menggunakan istilah ‘bulan dana umat Buddha’ atau ‘bulan berdana bagi umat Buddha’ atau dengan istilah yang lainnya lagi, karena masa satu bulan yang merupakan bulan dana tersebut, sudah dikenal dengan istilah ‘bulan Kathina’ atau ‘masa Kathina’. Bulan Kathina ini selalu hadir antara bulan Ok-tober dan bulan Nopember, yakni setelah ‘masa Vassa’ berakhir. Pada saat tersebut adalah masa yang tepat bagi umat Buddha untuk memberikan dana kepada para bhikkhu yang telah menjalankan Vassa; dan tentang arti ‘masa Vassa’ ini Sdr/i, dahulu sudah pernah dijelaskan, dan nanti dapat dije-laskan lagi dalam diskusi Dhamma kita.
Sdr/i seDhamma sekalian, sebenarnya masa Kathina merupakan bulan terakhir dari musim hujan. Sang Buddha memberikan ijin kepada para bhikkhu bahwa satu bulan terakhir dari musim hujan merupakan waktu untuk mencari kain atau bahan jubah yang baru, guna mengganti jubah lama yang telah robek. Sdr/i sekalian, kalau dibayangkan, memang kehidupan di jaman Sang Bud-dha tentu tidak sama dengan kehidupan di jaman sekarang. Dalam kitab-kitab suci banyak dicerita-kan tentang kehidupan di jaman Sang Buddha ini. Ada orang yang kaya raya, ada raja yang menjadi sponsor atau yang menyokong kehidupan para bhikkhu, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu saja tidak semua bhikkhu hidup dari bantuan orang kaya atau raja yang memerintah.
Sdr/i sekalian, para bhikkhu yang hidup di daerah yang makmur, yang didukung oleh orang kaya atau raja, tentu tidak akan kesulitan untuk mendapatkan empat kebutuhan pokok. Nampaknya umat Buddha pada jaman Sang Buddha ini selalu menyediakan empat kebutuhan pokok tersebut de-ngan baik. Tetapi, untuk jubah, para bhikkhu pada umumnya mengumpulkan kain-kain bekas pem-bungkus mayat. Kain pembungkus mayat ini dikenal dengan nama ‘pamsukula’. Kain-kain tersebut dikumpulkan dan dijahit menurut ketentuan yang ada untuk menjadi jubah. Pembuatan jubah ini bia-sanya dilakukan pada masa Kathina; dan untuk mewarnai serta memotong kain tersebut, diperlukan alat berupa bingkai untuk membentang kain jubah tersebut, bingkai ini juga dikenal dengan nama Kathina.
Sdr/i sekalian, masa Kathina merupakan satu kurun waktu yang cukup baik bagi umat Bud-dha untuk mempraktikkan perbuatan baik terutama dengan cara berdana. Mengapa demikian? Kare-na seperti yang sudah sering kita ketahui, bahwa ladang yang paling baik untuk menerima dana ada-lah Savgha atau persamuan para bhikkhu. Dalam Savghanussati atau perenungan terhadap kualitas Savgha dinyatakan demikian ‘lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta’. Tentu saja banyak juga tempat lain seperti panti asuhan, rumah jompo, dan sebagainya lagi yang juga merupakan tempat-tempat yang cukup baik atau pantas untuk menerima dana.
Sdr/i seDhamma, dalam masa satu bulan tersebut, umat memilih satu hari tertentu untuk me-rayakan upacara Kathina. Pemilihan hari tersebut tergantung dari umat sendiri, di samping juga ke-sediaan para bhikkhu yang akan menghadiri upacara Kathina yang diadakan itu.
Sdr/i sekalian, lalu apa saja yang bisa diberikan atau yang bisa didanakan kepada para bhik-khu pada saat upacara Kathina Puja ini? Sdr/i, pertanyaan ini sering muncul dan kadang-kadang menjadi pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh diri sendiri karena memang tidak tahu jawaban-nya. Sdr/i, untuk hal ini, dana yang dapat kita berikan adalah bisa berupa empat kebutuhan pokok para bhikkhu, yaitu: jubah atau bahan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Empat ke-butuhan pokok tersebut merupakan kebutuhan minimal bagi semua orang. Tetapi, dalam hal ini, pe-ngertian memberikan kebutuhan berupa tempat tinggal di sini bukan berarti membawa rumah BTN atau rumah dengan sistem ‘knock down’ yang kini sedang populer itu. Bukan demikian! Pengertian tempat tinggal di sini berarti ‘kuti’ yang ada di vihara, yang merupakan sumbangan umat ketika da-lam pembangunannya.
Sdr/i sekalian, di samping itu, umat juga dapat memberikan keperluan yang lainnya seperti sabun, sikat gigi, handuk, pasta gigi, dan benda-benda lainnya yang masih bisa dikatakan untuk ke-perluan bhikkhu. Kemudian, banyaknya dana yang kita berikan kepada para bhikkhu tersebut juga tergantung pada pribadi kita sendiri, tergantung pada kerelaan kita, dan faktor-faktor lainnya yang ada di dalam batin kita sendiri.
Sdr/i seDhamma sekalian, akibat banyaknya umat Buddha yang merayakan Kathina ini, maka vihara-vihara yang cukup besar dan terkenal bisa menjadi seperti super market. Sabun, pasta gigi, sikat gigi, handuk, kain putih, dan sebagainya lagi menjadi sangat banyak. Tentu saja hal terse-but tidak semuanya digunakan oleh para bhikkhu, dan tentunya para bhikkhu juga tidak mungkin menjualnya kembali. Akhirnya, dana tersebut disalurkan kembali kepada umat yang memerlukan di daerah-daerah atau diserahkan ke panti asuhan. Oleh karena itu, akhirnya dalam beberapa tahun be-lakangan ini, umat lebih senang memberikan uang. Hal ini disebabkan karena umat tidak tahu ten-tang apa saja yang sedang dibutuhkan oleh para bhikkhu pada saat itu, apakah untuk pendidikan para calon bhikkhu di luar negeri, atau untuk membantu pembangunan beberapa vihara di daerah, ataupun untuk membantu para guru agama yang bertugas di daerah dengan honor yang minim. Jadi, kalau dengan berdana berupa uang, tentu dapat lebih bisa dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang ada atau yang harus dipenuhi.
Sdr/i sekalian, perlu juga diketahui, bahwa dana yang akan dipersembahkan pada saat Kathi-na ini adalah bukan hanya untuk para bhikkhu tertentu saja atau hanya kepada bhikkhu yang dise-nangi ataupun hanya kepada para bhikkhu yang sering memberikan khotbah-khotbah Dhamma di vihara. Bukan, bukan hanya untuk itu saja. Tetapi, dana tersebut sesungguhnya adalah dipersembah-kan kepada Savgha. Jadi kepada Savgha. Dana tersebut dipersembahkan kepada Savgha, bukan ke-pada pribadi bhikkhu yang hadir dalam perayaan tersebut.
Sdr/i seDhamma, namun, karena terbatasnya jumlah bhikkhu yang ada di Indonesia, maka hal ini menyebabkan upacara Kathina Puja yang dilaksanakan oleh umat Buddha di Indonesia hanya bisa dihadiri oleh seorang atau dua orang bhikkhu saja. Tetapi walaupun demikian, perayaan Kathi-na tetap bisa berlangsung di vihara-vihara dan para bhikkhu juga tetap berusaha untuk hadir dalam perayaan tersebut. Di samping itu, sesungguhnya juga terdapat beberapa pilihan dalam upacara Ka-thina yang dapat dilakukan oleh umat Buddha. Upacara-upacara pilihan tersebut adalah sebagai beri-kut ini:
1. Upacara civara dana di masa Kathina
Dalam hal ini dana yang kita persembahkan adalah berupa bahan jubah atau jubah, di samping juga ada dana-dana yang lainnya kepada Savgha. Upacara ini dapat berlangsung walaupun hanya dihadiri oleh seorang bhikkhu yang mewakili Savgha.
2. Upacara dana di masa Kathina
Dalam hal ini dana yang dapat kita persembahkan berupa keperluan para bhikkhu, dengan tanpa jubah atau bahan jubah. Upacara ini dapat dilaksanakan walaupun hanya dihadiri oleh seorang atau dua orang bhikkhu.
3. Upacara Savgha dana di masa Kathina
Dalam upacara ini biasanya dihadiri oleh empat atau lima orang bhikkhu yang mewakili Savgha; dan persembahan yang dapat kita berikan adalah berupa keperluan para bhikkhu serta jubah dan bahan jubah.
Sdr/i, salah satu dari tiga pilihan upacara Kathina tersebut dapat dilakukan pada salah satu hari di masa Kathina, sehingga dengan demikian kita telah berusaha untuk melaksanakan perbuatan baik melalui berdana.
Sdr/i, selain itu, walaupun persembahan atau dana yang kita berikan mungkin tidak banyak, namun pikiran yang menyertai persembahan tersebut akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada akibatnya. Jadi, persembahan yang diberikan hendaknya disertai dengan kehendak (cetana) yang baik, yaitu pada saat sebelum memberi dana, pada saat memberi dana, dan pada saat sesudah memberi dana. Hal ini akan dapat memberikan buah yang lebih besar daripada mereka yang membe-ri dengan tujuan atau dengan niat yang kurang baik. Namun Sdr/i sekalian, penjelasan pengertian ini bukanlah ‘iming-iming’ bagi Sdr/i yang ada di sini supaya mencari buah kamma yang sebesar-besar-nya. Bukan, bukan itu maksudnya.
Sdr/i seDhamma, setelah tadi kita mengetahui ada tiga jenis upacara dalam Kathina ini, lalu bagaimanakah sesungguhnya yang disebut dengan upacara Kathina yang sebenarnya itu? Sdr/i seka-lian, upacara Kathina yang sebenarnya, dalam arti yang sesuai dengan Vinaya, adalah upacara per-sembahan bahan jubah dan pembuatan jubah Kathina. Upacara ini hanya dapat berlangsung jika pada masa vassa berdiam lima orang bhikkhu di satu vihara. Apabila kurang dari lima bhikkhu, maka umat tidak bisa melaksanakan upacara Kathina yang sebenarnya ini. Di Indonesia, upacara Kathina Puja yang sebenarnya ini pernah dilaksanakan untuk pertama kalinya di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya di Jakarta yaitu pada tahun 1988 dan menyusul kemudian pada tahun-tahun yang lain di beberapa tempat yang lain.
Sdr/i seDhamma yang berbahagia, namun, walaupun mungkin di daerah kita sekarang ini ti-dak bisa berlangsung upacara Kathina Puja dalam arti yang sebenarnya tersebut, tetapi kesempatan yang ada untuk berdana sebaiknya tidak kita lewatkan begitu saja. Bahkan, sampai kelak setelah ma-sa Kathina ini berakhir, kita juga hendaknya masih terus melakukan perbuatan baik dengan cara ber-dana atau dengan cara yang lainnya lagi. Jadi, kesempatan untuk berbuat baik ini tidak akan bera-khir. Ladang untuk berbuat baik cukup banyak, demikian pula cara untuk berbuat baik. Semuanya itu dapat kita kembangkan dalam kehidupan sekarang ini juga.
Sdr/i seDhamma sekalian yang berbahagia, tentunya kita semua yang berada di sini sudah siap untuk menyambut perayaan Kathina pada bulan ini, baik di vihara kita sendiri atau juga di viha-ra-vihara yang lainnya. Untuk hal ini, kami mengucapkan ‘Selamat Hari Kathina’. Semoga perbuat-an baik yang telah kita kembangkan dapat menghasilkan kebahagiaan bagi semua pihak selain juga kebahagiaan bagi diri kita sendiri. Terima kasih!
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia!
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
___________________
Sumber Acuan: dikutip dari berbagai sumber dengan gubahan seperlunya.
Dibacakan pada tanggal:
-
-
-
-
-
Langganan:
Postingan (Atom)
